Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 90


__ADS_3

Walau aku bukan senja yang kau tunggu.


Namun aku adalah langit


Yang siap menemani hari harimu


* * * * *


" Sha dapat salam dari mas Andri " ucap Apri saat berpapasan dengan Nisha dilorong kelas lantai tiga.


" Walaikum salam " jawab Nisha cuek. Mereka berjalan bersama memasuki kelas pagi ini.


" Tiap hari nitip salam mulu Pri, sepupu lo itu. Padahal, masih sering balas balasan pesan sama gw " tutur Nisha saat masih berdiri didepan kelas.


" lah tau gw! Dia cuma nitip salam gitu doang. Gak bilang apapa lagi " jelas Apri dengan mengangkat kedua bahunya.


Mereka pun berjalan berpisah menuju kursi mereka masing masing.


" udah sehat Mel?" Tanya Nisha saat melewati meja Imel yang juga ada Isti dan yani disana.


" udah mendingan kok, Sha. Makasih ya kemaren " ucap Imel penuh senyum tulus. Nisha pun tersenyum sambil mengangguk dan berjalan kembali menuju kursinya.


" Mel, si Nisha masih jalan sama Ardi ya?" Tanya Isti penasaran. Imel pun mengangguk. " masih kok! Kadang juga dia masih sering dijemput kan didepan sekolah " tutur Imel santai.


Imel sebenarnya masih ada rasa iri pada hubungan Nisha dan Ardi. Masih ada rasa sesal didadanya saat dulu dia memutuskan hubungannya dengan Ardi. Dan telah ikut andil dalam rencananya dan Eric saat menyakiti Nisha. Walau Nisha sendiri tak tau akan hal itu, dan kini Imel telah menanggung akibat perbuatannya itu. Dan tidak ada satu pun yang tau apa itu. Dan Imel sangat menyesalinya.


" lo kenapa Mel, kok ngelamun? " tanya Yani sambil memukul pelan pundak Imel.


" hah...nggak kenapa napa kok! Cuma mikirin tentang kita aja yang bentar lagi ujian " ucap Imel dengan senyuman untuk menutupi kegelisahan hatinya itu.


* * *


Nisha bersandar dipunggung kasur didalam kamarnya. Mengistirahatkan otaknya sejenak, setelah dari pagi melaksanakan pendalaman materi untuk tiga pelajaran sekaligus sampai tengah hari. Ya, setiap hari sabtu sekarang pendalaman materi dilakukan dari pagi. Setelah pulang sekolah tadi, Nisha bersama Lia, Eva, Dian, Imel, Arin, Iren dan Isti, pergi makan bakso yang letaknya tak begitu jauh dari sekolah dan sangat terkenal bakso jumbonya.


Karena itu, saat sampai dirumah, Nisha segera membersihkan diri dan kini tengah bersantai dikamarnya dengan memegang sebuah buku novel romantis action yang dibelinya bersama Ardi waktu itu dan belum selesai dia baca. Juga ditemani lantunan musik yang terdengar dari radio mini yang ada dimeja belajarnya. Menikmati kualiti timenya sendiri setelah membersihkan rumah pula bersama adiknya Yuni tadi.


Ckleekk


Yuni masuk kedalam kamar kakaknya dan ikut berbaring diatas kasur sebelah Nisha dengan posisi tengkurap. Nisha hanya melirik sekilah Yuni yang memainkan benda pipihnya, lalu kembali fokus pada buku ditangannya. Inilah kegiatan dua gadis remaja beda usia saat berada dirumah hanya berdua disabtu sore seperti ini. Ibu dan Papa mereka yang pergi bekerja dari pagi hingga petang agar dapat memenuhi kebutuhan Nisha dan Yuni. Karena itu, Nisha selalu belajar sungguh sungguh di saat menjelang ujian kelulusan yang sebentar lagi. Sedangkan Yuni, yang memang bisa dibilang lebih pintar dari Nisha, yang dari sekolah dasar sampai sekarang duduk dibangku kelas 2 sekolah menengah pertama selalu masuk dalam peringkat tiga besar dikelasnya. Dan selalu memperoleh beasiswa. Tak pernah terjadi pertengkaran atau perselisihan antara Nisha dan Yuni. Mereka selalu akur dalam berbagai hal.


" Kak Nisha " panggil Yuni tanpa menoleh dan masih dalam mode memainkan benda pipih ditangannya.


" Hhmmm "


" Kalau suruh milih, antara Andri cowok baru yang kemaren, sama Kak Ardi yang sekarang, mau pilih siapa?" Ucap Yuni santai. Nisha mengerutkan keningnya terdiam melirik ke Yuni.


" Tapi ngomong ngomong, cowok yang dulu pernah ngajak kakak nonton itu, si Eric juga gak pernah keliatan lagi kak main kesini. Kenapa?" Kini Yuni meletakkan benda pipihnya dan melirik ke Nisha yang ada disampingnya. Dan kini menatapnya sinis.


Hehehehe


Yuni tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. Merasakan bahwa kakaknya ini tak suka akan pertanyaan yang dia lontarkan.


" Buat apa lo tanya soal itu! " ucap Nisha dengan ketus. " Kepo banget!"


Kembali menatap buku yang ada ditangannya. Yuni memajukan bibirnya mendengar itu.

__ADS_1


" cowok yang kemaren itu kan lumayan ganteng kak. Malah lebih ganteng dari kak Ardi. Kakak gak suka gitu sama dia? " ucap Yui santai memutar posisi tidurnya kini menjadi bercelentang. " Tapi kalau di ingat ingat juga, cowok yang deket kak Nisha dulu yang namanya Eric juga gak kalah cakep "


Nisha memejamkan matanya sejanak. Tak menjawab sama sekali semua perkataan Yuni yang membuatnya merasa geram.


" Ayo kak. Jawab sebentar, siapa yang kakak pilih kalau misalkan si Andri ngajak kakak pacaran juga? Kayaknya dia suka sama kakak deh! "


" Eeh...tapi Andri emang tau kakak udah punya pacar apa nggak?" Tanya Yuni yang kini sudah duduk menghadap Nisha disamping. Nisha menutup bukunya keras lalu meletakkan buku itu diatas bantal yang ada diatas pahanya.Dia sudah merasa kesal karena waktu santai dan membaca bukunya terganggu akan semua pertanyaan Yuni menyangkut cowok yang dekat dengannya.


" lo tumben banget sih, jadi cerewet dan kepo kayak gini! " ucap Nisha melipat kedua tangannya didada. Yuni tak menjawab hanya tersenyum memiringkan kepalanya.


" Tuh " alih alih menjawab, Yuni malah mengangkat jari telunjuknya dan matanya seperti sedang fokus mendengar sesuatu. Nisha pun mengerutkan keningnya.


" Apaan? " tanya Nisha bingung.


" kayak ada yang ngetuk pintu kak! " ucapnya seraya turun dari kasur dan berjalan keluar kamar Nisha.


" Siapa ya? " ucapnya lirih sambil melihat jam dinding yang masih menunjukan waktu 4.30 sore. Dia pun ikut turun dari atas kasur berjalan menuju jendela kamarnya dan memandang kebawah depan rumahnya. Terlihat disana sebuah motor yang tak dia kenal pasti terparkir disisi jalan depan rumahnya. Karena Nisha tak mengenali motor itu, dia pun bergegas turun untuk memastikan siapa yang datang.


Melangkah menuruni tangga, dan terhenti saat meliahat Yuni berdiri dibawah tangga yang hendak naik kelantai atas.


" Siapa Yun, yang dateng? " tanya Nisha sambil menggerakkan dagunya.


" Orang yang tadi kita lagi omongin " ucapan Yuni membuat Nisha mengerutkan keningnya. " Andri. Tuh lagi nunggu diluar. " lanjutnya lagi. Nisha membulatkan matanya mendengar siapa yang ada didepan rumahnya.


" Andri? Mau ngapain dia kesini sore sore? " ucapnya lirih sambil melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Yuni hanya mengangkat kedua bahunya saat Nisha berlalu melewatinya begitu saja.


Andri yang sedang duduk disofa teras, langsung berdiri saat melihat Nisha berjalan keluar dari dalam rumah.


Saling menyapa terlebih dahulu. Nisha duduk disofa tunggal seberang Andri.


Ibu Uni pun sudah kembali pulang dari kerjanya sore itu. Dan melihat Andri dan Nisha yang ada diteras depan. Ibu tanpa bnayak tanya setelah bersalaman dengan Andri, langsung masuk kedalam rumah untuk istirahat.


Sampai waktu magrib berkumandang, Andri juga belum meninggalkan rumah Nisha atau berpamitan. Sehingga Nisha terpaksa mengajaknya masuk kedalam rumah dahulu untuk melaksanakan sholat magrib. Andri pun menuruti ajakan Nisha.


" Sha " panggil Ibu Uni saat membuka pintu kamar Nisha dan melihat anak gadisnya masih menggunakan mukenanya duduk dilantai beralaskan sajadah.


" Ya Bu " Nisha menoleh kebelekang. Ibu Uni berjalan mendekat dan duduk disisi pinggir kasur.


" Andri dari tadi mainnya?" tanya Ibu lirih. Nisha hanya mengangguk sambil melepaskan mukena yang dia pakai dan merapikannya.


" Bukannya ini malam minggu. Berarti Ardi nanti datang juga kan?"


" Iya " jawabnya singkat sambil menganggukkan kepalanya. " Nanti kalau mereka berdua ketemu, gimana? " ucap Ibu yang merasa sedikit khawatir. Nisha hanya mengerutkan dahinya sambil tersenyum.


" Biarin aja Bu, mereka ketemu. Kok jadi Ibu yang gugup! " ucapnya sambil membuka pintu lemari pakaian, hendak mencari baju ganti.


" Ya sudahlah, kalau kamu bilang begitu! " Ibu Uni berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kamar Nisha. Saat pintu kamarnya tertutup, Nisha langsung duduk ditepi tempat tidurnya. Memegangi dadanya yang sejak tadi selesai sholat sudah berdegup kencang. Badannya lemas seketika saat mengingat ini malam minggu, dan ada Andri dirumahnya saat ini.


Didepan Ibunya, Nisha mencoba menyembunyikan kegelisahannya sejak tadi. Walau sebenarnya dia juga khawatir apa yang akan terjadi jika Ardi melihat ada Andri disini saat dia datang nanti. Nisha sangat berharap dan berdoa tadi, agar Andri segera pulang setelah magrib nanti seperti kemarin. Dan semoga Kak Ardi pun akan lama datang kerumahnya.


Nisha mencoba menenangkan ritme jantungnya sejenak, lalu mencari baju yang akan dia pakai malam ini. Bukan untuk terlihat didepan Andri, tapi untuk Ardi yang sudah dia nanti.


" Dia selalu terlihat manis dan cantik " ucap Andri yang kini duduk diteras, melihat Nisha yang datang memakai sebuah dress selutut berwarna kuning peach yang hanya menutupi ujung bahunya ditambah ikat pinggang kecil.


Nisha kembali duduk disofa seberang Andri. Rasa canggung dan khawatir kembali memasuki rongga dada Nisha saat ini.

__ADS_1


" Hhmm..Sha. Boleh aku ngomong sesuatu? " ucap Andri sedikit serius. Nisha mengangkat wajahnya, dan matanya bertemu mata Andri.


" Apa? ngomong aja Kak, gak ada yang ngelarang kok! " jawab Nisha sedikit gelisah.


Semoga Kak Ardi belum berangkat kesini, gumam Nisha dalam hati sambil melirik kedepan rumah dan memasang pendengarannya.


" Aku suka sama kamu, Sha "


Nisha membulatkan matanya dan begitu terkejut akan kata kata Andri yang baru saja terdengar oleh telingannya. Mereka saling berpandang sejenak. Tiba tiba Nisha tersenyun kecil diujung bibirnya.


Sudah gw duga!


" Kak Andri tau kan dari awal Nisha udah punya cowok." ujar Nisha pelan.


" Aku udah tau kok! Makanya aku datang sekarang dan mau ngungkapin isi hati aku ke kamu." ucap Andri bergeser posisi duduknya lebih dekat dengan Nisha.


" Buat aku gak masalah, kalau saat ini kamu sudah punya cowok disamping kamu. Aku masih bersedia jika kamu mau..."


Tiba tiba saja jantung Nisha kembali berlari kencang seperti sedang maraton. Tapi juga wajahnya terasa panas akan ucapan Andri yang menggantung itu.


" Jika kamu mau jadiin aku selingkuhan kamu tanpa cowok kamu tau " Nisha semakin terkejut membulatkan matanya dan menjauhkan badannya kebelakang.


" Aku bener bener suka kamu Sha! Kita bisa kok jalin hubungan ini diam diam. Kamu mau kan?"


Nisha masih terdiam dalam duduknya. Kedua tangannya saling menyaut dan meremas diatas pahanya.


Bagaimana ini...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


BANTU VOTE YA READERS


**JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN JUGA


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA


MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**

__ADS_1


__ADS_2