Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 82


__ADS_3

Jika menciantaimu adalah mata pelajaran,


Maka


Aku akan hadir setiap hari


Dan duduk paling depan.


* * * * *


Setelah bertemu Maya dibengkel Ardi, setidaknya Nisha bisa lega karena tak ada lagi hubungan serius antara Maya dan Ardi, hanya hubungan teman masa lalu.


Awalnya Nisha memang sedikit cemburu saat melihat Maya ada disana, tapi memang Nisha selalu dapat mengontrol perasaan emosi itu, yang lebih baik menunggu adanya penjelasan.


Bahkan bukan rasa cemburu yang menguasainya, tapi rasa tak percaya dirinya yang membuatnya merasa kalah jika harus bersaing dengan Maya yang menurutnya lebih dari dirinya untuk mendapat hati seorang Ardi, bahkan dulu saat pertikaiannya dengan Imel pun, Nisha lebih baik mengalah sebenarnya, walau ternyata Ardi sendiri yang lebih memilihnya. Dan sekarang pun begitu pula.


Dan Nisha benar benar menunggu sampai Ardi menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan Nisha pun tidur dikamar Ardi dilantai atas ruko. Nisha juga sudah mengabari orang tuanya bahwa dia pulang telat dengan alasan mengerjakan tugas dirumah temannya. Memang kedua orang tua Nisha tidak ada dirumah, tapi Nisha atau pun adiknya pasti memberi kabar kemana pun mereka akan pergi.


" Mau makan dulu? " Tanya Ardi saat dijalan mengantar Nisha pulang dengan motor matic kesayangannya.


" Ya udah. Tapi makan dirumah aja ya?" Saut Nisha dijok belakang motor. Ardi pun mengangguk " Iya ".


Setelah membeli beberapa makanan, dan sampai dirumah Nisha. Terlebih dahulu Nisha membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya. Dirumah juga sudah ada Papa sakti dan Yuni, sedangkan Ibu Uni akan pulang telat.


Setelah itu Nisha dan Ardi makan berdua diteras depan rumah. Karena memang Ardi yang badannya terasa lelah dia membaringkan badannya dan menaruh kepalanya dipangkuan Nisha. Kebiasaan yang selalu terjadi saat mereka berdua. Ardi mulai memejamkan matanya disana, tangannya pun dilipat didadanya. Nisha memandang sejenak wajah kekasihnya itu. Wajah yang memang terlihat sangat lelah. Nisha mengusap perlahan kepala Ardi dengan satu tangan, tangan satunya dia letakkan diatas lipatan tangan Ardi. Tiba tiba Ardi meraih tangan Nisha itu dan menggenggamnya erat. Nisha tersenyum kecil. Jantungnya kembali berdegup setiap Ardi melakukan hal kecil yang berkaitan dengan kontak fisik. Walau hanya pegangan tangan seperti itu. Ardi pun tersenyum dengan mata yang terpejam.


" Kak Ar...sebenarnya masih ada rasa gak sama Maya?" tanya Nisha tiba tiba dan sedìkit ragu. " Kenapa kamu masih tanya hal kayak gituan sih?" alih alih menjawab, Ardi malah balik bertanya dengan mata masih terpejam. " Masih cemburu kamu?"


Nisha memutar bola matanya. Dia juga tidak tahu kenapa dia bertanya hal itu. Tapi entah mengapa Nisha sedikit penasaran akan hubungan Ardi dengan Maya seperti apa dahulu.


" Hhhmmm..."


" Dia cuma masa lalu aku Sha, aku sama dia udah gak ada perasaan apa apa! Sama juga kayak aku sama Imel, Gak ada rasa apa apa lagi!" jelas Ardi dan masih dengan mata tertutup dan semakin mempererat genggam tangannya.


" Kok bawa Imel juga?"


" Ya kan kamu juga sering nanyain perasaan aku ke Imel masih ada atau gak!" Seru Ardi


" Kamu masih belum yakin kan sama hati aku ke kamu?" Tanya Ardi yang kini membuka matanya dan menatap Nisha dari pangkuannya. Memang Nisha masih kurang yakin akan hati Ardi untuknya, karena Ardi yang merupakan mantan Imel, apalagi tempat tinggal mereka yang berdekatan. Yang kadang Nisha berpikir Ardi masih memiliki rasa untuk Imel. Ditambah lagi kini kehadiran Maya yang juga merupakan wanita yang sempat Ardi sayang dahulu. Semakin membuat Nisha ragu akan dirinya sendiri yang sejak awal hanya dianggap pelarian saja.


Nisha melihat Ardi yang membuka matanya dan menatapnya. Nisha memalingkan wajahnya, ada rasa gerogi saat Ardi menatapnya dengan mata syahdunya. Membuat Nisha jadi salah tingkah.


" Udah merem lagi matanya!" Seru Nisha sambil menutup mata Ardi dengan satu tangannya yang lain. " Kamu kan capek!" tambahnya lagi. Ardi pun tak banyak bicara, karena melihat Nisha yang salah tingkah. Dia kembali menutup mata lagi sambil tersenyum. Lalu mencium punggung tangan Nisha yang digenggamnya. Membuat pipi Nisha sedikit merona dan senang dalam hatinya.


Malam ini berlalu begitu saja. Ardi tak lama berada dirumah Nisha karena tak ingin Nisha menjadi tidur terlalu malam kerena besok dia akan sekolah, begitu juga Ardi yang ada jam kuliah besok pagi.

__ADS_1


* * *


Sudah hampir dua bulan sejak awal kegiatan belajar semester kedua dikelas tiga setelah libur panjang berlalu dimulai. Semua siswi yang ada ditingkat 3 pun sudah melaksanakan kegiatan Pendalaman Materi mereka setiap hari jumat dan sabtu setelah pulang sekolah. Karena hanya hari itu jam pelajaran di sekolah berlangsung hanya sampai jam 12 siang. Baru setelah itu dilanjutkan Pendalaman Materi untuk menghadapi ujian yang akan diadakan 4 bulan lagi.


Seperti siang jumat ini, kegiatan Pendalaman materi sedang berlangsung dilantai 2 untuk semua siswi kelas 3.


Dikelas 3 PJ 1, kelas Nisha dan teman temannya, saat ini Bu Rose sebagai Guru Bahasa Indonesia membagikan lembar soal hasil foto copyan dan modul pendalaman materi Ujian Nasional tahun sebelumnya.


" Bagikan kebelakang ya " ucapnya memberikan beberpa lembar soal pada meja siswi paling depan tiap baris agar membaginya pada siswi lain kemeja belakang.


" kerjakan dulu soalnya masing masing, lalu kumpulkan. Setelah itu baru kita bahas sama sama" jelas Bu Rose yang berdiri didepan kelas. " Ibu kasih waktu 45 menit untuk mengerjakan! Jangan saling nyontek! Kerjakan masing masing! Oke! " Suara Bu Rose begitu tegas tapi masih terbilang lembut.


" Baik Buu " Seru semua siswi. Dan mereka semua pun mengerjakan dengan tenang sàat saat awal. Bu Rose pun kini duduk dikursi meja Guru dipojokan depan ruang kelas. Semua memang mengerjakan dengan tenang walau sebenarnya semua siswi masih saling lirik lirikan satu sama lain dan saling berbisik meminta jawaban yang sekiranya sulit bagi mereka.


Nisha dan Lia masih satu meja. Nisha memang jago dimata pelajaran matematika, tapi untuk bahasa Indonesia, Lia lebih jago dari Nisha. Walau Nisha lebih memilih mengerjakannya sendiri dari pada meminta jawaban pada Lia. Sedangkan Dian dan Eva masih standar saja. Mereka akan meminta jawaban soal jika memang sulit bagi mereka atau mepet saat waktu menjawab akan habis.


Setelah waktu menjawab sudah habis, semua lembar soal yang telah dijawab dikumpulkan perbaris. Lalu Bu Rose menukar lembar soal itu kesetiap barisan meja. Lembar soal barisan 1 ditukar dengan barisan 4, barisan 2 ditukar dengan barisan 3. Lalu dibagikan lagi untuk dikoreksi dan dibahas jawabannya bersama sama.


Sekitar hampir 2 jam semua siswi melakukan pendalaman materi hari ini. Setelah selesai semua siswi pun pulang. Tapi tidak dengan Nisha dan teman temannya. Nisha, Eva dan Rini pergi main kerumah Lia. Mereka juga bersama temannya yang lain yang rumahnya memanh dekat dengan Lia yaitu Apri. Apri memang rumahnya berdekatan dengan Lia.


Mereke kerumah Lia karena akan beralajar bersama membahas soal soal UAS matematika. Karena besok akan pendalaman materi pelajaran matematika.


" Apri...ikut yuk belajar bareng?" Ajak Lia saat Apri mengarah kejalan menuju rumahnya.


" Iya. Ntar gw nyusul deh! " seru Apri sambil berjalan mundur.


" Si Dian nyamperin Lutfi mulu sih Li?" Seru Rini disel sela belajar mereka. " Bilangin napa Li jangan jadi cewek gampangan gitu !" Tambahnya yang merasa Dian kini berubah sejak dekat dengan Lutfi.


" Ya...gw udah bilangin dia! Dianya gak mau dengerin!" Ujar Lia yang juga sedikit kesal dengan satu temannya itu.


" Ya namanya lagi buta karena cinta! Orang mau ngomong kaya apa gak bakal didenger!" Ucap Eva menambahkan soal Dian.


" Emang! Padahal gw udah berapa x liat lutfi jalan sama cewek lain saat gw bareng Alan, tapi saat gw cerita sama Dian, dia gak percaya sama gw. Dia bilang, Gw udah nanya sma dia katanya itut tuh temennya bukan siapa siapa kok! Lutfi tuh sayang sama gw, gitu katanya " Ucap Lia menuri gaya bicara Dian sambil bertolak pinggang. " Bodo amat ahk gw mah sekarang!"


" Maksud lo sebenernya, lutfi itu selingkuh Li?" Kini Nisha ikut bicara. Lia hanya menganggukkan kepalanya tanpa suara.


" Sha, Dian itu kayak dibutain sama lutfi. Paan aja yang lutfi pinta, kadang dibeliin sama Dian. Matre tau Lutfi. Awal awal mereka jadian mah biasa aja, makin kesini Dian makin diporotin tau!" Tutur Lia sedikit kecewa.


" Iya...Kalau kita bilangin gak usah, jangan diturutin napa, Dian bilangnya emang kenpa sih, gw kan sayang sama dia. Huuhhhff!!" tambah Rini. Eva dan Nisha hanya menyimaknya saja, karena memang Dian jarang bercerita pada mereka, sedangkan Rini dan Lia yang selalu pulang bareng dan melihat Dian yang selalu bertanya saat didalam angkot bersama.


Sedangkan Nisha yang selalu dijemput Ardi dan Eva yang berbeda tujuan rumah.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf ya kalau ceritanya kurang menarik. Tapi ini udah semampu yang ada dipikiran author.


**BANTU VOTE YA KAWAN


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN JUGA

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA😊


MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**


__ADS_2