Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 38


__ADS_3

Aku mundur memilih hancur


Kubiarkan harapanku padamu terkubur


Aku menyerah pada hati yang patah


Meski perasaan ini masih yang terindah


* * * * *


" Sha...lo mau ikut?" Ucap Lia. Nisha mengangguk setuju.


" Gw juga pengen tau yang sebenarnya ? Ayoo..." Nisha berdiri dari kursi berjalan keluar kelas menyusul Imel dan teman lainnya yang sudah keluar duluan.


Dian, Lia fan Eva pun terpaksa ikut keluar. Mereka juga penasaran apa yang direncanakan Imel dan teman lainnya.


Saat banyak siswi yang pada keluar kelas, sisiwi yang lain yang melihat itu jadi terheran.


" Ada apaan sih rame rame pada keluar ? "


" Tau itu?"


" Liat ahkk"


" Gak Ahhk!"


Ada siswi yang penasaran, ada juga yang cuek tak perduli.


Sedangkan diluar dikoridor, beberapa siswi duduk dilantai di pinggir koridor samping kelas mereka.


Ada Yani yang sudah memegang Hp miliknya dan sudah dalam mode panggilan ke nomor yang dituju. Sebelah kanan Yani ada Imel Iren Isti dan Arin, sebelah kiri Yani ada Endah, Nisha didepan nya Dian Lia dan Eva.


Sebenarnya sudah sejak kemarin Yani menghubungi Nomor penggemar rahasia Imel. Tapi ketauan olehnya bahwa yani itu teman Imel.


" Udah deh sekarang lo jujur aja sama gw, lo itu Ardi kan yang sekarang jadi pacarnya Nisha?"


" Bukan tuh! Sok tau ahhkk...nyimpulin dari mana kalau gw ini Si Ardi, Hah?" Sangkal dia


" Imel yang bilang, dari suara lo saat telpon dia dan bahasa lo saat sms dia. Itu Ardi banget " ucap Yani meyakinkan.


Pernah telponan juga rupanya . Batin Nisha


" Bukan...kebetulan aja kali itu mah!"


" Lo kenapa sih penasaran banget, kalau gw ini Ardi ?"


" Ya iya lah...Imel kan suka cerita sama gw. Dia tuh sebenernya masih sayang sama Ardi, dia nyesel waktu ninggalin lo dulu. Lo Ardi kan?" tanya Yani lagi memaksa.


" Gw telpon ini gak ada siapa siapa tau. Cuma gw sendiri. Lo jujur aja sama gw. Gw gak bakal ngasih tau ke Imel atau pun ke Nisha deh!"


" Yakin lo cuma sendiri? Gak lagi ngerjain gw ?"


Mereka semua yang ada disitu yang mendengarkan dengan serius.


" Iyaa...sumpah! Gw cuma sendiri. Nih gw alihin ke vicol yaa " Yani buru mwnyuruh yang lain untuk pergi bersembunyi.


Dengan sigap semua yang ada lari bersembunyi, ada yang lari ketoilet samping kelas yang memang ada di pojok koridor, ada yang samping tiang pagar koridor, ada yang lari masuk kelas. Lalu Yani mengalihka ke VC saat semua sudah tidah ada lagi.


" Tuh liaatt!" Yani mengarahka keseluruh sudut bahwa dia hanya sendiri.


" Ya kan! " ucapnya saat menghadapkan kamera padanya lalu kembali ke panggilan semula. Yani lalu memanggil teman teman yang lain yang tadi bersembunyi. Ada beberapa teman siswi yang lain yang penasaran, dan ikut bergabung mencari tau. ada juga yang hanya lewat saat ke toilet memperhatikan Yani dan lainnya.


" Ada apan sih?" tanya Siswi yang penasaran pada Endah. Dia Sari. Siswi paling cerewet dikelas. Akhirnya Endah menjelaskan semua yang terjadi antara Nisha Imel dan cowok bernama Ardi. Dan Sari pun terkejut.


" Sekarang udah. Jujur sama gw! Lo Ardi kan ?" Ucap Yani " Gak bakal ada yang tau kok!"

__ADS_1


" Yaaaaa...ya udah gw jujur. Iya gw Ardi !!" ucap akhirnya Ardi mengakuinya.


Yang lain terkejut tidak percaya membulatkan matanya, beda dengan Imel yang sudah menebaknya. Dia terlihat pura pura kesal. Sedangkan dihatinya ada kesenangan tersendiri.


Dan Nisha, Lia , Dian dan Eva seperti menahan kesal. Ini yang mereka takutkan, tetbongkar. Dan yang akan menerima dampaknya, Nisha. Kecerobohan Ardi. Mereka bertiga hanya membuang napas kasar.


" Tuh kaann...Bener. Kenapa mesti bohong sih? Lo takut sama Nisha ya.?"


" Gak lah..."


" Sekarang jujur lagi dah. Lo masih sayang kan sama Imel ?"


Deg


Deg


Deg


Nisha dan Imel sama sama merasakan jantung mereka seperti akan berlari jauh. Itulah pertanyaan yang jawabannya ditunggu tunggu. Walau sebenarnya Nisha tau, tapi memang tidak pernah mendengar ucapan itu langsung. Dan ini yang ingin dia tau.


" Itu...kenapa emangnya?"


" Karena Imel juga sebenarnya masih sayang sama lo !"


Nisha dan ketiga temannya memandang Imel, sedangkan Imel masih fokus pada suara Ardi di ujung telpon


" Iyaa...gw jujur. Gw masih sayang sama Imel sampe sekarang " ucapnya perlahan


Imel tersenyum puas. Sedangkan Nisha...


Jleebbb


Bagaikan sebuah pisau menacap dalam dihatinya. Terasa perih dan penuh darah, tapi tak terlihat nyata. Sebisa mungkin Nisha menahan rasa itu agar terlihat biasa saja oleh teman temannya. Dian merangkul Nisha yang ada disampingnya. Memberi dukungan. Nisha tersenyum pada temannya itu. Lalu kembali lagi fokus mendengarkan percakapan Yani dan Ardi.


" Ohhh....Ya udah. Kenapa lo gak jujur aja sama Imel. Kan sekarang juga Imel masih sayang sama lo ?"


" Iya ...gw tau..."


" Woooyyy...Bu Maria dateng wooyy, dia ditangga " Ucap seorang siswi memberi tahu kedatangan seorang Bu Guru yang akan kekelas mereka. Yani dan yang lain terkejut langsung berdiri melihat kearah tangga. Dan benar saja, Seorang guru muncul berjalan kearah mereka.


" Ar, Udah dulu ya. Ada Guru dateng " Tanpa mendengar jawaban Ardi dan kelanjutan ucapannya yang tadi terputus, Yani langsung memutus hubungan telpon tersebut. Yang tadi ada disana langsung berlari kedalam kelas.


" Ian, gw ketoilet dulu deh !" ucap Nisha saat yang lain kekelas.


Lia dan Eva memberi isyarat pada Dian untuk mengikuti Nisha ke toilet. Lia dan Eva kembali kekelas saat Dian berjalan menuju toilet mengejar Nisha.


Nisha berjalan masuk ketoilet. Dan mengunci pintu satu kamar mandi. Dia bukan benar benar ingin ke kamar mandi. Tapi dia ingin mencari udara bebas. Udara yang tidak membuatnya sesak sejak mendengar suara dari telpon tadi.


Haaahhh....Haaahhh...Huuhhff Hiiikkkk Hiiiikkkkk...Hiikkkk


Dia membuang seluruh nafasnya dengan kasar. Melepaskan semua nafas yang tertahan. Sampai tampa sadar nafasnya berubah menjadi suara lirih tangisan. Dia Bersender didinding pintu. menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya sudah tak tertahan lagi membasahi pipinya yang tertutup telapak tangan.


Dian masuk kedalam toilet. Dia sedikit mendengar suara lirih isak tangis Nisha. Mendiamkannya sesaat.


" Sha...Lo gak pa pa ?" Ucap Dian dari luar


Nisha tersadar saat mendengar suara panggilan Dian.


" Iaa... Gw gak pa pa Ian !" Menghapus air matanya dengan kedua telapak tangannya.


" Ayo buruuan..Bu Gurunya dah dikelas !"


" Iaa..Bentar" Berpura pura menyiram kloset dengan air. Lalu keluar.


" Lo gak pa pa?" Meletakkan satu tangannya dipundak Nisha. Dan Nisha mengangguk. Lalu mencuci wajahnya karena takut terlihat sehabis menangis. Kemudian kembali kekelas.

__ADS_1


Syukurnya Ini sudah masuk jam pelajaran terakhir. Sehingga tak mungkin untuk melànjutkan telpon yang tadi telah terjadi.


Sedangkan Ardi, yang menjadi topik masalah, hanya senyum senyum saja setelah telpon dari Yani tadi terputus saat dia masih ada dikampusnya.


" Lo kenapa Ar senyum senyum aja?" Tanya Hedi yang baru datang mendekati Ardi yang duduk seorang diri disebuah bangku dibawah pohon disamping gedung kampus.


" Gak kenapa napa gw, Cuma lagi seneng aja!" ucapnya masih sambil tersenyum.


" Seneng kenapa emangnya? Abis dapet undian lo?"


" Bukan undian, Tapi menang taruhan !" Ucapnya berdiri dari duduknya


" Kekantin yukk! Gw yang traktir " Ucapnya sambil berjalan kearah kantin.


" Waahhh!! Lo emang temen gw yang paling baik dah " berlari dan merangkul pundak Ardi.


* * *


Nisha termenung sendiri didalam angkot yang sedikit penumpangnya. Dia tidak ingin pulang bersama temannya yang lain seperti biasa. Dia memilih pulang sendiri. Duduk dipojokan angkot memandang keluar jendela. Musik bok didalam angkot sedikit membuat Nisha tenang dan memejamkan matanya, melupakan semuanya. Tapiii....tiba tiba saja sebuah lagu melow terdengar menyayat hati Nisha yang sedang terluka. Seperti luka yang disiram oleh cairan larutan garam.


* Tak banyak ingin ku...jangan kau ulangi


Sakiti aku sesuka kelakuanmu


Ku bukan manusia yang tidak berfikir


Berulang kali kau lakukan itu padaku


JIKA CINTA DIA...jujur lah padaku


Tinggal aku disini tanpa senyumanmu


Jika cinta dia...ku coba mengerti...


Mungkin kau buka cinta sejati dihidupku *


Hati Nisha semakin teriris saat lagu itu terdegar begitu jelas dan kencang ditelinganya. Sangat dalam menusuk hatinya. Memejamkan matanya menahan sesak yang kembali menyerang dadanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


**Jangan lupa untuk 🖒, vote dan rate🌟5 ya


❤ juga boleh untuk up selanjutnya


Komen berupa kritik dan saran sangat diharapkan jika readers berkenan.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca🤗


Mohon dukungannya😊😘**


__ADS_2