
Sebaik baiknya kesabaran adalah
Saat engkau lebih memilih diam,
Padahal emosimu sedang meronta
Ingin didengarkan.
* * * * *
" Kak Ardi " panggil Nisha dengan lembut. Wajahnya masih menunduk dengan sedikit melirik keatas untuk melihat wajah cowok yang kini duduk disampingnya dengan wajah yang masam sambil memainkan benda pipih ditangannya. Tak perduli akan panggilan Nisha.
Nisha menarik napasnya panjang dan menghembuskannya perlahan melalui mulut.
Ini memang salahnya, sudah sepantasnya Ardi mendiamkannya seperti sekarang. Tapi Nisha tidak merasa nyaman akan keadaan diam membisu seperti ini, lebih baik dia mendengarkan semua ocehan amarah yang seharusnya dikeluarkan cowok pilihannya itu kepadanya. Tapi Ardi lebih memilih diam duduk bermain game bersama benda pipihnya, untuk meredam amarahnya.
" Kak Ardi marah sama Nisha?" tanyanya lagi masih menunduk, memainkan ujung baju yang pakainya diatas paha.
" Menurut kamu?" jawab Ardi dengan nada dingin tanpa melirik Nisha.
Duuhhh...dia bener bener marah! gimana ini?
" Maaf Kak! " ucapnya sungguh sungguh atas semua yang baru saja terjadi.
Ardi pun meletakkan benda pipihnya diatas meja didepannya. Memutar posisi badannya, menaikkan satu kakinya keatas sofa dan menekuknya, melipat kedua tangannya didada, menatap Nisha dengan memiringkan kepalanya. Nisha yang melihat Ardi meletakkan benda pipihnya, memberanikan mengangkat wajahnya melirik kesampingnya. Mata mereka saling bertemu dan saling bertatap. Nisha pun memasang wajah manisnya tersenyum sambil memainkan hidungnya.
" Gak usah masang muka imut gitu! lagi gak berperangaruh buat aku! " ucapan Ardi seketika membuyarkan senyum Nisha dan membuatnya sedih dan merunduk kembali.
" kamu tau kamu salah apa, sampai kamu ngomong maaf barusan? " tanya Ardi masih dengan suara dinginnya.
" Maaf karena udah jalan sama Andri "
" Terus... ada lagi? " ucap Ardi yang memberikan Nisha untuk berkata jujur.
" Dan udah bohong "
" Soal? " tanyanya lagi.
" Yang waktu Kak Ardi dateng, Nisha ada diluar. Itu Andri yang baru pulang dari sini, bukan orang yang salah alamat " tutur Nisha semakin menyembunyikan wajahnya yang merasa bersalah. Ardi menghela napasnya perlahan. Dia sudah menebak itu saat tadi memperhatikan motor yang dipakai Andri.
" Kenapa harus disembunyiin? Kenapa kamu gak jujur aja? Kayak Andri tadi jujur didepan aku kalau dia suka kamu! " ujar Ardi yang kini sudah dengan suara seperti biasa, tak ada nada kemarahan disana. Nisha langsung menoleh menatap mata Ardi.
" aku takut kak Ardi marah atau cemburu "
" Sekarang juga aku udah marah dan cemburu! "
" Kak Ardi cemburu? " Tanya Nisha penuh penasaran.
" Cowok mana sih Sha, yang ngeliat ceweknya deket sama cowok lain gak cemburu, apalagi kayak tadi. Kecuali aku gak bener bener sayang sama kamu, terserah kamu mau jalan sama cowok mana juga, aku gak perduli! " tutur Ardi. Kini menarik kedua pundak Nisha agar menghadapnya, menarik dagu Nisha keatas sehingga mereka saling bertatapan.
__ADS_1
" Bahkan dulu saat kamu dilecehin sama Eric pun, kalau aku gak sayang kamu. Aku gak bakal peduliin kamu. Tapi kamu taunya aku gimana? " ucapnya menatap lekat mata Nisha yang kini malah sudah berkaca kaca.
" Karena itu juga, aku gak mau kamu tau soal Andri. Aku gak mau kamu bikin kamu kecewa. Aku udah nyoba ngindarin dia, tapi dianya yang deketin aku." tutur Nisha dengan suara sedikit sendu, mencoba menahan sesak didadanya saat membahas soal Eric.
" Ya makanya, Aku gak mau sampe ada hal kejadian kayak dulu antara kamu dan Eric keulang lagi, karena kamu gak mau terbuka soal cowok yang deketin kamu. Dan malah bikin kejadian yang gak bisa kita diduga. Sama kayak kejadian sekarang! " Nisha terdiam merunduk mendengar ucapan Ardi yang memang benar adanya. Dia baru menyadari akan itu semua.
" Ditambah lagi, liat kamu berpakain begini! "
Nisha membulatkan matanya saat ingat apa yang dia pakai.
" Ihhkk...Kak Ar. Ntah kenapa aku emang lagi pengen pakai baju ini didepan kamu " ucapnya memandang wajah Ardi
" Depan aku atau depan Andri? "
" Ya jelas buat Kak Ardi, bukan buat Andri. " ucapnya tegas.
" Tapi yang pertama liat kan Andri bukan aku! " ujarnya sinis membuang muka.
" Aku emang niat pakai baju ini cuma buat kak Ardi, bukan yang lain. Biar dia tau juga, aku yang cantik ini cuma milik Kak Ardi " Ucapnya memegang kedua pipi Ardi menghadapnya sambil tersenyum.
Mencium sekilas bibir Ardi, yang memang membuat Nisha tak bisa menampik kalau dia selalu ketagihan akan sentuhan bibir itu. Seketika memalingkan wajahnya yang memerah merasakan malu setelah melepas tangannya dari pipi Ardi.
" Dah berani ya sekarang godain aku kayak gitu! "
" Siapa yang godain sih Kak? "
" Itu, berani cium aku duluan? " menarik dagu Nisha agar menatapnya, tapi Nisha malah merunduk tersenyum malu menyembunyikan wajahnya yang merona.
" Ya wajar kan aku marah karena liat kamu dipegang sama cowok lain didepan mata aku? Untung juga aku gak langsung main kasar sama dia yang nyatain suka sama kamu didepan aku. Kalau cowok lain mungkin udah ngehajar cowok kayak gitu "
Ardi pun tersenyum langsung menarik Nisha dalam pelukannya. Nisha yang awalnya terkejut, ikut membalas pelukan Ardi. Merapatkan tangannya dipinggang Ardi.
" Makasih ya " ucap Ardi sambik mengelus kepala Nisha. " Kok makasih? untuk apa? " tanya Nisha heran.
" Makasih masih mau bertahan sama aku. Aku cuma takut kamu lebih milih cowok lain yang lebih baik dari aku. Makanya aku marah dan cemburu." ucap Ardi dan Nisha hanya menganggukkan kepalanya dibahu Ardi.
" Maaf juga, aku yang gak jujur sama kamu! "
Ardi pun hanya menganggukkan kepalanya, makin memeluk erat Nisha, takut akan kehilangan gadis yang benar benar membuatnya rindu setengah mati jika tak bertemu.
Dia ingat betul, saat Nisha dengan jelas menolak Andri langsung didepan Ardi saat tadi mereka duduk bertiga diteras.
Andri yang tadinya berniat memprovokasi cowok Nisha itu. Agar Ardi dan Nisha bertengkar setelah pengakuannya menyukai Nisha, dan menyulut emosi Ardi. Dan mungkin Ardi akan pergi meninggalkan Nisha saat itu tanpa penjelasan, atau bahkan mungkin Ardi yang main kekerasan. Tapi nyatanya, tidak seperti dugaannya. Ardi malah memilih mendengarkan pengakuan perasaan Andri dan membiar Nisha untuk menjawabnya pula langsung. Walau sebenarnya hati Ardi yang begitu panas dan sesak saat mendengar cewek yang dia sayang ada yang menyukainya terang terangan didepannya. Tapi sebisa mungkin Ardi menahan emosinya sejak tadi agar tidak bertindak dan melakukan hal yang tidak diinginkan.
* * *
Flashback
" Sekarang mau lo apa, hah?" Ucap Ardi menatap pada Andri, disaat mereka duduk bersama bertiga setelah Ibu Uni yang tadi muncul melerai mereka. Nisha dan Ardi duduk bersebelahan disatu sofa, dan Andri disofa tunggal seberang Nisha.
__ADS_1
" Gw gak mau apa apa kok! Gw cuma mau jujur aja sama Nisha kalau gw suka dia. Walay gw berharap dia mau nerima gw jadi cowoknya! " ucapan Andri seketika membuat Ardi mengepalkan tangannya kuat disamping pahanya.
" Kak Andri! Kan tadi Nisha udah bilang maaf, Nisha gak bisa. Nisha udah punya pacar, dan dia sekarang disamping Nisha." ucapnya menoleh pada Ardi dan menyentuh tangan Ardi yang terkepal disampingnya. Saat itu juga, amarah Ardi perlahan meredup, tapi tidak menghilangkan tatapan tidak sukanya pada Andri.
" Iya, karena ada cowok lo kan Sha, lo jadi nolak gw sekarang! " ucap Andri melipat kedua tangannya didada. " Padahal sejak tadi sore, kita ngobrol berdua sangat akrab dan bahkan sudah dibilang dekat. Tapi saat gw nyatain isi hati gw dan cowok lo ini datang. Lo jadi berubah sikap sama gw kayak gini "
Nisha dan Ardi terpaku akan ucapan Andri yang begitu lantang.
" Kalau lo gak buru buru datang, mungkin Nisha udah nerima cinta gw! " ucapnya penuh percaya menatap mata Ardi, seakan memberi tantangan.
" Kak andri " kini Nisha berdiri dari duduknya menghadap Ardi. " Nisha udah bilang, Nisha gak bisa nerima hati Kak Andri, mau itu ada Kak Ardi disini atau pun gak ada. Mau besok atau kapan pun, Nisha tetep gak bisa nerima Kak Andri "
" Gw tau Sha... "
" Lo dah denger sendiri kan, jawaban dari Nisha " ucapan Andri yang berdiri didepan Nisha terpotong, saat Ardi ikut berdiri pula dan menahan tubuh Andri dengan satu tangan didada Andri agar tidak mendekati Nisha. Sekarang Andri yang mengepalkan tangannya kuat.
" Lebih baik sekarang lo pulang kerumah lo, sebelum lo bikin malu diri lo sendiri didepan keluarga Nisha karena udah ditolak! " Ucapan Ardi yang begitu dingin dan tatapan matanya yang begitu tajam bagai pisau yang siap menusuk Andri kapan pun. Membuat Andri akhirnya mengalah saat ini.
Tapi sebelum bergerak pergi, Andri menarik satu ujung bibirnya. Diraihnya satu tangan Nisha yang jauh dari jangkauan Ardi, dan mencium punggung tangan Nisha. Seketika Nisha membulatkan matanya saat merasakan bibir Andri menempel sekilas dikulit tangannya, dan dengan cepat juga Ardi menarik tangan Nisha dan mendorong pundak Andri kuat. Beruntungnya daya keseimbangan tubuh Andri yang cukup membuatnya tak jatuh kebelekang. Andri pun menegakkan tubuhnya santai.
" Ok, sekarang gw balik dulu ya Sha. Gw tetep masih akan nunggu lo kok, Sha. Mungkin jika sewaktu waktu, lo ditinggal sama cowok lo ini. Masih ada gw. Lo tau ada dimana gw saat ini! " ucap Andri santai menatap Ardi dan Nisha bergantian. Lalu berjalan pergi meninggalkan mereka diteras tanpa pamit. Melajukan motornya dengan santai dan senyum pula tanpa rasa bersalah.
Nisha masih mematung berdiri disana, masih berusaha memcerna ucapan Andri yang terakhir. Sedangkan Ardi duduk kembali disofa dengan sedikit memijat tangkal hidungnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
**JANGAN LUPA VOTE YA
LIKE DAN KOMEN JUGA
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA😊
MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**