Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 60


__ADS_3

Cinta tidak akan menuntut kesempurnaan


Cinta akan menerima


Memahami dan rela berkorban


Karena seharusnya cinta membuatmu bahagia


Bukan tersiksa


* * * * *


" Gadis ini kenapa Nana?" Tanya Ibu Nana yang ikut membantu menggatikan baju Nisha yang basah dikamarnya.


" Korban pelecahan Bu!" Jawab Nana singkat


" Astagfirullah.." Menutup mulut dengan satu tangan, Tak percaya atas ucapan anak gadisnya itu. " Kamu kenal gadis ini? Masih anak sekolah." Nana mengangguk dengan tangan yang sibuk memakaian baju miliknya pada Nisha.


" Dia...pacar Ardi bu." ucap Nana sedikit ragu. Ibu Nana juga mengenal Ardi, yang memang dulu cukup dekat dengan Nana dan sering main kerumahnya.


" Pacar Ardi? Terus ini perbuatan Ardi?" ucap ibu mencoba menebak. Nana langsung menggeleng. " Bukan Bu."


" Terus siapa yang mau ngelecehin gadis ini? Siapa namanya?" Ucap Ibu yang kini sudah duduk ditepi kasur. Nana menyelimuti tubuh Nisha yang masih sedikit dingin dan sudah selesai mengganti bajunya.


" Dia Nisha. Nana sama Hedi juga gak kenal bu siapa yang berbuat ini sama dia" Ucapnya berbohong. Jika ibunya tau yang melakukan itu Eric, mungkin ibu nya juga akan mengintrogasinya yang dulu pernah menjalin hubungan dengan cowok brengsek itu yang ibunya juga kenal. Dan juga akan tau kalau Nana juga pernah tersentuh tangan kotor Eric.


" Malang betul nasib gadis ini. Apa Ardi sudah tau? orang tuanya bagaimana?"


" Ardi masih diperjalanan Bu. Nanti langsung kesini. Kalau orang tuanya, Nana gak tau. Nanti Ardi yang urus."


" Ya udah. Kamu mau makan dulu. Ajak Hedi sekalian makan disini" Nana menganguk. Ibu beranjak keluar kamar, begitu juga Nana dibelakang Ibunya. Menemani Hedi yang duduk diruang tamu seorang diri.


" Assalamaualaikum " Sapa Ardi yang baru sampai dan kini berdiri depan rumah Nana. Nana yang baru akan mendudukan tubuhnya disofa, berdiri kembali dan menoleh kearah pintu bersamaan Hedi pula.


" Ardi " ucap Nana dan Hedi bersamaan.


" Mana Nisha, Na. Katanya disini?" Ucapnya yang memutar bola matanya mencari Nisha tapi tak nampak disana. Nana dan Hedi saling pandang.


" Dia lagi istirahat dikamar gw. Masuk dulu Ar." ucap Nana sedikit terbata. Ardi mengerutkan dahinya. Kenapa dia istirahat dikamar Nana? Gimamnya yang kini duduk bersebelahan dengan Hedi dan Nana disofa seberang nya.


" Gw mau liat Nisha!" Ucap Ardi yang masuk tergesa kedalam. Tapi ditahan oleh Hedi.


" Duduk dulu napa! Nisha lagi istirahat. Bentar lagi juga bangun." Ucap Hedi menggiring Ardi kesofa


" Ada apa sebenarnya ini? Kenapa Nisha disini? Dan ada lo juga Hed? "Ucap Ardi yang sedikit curiga.


" Begini Ar..."


Hedi pun menceritakan semua yang terjadi satu persatu secara perlahan dan Nana pun sedikit tegang yang ikut mendengar cerita Hedi walau dia ada dalam cerita itu. Kedua tangan Ardi mengepal kuat mendengarkannya. Hedi memberikan kaset hasil rekaman eric itu dimeja. Ardi pun memgambilnya dan menggenggamnya erat.


" Begitu ceritanya..." Ucap Hedi mengakhiri ucapannya yang panjang lebar.


Eric ...Baj*ngan!!


Ardi langsung berdiri berjalan kearah pintu keluar. Tapi tangannya ditarik Hedi yang mencoba mencegah Ardi pergi.


" Lo mau kemana?" Ucap Hedi


" Lepasin Hed. Gw mau bikin perhitungan sama tuh cowok brengsek yang udah berani nyentuh Khanisha dengan cara busuk kayak gitu." mencoba menepis tangan Hedi, tapi Hedi terus menguatkan pegangan tangannya.

__ADS_1


" Gak usah! Gw udah bikin dia babak belur tadi saat gw jemput Nisha disana." ucap Hedi menjelaskan. Nana pun mengangguk ikut mengiyakan.


" Mending sekarang lo temenin Nisha yang masih istirahat. Dia lebih butuh lo sekarang."


Ucapan Nana benar. Bagaimana jika nanti Nisha bangun. Dan dia ingat semua kejadian itu.


Ardi terdiam mendengar ucapan Nana. Memandang Nana dan Hedi bergantian. Nana pun mengangguk, Lalu berjalan kedalam. Hedi menepuk pundak Ardi agar Ardi mengikuti Nana. Ardi pun berjalan menyusul Nana dan kini sedang berdiri didepan sebuah kamar. Nana membuka pintu kamar itu, menyuruh Ardi untuk masuk. Ardi berjalan perlahan masuk kedalam kamar dengan ragu ragu. Melihat sosok gadis yang tertidur disana dengan nyenyak ditutupi selimut. Nana tidak ikut masuk, Dia menutup kembali pintu kamar itu agar Ardi dapat menemani Nisha saat nanti terbangun.


Ardi berjalan menuju samping kasur, mendudukkan dirinya disisi kasur, memandangi wajah Nisha dengan sendu. meraih telapak tangannya dari balik selimut dan menggenggamnya erat.


Maafin aku Sha, gak bisa jagain kamu. Sampe kamu ngalamin hal kayak gini. maaf ...


Ardi mencium punggung tangan Nisha yang digenggamnya. Perlahan mata Nisha terbuka sedikit demi sedikit. Nisha merasakan tanganya yang hangat. Tangannya mengeratkan pegangan tangan Ardi, dan membuat Ardi mendongkakkan wajahnya yang tadi tertunduk melihat wajah Nisha yang kini melihat kearahnya dengan tersenyum. Ardi pun membalas senyuman itu. menyentuh pipi Nisha dengan satu tangannya. Nisha merasakan sentuhan hangat itu. Berusaha bangun dari tidurnya dan mendorong selimut yang menutupi tubhnya. Ardi pun membantu Nisha untuk duduk. Tiba tiba Nisha merasakan berat dikepalanya. Dan memeganginya.


" Masih pusing kepalanya?" Nisha mengangguk


" Kak Ar udah sampe. Sejak kapan?" Tanya Nisha dengan suara yang masih lemah. Mungkin efek obat yang dia minum yang membuat Nisha masih lemah.


" Baru aja." Ardi dan Nisha saling tersenyum. Ardi mencium kembali punggung tangan Nisha. Nisha bersemu malu atas perlakuan Ardi itu, yang sangat dia rindukan.


Nisha perlahan sadar, dan melihat sekeliling ruangan tempat dia berada sekarang. Tempat yang begitu asing baginya.


" Ini dimana kak Ar?" Tanya Nisha. Ardi sedikit bingung menjawab pertanyaan itu.


" Ini...dirumah Nana. Dikamarnya. Salah satu temen kampus aku." ucapnya terbata bata.


" Temen kampus. " Nisha sejenak berfikir. Tiba tiba terlintas nama Eric dipikirannya.


" Kak Eric " ucap Nisha lirih yang masih terdengar jelas ditelinga Ardi. Ardi mengerutkan dahinya. Apakah Nisha ingat yang telah terjadi.


Nisha terus melihat banyangan kejadian terakhir yang dia alamai bersama Eric. Matanya terus berputar mengingat sesuatu. Pertemuan, dimobil, rumah Eric sampai saat setelah dia meminum air putih yang berisi obat perangsang itu. Nisha memejamkan mata seketika. Ardi tak bisa berbuat banyak akan ingatan yang terlintas dipikiran Nisha itu. Mungkin akan menyakitkan jika diingat. Tapi Ardi akan selalu ada disampingnya jika dibutuhkan. Nisha mulai menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia memggelengkan kepalanya berulang kali.


Terdengar lirih tangisan Nisha walau pelan. Ardi langsung menarik tubuh Nisha dalam dekapannya dan memeluknya erat.


" Udah jangan nangis sayang!" Ucapan Ardi yang lembut sambil membelai kepala Nisha, malah semakin membuat tangisan Nisha pecah bertambah keras.


" Dia jahat...Huuuaaaaa!" Nisha membenamkan wajahnya didada Ardi dengan suara makin keras. Sedangkan dipintu kamar, sudah berdiri Nana, Hedi dan Ibu Nana yang melihat saat mendengar tangisan Nisha.


" Andai gw yang ada dipelukan lo Ar? Mungkin gw udah gak ada kesempatan buat deket lo lagi sekarang. Semoga lo bahagia sama Nisha " Gumam Nana dalam hati lalu beranjak dari sana diikuti Hedi dan Ibunya pula.


Ardi melepaskan pelukannya dan meraih kedua tangan Nisha agar membuka wajahnya. Diusapnya air mata dipipi cuby itu. Nisha memejamkan matanya merunduk, tak mampu menatap mata Ardi didepannya.


" Dia nyentuh aku Kak Ar..." ucapnya terisak


" Heii...dia gak nyentuh kamu seutuhnya. Kamu masih baik baik aja saat Hedi dan Nana datang nolong kamu." ucap Ardi mencoba menjelaskan memegang kedua bahunya.


" Hedi. Nana " Ardi mengangguk menatap wajah Nisha yang ada dihadapannya.


" Kamu diselamatin sama Hedi dan Nana. temen aku. Kamu masih inget kan?" Nisha mencoba mengingatnya kembali. Dan itu benar. Nisha pun mengangguk.


" Jadi udah jangan nangis lagi" Mengusap kembali pipi Nisha yang masih basah oleh air mata. Tiba tiba Nisha teringat akan sesuatu. Nisha menurunkan baju disalah satu pundaknya. Didepan Ardi pula. Terlihat dibawah pundak Nisha diatas dadanya sebuah tanda berwarna merah terang. Nisha tidak bisa menahan air matanya, lagi lagi keluar saat melihat tanda Kissmark yang diberikan Eric pada dirinya. Ardi pun tidak menyangka akan hal itu, dia membelalakan matanya saat melihat tanda itu.


Nisha menggosoknya dengan tangannya dengan kuat, air matanya pun masih terus mengalir.


" Gak bisa ilang Kak Ar...Hikks. Kenapa gak bisa ilang! Aku gak mau ada bekasnya dibadan aku. " terus menggosoknya bahkan dengan bajunya sampai kulitnya memerah.


" Stop Nisha! Nanti malah jadi luka. " Ucap Ardi yang menarik tangan Nisha kuat.


" Biarin Kak! Mending jadi luka sekalian dari pada sebuah tanda kaya gini dari cowok gila itu. " berusaha menarik tangannya, tapi percuma, genggaman tangan Ardi lebih kaut menahannya. " Tanda ini bikin aku jadi gak pantas buat kamu." Ucap Nisha menundukkan kepalanya.

__ADS_1


" Tanda itu gak pengaruh buat aku untuk buat kamu gak pantas untuk aku. Yang buat kamu pantas itu Hati kamu buat aku. Aku mau kamu apa adanya. Cukup kamu percaya sama aku. maka aku akan percaya penuh sama kamu " ucapnya menangkap wajah Nisha dengan kedua tangannya. " Hanya sebuah tanda. Tapi kesucian kamu masih terjaga. itu yang penting !"


Mata Nisha kembali berkaca kaca.


" Boleh aku sentuh tanda itu dan menggantinya?" Nisha menyautkan alisnya, tak memgerti permintaan Ardi. Ardi mendekatkan wajahnya pada wajah Nisha.


" Maaf sebelumnya " Ardi menurukan sedikit baju dipundak Nisha dan melihat tanda merah itu yang sudah sedikit lecet karna gosokan tangan Nisha tadi. Ardi mengecup tanda itu, mengganti tanda yang dibuat Eric dengan kecupannya yang cukup dalam. Nisha hanya bisa memejamkan matanya tanpa bisa menolak.


Ardi melepaskan kecupan itu, dan Nisha membuka matanya. mereka saling berpandangan.


" Sekarang itu tanda dari aku, bukan milik dia " Nisha memasang wajah cemberutnya dan memukul bahu Ardi. Tapi Ardi malah menarik tubuh Nisha dalam dekapannya. Nisha pun membalas pelukan itu.


" Udah ya. jangan nangis lagi!" Ucapnya membelai lembut kepala Nisha. Nisha pun menganggukkan kepala nya dipundak Ardi.


" Makasih Kak Ar. Udah bikin tenang aku "


" Itulah guna aku ada disisi kamu sebagai pacar "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


**Jangan lupa untuk 🖒,VOTE dan 🌟 rate ya


❤ nya juga boleh untuk up selanjutnya


Komen berupa kritik dan saran juga diharapkan jika readers berkenan.


Terima kasih sudah membaca😊


Mohon dukungannya🤗😘**

__ADS_1


__ADS_2