
Tangan ini ada untuk menuntunmu
Mata ini ada untuk melihatmu
Kaki ini ada untuk berjalan bersama
Dan perasaan ini ada karena dirimu.
* * * * *
Malam ini seperti malam lainnya, Hampir tiap malam aku dan Ardi tersambung dibenda pipih kami masing masing. Jika tidak sms berupa Whatsapp, telpon atau vidio call.
" Akhirnya selesai juga..." Ucap Nisha menutup buku pelajaranny
" Cepet banget selesainya?" Tanya Ardi dibalik layar datar yang diletakkan di didepan Nisha duduk dimeja belajar.
Ardi pun sama, sedang mengerjakan tugas kuliah didepan laptopnya berhadapan dengan telpon vicall dari Nisha.
" Ya kan cuma ngeringkas. Itu mudah bukan !" Jawabku enteng, meletakkan satu tangan diatas meja menopang kepalaku. Mataku tertuju melihat wajah tampan dilayar datar Hpku, dia yang sedang sibuk memaikan tangannya dikeyboard dan matanya sesekali melirik buku yang ada disamping laptopnya lalu kembali kelayar laptop. Wajahnya yang serius dalam mengerjakan tugasnya terlihat sangat manis, berbeda saat sedang santai.
" Dasar " Ucapnya memggelengkan kepala tanpa menoleh melihat sambungan vicall.
" Jangan diliatain terus aku nya. Nanti aku ke ge eran tau, kalau aku nanti terbang kelangit, kamu gak bisa ngejar aku. Repot kan !" ucapnya masih fokus pada layar laptop
" Hahaha...kan aku udah iket kamu pake tali, jadi gak bisa terbang pergi jauh dari aku. Aku terus pegang tali itu dengan kuat "
Ardi memajukan bibir bawahnya, lalu berhenti memainkan jari tangannya dari keyboard memutar bola matanya menatap Nisha dilayar datar miliknya.
" Dah bisa gombal ya sekarang!" Nisha tersenyum melihat wajah Ardi disana dengan jelas.
" Kan belajar dari kamu " Ardi menggelengkan kepalanya.
" Sha..."
" Hhmmm "
" Aku kangen sama kamu "
" Tuh...mulai gombal juga!" Ardi tersenyum lebar.
" Cuma pandangin kamu lewat layar Hp, Aku gak puas!. Kayak minum kopi pake gula tiga sendok tapi masih gak berasa manisnya."
" Kok bisa...Itu kan udah manis banget!"
" Manisnya dibawa pergi sama kamu "
Blusss
Tiba tiba saja pipi Nisha terasa panas, dan langsung memalingkan wajahnya menutupu malu dan menutup mulutnya dengan satu tangan. Jantungnya terus saja berlari walau sudah sering mendapat gombalan dari cowok itu.
" Iiihhkkk...Kak Ar mah!!"
" Sebenarnya pengen main kesitu. Tapi takut Orang tua kamu gak suka !" Menatap lekat Nisha.
" Kok !!Orang tua aku gak pernah ngelarang kok buat kamu main kesini walau itu hari biasa. "
Ardi memang selama ini hanya main kerumah Nisha setiap malam minggu dan hari minggu saja. Tidak pernah pada hari biasa saat sekolah.
" Jadi gak apa pa aku kesitu sekarang " Ucapnya dengan semangat. Nisha membulatkan matanya.
" Ya gak usah sekarang juga." Tolak Nisha
" Baru Jam 8. Emang kenapa? Tadi katanya boleh, gimana sih?" ucapnya sedikit kecewa.
" Jangan jangan kamu... "
" Apa !!" Ardi melirik Nisha tajam.
" Terserah kamu aja lah!" Memalinglkan wajahnya.
__ADS_1
" Ya udah! Tungguin aku ya. aku kesana sekarang !" Ardi mematikan sambungan telpon.
" Heii...." Nisha terkejut meraih Hpnya yang sudah kembali kelayar dasar.
" Iihhkk...Ni cowok ! Dia cuma bercanda kan?" mengaruk kepala nya yang tak gatal dengan masih menatap layar datar ditangannya.
Selang tiga puluh menit.
Brumm brumm brummm
Nisha membulatka matanya saat mendengar suara gas motor berhenti didepan rumahnya. Dia langsung bangun dari kursi belajarnya menuju jendela kamarnya memandang kebawah. Dan benar saja...
Yaa ampun!! Dia beneran dateng.
Nisha menepuk dahinya sambil menggelengkan kepalanya. Lalu segera kebawah rumahnya dengan berlari menuruni tangga. Dan saat Nisha diujung tangga bertemu Ibunya yang berniat untuk memanggilnya juga.
" Tumben dia dateng hari ini. Biasanya cuma sabtu dan minggu !"
" Gak tau dah Bu " sangkal Nisha menggelengkan kepala sedikit berbohong.
" Jangan sampe malam. Besok kamu sekolah! Dia juga kuliah kan?" Nisha mengangguk pelan.
Ibu Uni pun masuk kembali kedalam kamarnya untuk beristirahat. Nisha pun berjalan keluar dan mendapati Ardi yang sudah duduk disofa teras.
Ardi yang mendengar suara pintu terbuka langsung berdiri dari duduknya dan menatap Nisha yang bertolak pinggang sambik memajukan kedua bibirnya.
" Ngapain kesini sih!" Ucapnya sedikit ketus
" Kok malah marah sih! Aku kesini karena kangen sama kamu. Lagian gak sengaja lewat aja tadi didepan sana, ya jadi mampir aja kesini " Ucap Ardi mencari alasan sambil tersenyum berjalan mendekati Nisha.
" Emangnya gak kangen sama aku " Ardi menarik tangan Nisha yang bertolak pinggang, mengarahkan kepinggang Ardi. Dan kedua tangan Ardi meraih pinggang Nisha.
Nisha mencoba mundur tapi tertahan oleh tangan Ardi yang menarik pinggang Nisha dengan kuat.
" Kak Ar..jangan kaya gini ahk !" ucap Nisha yang mencoba melepaskan tangan Ardi dipinggangnya. Tapi percuma saja.
" Kenapa? Gak ada yang bakal liat ini. Rumah kamu kan dipojok. Gak bakal ada yang lewat juga " Semakin merapatkan tubuh Nisha dengannya. Nisha memalingkan wajahnya saat semakin dekat dengan wajah Ardi. Jantungnya semakin berdegup keras didada, wajahnya merasakan panas lagi. Mungkin Ardi pun dapat memdengar suara detak jantung Nisha dengan jarak sedekat itu.
Ardi mencium pipi Nisha yang sedikit merona itu. Seketika Nisha membulatkan matanya. Ardi melonggarkan tangannya dari pinggang Nisha. Dan Nisha pun langsung mendorong tubuh tegap Ardi.
" Ihhkk...Kak Ardi mah!"
Memegang pipinya yang tadi dicium. Ardi hanya tersenyum melihat pipi Nisha yang berubah merah karena malu. Padahal itu sering dilakukan Ardi, tapi tetap saja membuat Nisha selalu menjadi malu.
Ardi berbalik badan berjalan kesofa dan duduk kembali. Nisha masih berdiri ditempat semula memandang sinis ke Ardi yang tidak merasa bersalah sama sekali.
" Sha, Air dong! aku haus nih. Tenggorokan aku kering abis cium kamu!" Ardi berucap sambil menyentuh tenggorokannya.
" Padahal cuma pipi. Apalagi cium bibir kamu ya. Kehabisan darah kali aku yaa?" Nisha reflek berjongkok meraih sendal jepitnya dan dilempar tepat kebadan Ardi yang tak dapat mengelak, hanya tertawa puas melihat wajah Nisha yang semakin cemberut disana.
" Nyebelin !" Memutar tubuhnya masuk kedalam rumah. Ardi masih saja tertawa sambil menggelengkan kepalannya.
Tak lama, Nisha keluar membawa sebotol air dingin dan satu gelas kosong. Diletakkannya dimeja sedikit keras, sehingga menimbulkan bunyi yang jelas.
" Makasih...Tapi iklas gak nih ngasih minumnya?" tanya Ardi pada Nisha yang sudah duduk disampingnya
" Iya iklas." jawab Nisha ketus
" Dah minum. Katanya haus!"
" Gak dicampur racun kan ?" goda Ardi lagi
" Gak lah!! Cuma aku masukin sianida aja tadi" Kata Nisha sambil melipat kedua tangannya didada dan menyenderkan punggungnya disofa.
" Kamu tuh kalau lagi cemberut gitu makin bikin aku sesek napas tau!" Nisha mengerutkan dahinya.
Ardi memutar duduknya dan menarik kedua bahu Nisha agar saling berhadapan.
" Senyum Kamu tuh kaya oksigen buat aku, tapi kalu kamu cemberut terus kayak gini. Oksigen didada aku tuh berkurang dan buat aku susah bernapas." Nisha pun tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
Malam ini sudah berapa kali Ardi membuat Nisha bersemu malu karena gombalannya.
" Kak Ar dari tadi gombal mulu sih ?"
" Tapi kau seneng kan!" mencubit satu pipi Nisha. Nisha hanya membalas dengan senyum.
Nisha meraih gelas kosong dimeja dan mengambil botol lalu menuang kan airnya dan memberikannya pada Ardi. Ardi pun langsung menegak air itu sampai habis dan meletakkannya kembali dimeja.
" Apa Ibu mu tak suka aku datang saat ini?" merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya dipaha Nisha yang merupakan tempat favoritnya saad berdua diteras.
" Tidah. Ibu biasa saja. Hanya berpesan jangan sampai lewat jam 9. Itu saja!" Mengangkat kedua bahunya. Mencoba membohongi Ardi
Ardi reflek melihat jam dipergelangan tangannya. Dan kembali ke posisi duduknya.
" Yahh! Sepuluh menit lagi berarti masa aktifnya ?"
" Emangnya kartu telpon pake masa aktif?"
" Ya kan hampir mirip juga kaya aku sekarang ini. Baru ketemu kangen, udah harus pulang pula. Mana berasa manisnya ?" Nisha pun tertawa mendengarnya.
" Ya udah. Tambahin lagi aja gulanya sampe jam 10. Gampang kan!" Ardi menyautkan alisnya
" Emang boleh sama Ibu?" Nisha manggut
" Cuma sampe jam 10. Gak boleh nambah lagi ya!" Ardi mengangguk langsung meletakkan kembali kepalanya dipangkuan Nisha.
" Oh iya. Nanti malam minggu. Teh Adesty nyuruh aku bawa kamu kerumahnya " Nisha terdiam.
Teteh Adesty??
" Dia itu sebenernya baik. Cuma kadang suka jutek aja."
Ardi pun menceritakan sedikit tentang keluarganya. Ardi itu anak bungsu dari tiga bersaudara. Teh Adesty itu Kakak kedua Ardi. Adesty Dwi Bramantio yang mendapat suami Om Martin dan tinggal diJakarta. Dan kakak pertamanya Malik putra Bramantio yang kini tinggal diBandung. Jarak lahir mereka pun cukup jauh satu sama lain. Ardi pun hanya memiliki seorang Ibu yang tinggal bersama kakak sulungnya. Sedangkan ayahnya sudah meninggal saat Ardi berusia 3 tahun. Baru kali ini Ardi bercerita tentang keluarganya pada Nisha. Bahkan pada teman teman kuliah dan dekatnya pun, Ardi kurang terbuka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Selamat menjalankan ibadah puasa.
Mohon maaf lahir dan batin🤗
Author kasih yang manis manis dulu ya🤗
Yang paitnya nanti nyusul
Jangan lupa 🖒, vote dan 🌟rate ya
❤nya juga untuk up selanjutnya
Komen berupa kritik dan saran juga author harapkan jika readers berkenan.
__ADS_1
Terima kasih sudah mau membaca🤗😘