
Kamu harus menjadi
Seperti langit
Yang tetap berdiri
Walau hujan turun dengan deras
* * * * *
Setelah sadar, Nisha membereskan barangnya dan bajunya yang sudah dicuci terlebih dahulu oleh Ibu Nana dan dikeringkan. Ibu Nana mengajak Hedi, Ardi dan nisha untuk makan lebih dulu, Tapi mereka menolak dan lebih memilih pulang. Hedi pulang karena harus mengembalikan mobil tantenya itu. Ardi dan Nisha pun tak dapat berlama lama, karena hari semakin sore dan takut nanti keluarga Nisha akan pulang terlebih dahulu dari Nisha. Nisha berterimakasih pada Hedi dan Nana atas pertolongan mereka.
" Makasih kak Nana dan Kak Hedi yang udah nolong aku. Jika tidak ada kalian , Mungkin Aku sudah..." Ucapannya tak berlanjut, Nisha hanya menundukkan kepalanya. Ardi merangkul pundak Nisha erat.
" Gak usah diingat lagi. Semuanya udah lewat!
Lain kali hati hati lagi kalau kenal cowok " Ucap Hedi yang berdiri didepan Nisha.
" Tuhan masih sayang kamu. Makanya kamu masih bisa kita selamatin. Harus semangat lagi ya!" Nisha mengangguk mendengar ucapan Nana yang tersenyum padanya.
" Sekali lagi makasih! Maaf udah ngerepotin Ibu dan Kak Nana" Membungkukkan badannya memberi hormat.
Ardi dan Nisha pun pergi dari rumah Nana. Hedi pun ikut beranjak dari sana berjalan dibelakang Ardi.
Nisha duduk bersandar dikursi depan mobil disamping Ardi yang sedang mengemudikan. Pandangan Nisha kosong mengarah keluar jendela. Langit sore terlihat muram dan gelap. Mendung sedari siang tapi tidak menurunkan hujan, menjadikan udara jakarta teduh dan dingin. Banyangan kejadian bersama Eric terlintas kembali dipikirannya. Reflek Nisha meremas celana bahan milik Nana yang dikenakannya. Ardi yang melihat kepalan tangan itu, meraihnya dan menggenggamnya.
Nisha langsung menoleh kearah pemilik tangan itu yang kini tersenyum padanya.
" Jangan dipikirin lagi. Aku tau gak akan mudah untuk ngilangin ingatan buruk itu. Tapi aku akan bantu buat kamu lupain itu dan bakal gantiin ingatan buruk itu jadi kenangan indah bareng aku. " Ucapnya yang masih fokus pada kemudinya dan sedikit melirik ke Nisha.
" Aku tungguin. Dan aku mau liat, kenangan kayak apa yang bakal Kak Ar kasih buat aku nanti!" jawabnya dengan penuh senyuman.
Syukurnya Nisha dan Ardi sampai rumah sebelum magrib dan semua kembali pulang. Nisha bergegas masuk kedalam rumah, Ardi pun kini sudah merebahkan tubuhnya disofa ruang keluarga. Ya karena dia belum sempat istirahat sejak berangkat dari Bandung ke Jakarta. sampai saat tiba dirumah Nana dan kini berakhir disini.
Nisha segera mengganti pakaian Nana yang dia pakai dengan baju miliknya. Kaos santai berwarna oranye dan celana semi levis pendek selutut.
Ardi yang sejenak memejamkan matanya terkejut saat benda pipih disaku celannya berdering keras. Dia pun duduk bersender dan mengeluarkan benda pipihnya itu, melihat nama yang tertera dilayar Hapenya.
Ya Tuhan aku sampai lupa menghubungi Teteh di Bandung
" Assalamualaikum..." Sapa Ardi saat HP itu menempel disalah satu kupingnya
" Walaikumsalam..Ar, Gimana Nisha? Baik baik aja kan? Kok kamu gak ngehubungin Teteh dari tadi?" Ucap Adesty yang langsung memberikan rentetan pertanyaa.
" Des...satu satu nanyanya. Kamu ini " Ucap Ibu Nena yang berada disamping Adesty. Ardi yang mendengarnya pun sedikit geram. Menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan tetehnya itu.
" Baik Teh. Nisha udah sama Ardi. Emang tadi sempet ada exident sebelum Ardi sampai. Tapi alhamdulillah, ada temen temen Ardi yang bantu Nisha. " ucap Ardi menjelaskan perlahan mungkin.
" Exident apaan Ar? " tanya Adesty penasaran
" Ada lah Teh. Nanti aja ceritanya. Gak enak Ardi masih dirumah Nisha. "
Sambungan telpon terputus saat Adesty menyudahi panggilan itu dengan ucapan Alhamdulillah.
" Asalammualaikum " Ucap Yuni, adik Nisha yang baru tiba pulang sekolah.
" Walaikum salam..." Jawab Ardi yang tersenyum pada Yuni.
" Eeh...ada Kak Ardi. Kak Nishanya mana?"
" Apa nanya gw!" Belum dijawab Ardi, Nisha sudah menjawab saat tiba diujung tangga.
" Oohh...kirain Kak Ardi sendiri. Permisi ya kak!" Yuni langsung berjalan melewati Ardi yang masih duduk disana dan melewati Nisha sambil menjulurkan lidahnya diwajah kakaknya itu. Nisha hanya memasang mata tajamnya saat Yuni menaiki tangga disampingnya. Nisha lalu berjalan mendekati Ardi.
" Kak Ardi mau dibikinin teh?" Tanyanya saat duduk disamping Ardi. " Boleh " Jawabnya singkat. Nisha pun beranjak kedapur dan membuat teh hangat. Setelah selesai, Nisha meletakkan teh dimeja depan Ardi.
__ADS_1
" Kak Ar pasti capek abis dari Bandung terus langsung jemput aku?" Ucapnya merasa bersalah
" Gak apa apa kok. aku baik baik aj! yang harusnya khawatir itu aku. Syukur kamu gak kenapa kenapa " Menyentuh pipi Nisha dengan satu tangannya
" Teh Adesty yang nyuruh aku untuk balik kesini, Dia khawatir sama kamu. Dia punya bayangan buruk soal kamu, makanya aku disuruh balik dan jagain kamu"
" Teh Adesty khawatir sama aku " Ardi mengangguk sambil meraih gelas tehnya dan menyeruputnya perlahan. Kenapa Teh Adesty sampai khawtir padaku?
" Sha...aku laper. Dari Bandung tadi siang aku belum makan? Apa ada makanan?" Ucap Ardi tiba tiba membuat Nisha tersenyun kaku sambil menggeleng, tidak ada makanan dirumah itu maksud gelengan kepalanya tanpa suara.
" Ya udah aku pesen makanan online deh sekalin wat Ibu dan Papa kamu nanti. "
" gak usah Kak Ar. Buat kamu aja!" Ucap Nisha menolak " Gak papa. Sekalian ini" Ardi pun memesan beberapa makanan sekaligus.
Karena azan sudah berkumandang, Ardi dan Nisha melaksanakan Sholat magrib dahulu sambil menunggu pesanan makanan datang dan kedua orang tua Nisha pulang. Ardi sholat diruang santai lantai 2, dan Nisha didalam kamarnya. Nisha mengangkat kedua tangannya saat setelah mengucapkan salam diakhir sholatnya.
Ya Allah...Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang. Puji syukur ku ucapkan padanyaMu atas segala LindunganMu padaku hari ini. Semoga Engkau memberi balasan yang terbaik untuk Kak Nana dan Kak Hedi yang membantuku. Semoga Engkau membalas yang setimbal ats perbuatan orang yang menzolimiku. Dan semoga Engkau menjaga hati ku dan hati Kak Ardi selalu bersama. Aamiin
Nisha pun mengusap kedua tangan kewajahnya. Lalu berjalan keluar kamar dan mendapati Ardi sudah tak ada ditempat dia melakukan sholat tadi, mungkin sudah turun kebawah. Nisha melihat Yuni yang sedang duduk disofa menonton tv, tapi tidak ada Ardi disana.
" Kak Ardi mana Yun?" tanyanya saat berjalan menuruni ujung tangga.
" Tuh diluar. Lagi sama Ojek online "
Nisha berjalan keluar dan melihat Ardi yang memegang beberapa kantong makanan pesanan dari driver online yang memakai jas hijau itu.
" Makasih pak ." ucap Ardi saat driver itu melangkah menjauhinya. Ardi berjalan kearah Nisha yang berdiri didepan pintu.
Ardi memberikan makanan itu pada Nisha untuk dibawa masuk kedalam. Nisha, Ardi dan Yuni pun makan bersama dimeja makan. karena Papa dan Ibu Nisha yang belum pulang. Terlalu lama untuk menunggu, sehingga mereka bertiga makan terlebih dahulu. Selesai makan, Nisha dan Ardi duduk diteras depan, sedangkan Yuni masih menonton tv. dan tak lama setelah itu Ibu dan Papa Nisha datang pulang bergantian. Setidaknya, bisa membuat Ardi yang kini sedang menempatkan kepalanya dipangkuan Nisha tanpa ragu.
" Kak Ar, pasti capek! Nginep aja disini mau?" Ucap nisha sambik membelai rambut Ardi yang ada dipangkuan pahanya.
" Emang boleh?" Ucapnya yang sedang memejamkan matanya. " Ibu sama papa gak ngelarang kok!"
" Aku yang gak mau. Gak enak ahk!" ucapnya menolak dengan lembut
Nisha menegakkan kepala dan memutar bola matanya. Apa yang harus aku jawab? Atau ngomong jujur aja.
" kok diem Sha?" ucap Ardi yangvtak mendapat jawaban. " Hmmm...I..itu"
" Kamu mau selingkuh sama Eric dibelakang aku?" Ucapnya santai melipat kedua tangannya didada.
" Ya enggak lah!" Jawabnya lantang " Siapa juga yang mau sama cowok gila, pshicopat kaya gitu!" ucapnya dengan nada tinggi dan wajah cemberut. " Terus gimana bisa kamu jalan sama dia? udah berapa kali jalan sama dia?" kini Ardi sudah berpindah posisi, duduk samping Nisha dan menghadapnya. Nisha masih terdiam merunduk. Ardi menarik bahu Nisha agar duduk berhadapan.
" Kamu mau jujur sama aku? Aku gak akan marah kok. Aku dengerin aja." ucap Ardi lembut menundukkan kepalanya melihat wajah Nisha yang tertunduk.
Nisha pun mengangkat wajahnya menatap Ardi.
" Aku gak tau dia dapat alamat aku dari mana? Dia bilang katanya dari temennya yang hecker." Ucapnya lirih
" Dia yang datang kesini?" Nisha mengangguk
Ardi berfikir sesuatu dengan keras. Tapi entah apa itu?
" Apa kau senang saat berjalan dengannya?" ucapnya melirik tajam pada Nisha
" Siapa yang senang!Aku sama sekali tidak senang saat melihatnya. Walau semua yang kudapat gartis.uuups.." Nisha menutup mulutnya dwngan satu tangan dan mengedipkan matanya berulang. Ardi semakin majamkan matanya.
" Apa aja yang dikasih kekamu?" Nisha menggeleng. " Dia tidak memberi apa pun. Hanya coklat saja! Tapi dia mengajakku nonton dibioskop kemarin " Ucap Nisha dengan ekspresi senangnya
" Kau senang?"
" Tentu..." Tersenyum, lalu terkejut saat sadar akan ucapannya.
Ardi memutar tubuhnya dan melipat tangannya didada.Membuang wajahnya sembarang.
__ADS_1
" Pergilah dengannya jika kau senang berjalan denganya!" Ucapnya ketus
" Heeii...maaf. Bukan maksudku ingin jalan dengannya juga. Sebenarnya aku juga mau jalan dengannya!" Ucapnya membela
" Lalu...Kenapa kau menerima ajakannya? Berapa kali kau jalan dengannya saat aku di Bandung?" Ucapnya tegas memandang wajah Nisha.
" Karena dia mengancam akan menghubungi mu. Aku tidak mau kau terganggu karena Ibu mu yang akan operasi" ucapnya lirih
" Sama saja kan. Sekarang, nanti atau kemaren. Aku pasti akan tau juga kan!" Nisha menundukkan kepalanya.
" Kenapa kau jadi marah padaku?" Ucapnya menantang menatap Ardi.
" Karena aku gak suka kamu jalan sama cowok lain!"
" Dulu juga kau mendekati Imel saat masih berjalan dengan ku. Bahkan kau membuatku menagis karena mengira kau benar benar ingin balikan dengannya!" Ucapanya meninggi
" kenapa jadi kamu mengungkit masalah itu?"
" Aku juga tidak suka kau dekat cewek lain walau dia itu temanku!" Melipat kedua tangannya didada dan membuang wajahnya. Gantian!
Ardi menangkap kepala Nisha dengan kedua tangannya dan memutarnya. Menyatukan bibirnya di bibir kecil milik Nisha itu. Sekian detik. Nisha membulatkan matanya mendapat ciuman dadakan itu. Ardi pun melepaskan bibirnya. Menatap Nisha dalam.
" itu berbeda! Aku tidak akan melakukan apapun pada cewek yang dekat dengan ku" ucapnya lirih
" Tapi, jika ada cowok yang dekat denganmu, bagaimana jika cowok itu berbuat yang tidak tidak denganmu. Seperti kejadian hari ini?" Nisha pun merunduk. Membenarkan ucapan Ardì.
" Maaf..." ucap Nisha lirih. Ardi mengangkat dagu Nisha. " Maaf itu tidak akan berguna jika sesuatu terjadi padamu dibelakang ku." Mata Nisha mulai berkaca. Sadar akan kesalahannya.
" Mulai sekarang. Apapun itu, bicalah dulu padaku. " Nisha mengangguk pelan.
Ardi menarik Nisha dalam pelukannya. Nisha pun membalas pelukan itu.
" Aku cuma gak mau kamu sampai tersentuh dengan cowok lain! Dan aku mau kamu juga menjaga diri kamu, sampai waktunya nanti."
Nisha mendorong tubuh Ardi agar melepaskan pelukannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
**Jangan lupa untuk 🖒, VOTE dan 🌟rate ya
❤nya juga untuk up selanjutnya
Komen berupa kritik dan saran juga diharapkan jika readers berkenan.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca🤗
Mohon dukungannya😊😘**