
Ku tak ingin kau seindah pelangi
Karena indahnya hanya sesaat
Lalu hilang pergi
Ku tak ingin kau menjadi rembulan
Karena rembulan hanya hadir
Di gelapnya malam.
* * * * *
Masih didalam suasana cafe.
" Aku berhenti bermain Kak!....Aaarrggghhh!" Ucap Nisha seraya menutup mulutnya yang mengeluarkan sendawa halus karena telah meminum tiga gelas soda. Semua yang ada disatu meja tertawa mendengar sendawa Nisha. Ardi hanya mengusap lembut punggung Nisha sambil tersenyum.
Aarrggghhh...
Tapi ternyata, semua yang cewek yang ada disana pun ikut bersendawa pula karena minuman soda itu.
Hahahaha...
Mereka pun tertawa bersama disana. Dan memutuskan mengakhiri permainan itu, karena memang air sodanya pun sudah habis. Dan gelas terakhir pun diminum oleh Dono.
" Heeiii...itu bukannya kawanan Eric ya?" Tanya Zaki saat sekawanan pemuda masuk kedalam cafe dan duduk dikursi yang berada diruangan seberang ruangan mereka.
" Iyaa...itu kawanan Eric. Tapi tidak ada Eric sepertinya?" Tutur Kendi saat tak melihat Eric disana, hanya teman teman nongkrong Eric saat dikampus.
Semua yang mendengar ucapan kendi pun menoleh kearah yang dibacarakan, begitu juga Ardi dan Nisha. Tapi Ardi tak peduli akan Eric. Jika mengingat perbuatan Eric, Ardi masih merasa kesal akan itu. Dan ingin sekali dia memukul kembali Eric sampai puas. Tapi Ardi masih bisa menahannya. Ardi hanya ingin melindungi dan menjanga Nisha saat ini. Digenggamnya tangan Nisha erat diatas pahanya, dan saling tersenyum.
" Kak Eric gak ada disana? Apa sama Imel saat ini?" Ucap Nisha dalam hati setelah melihat teman teman Eric yang ada diseberang sana.
" Oohh...iya! Yang tadi ngirim pesan ke aku, Kak Eric atau siapa ya?" Gumam Nisha saat mengingat kembali pesan saat dia berada dikamarnya tadi. Segera dia mencari benda pipih miliknya didalam tas kecilnya. Ardi dan teman lainnya pun asik mengobrol entah membahas apa!.
Nisha menyalakan benda pipihnya itu yang kini dialetakkan diatas pahanya dibawah meja. Ada dua pesan yang masuk sejak tadi ternyata. Nisha pun membacanya. Dan itu nomor yang tadi mengirimnya pesan juga.
📩 Aku Andri. Sepupu Apri yang tempat kamu beli minum waktu itu!
📩 Lagi ngapain sekarang?
📩 Kok gak dibales sih?😔
Nisha mengerutkan keningnya saat membaca pesan yang ternyata dari sepupu Apri itu.
" Andri. Gw pikir Kak Eric. Udah suzon aja kan gw jadinya!🤔 tapi kok dia punya nomor gw?" Gumam Nisha dalam hatinya setelah membaca pesan itu. " Waahhh...Apri nih yang ngasih nomor gw ke sepupunya ya?"
" Kenapa Sha?" Tanya Ardi saat melihat Nisha yang seperti kesal. " Aahh...gak kenapa kok Kak Ar! " Jawab Nisha saat lamunannya terbuyarkan oleh Ardi.
" Mukanya kaya kesel gitu? Ada pesan apaan emangnya di hape kamu?" Tanya Ardi mencoba menebak. " Ooohh...ini. Pesen dari teman sekolah, si Apri. cuma soal masalah PM aja." Tutur Nisha mencari alasan. Ardi pun hanya mengangguk saja.
" Sekarang kita nyanyi aja yuk!" Ucap Dono setelah mengambil gitar dari panggung cafe yang tak dipakai. Dan memberikannya pada Kendi. Mereka pun serempak menyetujuinya.
Kendi pun mulai memainkan gitar yang kini dipegangnya.
Sedangkan Nisha masih memainkan benda pipih yang dipegangnya membalas pesan yang dikirim oleh Andri diam diam. Nisha tak ingin Ardi mengetahuinya.
Sedangkan disisi depan Nisha , Kendi memetik senar gitar dan mulai melantunkan sebuah lagu.
Kan ku bawa wajahmu, kan ku bawa namamu
ku ingin tidur dan bermimpi malam ini.
Disini dikamar ini, sendiri melintas sepi
kusut masam rambut dan kemeja malam, ku tak perduli.
Suara Kendi memang lumayan bagus jika bernyanyi. Petikan gitarnya pun sangat indah didengar. Nisha yang tadinya sedang mengetik pesan pun berhenti dan menyimpan benda pipihnya diatas meja, ikut menikmati lagu yang dinyanyikan Kendi. Semuanya pun ikut bernyanyi dibait berikutnya bersama.
Disana kau berdua, disini aku yang sendiri
Disana kau tersenyum, disini aku yang menangis.
__ADS_1
Jangan kan untuk bertemu, memandang pun saja sudah tak boleh
Apalagi bernyanyi bersama bagai hari lalu
Jangankan mengirim surat, menitip salam pun saja sudah tak boleh
Ternyata memang kau tercipta bukan untukku
Bahkan para pengunjung yang ada disana pun sedikit terhibur mendengar suara yang cukup bagus dari kendi saat setelah selesai menyanyikannya.
" Heii...kenapa kalian nyanyi disini? Bukannya dipanggung saja?" Ucap Widji tiba tiba sudah ada disamping meja mereka.
" Apa sih Dji, Kita cuma iseng aja kok!" Ucap Kendi menolak untuk naik kepanggung.
" Gak apa.pa kali kalau kalian ada yang bisa nyanyi diatas. Sekalian ngehibur pengunjung yang lain. Keliatannya mereka juga suka. Lagian emang band yang biasa tampil disini juga lagi pada gak bisa. Kalian aja yang ngisi sambil iseng iseng!" Tutur Widji
" Ya elah Dji, gak ahkk kalau dipanggung mah!" Tolak juga Zaki. Mereka memang malu juga jika untuk tampil diatas panggung kecil itu.
" Kalau kalian ada yang mau nyanyi diatas. Ntar gw kasih diskon untuk semua makanan yang udah kalian makan ini!" Ujar Widji menawarkan sesuatu yang membuat mereka semua yang ada dimeja berpikir ulang dan saling berbisik.
" Bener nih Dji?" Tanya Hedi memastikan. Dan Widji mengangguk pasti.
" Gw bukan orang yang gak menepati janji atas apa yang gw ucapakan! Jadi ayo! Siapa yang mau nyanyi diatas, jika para pengunjung disini suka, Gw potong 25% total pembayaran makan kalian. Tapi dua lagu ya!"
" Satu lagu aja ahk!" Tawar Zaki
" Duet tapi kalau satu lagi!" Pinta Widji
Mereka pun saling pandang satu sama lain. Dan Kendi pun setuju. Mereka pun saling tunjuk untuk siapa yang akan mau menyanyi. mereka pun saling mengetes suara satu satu. Hedi dan Widia suara pas pasan. Zaki Bisa bernyanyi tapi Riska tidak sumbang. Fera bagus tapi Mail tidak bisa. Fera tidak mau jika dengan Kendi. Tapi Ardi memang punya suara lumayan bagus, Nisha juga. Tapi Nisha tidak mau. Mereka pun memaksa Nisha bersama agar mau menyanyi untuk mendapat potongan harga yang ditawarkan Widji. Kan lumayan!
Akhirnya Nisha pun terpaksa mengikuti keinginan semua teman Ardi untuk bernyanyi berdua. Nisha memasang wajah cemberutnya saat berjalan berdua Ardi menuju panggung kecil dipojok tengah cafe yang atapnya terbuka oleh pemandangan langit malam minggu ini.
" Jangan cemberut gitu napa, bikin aku gemes aja sih?" Ucap Ardi yang memegang gitar akustik diatas panggung. Nisha hanya senyum diam berdiri diatas panggung. Malu yang dia rasakan saat semua mata pengunjung cafe tertuju padanya dan Ardi diatas panggung kecil itu. Dan Widji berdiri ditengah sisi tiang taman itu. Nisha menoleh pada Ardi yang duduk dikursi memegang gitar dan sebuah mikrofon didepannya. Ardi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pada Nisha.
" Kak Ar, malu!" Ucapnya berbisik. " Santai aja, ada aku." Ucapnya menggenggam tangan Nisha " Anggap aja kamu lagi dikamar mandi!" Ucap Ardi lirih. " Mana bisa!" Jawab Nisha membuat Ardi tertawa. " Udah... pejamin aja mata kamu! Anggap cuma kamu sama aku yang ada disini"
Semua pengunjung sudah menunggu Ardi dan Nisha, kawanan teman Eric yang mengenal Ardi pun ikut memperhatikan Ardi dan Nisha dan sling berbisik tentang Nisha.
Ardi
*Lihatlah luka in*i yang sakitnya abadi
yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
aku tak akan lupa tak akan pernah bisa
tentang apa yang harus memisahkan kita
Disaat ku tertatih tanpa kau disini
kau tetap kunanti demi keyakinan ini
jika memang dirimulah tulang rusukku
kau akan kembali pada tubuh ini
ku akan tua dan mati dalam peluk mu
untukmu seluruh nafas ini
Nisha
Kita telah lewati rasa yang pernah mati
Bukan hal baru bila kau tinggalkan aku
tanpa kita mencari jalan untuk kembali
Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku
Disaat ku tertatih tanpa kau disini
Kau tetap ku nanti demi kayakinan ini
__ADS_1
Jika memang kau terlahir hanya untukku
bawalah hatiku dan lekas kembali
Kunikmati rindu yang datang membunuhku
Untukmu seluruh napas ini
Semua pengunjung sangat menikmati suara dan mainan gitar Ardi dan Nisha. Sangat lembut dan merdu. Bahkan tak ada yang bersuara saat mendengarkannya. Mereka ikut menghayati lagu yang dinyanyikan Nisha dan Ardi sampai akhir.
" Gila ya ternyata! Suara Nisha merdu banget ya " Seru Hedi tak henti henti memuji Nisha sampai Widia merasa cemburu dan memukul pundak Hedi. " Kenapa dia gak jadi penyanyi aja ya?" Sambung Zaki sambil mengelengkan kepalanya.
Nisha dan Ardi kembali duduk bergabung ke meja teman temannya setelah selesai dan mendapat tepuk tangan para pengunjung yang memang cukup ramai malam minggu ini. Bahkan ada yang meminta satu lagu lahi, tapi Nisha menolaknya. Bahkan Widji menawarkan untuk bernyanyi dicafe ini tiap malam minggu pada Nisha, tetap Nisha menolaknya dengan halus. Widji pun sangat menyayangkan itu. Karena Widji juga suka akan suara Nisha yang lembut dan merdu itu.
Widji pun menepati janjinya untuk membari potongan pada makanan yang mereka semua pesan.
Karena waktu semakin malam, mereka pun memutuskan untuk bubar dari cafe dan berpisah. Nisha pun belum sempat melihat kembali balasan pesan yang dikirimnya pada Andri tadi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**BANTU VOTE YA PARA READERS
JANGAN LUPA JUGA LIKE DAN KOMENNYA
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA😊
MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**
__ADS_1