
Ketika berhadapan denganmu,
Dunia ini serasa berhenti sejenak.
Hanya detak jantungku yang berdetak
Lebih cepat.
* * * * *
Sore ini langit biru terlihat cerah dengan gumpalan awan yang berpencaran kesana kemari. Angin pun berhembus kencang menyejukka udara yang sedikit panas karena pancaran matahari sore yang ada dilangit barat.
Sebuah perumahan kelas menengah yang cukup luas dan masih dalam pengembangan. Banyak pohon besar rindang di pinggir jalan yang cukul luas untuk jalur dua mobil beda arah. Disini lah banyak orang berkendara sepedah motor berkeliling komplek hanya untuk menikmati udara sore yang sejuk seperti minggu sore ini. Ada juga sebuah sungai cukup lebar membelah komplek menjadi dua bagian, dan taman taman yang cukup luas pula disisi sungai itu, tempat untuk menikmati senja sore hari bersama keluarga atau kawan atau bahkan bersama pasangan.
" Disini ramai juga yaa...padahal komplek ?" ucap Nisha saat berbonceng dimotor Ardi.
" Memang, disini kadang dijadiin tempat nongkrong anak anak motor juga."
" Oohhh..." sambil manggut manggut.
" Katanya mau belajar ngendarain motor ?" tanya Ardi.
" Kak Ar, mau ngajarin " Ardi mengangguk
" Disini " Tanya lagi.
" Iya disini, mau dimana emangnya?"
Ardi meminggirkan motornya disisi jalan bertrotoar.
" Bisa naik sepadahkan?"
" Kok malah nanya bisa naik sepedah atau nggak ?" Masih duduk diatas motor
" Kalau mau belajar motor harus udah bisa naik sepedah dulu " memarkirkan standar motor dan memutar posisi duduknya
" oohh..sepedah mah lancar banget."
" Udah pernah bawa motor ?"
" Pernah. Motor Papa yang bebek. Yang pake gigi dan dua kali jatuh. hehehe "
" Jatuh !!" Nisha memgangguk.
" Kok bisa ?"
" Motornya berat. Dan pas itu gak bisa ngendaliin pegangan gasnya, kekencengan terus jatuh " Ardi hanya menggeleng dan turun dari motor. Nisha masih duduk di jok motor belakang.
" Maju " menyuruh Nisha duduk dijok depan kemudi motor.
"Eehhh..." Nisha menggeser kedepan lalu Ardi naik ke jok belakang.
" Idupin kontaknya "
" Takut Kak Ar !" sudah memegang stang motor itu tapi kedua kakinya masih menahan keseimbangan motor, begitu juga kaki Ardi dibelakang.
" Kan ada aku. Ntar dipegangin "
Lalu Nisha memutar kontak dan menyalakan stater motornya.
" Terus gimana ini?" Ucap Nisha sedikit takut.
" Ya udah tarik gasnya pelan pelan !"
Nisha pun menarik stang gas tersebut perlahan, dan motor pun melaju pelan.
" Tuh bisa....pelan pelan aja dulu gasnya " ucap Ardi yang tiba tiba memegang pinggang Nisha. Badan Nisha pun jadi merinding sehingga gas nya perlahan semakin naik. Nisha pun jadi tegang
__ADS_1
" Eehhh..." Ardi terkejut langsung memajukan badannya dan meraih stang motor dengan kedua tangannya untuk mengatur laju gas motor. Sehingga badan Ardi menempel pada badan punggung Nisha, seperti Nisha yang dipeluk dari belakang.
" Pegang yang bener Sha, gasnya. liat speednya di 20 aja. Jangan dilebihin yaa narik gasnya ." Nisha melirik jarum speedometer motor diangka 20.Tangan Ardi masih disatu stang dengan tangan Nisha.
" Dah...tahan pegangan gasnya di angka 20 " Nisha hanya mengangguk. Ardi pun perlahan melepas tangannya.
Perlahan lahan Nisha pun bisa mengontrol tarikan gasnya untuk bertahan di kecepatan 20 km/ jm. Kini dia sudah dua kali berputar dikomplek itu. Nisha pun bisa tersenyum senang.
" Udah kak Ar. Pegel tangan aku !"
Lalu Nisha pun menepi dan mematikan motornya. Berpindah posisi seperti semula.
Ardi pun mengajak Nisha untuk duduk di taman pinggir sungai dikomplek itu.
" Heemmmm....udara sore disini seger ya kak! tempatnya juga nyaman " Ucapnya yang sudah duduk dihamparan rumput taman beralaskan sendalnya sendiri, kedua kakinya ditekuk. Ardi pun duduk diselah Nisha,memperhatikan gadis itu sambil tetsenyum, kakinya duduk bersila dan kedua tanganya kebelakang menyanggah tubuhnya.
" Suka gak tempatnya ?"
" Hhmmm." sambil mengangguk.
Mata mereka menatap langit barat yang sudah hampir berubah warna menjadi jingga. Ada burung burung yang terbang dilangit itu menambah keindahan.
" Kak Ardi sering main kesini ?" menatap wajah cowok disampingnya yang masih memandang langit.
" Gak juga. Biasanya kesini sama temen temen nongkrong aja, dan bukan duduk ditaman kayak sekarang." memandang cewek disampingnya itu.
Pandangan mata mereka bertautan sebentar, lalu kembali memandang langit.
" Berarti cuma sama Nisha aja yang diajak ke taman ini sama Kak Ardi?" berucap sambil menahan senyum.
Ardi menegakkan posisi duduknya.
" Kayaknya..." sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
Nisha melirik kearah pundaknya saat sebuah tangan merangkulnya erat. Lalu menoleh kepemilik lengan itu. Ditariknya erat pundak Nisha membuat bahunya menempel erat di dada Ardi.
kenapa harus ngomong Imel lagi sih!!
" Emangnya gak ada cewek kak Ardi yang lain selain Imel?" Tanya nya tanpa menatap Ardi.
" Ada...cuma udah pada sibuk sama kegiatannya masiing masing. Udah los kontek semua juga tuh!"
" Kenapa emangnya ?" mengencangkan tarikan pundak Nisha membuat Nisha memandang wajah Ardi.
" Gak kenapa napa! Nanya aja " membuang wajahnya kesembarang arah, menutupi wajahnya yang merasa panas karena rangkulan itu dan membuat jantungnya berdebar tak karuan.
" Sekarang cerita soal kamu ke aku "
" Hahh..." menoleh ke Ardi
" Iya...cerita. Kamu udah berapa kali pacaran?" menundukkan sedikit wajahnya melihat wajah Nisha.
" Itu..." Nisha sedikit terkejut atas pertanyaan itu.
" Jangan bilang,, aku cowok kamu yang pertama !"
" Iihhh...pede banget " Melepaskan rangkulan tangan Ardi.
" Teruss....udah berapa kali?" merangkul kembali pundak Nisha dan merapatkannya lagi.
" Kak Ardi sendiri? Aku yang keberapa ?" Memiringkan wajahnya memandang Ardi
" Kok malah balik nanya sih?" mencolek bawah dagu Nisha.
" Ya udah jawab dulu Kak Ardi, ntar baru aku jawab" ucapnya sambil tersenyum.
" Kamu itu yang keberapa ya ?" mengangkat tangannya yang satu dan menekuk jari jarinya seperti sedang menghitung. Nisha yang melihat menyautkan alisnya.
__ADS_1
Emangnya banyak apa mantannya? kok dah lewat lima jari aja. Terus gw yang keberapa ?
" Banyak emang kak Ar ?"
" Gak juga. Cuma 7 cewek. Berarti kamu yang..."
" Kedelapan " Ardi mengamgguk. Nisha mengembungkan pipinya.
Banyak juga yaa
" Kenapa? " menxubit pipinya
" Aawww...Gak pa apa " mengelus pipinya
" Trus aku yang keberapa?"
" Yang ketiga " jawabnya santai memandangi langit lagi.
" Oohh...pernah pacaran juga yaa?"
" Iihhkk...apan sih ! Ya pernah lah Kak."
Mereka pun mulai bercerita tentang masa lalu masing masing. Hingga tak terasa, matahari semakin tenggelam menutup cahaya yang tersisa membuat langit semakin gelap.
Ardi dan Nisha pun beranjak pergi dari taman itu, dan mampir kesebuah warung bakso terlebih dahulu. Lalu mampir sebentar keruko bengkel Ardi.
Saat mereka tiba diparkiran ruko bengkel, Nisha dan Ardi melihat Imel yang baru saja keluar dari dalam rumahnya bersama seorang cowok menuju mobil yang terparkir si depan gerbang rumah Imel. Mata mereka saling melirik dari kejauhan. Imel dan Nisha saling tersenyum. Ardi langsung bermuka masam dan berjalan menuju pintu ruko.
" Sha, ayo masuk " ucapnya saat pintu sudah terbuka.
" Eehh..iya kak."
Sedangkan yang diseberang sana sudah masuk kedalam mobil dan pergi.
Gw harus dapetin nomor tuh cewek
Si cowok tersenyum diujung bibirnya saat melihat Nisha masuk keroku Ardi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Jangan lupa untuk 🖒, vote dan rate 🌟 5 ya
❤ nya juga yaa untuk up selanjutnya
Komen berupa kritik dan saran juga author harapakan jika readers berkenan.
Terima kasih sudah membaca 🤗😘
__ADS_1