
Kalau saja cinta bersuara
Mampukah ia mengatakannya padamu?
Kalau saja cinta berbunga
Mampukah ia mekar dihatimu
* * * * *
Waktu masih menunjukkan pukul 5 lewat 30 menit. Setelah Ardi menjemput Nisha dikampusnya. Beruntungnya jalanan sore ini tidak terlalu macet.
Pandangan Nisha masih tertuju pada ponsel digenggaman tangannya yang sedang asik berbalas pesan digrup sekolahnya dulu sambil senyum dan geleng geleng kepala.
" chatan sama siapa sih? Seru banget kayaknya, mpe aku dicuekin! " tanya Ardi yang sedikit melirik Nisha.
" eh...maaf kak! Chat digrup PJ. Lagi pada ngomongin saat kemaren kita kondangan kerumah Rini itu. Sekarang lagi pada godain malam pertamanya." Sautnya diiringi tawa kecil.
" maaf, ya jadi cuekin kamu " tambahnya lagi seraya memasukkan ponselnya kedalam tas dipangkuannya. Ardi pun terdiam.
" mau langsung pulang aja? Atau kita mau makan dulu? "
" aku sih terserah kakak aja, lagian lagi gak ada tugas juga, jadi malam ini santai. " jawab Nisha menatap jalanan yang cukup ramai oleh kendaraan.
" makan di rumah aku mau gak? Kan kamu belum pernah ke rumah aku sekarang. "
" ke apartemen kamu gitu? "
" iya " jawab Ardi singkat.
Nisha pun mengangguk, " boleh, boleh! " jawabnya cepat.
" kita pesan makanan aja ya? " pinta Nisha dan dijawab Ardi dengan anggukan kepalanya.
" pesen sekarang aja, biar nanti kita sampai sana, makanannya juga sampai. Pake ponsel aku aja tuh! " usul Ardi.
Nisha pun meraih ponselnya yang ada disampingnya. Memesan beberapa makanan di aplikasi online food. Ardi pun memberiitahu alamat apartemen miliknya untuk tujuan pesanannya.
Mobil Ardi pun sudah memasuki pintu gerbang dengan tiang menjulang tinggi bertuliskan apartemen Casablanka E.R. . Kawasan yang mewah minimalis dengan luas tanah 2,5 hektar berdiri 4 buah gedung bersejajar.
Mata Nisha yang baru pertama kali memasuki kawasan seperti ini, memandang takjub bagunan tinggi yang dilewatinya melalui kaca depan mobil.
Ardi pun memarkirkan diparkiran depan gedung tak jauh dari pintu masuk. Gedung yang terbilang lebih kecil dari gedung lainnya tapi dengan model arsitektur baguanan lebih mewah.
" kok beda baguanannya kak sama yang lain? " tanya Nisha saat mereka sudah turun dari mobil. Ardi sudah menggenggam tangan Nisha berjalan menuju lobi.
" gedung ini lebih privat. Satu lantai satu pintu rumah. " jelas Ardi. Nisha hanya beroh ria tanpa siara.
Mereka melewati meja lobi yang dijaga seorang resepsionis pria duduk didalamnya. Membungkukkan badannya pada Ardi dan begitu sebaliknya.
" inget inget ya! Kalau mau kesini nanti sendiri, lifnya yang sebelah kanan " ujar Ardi saat menekan tombol lif naik.
" emang kenapa? " Nisha memiringkan kepalanya menatap Ardi disamping.
" kamar aku adanya sebelah kanan. Gak bisa pake lif sebelah kiri soalnya disekat. Disini buat tempat tinggal orang orang yang lebih privat. Ngerti! "
" iya " jawab Nisha singkat.
Mereka pun masuk kedalam lif. Kamar apartemen Ardi ada dilantai 6. Setelah lif terbuka, tampaklah sebuah lobi dengan satu pintu saja. Ardi pun menggesek sebuah kartu seperti kartu ATM dan memencet kode pintu rumahnya pada sebuah kotak digital disamping pintu.
__ADS_1
" wahh...kak Ardi sekarang jadi makin keren ya! " ucap Nisha melihat isi ruangan rumah tempat tinggal Ardi saat ini dengan wajah berbinar. Sebuah ruang tamu dengan tivi yang menggantung didinding dengan jendela kaca menuju balkon disampingnya.
" dan yang keren ini kan milik kamu! " Ardi menarik pinggang Nisha, merapatkannya pada tubuhnya setelah meletakkan tas dan juga jasnya disofa yang tak jauh dari mereka berdiri. Nisha mengangguk tersenyum sembil mengalungkan kedua lengannya dileher Ardi.
" aku kangen sama kamu " ucap Ardi mencium sekilas bibir Nisha
" baru dua hari gak ketemu " timpal Nisha yang sudah merona dipipinya. Entah mengapa sudah sejak lama dia bersama cowok didepannya ini, tapi rasa malu dan berdebar selalu saja hinggap didirinya jika bersentuhan dengan Ardi.
" dan aku gak suka dia cara dia natap kamu " ujar Ardi. Nisha mengerutkan keningnya tiba.
Memiringkan kepalanya, " siapa? "
" siapa lagi cowok yang selama ini deketin kamu! " tambahnya lagi.
" Arya " Ardi terdiam menatap lekat mata Nisha, mencari sesuatu yang mungkin beda saat dia mengucapkan nama pria itu, karena dia tahu selama ini cowok bernama Arya itu memang cukup dekat dengan Nisha karena hubungan kedua orang tua mereka apalagi sama satu kampus.
" dia itu cuma teman kak, te man. Gak lebih! " tutur Nisha penuh penekanan.
Saat Ardi menjemput Nisha tadi, dari kaca spion mobilnya, Ardi melihat Arya yang menatap Nisha saat sedang masuk kedalam mobil. Dan Ardi benar benar tidak suka.
Ardi langsung menyambar lagi bibir Nisha, mengecapnya lembut penuh rasa mengisyaratkan akan takut kehilangan. Kali ini mereka berciuman lebih dalam dan lebih lama. Ardi mencoba bertahan akan gelora ditubuhnya, tapi tak tertahan rasa cemburu dihatinya hingga tangan Ardi sudah masuk dibalik blouse kemejanya. Tubuh Nisha sedikit bergetar saat tangan Ardi mengusap lembut kulit pinggangnya. Ardi menggiring Nisha berjalan menuju sofa, dan menjatuhkan tubuh mereka berdua disana.
Tangan Ardi perlahan membuka kancing kemeja Nisha. Nisha yang merasakan itu pun, mencengkaram lengan Ardi agar berhenti. Tapi Ardi menggiring tangan Nisha turun. Melepaskan ciuman itu sesaat, Nisha menggeleng pelan saat tangan Ardi kembali membuka kancing kemejanya. Memberi isyarat agar tak melanjutkan kegiatan mereka yang mungkin akan melebihi batasnya.
Ardi tak memghiraukan Nisha, dia melum*at kembali bibir mungil Nisha. Tangan Ardi sudah menjamah bagian tubuh Nisha yang tertutup dibalik kemejanya yang sedikit terbuka sampai bawah dadanya. Ciuman Ardi mulai turun kepipi lalu keleher jenjang Nisha.
" kak Ardi " ucapnya lirih mencoba menghentikan.
Tapi tubuh Nisha seolah menerima sentuhan Ardi dan mulai mengeliat saat merasakan sentuhan yang baru pertama kali dirasakan. Sesuatu yang membuatnya merasakan getaran yang tak dia pahami. Bahkan saat Ardi mengesap lembut leher bawahnya.
Ting nong
" kak...belnya bunyi! " ucapan Nisha membuat Ardi berhenti seketika tersadar. Melihat keadaan Nisha dengan baju terbuka. Dia mengusap wajahnya kasar.
" ya ampun! Maaf Sha. Aku khilaf! " serunya mengancingkan kembali baju Nisha yang terbuka. Nisha mengerjap saat Ardi mengucapkan maaf.
Mereka kembali menegakkan tubuh mereka disofa. Nisha merapaikan baju dan rambutnya.
Ardi menggaruk tengkuk lehernya merasa sedikit canggung akan kelakuannya, melihat Nisha yang menahan senyum dan merunduk malunya dengan wajahnya yang sudah merah padam.
" aku buka pintu dulu. Pasti yang nganter makanan kita " Nisha mengangguk saat Ardi berdiri dan berjalan menuju pintu.
Ooh Tuhan. Semoga kami tidak melakukan hal yang melebihi batas!
Gumam Nisha dalam hati memegang dadanya yang terus saja berdegup kencang sejak tadi.
Ardi kembali menenteng dua buah bungkusan berisi makanan pesanan Nisha.
" mau makan sekarang? " tanya Ardi yang meletakkan makanan itu dimeja makan depan yang tak jauh didepan ruang tivi.
" aku mau kekamar mandi dulu deh " saut Nisha berdiri dari duduknya.
" mau aku temenin, aku juga mau mandi " goda Ardi dan mendapat pukulan keras dipundaknya.
" jangan belajat mesum deh kak! Cukup yang tadi aja khilafnya "
" maaf ya! " Ardi menyentuh satu pipi Nisha yang ikut mengangguk tersenyum.
Ardi pun menunjuk arah kamar mandi dan dia pun akan mandi lebih dulu karena badannya yang terasa sedikit lengket.
__ADS_1
Setelah selesai dikamar mandi, Nisha merapikan makanan diatas meja makan. Ardi pun datang dengan menggunakan kaos hitam dan celana jeans selutut, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Terlihat segar dan tampan.
" kenapa kamu ngeliatin begitu? " tanya Ardi mengangkat alisnya.
Nisha hanya tersenyum sambil mengeleng tanpa suara. Mereka pun duduk bersebelahan dimeja makan.
" kamu gak mau mandi dulu disini? " tanya Ardi disela makan mereka.
" nanti aja dirumah. Kan gak bawa baju. Masa pake baju ini lagi! " ujar Nisha.
" ya kan bisa pake kaos aku. " sambungnya.
" gak usah kak. Nanti aja dirumah. Aku takut nanti bikin kamu khilaf lagi " tegas Nisha. Ardi tak menjawab, hanya tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya merunduk menyenbunyikan rasa malunya.
Dia tidak pernah melakukan hal hal diluar batas bersama Nisha selama ini kecuali berciuman. Karena Ardi benar benar menjaga Nisha sampai nanti saatnya. Tapi melihat Arya yang menatap Nisha lekat, membuat Ardi sedikit terbakar cemburu dan membangkitkan gairahnya. Beruntung Nisha menyadarkannya cepat bersamaan bunyi bel rumahnya.
Mereka pun melanjutkan makannya dengan tenang. Setelah itu, Ardi mengantar Nisha pulang kerumahnya dan tak mengingat kejadian tadi.
* * *
Pagi ini Nisha berias didepan cermin dikamarnya untuk bersiap berangkat kekampusnya. Saat memakai pelembab wajahnya, mata Nisha tertuju pada bagian bawah lehernya. Matanya membulat seketika.
" astaga! Ini pasti gara gara kak Ardi semalam. Aaahhkk! Nyebelin deh! Gimana nutupinnya? " ucap Nisha saat mendapat tanda merah terang dilehernya dibawah kuping hasil perbuatan khilaf Ardi semalam diapartemennya.
Nisha berpikir keras bagaimana dia bisa menutupi tanda kissmark ini dari semua orang. Apalagi orang tuanya dan Yuni pagi ini.
Seperti sebuah lampu menyala diatas kepalanya. Dia segera meraih alat kosmetiknya dimeja. Sebuah fondasion yang dia oleskan ditanda merah itu.
" ya, begini lebih baik " ucapnya setelah tanda merah dileher itu tertutup. Lalu mengolaskan lipstik tipis dibibirnya agar dia terlihat lebih segar.
Setelah sarapan bersama keluarga, Nisha pun berangkat kekampusnya. Untuk kali ini dia tidak lagi bertemu Arya dihalte, karena dia tahu, Arya pasti menunggunya disana. Nisha tidak ingin terlalu dekat dengan Arya, karena takut Arya akan semakin sakit hati karena menyukainya, sehingga pagi ini Nisha berangkat dengan memesan ojek online. Ya walau akan mengeluarkan ongkos lebih besar lagi, tapi nyatanya Ardi yang memberikan sedikit uang pada Nisha untuk biaya angkosnya naik ojek online itu, karena memang itu pintaan Ardi, yang tau jika selama ini Nisha sering berangkat bersama Arya. Kok Ardi tau? Karena memang Nisha yang yang cerita tentang Arya. Karena Nisha selalu cerita semua yang dekat dengannya selama ini pada Ardi. Begitu juga Ardi yang selalu cerita kegiatannya pada Nisha.
Karena dalam setiap hubungan, pondasi paling kokohnya adalah kepercayaan dan keterbukaan. Itu kata Teteh Adesty.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
**YANG MAU BANTU VOTE, SENIN PAGI AJA YA. AKU MENGHARAPKAN POIN DARI KALIAN SEMUA LHO!🤗😍
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN JUGA
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA
MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**
__ADS_1