
Jadilah seseorang yang tak pandai pergi,
Hanya karena sesuatu
Yang terlihat lebih indah
* * * * *
Sore ini, matahari semakin tenggelam diufuk barat. Langin semakin gelap dan redup, bukan karena sinar matahari itu meredup karena tenggelam diujung bumi, tapi karena awan yang menggulung hitam menutupi langit jingga sore ini, yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan.
Setelah selesai makan, Nisha dan Arya keluar dari tenda pecel ayam yang letaknya didepan kampus mereka.
" kayaknya udah mau hujan " kata Arya sambil menengadahkan pandangannya ke langit.
Nisha hanya mengangguk ikut menatap langit hitam didepan mereka.
" ayo buruan, ntar keburu hujan lagi! " seru Arya meraih tangan Nisha untuk mengajaknya menyebrang jalan.
" gak usah dipegang juga Ya! " menepis tangan Arya, " aku masih bisa jalan sendiri kok, gak usaha digandeng segala " tambah Nisha menolak perlakuan Arya.
Arya menaikan kedua alisnya, mengerti akan maksud perkataan Nisha yang menolaknya bergenggaman tangan. Tanpa banyak kata pun, Arya dan Nisha menyebrang jalan raya dua jalur itu yang memang cukup lebar dengan pembatas ditengah jalan.
Tanpa diduga, dari langit sudah menjatuhkan tetesan tetesan air yang jarang tapi lama lama semakin besar volume air itu jatuh dari langit. Nisha dan Arya pun segera berlari menuju sebuah pos disisi ujung pagar pintu masuk kampus.
Nisha mengibaskan tangan pada bajunya yang sedikit basah terkena tetesan hujan, begitu juga Arya.
" hahh...hujan juga deh " ucap Nisha menatap hujan diluar tempat mereka berdiri.
" permisi pak, numpang neduh ya!" Ucap Arya pada seorang satpam yang ada didalam pos jaga itu dan kami di teras posnya.
" oh...iya. silahkan! " saut pak satpam itu yang sedang ngopi dan nonton tv didalam posnya.
" oh..Arya toh! Belom pulang? " tanya seorang satpam satu lagi keluar dan berdiri disisi pintu dengan name tag dibajunya Udin, yang ternyata kenal Arya.
" eh...iya pak Udin. Abis makan didepan duku tadi." Jelas Arya.
" sama pacarnya nih! " Nisha membulatkan matanya mendengar kata pak Udin. Sedangkan Arya hanya tersenyum malu.
" bukan pak! Saya bukan pacarnya. " tegas Nisha menyangkal. Arya menoleh padaku dan menipiskan bibir bawahnya.
" eh...bukan toh! Ya udah, duduk dulu, tunggu sampai hujan reda baru lanjut. Mau pulang kan? " Arya dan Nisha hanya mengangguk bersaman. Arya pu mengucapkan terimakasih kepada pak Udin.
Kami pun duduk bersebelahan dikursi yang menghadap keluar dan memandang aliran hujan didepan kami.
" Sha, kamu gak ada niat apa buat putus sama Ardi, cowok kamu itu? "
" hah " Nisha terkejut akan pertanyaan yang Arya lontarkan tersebut. Mata mereka saling manatap dalam diam sejenak.
" jangan nanya yang gak gak deh Ya! " ucap Nisha kembali menatap hujan didepannya. " tanpa gw jawab, lo udah tau kan jawabannya " tambah Nisha lagi.
Arya pun ikut menatap rintikan hujan yang semakin deras itu. Seolah ikut merasakan apa yang Arya rasakan. Karena sudah 8 bulan lamanya Arya mendekati Nisha, bahkan Nisha tidak pernah menolak Arya yang bersikap layaknya pacar pada kekasihnya. Merangkul, memeluk, menunggunya pulang jika Ardi tidak menjemputnya pulang seperti sekarang. Bahkan pernah saat Arya yang mencoba mencium Nisha diujung lorong kampus. Tapi Nisha malah menaggapi semua hanya candaan belaka.
__ADS_1
" kenapa gak nyoba cari cewek lain sih Ya? Dikampus kan banyak, adek kelas atau teman cewek seangkatan lo. Kenapa mesti gw? " tutur Nisha.
" entahlah, Sha. Sejak gw kenal lo, lo udah bikin gw gak bisa liat cewek lain dikampus. Mata gw nyari lo mulu! " goda Arya namun jujur dari hatinya.
" bullshit lo ahk! " mendurung pundak Arya disampingnya dengan pundaknya.
" emang bener kok! Lo tuh tipe gw banget, apalagi lo itu tipe setia banget kayak ma cowok lo itu. Kalau lo jadi pacar gw, lo pasti setia juga sama gw " tutur Arya merapatkan duduknya pada Nisha, lalu merangkul pundak Nisha. Nisha hanya melirik tangan Arya yang melingkar dipundaknya lalu tersenyum.
" lo ada rasa gak sih Sha, sama gw selama ini? " tiba tiba pertanyaan itu pun terlontar dari mulut Arya.
Memang tidak dapat dibohongi oleh Nisha. Selama ini Arya yang selalu mendekati Nisha, dan ternyata memang membuahkan hasil. Hati Nisha memang sedikit bergetar setiap berdekatan dengan Arya, apalagi yang harus bertemu dan berhadapan dengan cowok ini setiap hari. Sedikitnya, Arya sudah berhasil berada dihati Nisha saat ini. Tapi ini lah jalanNya.
Walau Arya berhasil masuk dihati Nisha, tapi didalam sana masih ada nama Ardi. Cowok yang selama ini mengisi hatinya itu. Nisha tidak bisa melepasnya begitu saja, dan memilih Arya. Tidak! Nisha tidak akan menghianati Ardi. Rasa sayang Nisha pada Ardi lebih besar dari pada ke Arya. Nisha tidak mau mengikuti hawa nafsu hatinya yang akan menyakiti hati Ardi. Karena dia tau rasanya diselingkuhi itu seperti apa. Walau kini Nisha jarang bertemu Ardi karena kesibukan cowoknya itu, tapi hatinya masih untuk Ardi.
" hhmm...gimana ya? Mungkin ada sedikit " jawab Nisha dengan gerakan jari jampol dan telunjuk menyatu diujungnya. Mata Arya sedikit berbinar penuh harapan dan senyum.
" kalau gak, kita pacaran diem diem aja, Sha! Gimana? " Nisha langsung menjauhkan sedikit tubuhnya dan menyautkan alisnya menatap Arya yang tersenyum padanya.
" temen kamu aja, si Siska bisa tuh jalan sama dua cowok. " tambahnnya lagi.
" lo ngajakin gw selingkuh? " tanya Nisha dengan tawa kecil. Arya menggeleng, " bukan selingkuh, backstreet aja "
" sama bae " memukul paha Arya disampingnya. " ogah! Gw gak mau. Makasih! " jawab Nisha ketus membuang mukanya.
" kenapa sih? "
" gw masih setia sama cowok gw! Gw gak mau nyakitin Ardi " ucap Nisha lantang.
" salah lo, deketin cewek yang milik orang lain " jawabku santai. Dalam hati Nisha sebenarnya, dia ingin mencoba menjalani hubungan dengan cowok lain selain Ardi, tapi hati Nisha selalu menolak akan pernyataan itu. Dia tidak mau menyakiti Ardi.
Maaf Arya! Ucap Nisha dalam hati menatap Arya yang sedang memandang hujan.
* * *
Disalah satu hotel ternama di Jakarta, didalam sebuah restoran yang sudah ditentukan oleh sekertaris PT Elang Jaya untuk membicarakan kontrak kerjasama mereka dengan perusahaan milik Kurniawan, dan disini lah Ardi bersama sekertaris pribadi Kurniawan, Dahlan.
Merkea berjalan masuk kedalam hotel menuju restauran bintang lima yang berada dilantai enam hotel ini.
Mereka pun masuk kedalam sebuah restauran setelah keluar dari dalam lif. Restauran dengan desain interior gaya eropa modern dengan lampu gantung ditengah ruangan yang cukup besar dengan pencahaan lampu yang agak redul keemasan yang semakin membuat restuaran terlihat elegan.
Ardi berjalan mengikuti langkah Dahlan, karena Dahlan lah yang tau sosok pak Jordi pimpinan PT Elang dan sekertarisnya pula karena sudah pernah mengadakan pertamuan sebalumnya dengan Kurniawan.
Dipintu masuk retauran pun kami disambut seorang pelayan yang menyapa. Setelah mengatakan pada pelayan itu bahwa kami telah melakukan resevasi, pelayan itu pun mengantarkan kami kedalam restauran yang memiliki ruangan yang lebih privat.
Setelah pelayan itu mengantar kami ketempat tujuan kami, pelayan itu pun permisi pergi. Kami pun masuk kedalam ruangan yang lebih mewah dan tertutup dengan meja besar dan kursi makan yang berjumlah enam buah. Disana pun telah ada seorang pria paruh baya yang kemungkinan dia adalah Pak Jordi pemilik PT Elang yabg berusia seperti Kurniawan dan seorang wanita yang dirasa sekertaris pak Jordi yang masih sangat muda. Bahkan sepertinya seumuran dengan Ardi.
" selamat datang tuan Ardi Rizki Bramantio dan tuan Dahlan" sapa Jordi berdiri dari duduknya dan menyambut Ardi dan Dahlan dengan uluran tangannya.
" terima kasih pak Jordi. Senang rasanya saya bisa bertemu pemilik perusahaan PT Elang secara langsung. " membalas uluran tangan Jordi. Begitu juga Dahlan.
" tidak usah sungkan begitu tuan Ardi. Saya pun senang bisa bekerja sama dengan perusahaan yang kini dipimpin oleh pemuda berbakat seperti anda. Bahkan saya sudah mendengar tentang anda yang telah memenangkan beberapa tender besar salama ini. Karena itulah saya juga ingin bekerja sama dengan anda. " tutur Jordi memuji Ardi.
__ADS_1
" anda terlalu memuji Pak Jordi." Ucap Ardi yang merendah. Merka pun saling tertawa bersama dan melempar pujian satu sama lain
" Oh ya...ini sekertaris saya yang akan ikut mengurus kerja sama kita selanjutnya." Ucap Jordi memperkenalkan sekertarisnya pada Ardi.
Saat Ardi mulai fokus pada wanita berbalut pakaian formal layaknya sekertaris pada umumnya dengan jas dan rok diatas lutut berwarna tosca yang senada. Dengan rambut panjang lurus yang jatuh disatu pundaknya, terlihat sangat cantik dengan tubuh dan kulit putihnya. Ardi menyautkan alisnya melihat wanita disamping Jordi itu, seperti dia mengenalnya dan tak asing dimatanya.
Wanita itu kini tersenyum manis pada Ardi yang menatap heran.
" hallo tuan Ardi, senang kita bisa bertemu kembali " sapa wanita itu mengulurkan tangannya didepan Ardi yang masih sedikit berfikir keras dan mengingat siapa gerangan wanita yang tak asing ini.
" tuan " bisik Dahlan dikuping Ardi yang membuat Ardi tersentak karena melamun melihat wanita itu. Ardi pun tersadar dan melihat tangan terulur didepannya dengan ragu pun Ardi menyambut tangan itu.
" ada apa tuan Ardi? Sepertinya anda terlihat begitu berfikir? " tanya Jordi yang melihat raut wajah Ardi bingung.
" sepertinya saya merasa tak asing dengan sekertaris anda pak Jordi " jawab Ardi ragu. Jordi dan Dahlan pun mengangkat alis mereka ikut heran dan melihat sekertaris itu tersenyum yang mengisyaratkan sesuatu.
" nama saya Sesil tuan Ardi. Sesil kinanti, teman SMA anda dulu di Bakti Surya di Bandung. " tutur Sesil menjelaskan.
" teman SMA? " tanga Jordi terkejut apa yang dikatakan sekertaris cantiknya itu.
" Sesil kinanti, adiknya Ilham? " tanya Ardi memastikan, dan Sesil pun mengangguk pasti.
Siapakah Sesil dikehidupan Ardi waktu sekolah dulu? Apakah salah satu mantan pacar Ardi seperti Maya? atau hanya penggemar Ardi saja?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
**BANTU VOTE POIN YA
LIKE DAN KOMEN JUGA
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA
MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**
__ADS_1