
aku ingin mencintaimu
lebih banyak dari debar
lebih besar dari sabar
dan lebih lama dari selamanya
-aksaratua
* * * * *
Mata Nisha mengerjap perlahan, menatap sisi jendela yang masih tertutup tirai rapat, tapi menyisahkan sela sela berkas cahaya yang sedikit menembusnya.
Jam berapa kah ini?
Nisha menatap sekeliling langit langit ruangan tempat dia tertidur saat ini. Lalu pandangan matanya tertuju pada tangan kekar yang melingkar diperutnya. Kepalanya seraya menoleh kesamping sisinya dan memutar tubuhnya, terlihat wajah yang damai yang masih terpejamkan matanya. Wajah lelaki yang kini mengisi hatinya.
Ini pertama kalinya selama mereka pacaran, mereka tidur bersama dalam satu selimut.
Eeiittss! Jangan berpikirin mereka bahwa mereka berdua telah melakukan sesuatu yang biasa dilakukan anak jaman sekarang dalam pacaran dengan bebas yaa! Jelas TIDAK!
Ardi sama sekali tidak berbuat lebih dari hanya sekedar tidur dengan saling berpelukan bersama Nisha. Ardi termasuk dalam lelaki yang memegang teguh kehormatan wanita. Dimana dalam zaman ini, pacaran dengan pergaulan bebas masih merajalela didunia remaja maupun dewasa, tapi tidak bagi seorang Ardi. Dia masih bisa mengendalikan hasrat dirinya pada Nisha.
Nisha meraba tangannya diatas dudukan sofa diatas kepalanya. Meraih ponselnya disana dan meliahat jam saat karena dia melihat sekeliling ruangan ini tidak terdapat jam dinding.
" jam setengah tujuh " gumam Nisha lalu meletakkan kembali ponselnya didudukan sofa. Lalu menatap wajah yang kini tepat behadapan dengan wajahnya. Hembusan napasnya yang teratur begitu terasa diwajah Nisha. Tangannya terangkat menyentuh kepala dan membelainya. Lalu membelai lembut pipi Ardi. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang sedikit tebal, dagunya yang runcing. Begitu indah terlihat sehingga membuat Nisha melengkungkan bibirnya yang tipis. Tanpa sadar Nisha mengangkat kepalanya, dan mencium pelan pipi Ardi.
Tak mau mengusik tidur lelaki itu, Nisha mengangkat pelan tangan Ardi yang ada diperutnya. Tapi bukannya terangkat, tangan itu semakin mengeratkan pelukannya dipinggang Nisha yang membuatnya membulatkan matanya.
" udah puas ganggu aku tidur, terus mau pergi gitu aja? " Nisha semakin terperanjat saat Ardi bersuara dengan mata yang masih tertutup. Terdiam.
Ardi membuka matanya perlahan saat tak terdengar jawaban atau suara dari Nisha.
" kamu udah bangun? Sejak kapan? " tanya Nisha saat matanya bertatap mata Ardi.
" sejak tangan kamu dikepala aku "
" kak lepasin! " pinta Nisha saat tangan Ardi semakin menarik tubuh Nisha pada tubuhnya.
" gak mau! Aku masih ngantuk. Kita tidur lagi aja " ucap Ardi seraya membenamkan kepadanya didada Nisha.
Nisha berusaha mendorong tubuh Ardi agar terlepas dari pelukannya.
" udah pagi kak! Katanya mau pergi sama klein kamu? "
" janjinya ntar siang sayang. Bukan pagi pagi begini. Aku masih mau tidur bareng kamu disamping aku. " elaknya semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Nisha.
" tapi kan...ahhkkk! " pekik Nisha saat Ardi mengecup leher Nisha keras dan memberi tanda merah disana.
" kak Ar, lepas! "
Ardi pun menjauhkan kepalanya dari Nisha dan melepaskan pelukannya. Nisha menatap sinis Ardi yang sedang tersenyum sambil memegang lehernya.
" ngeliat kamu saat bangun tidur begini itu menyenangkan tau! " goda Ardi dengan bualan recehnya yang malah membuat Nisha sedikit bersemu merah. Baru kali ini Ardi melihat wajah Nisha yang tetap cantik natural saat bangun tidur.
__ADS_1
" udah ahk gombalnya! Aku mau bangun " ucap Nisha memalingkan wajahnya. Tapi tubuhnya tertahan saat tangan Ardi kembali melingkar dipinggangnya.
" Sha, kita nikah aja yuk! "
Nisha terdiam sesaat Ardi mengucapkan kata kata yang seperti melamarnya. Mata mereka saling beradu pandang sampai, Nisha memgerutkan keningnya dan mulut Nisha berucap,
" aku.... aku mau kekamar mandi kak, aku kebelet ini! "
Nisha bangun menyibakkan selimut saat tangan Ardi melonggar dipinggangnya, lalu berlari menuju kamar mandi yang memang benar benar Nisha sedang menahan rasa tertekan ingin buang air kecil. Sedangkan Ardi terdiam ditempatnya melihat Nisha berlari menjauhinya. Ardi menghela napasnya kasar dan menggaruk tengkuk lehernya.
" sabar Di, Ardi. Cewek lo itu emang gitu kalau diajak serius! Huhhf ! "
Ardi pun bangun membereskan tempat mereka tidur mereka saat itu. Lalu pergi kekamar mandi didalam kamarnya. Ardi yang memang sudah menyiapkan beberaoa baju kaos untuk Nisha sebalumnya, memberikan baju itu pada Nisha untuk ganti setelah mandi.
Selesai membersihkan diri, Nisha memasak nasi goreng dan telor dadar untuk mereka sarapan bersama.
" Sha "
" ya "
" aku bener bener serius sama pertanyaan aku tadi? " Nisha mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Ardi.
" yang mana? " ucap Nisha santai sambil menyuapkan sendok berisi nasi goreng kedalam mulutnya. Ardi memutar menyentuh pelipisnya lalu menatap Nisha yang kini duduk disampingnya satu meja makan.
" aku pengen tiap aku bangun tidur ada kamu disamping aku, sarapan bareng kayak gini, ada kamu saat aku pulang kerja nanti " Nisha mengerutkan keningnya mendengar itu semua.
" aku pengen kamu jadi istri aku Sha "
" tapi... aku masih kuliah kak. Umur kita juga masih muda "
Nisha terdiam menunduk mendengar perkataan Ardi. Ardi meraih satu tangan Nisha.
" apa kamu masih ragu sama aku? " tanya Ardi yang langsung mendapat gelengan kepala Nisha.
" aku yang ragu sama diri aku sendiri kak " timpal Nisha masih menunduk.
Ardi meraih dagu Nisha dan mengangkar wajahnya.
" kita kan bisa saling guatin sama sama. Saat aku ragu, kamu harus narik aku dari keraguan itu, dan saat kamu ragu aku yang bakal narik kamu untuk maju melangkah menjauh dari keraguan itu. " ucap Ardi dengan saling menatap.
" kalau gak kita bisa kan tunangan dulu, sebagai tanda keseriusan aku sama kamu " ucapnya yakin.
" kenapa harus saat saat ini? Nanti aja kan bisa. " ujar Nisha.
" kita udah dua tahun sama sama. Itu udah cukup buat kita dalam pacaran aku rasa. Aku cuma gak mau sesuatu hal yang bakal bikin kamu lepas dari aku nanti. Aku yang gak yakin sama diri aku buat kedepannya. Aku pengen setidaknya kita bisa tunangan dulu didepan keluarga kamu dan keluarga aku juga. " Jelas Ardi mencoba membujuk Nisha.
Entah apa yang saat ini Nisha rasakan. Ada senang Ardi mau serius tentang hubungan ini, ada juga resah dalam hatinya tentang kuliahnya dan ada sedikit sesuatu dihatinya yang tak tau itu rasa apa. Tapi Nisha tetap memganggukan kepalanya pelan yang membuat Ardi tersenyum merekah.
" aku omongin dulu ya sama papa dan ibu soal ini " ucap Nisha lirih dan mendapat anggukan kepala Ardi.
" tapi gak langsung nikah juga kan dalam waktu dekat ini? Kita cuma tunangan aja dulu " tanya Nisha
" iya. Makasih ya kamu udah mau " ucap Ardi mengenggam erat tangan Nisha.
" iya "
__ADS_1
Percakapan itu pun berakhir. Kemudian Ardi mengantar Nisha pulang dengan mobilnya.
Selangkah lagi, Ardi akan menjadikan Nisha miliknya seutuhnya. Entah apa yang dirasakan Ardi, sehingga mengajaknya serius saat ini walau sejak dulu pun dia memang sudah serius berhubungan dengan Nisha. Tapi akhir akhir ini, setelah bertemu Sesil, dia merasa harus membawa Nisha melangkah kedepan dijalan yang lebih serius lagi. Beruntungnya Nisha menerima langkah yang kini Ardi bawa.
* * *
Nisha memang belum siap untuk menikah, tapi mendengar Ardi mengajaknya lebih serius, itu juga membuatnya bahagia. Walau Nisha sampai beberapa hari ini belum menceritakan hal itu pada orang tuanya.
Dia masih asik melakukan kegiatannya dikampus dan dibagian tata usaha. Ada sedikit rasa penasaran dihatinya yang belum terpecahkan sampai saat ini mengenai sosok yang sering mengganggunya akhir akhir ini dikampus dan belum mendapat jawabannya.
Nisha melangkahkan kaki keluar kelas setelah jam kelas terakhir siang ini bersama Ambar dan Ningrum. Berbincang bersama dikantin terlebih dahulu untuk makan siang sebelum keruang tata usaha melanjutkan kegiatan hariannya.
" dah Nisha " ucap Ambar bersama Ningrum sambil melambaikan tangannya pada Nisha yang kini berdiri didepan pintu ruang tata usaha.
Nisha melangkah masuk keruang tata usaha menuju mejanya yang berada disisi tengah. Tapi saat dia berjalan sambil melihat sekeliling ruangan yang sudah terisi sebagian pegawai, matanya tertuju pada punggung sosok laki laki yang berdiri didepan meja Bu Saidah selaku administrasi perkuliahan.
Mungkin laki laki itu mau membayar biaya kuliahnya. Tapi mengapa dari punggungnya saja seperti aku mengenalinya?
Nisha melepaskan ranselnya dan meletakkannya dikursi meja kerjanya tapi matanya masih tertuju pada laki laki itu.
Tak lama laki laki itu pun seraya berbalik badan meninggalkan meja Bu Saidah. Dan saat itu pula aku dapat melihat wajahnya dengan jelas berbarengan dengan degup jantung Nisha yang semakin kencang saat menyadari dia adalah sosok yang selama ini dinantinya. Tangan dan tubuhnya tiba tiba saja bergetar saat mata Nisha bertemu dengan matanya. Laki laki itu pun berhenti berjalan saat meliahat Nisha menatapnya dengan dalam. Sedikit kecil sudut bibir laki laki itu terangkat lalu lanjut melanglahkan kakinya lagi.
Apa itu benar dia? Apa benar benar dia? Dia disini? Dia berjalan kearah ku? Apa dia mengenaliku?
Laki laki itu kini ada dihadapan Nisha dengan senyum kecilnya. Senyum yang Nisha kenal tahun yang lalu, tatapan mata yang masih dikenalnya lima tahun yang lalu. Sungguh membuat dada Nisha semakin meloncat tak karuan.
" hai, Nis "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Apakah hati Nisha akan goyah setelah bertemu cowok yang selalu dia mimpikan itu??
apakah Nisha dan Ardi akan benar benar bertunangan?
maaf kalau author bakal jarang update, karena isinya masih mentok๐๐โ
__ADS_1
Like, komen dan vote ya guys๐ค๐