
Ada bahagia yang tak bisa dikatakan
Ada sakit yang tak bisa dijelaskan
Dan ada cinta yang lebih baik disimpan
* * * * *
" Kamu cemburu ya Sha?" Ucapnya dengan sedikit tawa.
" Nggak! " Jawabnya dengan lantang tanpa menoleh, tetap fokus pada makanannya. " Siapa yang cemburu?" mengelak dari kenyataaan.
" Udah lanjutin makan kamu! Dari tadi kan asik ngobrol sampai tuh makanan gak dilirik. Sayang makanannya udah dibeli gak dimakan." Ucapnya sedikit ketus tanpa melihat wajah Ardi yang terus memperhatikannya.
Bukannya menuruti ucapan Nisha, Ardi malah terus memperhatikan Nisha yang sedang makan. Nisha yang sadar, malah menjadi grogi akan kelakuan Ardi.
" Kamu kalau lagi cemberut gitu, tambah cantik deh!" Ucapnya mencoba merayu dan menahan tawanya. " Gak usah ngerayu deh kak!" ucapnya datar berpaling muka tapi tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang merona.
" Ngeliat kamu kaya gitu bikin aku makin gemes tau sama kamu" Ucapnya menarik bahu Nisha dan mencubit kedua pipi cuby Nisha dengan gemas.
" Aaawww....sakit kak Ar!" Ucapnya memegang tangan Ardi yang mencubit pipinya. " Malu kak Ar, Banyak yang liatin dari tadi tau!" Ucapnya setelah Ardi melepas tangannya, Nisha mengusap kedua pipinya yang terasa perih.
" Biarin aja. Aku gak perduli kok!" ucapnya biasa. Nisha memandang Ardi dengan Sinis.
" Jangan pasang wajah kayak gitu napa! Mau aku cium juga ?" ucapnya menarik kedua bahu Nisha.
" Apaan sih Kak!" Memukul pundak Ardi dan menjauhkan badannya. " Kenapa bukan cium Maya aja tadi! Ngapain cium aku?" ucapnya dingin dan kembali kesal saat mendengar kata cium dan ingat ciuman Maya tadi.
" Oohhh..jadi bener nih, kamu cemburu?" Ucapnya dengan bibir menahan tawa. Meraih dagu Nisha untuk menatapnya, tapi ditepis kasar oleh Nisha. " Pikir aja sendiri!" jawabnya ketus.
" Ciiieee...cemburu yaa?" Ledeknya lagi yang melihat wajah Nisha yang memerah, entah kesal atau malu.
" Ya udah ahhk! Aku pergi aja deh!" Ucapnya kesal sambil berdiri dari kursinya. Tapi tangannya ditahan oleh Ardi. Semua orang yang ada diresto memperhatikan Nisha dan Ardi seketika saat mendengar sedikit keributan itu.
" Eehhh...jangan pergi dulu! Makan aku belum selesai ini!" Ucapnya menunjuk pada makanan diatas meja. Tapi Nisha tidak bergeming masih berdiri dan membuang mukanya.
" Maaf deh! Aku minta maaf udah ngeledek kamu.. Duduk lagi ya! Lanjutin makannya dulu, baru kita pulang." Ucapnya lembut. Nisha menoleh pada Ardi. " Udah duduk dulu, malu tuh pada ngeliatin! " Melirik pada pemgunjung yang memperhatikan mereka.
Nisha yang melihat sekeliling yang memang benar ucapan Ardi tadi, akhirnya menurut. Nisha duduk kembali dikursinya menghadap Ardi. " makan lagi yuk!" ucapnya sambil tersenyum. Nisha pun kembali melanjutkan makannya yang tersisa sedikit. Begitu juga dengan Ardi yang memang makanannya lumayan masih banyak karena terhenti saat kedatangan Maya tadi. Mereka pun makan dalam diam sampai habis.
" Kamu gak mau nanya siapa Maya tadi?" Ucapnya setelah meminum segelas teh ocha. " Nggak! aku gak mau tau siap dia? Gak penting juga!" Jawab Nisha dengan nada datar sambil memainkan benda pipihnya diatas meja.
Apa dia masih marah karena Maya cium aku tadi ya? Gimana bujuknya ini! Batin Ardi sambil mengusap tengkuk lehernya.
" Dia itu pacar aku waktu SMA dulu. " mulai bercerita
" Bodo!" Jawab Nisha masih datar tanpa melirik. Ardi tetap tersenyum dan tetap akan melanjutkan ceritanya.Walau pun Nisha tak mau mendengar.
" Aku sayang banget sama dia " Ucapnya menatap lurus kedepan. Mambuat Nisha menoleh kearah Ardi. Terlihat tatapan sendu dimatanya. " Dulu.." lanjut Ardi.
Berarti kamu pacar dia waktu Sekolah?
Gumam Nisha dalam hati. Menundukkan pandangannya. Walau tak mau mendengar, tetap saja Nisha dapat mendengar ucapan Ardi.
" Dia pacar aku yang paling lama bertahan waktu itu."
" Entah kenapa, tiap aku pacaran sama cewek tuh gak pernah lama. Tapi cuma sama Maya yang kuat sampai 2 tahun sampai kelulusan sekolah." Nisha mendengarkan seksama walau tak memandang Ardi.
Apa sama aku bakal bertahan lama Kak?
" Aku ngasih apapun yang dia mau! Bahkan aku bener bener serius jalanin hubungan sama dia. Tapi..." ucapannya tergantung. Nisha menoleh memandang Ardi.
__ADS_1
" Dia sedikit nakal."
" Nakal?" tanya Nisha mengerutkan dahinya. Ardi jadi menatap balik pada Nisha. Lalu tersenyum.
" Kamu dengerin?" Nisha kembali memalingkan wajahnya. " Kan kamu yang ngomong disamping aku! Masa gak kedengeran sama kuping aku ini. " Ucapnya melembut.
" Kamu udah gak marah lagi?" Nisha pun menggelengkan kepalanya pelan. Ardi tersenyum bahagia. Upaya berhasil.
" Ayo lanjutin lagi ceritanya! Maksudnya dia nakal itu gimana?" Tanya Nisha penasaran. Ardi mengerutkan keningnya heran melihat Nisha. Katanya cemburu tapi penasaran juga sama Maya.
" Nanti aja ceritanya, gak enak kalau aku cerita disini. Tempat umum. Nanti dirumah kamu aja ya?" Ucapnya sambik menggenggam tangan Nisha. " Mending kita lanjut jalan jalan lagi. Yuk!" Akhirnya Nisha mengiyakan ajakan Ardi untuk kembali berkeliling mall lagi.
Setelah puas berkeliling dan jam sudah menun jukan lewat 6 sore, Ardi dan Nisha memutuskan kembali pulang kerumah.
" Ayo lanjutin lagi cerita soal Maya yang tadi gak jadi?" Ucapnya saat duduk disofa teras depan rumahnya. Ardi mengerutkan dahinya heran pada Nisha.
" Kamu tadi cemburu liat aku sama Maya, tapi penasaran juga? " ucapnya memandang heran dengan mata tajam. " Kalau aku cerita, nanti kamu cemburu lagi atau sakit hati lho dengernya?" Tambahnya lagi.
" Nggak kok! Aku gak akan cemburu lagi. Ayooo cerita!" Pintanya dengan semangat mendengarkan, menaikan satu kakinya disofa memiringkan badannya menghadap Ardi.
" Maksud kamu tadi nakal apa?" Tanya lagi.
" Yaa...nakal itu, suka jalan sama cowok mana aja!" Ucapnya datar. Nisha terdiam dalam duduknya.
" Aku sama dia satu sekolah. Aku tau dia suka ganti ganti cowok sejak SMP, tapi emang aku suka sama dia, Maya termasuk gadis tomboy tapi cantik. Aku jadian sama dia saat duduj dikelas 2. Karena sekelas dengannya. Dia juga langsung terima aku. Aku gak kaya cowok lain yang suka....nyentuh dia!" Ucapnya ragu. Nisha masih menyimak cerita Ardi.
" Aku lebih suka ngasih sesuatu atau hal hal yang sedikit romantis. Tapi, emang dia lebih suka sama cowok yang lebih banyak main badan." Nisha mwngerutkan dahinya
" Maksudnya?" Tanya tak mengerti. Ardi tersenyum menatap Nisha. " Grepein. Maya suka digrepein!" Nisha semakin gak mengerti mengelengkan kepalanya. Ardi tertawa kecil.
" Badan kamu diraba raba sama cowok. Dari atas sampai bawah!". Menunjuk dari kening sampai bagian paha Nisha. Nisha langsung menyilangkan kedua tangannya didada dan menjauhkan badannya dari Ardi. Takut jika Ardi melakukannya juga.
" Bener??" Nisha memicingkan matanya
" Gak sekarang! Mungkin nanti kalau kamu udah dewasaan dikit!" Ucapnya sambil tawa kecil.
""Iihhkk...Kak bener bener gak nyentuh dia?" Tanyanya penasaran. Ardi menggelengkan kepalanya. " Cuma sebatas cuiman biasa aja. Gak lebih" Jawabnya kembali dengan nada datar memandang kedepan.
" Teruss..."
" Bahkan saat masih berstatus pacar aku, dia sering jalan sama cowok lain dan bermesraan main dibelakang aku." Tambahnya dengan tatapan kosong yang tanpak jelas Nisha lihat.
" Kak Ar, sakit hati?" tanya nya pelan.
" Tentu. Tapi sayang aku lebih besar kedia saat itu dari pada rasa sakit hati itu sendiri." ucapnya tersenyum kecil.
Nisha memirinhkan kepalanya. Kenapa?
" Aku yang bertekad mau ngubah dia jadi cewek baik baik. Aku ngajak dia ngelakuin hal hal yang lebih bermanfaat dan nyibukin dia dengan berbagai kegiatan. Biar dia ngeluarin tenaganya lebih dari biasanya, jadi gak sempet deket dengan cowok cowok yang selalu ngajak dia main."
" Dan dia nerima semua ajakan aku dan nurut. Sampai dia berubah lebih baik saat itu. " Nisha menyimaknya serius dengan menopang dagunya dengan kedua tangannya.
" Tapi kenapa bisa putus?" Tanya Nisha tiba tiba. " Kita gak putus! Gak ada kata putus dari aku atau dia." jelas Ardi.
" Saat dia udah terbiasa dengan aku dan gak main sama cowok lain, mantannya yang emang umurnya jauh diatas aku, yang dulu bikin Maya jadi cewek gak bener, datang nawarin kerjaan kedia. Saat itu juga kebetulan kita baru pada lulus sekolah. Entah gimana jadinya, Maya kebujuk sama cowok brengsek itu. Dan...."
" Dia ninggalin aku tanpa pamit!" Ucapnya merunduk. Menahan rasa kecewa dihatinya yang telah lama terpendam.
Tragis amat kisah cintanya!!😓😓
" Bahkan Cincin yang aku kasih untuk bukti keseriusan aku, dia jual buat nambah biaya dia pergi ke Jakarta sama cowok itu!" Ucapnya mengepalkan satu tangannya.
__ADS_1
Kamu ngasih dia cincin juga? Sama kayak kamu ngasih cincin ini ke aku?
Batin Nisha menatap cincin di jari manisnya. Lalu menatap Ardi yang kecewa akan kenagan tentang Maya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**JANGAN LUPA UNTUK VOTE YAA
JUGA UNTUK 🖒 LIKE DAN KOMENNYA
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA
MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**
__ADS_1