Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 97


__ADS_3

Kelemahan wanita itu selalu memilih


Untuk menikmati rasa sakit


Sekali pun ada pilihan


Untuk pergi meninggalkan.


* * * * *


Ardi diikuti Kendi, Hedi dan Zaki berjalan menuju tempat biasa dimana Eric berkumpul bersama teman temannya.


Sebuah warung yang ada disamping depan gedung kampus Binus yang tak jauh dekat parkiran motor. Ada sebuah pohon besar sebagai peneduh disamping warung itu dan bangku kayu berjejer disana. Disitu lah tempat Eric dan teman temannya menghabiskan waktu setelah jam kuliahnya.


Salah seorang disana saling mencolek saat mendapati Ardi dan kawannya berjalan mendekati mereka. Eric yang mendapat colekan pun melirik kearah pandangan temannya. Saat itu pula Eric mengerutkan kening melihat Ardi berjalan mengarahnya.


" Ric, lo buat masalah lagi sama Ardi? Sampai dia datang lagi nyari lo kayak dulu begitu? " ucap seseorang yang memang tau kalau Ardi dan Eric tidak pernah akur sejak masalah Eric yang berpacaran dengan Nana sahabat dari Ardi. Dan kini Nana pun semakin menjauh dari Ardi dan Eric. Dan ditambah lagi, Eric yang mengganggu pacar Ardi saat itu sampai menimbulkan perkelahian antara mereka berdua. Dan kini, Ardi sedang berjalan dan kembali mendekati kawanan Eric.


Eric pun mengerutkan keningnya saat pandangan matanya bertemu dengan mata Ardi yang kini berdiri dihadapannya.


" Bisa kita ngomong bentar Ric? Ada yang mau gw tanyain ke elo " ucap Ardi mencoba setenang mungkin.


" ada urusan apa emangnya sampai lo nyamperin gw kesini? Perasaan gw udah gak ngusik hubungan lo sama Nisha, jadi, apa yang ngebawa lo dateng nyari gw sekarang? " ucap Eric dengan angkuh.


" Gw mau kita ngomong berdua. Gw udah berusaha ngomong baik baik saat ini. Gw harap lo juga mau ikut dengan baik baik juga! " ujar Ardi.


Eric mengerutkan keningnya. Apa yang mau dia omongin sebenernya?


" Ok...gw ikutin "


Ardi dan Erik pun berjalan tak begitu jauh dari sana hanya berdua. Semua teman teman Ardi maupun Eric hanya terdiam ditempatnya, memperhatikan mereka berdua.


" Lo mau ngomong apa sekarang? " seru Eric


" Gw udah tu semuanya dari Bimo. Tempat lo beli obat itu " aura muka Eric berubah seketika, begitu terkejut. Tapi Eric berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Apa yang lo tau Ardi?


Eric tersenyum getir meremehkan Ardi.


" Terus mau lo apa sekarang? Emang yang lo tau gw beli obat apaan, hah? "


" obat buat gugurin kandungan. " berjalan memepetkan tubuhnya pada tubuh Eric. " siapa yang lo hamilin Ric? Jangan sampai gw denger dari orang lain, kalau Imel yang lo buat hamil! Gw gak bakal lepasin lo! " ancam Ardi tegas.


" Apa hubungun lo sama Imel huh? Lo itu udah gak ada hubungan apa pa sama Imel, Ar. Mau itu Imel atau siapa pun yang gw kasih obat itu. Lo gak ada hak apa pun tuk ngelarangnya! " ucap Eric santai dan saat itu juga tangan Ardi mencengkram leher Eric kuat. Dan sedikit membuat Eric susah bernapas.


Sedangkan semua kawan mereka berdua sudah berdiri siaga saat itu juga untuk berjaga kemungkinan yang terjadi. Tapi masih bertahan diam.


" Gw emang gak ada hubungan apa pa sama Imel. Tapi dia pernah jadi cewek gw, gw gak rela ya, kalau lo bikin dia hamil dan sampai gugurin janinnya! " seru Ardi penuh penekanan dan amarah.


" ok..le pasin du lu ta ngan lo! " pinta Eric terbata bata. Ardi pun melepaskan tangannya dari leher Eric dengan kasar. Mematapnya dengan tajam.


" Iya...gw beli obat itu emang buat Imel "

__ADS_1


" lo... jadi lo yang ngehamilin Imel? " Ardi kembali menekan tangannya dileher Eric tapi langsung terlebih dahulu ditangkis oleh Eric dan mundur menjauh dari Ardi.


" bukan gw yang bikin dia hamil! " ucap Eric lantang.


" apa maksud huh? "


" dia yang datang ke gw, dan bilang kalau dia hamil. Dia minta bantuan gw buat gugurin kandungan, karena dia gak mau mempertahankan anak dalam kandungannya itu. Gw cuma bantu dia aja. Dan bukan gw yang bikin dia hamil! " tutur Eric berkata jujur dan membuat Ardi semakin bingung. Pasalnya, Imel juga gadis yang sedikit polos seperti Nisha, jarang berinteraksi dengan cowok. Tidak mungkin dia hamil bukan dari Eric, cowok berengsek yang suka bermain dan menjerat berbagai cewek demi kepuasannya.


" kalau bukan lo yang ngehamilin dia, terus siapa? Lo jangan ngelak dan coba bohongin gw ya? " sentak Ardi penuh Emosi.


" gw ngomong jujur Ar, bukan gw yang ngehamilin dia! Tapi kalau yang merawanin dia, emang gw sih! "


Brukk


Pukulan itu tepat dipipi kanan Eric. Eric hanya mentuh ujung bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah dengan punggung tangannya.


" Tapi bukan gw yang ngehamiin dia! Sumpah! Gw udah bujuk dia untuk mempertahankan kandungannya, gw juga siap buat tanggung jawab. Tapi dianya gak mau Ar! "


" terus, siapa yang buat dia hamil? "


Eric pun duduk disebuah pondasi taman kecil berbatas dengan tembok pagar tak jauh dibawah pohon besar.


" Emang salah gw juga, Ar. Gw juga gak niat buat ngerusak dia kayak gini " ucap Eric lirih. Ardi pun ikut duduk disamping Eric.


" beneran bukan lo? " tanya Ardi lagi memastikan. Eric menggeleng pasti.


" gw sering bawa dia ke club malam diJP. Lo tau sendiri kan, dia selalu dikekang sama ortunya untuk bergaul. Buat jalan sama temen temennya aja, dia pasti selalu ditelponin sama nyokap bokapnya buat tau dimana dia saat itu. Makanya waktu pacaran sama lo jarang kan dia jalan sama lo! "


" Emang gw yang pertama ngambil keperawanan dia! "


" emang berngs*k lo Ric!" Ucap Ardi emosi dalam diamnya, masih berniat mendengar cerita Eric selanjutnya.


" Tapi itu dulu, itu juga cuma dua kali dan gw pake pengaman. Abis itu gw gak pernah lagi nyentuh dia! "


Rasanya ingin sekali Ardi memukul habis wajah Eric saat itu.


" gw juga kaget, dia bilang dia hamil, Ar. Saat gw tanya siapa yang bikin dia hamil, dia bilang gak tau! "


" maksud lo? " Ardi mengerutkan keningkan tak mengerti ucapan Eric.


" saat dia gw ajak main di club, tanpa gw tau, dia sering diajak tidur disana sama cowok cowok yang ada di club. Dan Imel gak tau siapa yang udah bikin dia hamil, karena dia juga gak begitu kenal semua cowok yang pernah tidur sama dia. Dia juga gak tau cowok yang tidur sama dia, pake pengaman apa gak. Dia ngomong begitu sama gw "


" oh...shit. Dasar b* go! "


Ardi yang mendengarnya pun sedikit frustasi. Bagaimana bisa Imel jadi seperti itu.


" Ya gw tau. Gw yang salah ngajak dia selalu main ke club itu. Makanya gw mau bertanggung jawab, tapi Imel nolak. Dia gak mau ngancurin masa depan impiannya karena kehamilannya itu. Lagian bentar lagi dia ujian dan mau kelulusan. Dia gak mau temen temennya cap dia cewek gak bener "


" tapi dia udah jadi cewek gak bener. Dan itu gara gara lo! " tulas Ardi penuh penekanan menatap Eric.


" Ya setidaknya gw udah nawarin untuk nikahin dia, setidaknya nyokap bokapnya paati mau nerima keadaan itu jika gw yang tanggung jawab. Tapi Imelnya gak mau. Gw gak bisa berbuat apa pa. Gw cuma bisa nolongin dia aja kayak gini."

__ADS_1


Eric sudah menceritakan semua yang dia tahu pada Ardi dengan jujur.


" emang udah berapa bulan? "


" Dia bilang udah mau tiga bulan "


" obat itu udah lo kasih dia?"


" kemaren. Mengkin udah dia minum "


Ardi menarik napasnya berat. Setelah mendengarkan penjelasan Eric. Ardi juga tidak bisa menyalahkannya sepenuhnya.


Ya mungkin ini sedikit balasan atas psrbuatannya dulu yang bersekongkol dengan Eric untuk merusak Nisha. Dan kini... dia merasakannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


Gak tau mau nulis gimana lagi ini! gaje gaje dah😁😁😁 yang penting bisa up.


**TERUS BANTU VOTE YA


LIKE JUKA KOMENNYA.


YANH BELUM ❤, JANGAN LUPA JUGA


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA

__ADS_1


MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**


__ADS_2