Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 58


__ADS_3

Tuhan tidak menjanjikan langit itu


Selalu biru, Bunga selalu mekar,


Dan mentari selalu bersinar.


Tapi ketahuilah, bahwa dia selalu


Memberi pelangi disetiap badai,


Tawa disetiap air mata,


Berkah di setiap cobaan,


Dan jawaban dari setiap doa.


* * * * *


Ardi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang yang masih berada dijalan tol Cikampek menuju Jakarta. Walau terkadang ada sedikit kemacetan karena gerbang loket tol. Sudah dua jam Ardi berkendara sejak berangkat tadi tanpa berhenti sama sekali. Langit hari ini terlihat sedikit berawan dan kelabu. Apakah akan turun hujan? Semoga tidak, atau jangan dulu hingga dia sampai dirumah Nisha nanti. Tapi berbeda dengan kehendak Tuhan. Hujan memang belum turun, awan sedikit menampakan langit birunya walau hanya sesaat. Tiba tiba saja Ardi merasakan mobilnya yang berjalan tidak semulus awalnya, untungnya rest area ada didepan mata tak seberapa jauh.


Ardi terus melajukan mobilnya dengan perlahan dengan kondisi seperti ban mobilnya yang kempes. Dengan segera, Ardi mencari parkiran yang memadai direst area tersebut yang berdekatan dengan sisi sebuah pom bensin. Ardi keluar dari mobilnya dan melihat kebelakang mobil. Benar saja, ban mobilnya kempes. Bagusnya dia cepat menyadari itu. Jika tidak, mungkin dia akan terdampar jauh dari rest area. Dibukanya bagasi mobilnya, bagusnya Bang Martin Menyimpan ban cadangan yang baru disana. Hanya saja tidak ada alat untuk mengganti ban tersebut. Dengan terpaksa, Ardi meminta bantuan kepada petugas yang ada dipom bensin disana. Syukurnya para petugas disana sangat ramah dan sangat membantu.


Saat Ardi dan seorang petugas pom membongkar ban mobil belakang, Benda Pipih milik Ardi yang ada dijok depan mobil berdering, sayangnya Ardi tak mendengarnya karena memang volume deringnya yang tak terlalu keras, dan kalah dengan suara bising mobil yang melintas serta alunan musik yang disuarakan dari dalam pom bensin tersebut. Hp Ardi terus saja berdering tanpa ada jawaban.


Ardi dan petugas pom tersebut sudah selesai mengganti ban mobil yang kempes dengan yang baru, Ardi mengucapkan terima kasih pada petugas itu dan berjabat tangan. Ardi pun mampir sebentar kesebuah mini market yang ada disana membeli sebuah minuman. Saat melihat jam dipergelangan tangannya, Sudah menunjukkan jam 3.35 sore.


" Nisha pasti dijalan pulang dari sekolahnya. Aku harus segera bergegas" Ucapnya langsung masuk kedalam kemudi mobilnya, sayangnya, Hp yang sedari tadi berbunyi kini telah sunyi dan dalam kondisi layar mati.Tak terlihat tanda hidupnya sejak tadi. Ardi pun tak menghiraukannya dan fokus pada perjalanannya kembali agar sampai dirumah Nisha yang mungkin masih membutuhkan waktu kurang lebih satu setegah jam lagi. Itupun jika tidak ada kemacetan dalam perjalanan.


* * *


Sedangkan ditempat lain yang semua berjalan secara lancar tanpa hambatan dan kesulitan.


Eric masih melajukan mobilnya menuju rumahnya, memasuki sebuah komplek perumahan elit yang tak jauh dari tempatnya bertemu dengan Nisha. Rumah besar besar berjejer tertata rapi dengan pagar besi yang menjulang tinggi ditiap rumah. Terlihat sepi dan banyak terdapat tanah atau kavling yang msih kosong. Hanya kendaraan penghuni komplek yang berlalu lalang, itu pun masih terhitung jari.


Tiinnn tiinnn tiinn...


Eric membunyikan klakson saat sampai disebuah rumah model minimalis yang terlihat cukup besar dengan halaman kecil dan carport untuk dua mobil, tapi terlihat sepi. Apa ada orang tua nya didalam? adik atau kakaknya? Entahlah.


Seorang wanita paruh baya, keluar dari garasi dan berlari kecil untuk segera membuka pintu pagar. Eric pun memarkirkan mobilnya.


" Turun dulu yuk bentar?" Ajak Eric yang sudah mematikan mesin mobilnya. Tapi Nisha masih terdiam melihat keluar sekeliling dari dalam mobil


" Gak apa apa kok. Nyokap bokap gw lagi pada keluar kalau jam segini. cuma ada asisiten rumah tangga aja. " Nisha semakin ragu untuk turun, apalagi jika didalam tidak ada orang dan hanya mereka berdua.


" Gak usah takut Sha. Gw kan cuma mau ambik dompet aja, lagian emangnya lo gak haus apa? Minum dulu gitu disini sebentar." Ucap Eric sedikit membujuk Nisha untuk turun


Iya juga sih! Tenggorokan aku juga emang rasanya kering banget. Gak ada salahnya juga aku minum dulu bentar.


" Baiklah "


Eric pun keluar dari mobilnya bersamaan dengan Nisha yang juga keluar. Berjalan sejajar menuju pintu masuk dan masuk kedalam rumah yang cukup luas. Berjalan masuk ke arah ruang keluarga.Eric meletakkan jaketnya yang tadi dibawa Nisha dibahu sofa.

__ADS_1


" Lo duduk dulu ya, gw ambilin minum buat lo. Bentar!" Ucap Eric lalu berjalan kedapur. Nisha terus memutar bola matanya melihat lihat isi rumah yang terlihat sangat elegan dengan ornamen warna gold dan perak. Lalu duduk disebuah sofa panjang.


" Mau dibuatkan minum Den Eric" Tanya seorang Bibi yang muncul dari pintu belakang dapur.


" oohh...Gak usah Bi. Bibi diem aja dibelakang, Jangan masuk kedalam rumah sebelum saya panggil ya" Ucap Eric sedikit mengancam.


" Baik den " Si bibi pun tak bisa membantah ucapan anak majikannya itu. Berlalu pergi kebelakang rumah.


Eric mengambi sebuah gelas kosong didalam sebuah rak dan mengisinya dengan air putih. Melihat sekeliling dahulu, lalu merogoh saku celana depannya. Eric mengeluarkan sebuah bungkus plastik kecil yang berisi sebuah serbuk putih. Lalu menuangkannya sedikit kedalam air putih tadi. Mengaduknya dengan sebuah sendok yang ada tak jauh diatas meja dapur.


Permainan kita mulai...


Eric berjalan keluar dapur membawa segelas air putih dengan penuh senyuman didepan Nisha.


" Nih minum dulu, Aku ambil dompet aku dulu ya. Kamu tunggu sini." Ucapnya sambil meletakkan gelas itu dimeja depan Nisha duduk. Lalu berjalan kebelakang Nisha menuju kamarnya yang tak jauh dari sana.


Saat berada didepan pintu kamar, Eric memutar badannya melihat kearah Nisha, Yang kini meraih gelas yang ada didepannya. Nisha langsung meneguk air didalam gelas itu sampai habis, Ya memang karena dia merasa haus. Eric tersenyum puas melihat Nisha menghabiskan air itu, segera dia masuk kedalan kamar dan menuju sebuah meja samping lemari. Mengeluarkan sebuah kamera vidio dan menyalakannya, lalu meletakkannya dimeja pojok samping tempat tidur. Bergegas keluar kamar dan tak lupa meraih dompet yang ada dimeja samping pintu.


Nisha yang sedang duduk, tak lama setelah minum air putih tadi, tiba tiba kepalanya terasa berat dan penglihatannya sedikit kabur dan berkunang.


" Maaf nunggu lama Sha. Ayo gw anter lo pulang sekarang " Ucap Eric saat berdiri disamping Nisha.


" Oohh...sudah. Ayo !" Nisha mencoba berdiri dari duduknya, tapi tubuhnya goyah serasa tak bertenaga. Eric segera menangkap tubuh Nisha yang hampir jatuh kearah meja.


" Lo kenapa? sakit " Nisha menggeleng.


" Gak tau. Tiba tiba pusing Kak !" Ucapnya sambil memegangi kepalanya dengan satu tangan dan tangan satunya berpegangan pada lengan Eric.


Eric menidurkan Nisha ditepi kasur yang sudah hampir tak sadar diri. Eric segera menutup pintu kamarnya, tapi lupa untuk menguncinya. Karena tak fokus melihat Nisha yang sudah berposisi duduk diatas kasur.


Nisha merasakan badannya yang tiba tiba panas dan gatal. Dia bangun dan duduk disisi kasur.


" Kenapa panas banget yaa?" Ucapnya seraya membuka jaket sweternya, lalu melemparnya kedepan. Merasa masih panas, Nisha membuka kancing baju seragamnya satu persatu. Eric yang melihat, berjalan kearah Nisha dengan penuh nafsu karena melihat badan Nisha yang kini menunjukkan kedua pundaknya yang mulus setelah melepas baju seragamnya dan badannya yang masih menggunakan sebuah tangtop putih dan rok Abu abu diatas lutut yang menunjukkan pahanya yang putih bersih.


Nisha mengusap leher dan pundaknya yang masih terasa panas itu. Dan kini merasakan panas dan gatal yang sangat dibagian bawah tubuhnya. Dia pun mengusap pahanya, mencoba menahan rasa yang sangat tak biasa itu. Menggigit bibir bawahnya.


Eric mendekat dan duduk disamping Nisha. Lalu meraih kedua pundak Nisha dan merebahkannya diatas kasur.


" Kak Eriic.." ucap Nisha lirih melihat Eric yang menarik tubuhnya semakin mendekat.


" Gw bakal bikin lo puas Sha " Ucapnya berbisik ditelinga Nisha.


Nisha mencoba beristighfar dalam hati. Dia berada antara sadar dan tidak akan kondosi yang sedang dia alami. Tapi tubuhnya tidak dapat dibohongi. Tubuhnya terus saja mengeliat panas.


Eric mulai menciumi tengkuk leher Nisha, napas Nisha mulai menderu keras merasan sentuhan yang tak seharusnya dia alami. Ciuman Eric terus berjalan turun kebawah leher. Tangan Eric pun mulai bermain dikaki naik keatas paha. Menyusup masuk kedalam rok abu abu Nisha.


Aahhkkkk...


Eric mengisap kulit diatas dada Nisha. Tangannya semakin masuk kedalam rok yang masih berlapis celana stret disana. Dan terus menciumi dada dan leher Nisha yang tak telindungi tangtop itu.


Nisha pun dapat merasakan sentuhan tangan Eric dipahanya. Nisha menggelengkan kepalanya pelan, mencoba melawan tubuhnya sendiri.

__ADS_1


" Kak Ardi..." Ucapnya lirih teringat Cowok yang sedang dia nantikan kedatangannya. Berharap dalam hati kecilnya ini tidak akan terjadi. Eric mulai menyentuh bagian bawah Nisha walau masih terlindungi pakaian dalam. Nisha mengangkat tubuhnya saat merasakan sentuhan itu. Tubuhnya benar benar tidak dapat dikendalika.


Ya Allah...


Tiba tiba...suara hentakan pintu kamar begitu keras terdengar ditelinga Eric.


Bruuukkkkk


Eric menghentikan aktifitasnya ditubuh Nisha, dan memutar tubuhnya melihat kearah pintu dan betapa terkejutnya dia melihat sosok yang berdiri disana.


" Eriiiccc....Berhenti! "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


**Jangan lupa untuk 🖒, VOTE dan 🌟 rate ya


❤ nya juga untuk up selanjutnya


Komen berupa kritik dan saran sangat diharpkan jika readers berkenan.


Terima kasih sudah membaca🤗

__ADS_1


Mohon dukungannya🤗😘**


__ADS_2