
Kata orang cinta itu buta
Tapi mengapa aku masih bisa memandangi
Keindahannya
Kata orang cinta itu menyakitkan
Tapi mengapa aku masih bertahan?
* * * * *
Sejak balik dari Toilet, Nisha hanya diam. Pesta yang dinikmati oleh semua yang ada di cafe, termasuk teman teman Ardi, tapi tidak terasa buat Nisha. Bahkan Ardi pun selalu merilik ke arah meja Eric dimana disana ada Imel. pikirannya terus teringat ucapan Imel saat di toilet.
" pastiin hatinya buat lo, kalau gak... gw bakal ambil hati itu lagi."
" Kenapa lo sekarang bilang kaya gitu saat dia udah sama gw? kenapa gak lo pertahankan dia dulu saat dia masih sama lo " ucap batin Nisha saat melihat Imel yang dapat tertawa riang bersama Eric disana.
Nisha menoleh ke Ardi yang disebelahnya saat tangannya digenggam oleh Ardi. Ardi pun tersenyum.
" Kamu kenapa?" tanya nya
" Dari tadi kayaknya ngelamun mulu? Kamu gak betah disini ?"
" Hahh ! Gak juga sih. Cuma gak nyaman aja sama suasana kayak gini "
Gak nyaman karena ada Imel diujung sana. Dan kamu selalu merhatiin dia dari sini. Aku tau, dia masih ada dihati kamu, dan kamu belum bisa nerima itu semua. Lalu apa gunanya aku ada disamping kamu sekarang saat ini, kalau kamu belum juga bisa lupain dia. Gumam batin Nisha menatap Ardi yang masih mencuri pandang ke arah Imel.
Nisha menundukkan kepalanya. Ada sedikit rasa cemburu dan panas masuk kedalam hatinya.
Sedangkan disebrang sana, Imel juga memperhatin Nisha dan Ardi yang duduk dengan saling berpegangan tangan. Tiba tiba saja, Imel merasa tidak suka atas yang dilihatnya. Hati nya merasa ada yang menusuk. Tidak menyangka Nisha akan berjalan dengan Ardi. Dulu dia berfikir, Nisha tidak akan mau berjalan dengan Ardi, karena mereka berteman. Tapi sekarang yang dia lihat, bahkan penampilannya pun membuat Imel geram.
" Gw pastiin hati lo masih ada gw !!" Gumam batin Imel yang sekilas bertautan tatap mata dengan Ardi.
Ardi kembali menatap Nisha setelah tak segaja bertatap jauh dengan Imel.
" Sha,Kita pulang aja yuk ?" ucap Ardi sedikit menundukkan kepala melihat wajah Nisha yang tertunduk.
" Gak apa pa emangnya kita pulang duluan?" tanya Nisha yang memandang Ardi.
" Gak ada yang ngelarang kok! Aku juga sedikit gak nyaman " Ucap Ardi
" Yaa...kamu gak nyaman karena Imel sama cowok lain kan?" batin Nisha.
" Oohh... ya udah. Ayo! "
Akhirnya mereka berdua pamitan pada widji sang pemilik pesta dan pada teman temannya. walau sebenarnya masih cukup sore karena waktu baru menunjukkan pukul 21.30 an.
Mereka berdua memutuskan untuk pulang kerumah Nisha, Dan membeli sedikit makanan dijalan untuk dimakan dirumah nanti serta untuk keluarga dirumah.
sampai Dirumah Nisha masuk kedalam rumah membawa dua bungkus martabak manis dan telor. Membagi menjadi dua untuk papa dan ibunya yang masih ada diruang tivi.
Nisha keluar membawa nampan berisi martabak dan dua gelas air putih dingin. Diletakkan di meja tamu teras depan. Nisha duduk disamping Ardi yang sedang bermain game di hpnya. Ardi bermain game hanya untuk mengalihkan pikirannya yang masih teringat saat tadi dicafe.
__ADS_1
" Kak...makan dulu martabaknya ? Tadi katanya pengen makan martabak. "
" Iya...nanti dulu." tetap fokus pada gamenya.
Nisha hanya menggelengkan kepalanya dan memakan martabak itu sendiri sampai beberapa potong sambil membaca aplikasi novel di hpnya. Saat dirasa Ardi tidak memakan martabak itu sejak tadi, Nisha memutar tubuhnya melipat kakinya diatas kursi panjang itu dan mengambil sepotong martabak, lalu menyodorkannya dimulut Ardi.
" Aaa...." ucap Nisha menyuruh Ardi membuka mulutnya.
Aammmm
Ardi pun membuka mulutnya dan memakan martabak itu. Dan dilakukan sampai martabak dipiring itu habis sambil tetap bermain gamenya. Lalu memberikan minum pula.
Ardi berhenti memainkan hpnya, lalu menatap Nisha yang masih duduk menghadapnya. tersadar akan adanya Nisha untuknya selama ini.
" Makasih ya..." ucapnya tersenyum.
" Untuk ?" Nisha mengerutkan dahinya
" Semuanya " Nisha pun tersenyum
Ardi lalu merebahkan tubuhnya dan menjatuhkan kepalanya dilipatan kaki Nisha, dan Nisha reflek menurunkan kakinya sehingga kepala Ardi jatuh dipahanya.
" Kak Ar "
" Sebentar aja..." lalu memiringkan badannya kearah senderan kursi sehingga wajahnya menghadap perut Nisha. Kedua tangannya dilipat didada, lalu dia memejamkan matanya.
Nisha hanya diam menyenderkan punggungnya dikursi. Jantungnya kembali berdegup kencang tak karuan saat melihat wajah Ardi yang terlihat damai dalam pangkuannya. Ingin sekali meletakkan tangannya dikepala cowok itu dan membelainya, tapi dia urungkan. Dia mengepal tangannya dan diturunkan kembali diatas pahanya yang satunya.
Aku tau hati mu sakit melihatnya. Tapi apa kau tak tau kak, hati ku juga sakit melihatmu.
" Kaakkk...." " Hhhmmm..."
" Ini sudah malam. Kak Ar mau pulang atau nginep disini?"
" Oohh...sudah jam berapa ini?" Ardi bangun menyenderkan badannya dikursi.
" Jam 12 malam."
" Hahhh...Aku tertidur ya." Tersadar dia tidur terlalu lama
" Pasti paha mu sakit karna aku terlalu lama tidur dipahamu ?"
" Gak juga...Hanya sedikit keram " Nisha tersenyum
" Maaf ya..." meraih tangan Nisha dan menggenggamnya. Nisha hanya mengangguk tersenyum
Kau sangat manis Nisha dengan senyum itu. Kau yang selalu ada saat aku butuh dukungan.
Mata mereka saling bartatapan satu sama lain. Tanpa terasa wajah Ardi semakin mendekat dengan wajah Nisha.
Apa yang mau dia lakukan.
Nisha merasakan jantungnya seperti ingin berlari jauh darinya saat wajah Ardi hanya tinggal beberapa senti dari wajahnya. Nisha memejamkan matanya saat bibir Ardi mendekati bibirnya.
__ADS_1
Tidak...
Sreettt
Nisha memalingkan wajahnya seketika dengan mata masih terpejam. Pergeseran itu pun membuat sentuhan kecil di bibir masing masing yang hampir bertaut.
Ardi membuka mata yang sempat terpejam tadi saat merasakan pergerakan bibir Nisha. Melihat wajah Nisha berpaling, dia menundukkan wajahnya dan menarik genggaman tangannya lalu menegakkan duduknya.
" Maaf, Sha "
" Aku yang harusnya minta maaf kak Ar. Aku yang belum siap untuk itu " Batin Nisha dalam diam.
" Ya udah. Aku pulang dulu ya " berdiri dari duduknya. Nisha pun reflek berdiri pula.
Berjalan ke arah teras parkiran. Didepan motornya, Ardi berbalik menghadap Nisha yang ada dibelakangnya. Berdiri didepan Nisha, menyentuh kepalanya dengan satu tangan dan menarik kepalanya.
Cupp
Nisha memejamkan matanya lagi saat Ardi mencium kening Nisha sekian detik. Ada rasa damai didada Nisha saat itu. Ada rasa tidak siap jika harus kehilangan cowok dihadapannya ini suatu saat nanti.
Nisha membuka matanya saat Ardi melepaskan ciuman itu dan mengusap lembut kepalanya.
Tak lama Ardi pergi melajukan motornya, Nisha pun masuk kerumah dan menuju kamarnya.
Memegang bibirnya yang tadi sempat hampir mandapat sentuhan itu. Ciuman pertamannya walau hanya sebuah gesekan kecil.
Memejamkan matanya saat sudah mengganti pakaiannya dan berbaring dikasurnya. Menghilangkan penat dari malam yang membuatnya banyak nguras hatinya. Dia tidak mau mamikirkan yang sudah terjadi malam ini. Ikuti saja apa yang Tuhan rencakan kedepannya. Hadapi semuanya apapun itu hasilnya nanti. Hanya itu yang dapat hatinya katakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Jangan lupa untuk 👍, vote dan 🌟 rate ya
❤ nya juga untuk up selanjutnya
__ADS_1
Komen berupa kritik dan saran juga diharapkan jika readers berkenan
Terima kasih sudah mau membaca🤗😘