
Andai engkau tahu, Aku mencintaimu
Dengan seluruh hati.
Bahkan ketika kau menghancurkan
Hatiku, Disetiap keping hati ini
Masih tertulis Namamu.
* * * * *
" Yang bener lo, Sha. Gak tau nomor ini ?" Imel mengulang pertanyaannya meminta kepastian jawaban Nisha.
Nisha semakin dibuat heran oleh Imel. Sebenarnya emang ada apa sih sama nih nomor. Sampai sampai harus menunjukkan wajah penasaran seperti itu padaku. Seolah olah gw nyembunyiin sesuatu.
Ketiga temannya yang lain pun yang ada didekat Nisha penasaran juga atas perilaku Imel itu. Ada paan sih?. Tapi mereka masih menahan keingin tahuannya menunggu reaksi dari Nisha.
" Ya...emang gw gak tau ni nomor siapa, kok !! Emang kenapa sih ?"
" Gw juga gak tau, nih nomor miscall mulu. Gangguin gw aja!" ucapnya dengan sedikit penekanan.
" Laahh....terus kenapa nanya ke gw?" Memundurkan badannya kesenderan kursi
" Yaa...kali lo kenal ini nomor "
" Gw gak kenal tuh !"
" Ya kali...lo kan suka nyimpen nomor yang gak jelas trus kenalan. Ya kan?"
Maksud lo apaan sih ngomong gitu.
Nisha terlihat tidak suka atas ucapan Imel. Menggigit bibir bawahnya. Seolah olah dia ini counter kartu telpon yang tau semua nomor nyasar.
" Lo tanya aja sama yang lain. Mungkin mereka tau !"
" Gw dah nanya sama yang lain, mereka juga gak tau "
" Ya samaa. Gw juga gak tau "
" Oohh ya udah...makasih yaa " ucap Imel ketus berbalik badan meninggalkan meja Nisha dengan santai.
iihhkkk...kok jadi sewot gitu sih!! Aneh !!!
Lia, Eva dan Dian saling memandang mengagkat kepala dan bahu mengisyaratkan penasaran mereka.
" Ada apaan si Imel, Sha?" Tanya Eva.
Nisha memutar duduknya berposisi miring menghadap Lia. Satu tangannya ditekuk diletakkan di meja Eva belakang kursinya.
" Aauuu tuh...gak jelas !"
Tapi pikirannya terus mengingat nomor yang tadi dilihatnya. Kenapa harus bertanya sama gw, sedangkan disini ada temannya yang lain? Kenapa tidak bertanya juga pada Lia, Eva atau Dian. Kenapa cuma sama gw aja nanya nya?. Nisha terus berguma dalam hatinya.
" Tadi dia nunjukin apaan di Hpnya? Gw denger soal nomor? nomor apaan ?" Tanya Lia yang tadi sedikit mendengar percakapan itu.
Eva dan Dian memajukan badannya melipat kedua tangannya dimeja. Ingin memdengar apa yang telah terjadi dengan baik.
" Ituu...Katanya ada nomor yang gak dia kenal, miscall mulu. Gangguin dia mulu."
" Terus " ucap Eva
" Dia nanya, gw kenal gak itu nomor."
" Lo tau tuh nomor?" Tanya Dia
__ADS_1
" Ya gak lah. Tau juga kaga gw tuh nomor "
" Ngapain dia nanya sama lo? kok gak nanya sama kita juga?" ucap Lia. Nisha hanya mengangkat kedua bahunya.
" Nah itu, mana gw tau! "
Triiinngg Triiinnggg Triiiinggg
Bel pun berbunyi menandakan waktu istirahat telah usai. Semua siswi kembali ke kursinya masing masing.
Gw tau apa maksud lo Mel. Kenapa lo tunjukin itu ke gw. Dan semoga memang bukan dia.
* * *
Sudah beberapa hari ini Nisha selalu mendengar dengan lantang Imel bbercerita tentang nomor misterius itu pada teman teman gengnya.
Sedikit pemberitahuan yaa. Karena dikelas ini isinya ceweknya semua. Sehingga terbentuklah geng atau kelompok dalam pertemanan. Seperti halnya Nisha dan temannya serta Imel dan temannya juga. Tapi tidak ada yang perselisihan serius yang terjadi disana, semuanya masih bisa berbaur satu sama lain.
Sebenarnya Nisha sudah sangat jengah dengan sikap Imel akhir akhir ini yang seperti sedang memberi angin kencang pada batubara yang telah diberi api walau sedikit, agar api bara itu semakin besar.
Nisha menghembuskan napasny kasar saat duduk dikursinya. Dia mendengar jelas apa yang dibicarakan Imel pada teman temannya yang lain kelas saat berada di koridor lantai dasar.
" Cciiieèe...yang punya penggemar rahasia !" Ucap seorang teman Imel sebelah kanan.
" Iyaa...dia bilang disms, suka sama gw udah lama gitu " Ucap Imel penuh penekanan saat tau Nisha berjalan didepannya.
" Iihhkkkk...." seru teman yang lainnya saat Imel menceritakan semua sms dari nomor misterius itu.
Nisha berjalan menuju kelasnya dengan perasaan gusar.
" Sha, lo kenapa ?" Ucap Eva yang baru balik dari toilet dan melihat Nisha menenggelamkan wajahnya diatas meja beralaskan tasnya, sambil mendorong pelan pundak Nisha.
" Hhhmmm...Gw masih ngantuk Va, Mau tidur bentar yaa. Mumpung lom masuk bel " ucapnya lirih tanpa merubah posisi tidurnya.
Semalam Nisha bertelpon vicall dengan Ardi sampai malam. Nisha pun sempat bercerita tentang Imel yang menanyakan nomor Penggemar rahasia itu pada Ardi, Berharap apa yang dipikirkannya hanyalah ketidak benaran.
" Gak tau tuh. Gak kenal sama nomor itu juga. Lagian ngapain dia nanya ke kamu ?" Ucap Ardi saat di telpon
" Imel berfikir itu nomor kak Ardi "
" Ya udah kalau Kak Ardi gak tau. Kirain gitu kenal. Kan temen Kak Ardi banyak yang kenal Imel, apa lagi sekarang deket sama temen kampus Kakak. Siapa tau Kak Ardi tau nih nomor ?"
" Gak, Sha. Tapi nanti aku coba tanya temen aku yang lain deh mungkin ada yang kenal." ucap Ardi meyakinkan. Nisha hanya mengangguk
Gak...Itu bukan Kak Ardi. Kak Ar bilang gak tau. Tapi Kenapa ekpresinya biasa aja saat tau ada penggemar rahasia Imel? Saat liat Imel jalan sama cowok lain, Dia sedikit jeleus. Tapi ini...
Aahhhkkkkkk aaauu deh!!
Nisha semakin memejamkan matanya diatas tas, menghilangka pikiran negatifnya dengan tidur sebentar. Padahal ntar pas bangun kepala pasti tambah pusing karena gak bisa tidur itu sendiri.
Lia dan Dian yang baru datang, melihat Nisha seperti itu berniat mengagetkannya. Tapi tertahan saat melihat Eva meletakkan telunjukknya di bibir.
SSSssttttttttt
Lia dan Dian memasang wajah cemberutnya karena gagal membangunkan Nisha.
" Kenapa emangnya si Nisha, Va?" Tanya Lia sedikit berbisik
" Gak kenapa napa. Dia cuma bilang ngantuk tadi. Mau tidur bentar katanya "
" Pasti telponan lagi dia sampe malam sama cowoknya !" ucap Dian
" Emang nih anak kebiasaan molor mulu sekarang. Gara gara Ardi nih! Nanti gw ngomong sama Ardi dah biar jangan nelpon Nisha sampe malam "
" Ciihh...kayak lo gak pernah telponan mpe malam aja sama pacar lo, Li " Balaz Dian.
__ADS_1
" Ya tapi gw mah gak mpe tengah malam juga kali, kayak nih anak " Menunjuk pada Nisha.
Ttriinnggg Triingg triiinggg
" Sha, bangun Nisha. Udah bel masuk" Ucap Lia sambil menggoyangkan pundak Nisha berulang ulang.
" Eehhmmm..." mengangkat kepala dan mengusap wajahnya kasar
" Dah bell ya.." ucapnya masih setegah sadar.
Lia, Eva dan Dian hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan temannya yang satu ini.
" Makanya jangan pacaran mulu lo !" Celetuk Dian dari belakang
" Apaan sih!"
" Cuci muka dulu sono, liat tuh iler lo banjir !" sontak Dian dan Eva tertawa mendengar kata Lia. Sedangkan Nisha langsung mengelap mulutnya dengan telapak tangannya.
" Gih sono ketoilet dulu, mumpung guru belom datang " Suruh Dian.
" Gak usah ketoilet "
Nisha bukannya bangun pergi ketoilet seperti suruhan temannya, malah mengambil botol minumnya dan membukanya. Dituangnya air dari dalam botol ketelapak tangannya, lalu diusapnya air itu ke wajahnya.
Astagaaaà Nishaa. Ketiga temannya hanya membulatkan matanya melihat itu.
Nisha memasukkan tangannya kedalam tas, mengeluarkan handuk kecil dan menempelkan diwajahnya yang basah tadi.
" Bereskan "
Ketiga temannya memalingkan muka. Berpura pura sibuk dengan tas, buku atau handphone mereka. Seolah olah tak melihat apa yang dilakukan Nisha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Jangan lupa ya untuk 🖒, vote dan 🌟ratenya
❤ nya juga boleh untuk up selanjutnya
Komen berupa kritik dan saran sangat saya butuhkan.
Terima kasih sudah membaca😊😘
Mohon dukungannya...
__ADS_1