Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 93


__ADS_3

Jangan terlalu cinta pada sesuatu


Cintamu pada sesuatu itu


Menjadikan kamu buta dan tuli


* * * * *


Nisha kembali melangkahkan kakinya dikoridor sekolah pagi ini. Hanya tinggal hitungan kurang dari tiga bulan lagi waktunya tersisa untuk memasuki sekolah ini dan belajar bersama teman temannya dikelas ini. Dan dalam waktu sebulan lebih lagi dia akan menghadapi ujian akhir nasional sebagai penentu kelulusannya dan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi atau memilih bekerja ditempat tempat yang menerima pekerja lulusan Sekolah Menengah Kejuruan.


" Hai Sha! " seru Isti yang berlari mengejar Nisha agar dapat berjalan bersama menaiki tangga menuju kelas mereka dilantai tiga. Nisha pun menghentikan langkahnya menuggu Isti.


" Bentar lagi kita UAS ya? Lo dah siap Sha? " ujar Isti basa basi untuk menemani langkah mereka yang sedikit sepi tanpa suara. Hanya ada siswi siswi yang berlalu lalang naik turun tangga.


" Siap gak siap, ya harus siap Is! " seru Nisha. " Ya, secara lo kan lumayan pinter juga dalam kelas, gak kayak gw yang pas pasan otaknya " Nisha hanya tersenyum mendengar ucapan Isti yang memujinya.


" Ya lo harus lebih giat belajat lagi lah! kan afa Arin dan Iren lebih pinter dari gw, belajar bareng mereka sana, biar ketularan pinternya "


" Gw temenan sama mereka udah dua tahun, Sha. Emang otak gw aja yang dah mentok. Belajat bareng mereka juga udah sering, tapi tetep aja nilai gw mentok disitu. " imbuh Isti dengan wajah memelas. " Harua tetep semangat dong ahk! " ucap Nisha memberi semangat Isti sambil merangkul pundaknya.


" Lo masih sama si Ardi itu, mantannya Imel?" "


" Alhamdulillah masih "


" Dulu gw juga pernah Sha kayak lo " Nisha mengerutkan keningnya menatap Isti. Isti hanya tersenyum melihat Nisha menatapnya heran. " Gw sama mantan temen gw saling suka " Nisha menghentikn langkahnya seketika.


" Tapi bodohnya gw, gw nolak cowok itu, karena gw gak mau temen gw ningalin atau ngejauhin gw karena jadian sama mantannya " tutur Isti dengan tatapan kosonh kedepannya.


" tapi itu udah lama banget, saat gw SMP " lanjutnya lagi sambil menarik tangan Nisha agar melanjutkan langkah mereka.


" Temen lo tau lo suka dia? " Nisha memberanikan diri bertanya fan isti hanya menggelengkan kepalanya.


" Makanya saat gw tau lo berdebat soal Ardi dulu. Gw milih diam aja. Gw gak tau harus bela siapa? Lo sama Imel kan sama sama temen gw, walau gw lebih deket sama Imel. Tapi tetep aja temen sekelas."


" Tapi sekarang saat gw tau lo bertahan sama Ardi dan baik baik aja sama Imel. Gw jadi nyesel, dulu kenapa gw gak kayak lo yang berani juga buat perjuangin perasaan kita, yang padahal dia juga sama hatinya kayak gw "


Isti bercerita saat mereka sudah berdiri dipagar koridor yang menghadap kelapangan sekolah yang terlihat dari atas.


" Penyesalan emang selalu datang belakangan Is. Kalau ada didepan namanya jadi pendaftaran dong! " mereka pun tertawa bersama kembali berjalan menuju kelas mereka yang sudah dekat.


" Semoga hubungan lo awet dah sama Ardi "


" Aamiin. Mkasih doanya "


Mereka pun berpisah didepan kelas, menuju kursi mereka masing masing.


Saat melangkahkan kakinya berjalan menuju kursinya, dari kejauhan Nisha melihat Lia dikursinya dan Eva yang memeluk pundak Dian erat, bahkan Rini juga duduk disamping Dian yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menenggelankannya diatas meja. Nisha mengerutkan keningnya sesaat.


" Ada apaan ini? Dian kenapa? Sakit? " tanyanya sambil melepaskan ranselnya dan meletakkan diatas meja, kemudian duduk miring menghadap Lia. Menatap teman temannya satu satu.


" Dian, putus sama Lutfi " Rini menjawab pelan dengan tangan mengelus pundak Dian yang sedikit naik turun. Sepertinya sedang menangis. Rini meletakkan jari telunjuknya ditengah bibirnya.


" Dia nangis? " tanya Nisha tanpa mengeluarkan suara. Eva dan Rini mengangguk bersamaan. Nisha membulatkan mulutnya.

__ADS_1


" Udah gw bilangin padahal, jangan kebangetan cinta sama Lutfi. Lutfi itu cowok gak baik. Dia gak serius sama lo, cuma main main aja. Sama kayak cowok gw si Bayu dulu. Mereka tuh 11 12." Tutur Lia penuh emosi.


" Ya kan namanya sayang Li, gw gak perduli dia kayak gimana diluar sana, gw cuma mau dia tetep bertahan sama gw! Gw udah terlanjur sayang sama dia, tapi malah dia milih mutusin gw, dia malah bilang mau fokus sama ujiannya dulu " tutur Dian dengan suara serak penuh tangisan.


" Itu cuma alasan aja Ian. Dia tuh dah punya cewek lain selain lo. Gw udah sering liat dia jalan sama cewek lain " ucapan Lia semakin membuat Dian tertusuk hatinya dan kembali membenamkan wajahnya diatas meja dengan kedua tangannya.


Sebenarnya Dian pun sudah tau akan hal yang dikatakan Lia, tapi Dian mengelaknya dan memilih tetap bertahan dengan Lutfi, hingga akhirnya Lutfi sendiri yang melepaskan Dian saat ini. Dian sangat sayang pada Lutfi, karena Lutfi cowok pertama yang mungkin sudah menyentuhnya, bahkan menyentuh hatinya yang terdalam. Tapi kini malah meninggalkannya. Bagaimana hati Dian tidak tersakiti akan itu saat ini?


" Ya udah sih Dian, relain aja " ucap Eva memberi dukungan.


" Emang bukan jodoh lo Ian " tambah Rini.


" Dian, percaya deh! Ini emang udah jalan Nya. Lo harus iklas. ALLAH pasti punya rencana yang lebih indah dari kejadian ini. Mungkin ALLAH udah nyiapin cowok yang lebih baik dari Lutfi saat ini buat lo." Nisha berucap penuh makna tersirat disana, dan teman temannya pun mendukung ucapan itu.


" Lo masih punya kita Dian. Masa cuma karena satu cowok yang ninggalin lo, lo cengeng begini! " tutur Rini


" Eva aja yang putus sama Abi biasa aja tuh! Malah dah punya Mifta sekarang. Masa lo kalah sama Eva yang tomboy!" tambah Lia yang mendapat sorotan mata Eva tapi sambil tersenyum kuda.


Dian pun mengangkat wajahnya dan mengusap wajahnya, menghapus bekas air mata yang membanjiri pipinya.


" Makasih ya!" Ucap Dian Lirih menatap teman temannya itu.


Eva dan Rini pun memeluk Dian erat. Memberi semangat dan dukungan agar lebih tegar. Nisha dan Lia hanya tersenyum dan ikut saling merangkul hanya berdua, karena mereka terpisah oleh meja.


" Dah ahhkk...jangan sedih sedih lagi! Hari ini, ntar istirhat gw teraktir makan deh! " ucap Lia


" Bener nih? " tanya Eva semangat.


" Oohh iya, sory gw lupa " ucap Nisha lantang, membuat Eva, Rini dan Dian terdiam.


" Makasih ya "


" Ya ampun! Maaf ya gw lupa Li." ucap Dian dengan suara masib serak akibat tangisannya. Berdiri mengulurkan tangan pada Lia ditengan tengah meja penghalang jarak mereka.


" Iya...lo mah sibuk ngurusin Lutfi mulu, sampe lupa sama gw! " ujar Lia ketus tapi tetap tersenyum pada temannya itu.


" Selamat ulang tahun ya "


" Makasih "


Akhirnya Dian pun sejenak dapat menghilangkan pikirannya tentang putusnya hubungannya dengan Lutfi saat bersama teman teman atau sahabatnya ini. Menghabiskan waktu bersama mereka dikantin, tertawa dan bahagia. Dan makanan yang ditraktir oleh Lia.


Saat pulang sekolah, Nisha ikut pulang kerumah Dian karena permintaan Dian yang ingin curhat mengenai Lutfi hanya berdua.


Karena memang, Dian lebih nyaman bercerita apapun pada Nisha dari pada temannya yang lain. Karena sebenarnya, diantara mereka berlima, Nisha lah yang paling memiliki sifat pendengar setia. Lia dan Eva pun sering curhat pada Nisha tentang apapun. Nisha pun tak pernah membocorkan apa yang dia dengar pada orang lain. Nisha selalu menjaga kerahasiaan orang orang yang bercerita padanya. Selain kelima temannya itu, teman kelas lainnya pun sering juga bercerita pada Nisha karen sifat pendengar setia yang ada pada Nisha. Terkadang Nisha suka kesal, jika ada teman yang bercerita tentang masalah pribadinya pada Nisha dan memintanya untuk merahasiakannya, tapi temannya itu sendiri yang membocorkannya pada orang lain.


Aneh! dia bilang rahasiakan , dia sendiri yang membocorkan rahasianya. Jadi buat apa dia bilang, jangan kasih tau yang lain ya soal ini!


Dirumah Dian, Dian pun mencurahkan isi hatinya pada Nisha soal Lutfi, tapi tidak ada lagi tangis tangisan dari Dian. Dian sudah dapat mengontrol emosinya saat itu. Dan Nisha benar benar hanya jadi pendengar dan pemberi semangat saja tanpa menyela atau kritik pada Dian. Untungnya, Dian dirumah hanya sendiri. Dia hanya memiliki Ibu yang kini bekerja jualan nasi setiap pagi depan rumah. Dian adalah seorang anak yatim, hanya ada Ibu dan adik laki lakinya. Kedua kakaknya sudah pisah dan memiliki keluarga masing masing. Sehinga Dian dapat bercerita dengan leluasa sampai menjelang sore hari bersama Nisha.


" Lo minta jemput Ardi? " Tanya Dian saat Nisha hendak ingin pulang.


" Iya. Dia juga udah dijalan kok!" jawab Nisha santai.

__ADS_1


" Lo harus bisa move on ya " seru Nisha saat berada diluar bersama Dian, menunggu Ardi datang.


" Doain aja " jawab Dian singkat tersenyum lebar.


Ardi pun datang sampai didepan rumah Dian, tanpa menunggu lama setelah bertegur sapa, Nisha dan Ardi pun bersiap untuk pulang.


" Kamu kok pake rok pendek banget sih? " tanya Ardi yang tak suka saat melihat Nisha memakai rok abu abunya tinggi diatas lutut.


Nisha tersenyum seperti nyengir kuda pada Ardi.


" Hehehe...rok yang satunya belum kecuci jadi terpaksa pake rok yang ini. Gak ada rok yang lain lagi " ucapnya malu sambil menggigit bibir bawahnya. Dian yang masih berdiri mengantarkan mereka didepan rumah hanya menggelengkan kepalanya melihat Nisha.


Ardi memgambil jaket yang selalu disimpannya dijok motor, lalu memberikannya pada Nisha.


" Kamu pengen mamerin paha kamu itu kesemua cowok dijalan?" ucapnya ketus dan dingin. Nisha hanya memajukan bibirnya, memasang wajah cemberutnya mendengar ucapan Ardi itu.


" Ayo naik! tutup paha kamu pake jaket itu "


Nisha pun menuruti perkataan Ardi itu. Menaiki jok belakang motor dan menutupi pahanya yang memang terbuka lebar. Jika tak ditutupi, itu pemandangan yang memang indah dimata para lelaki.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


**JANGAN LUPA BANTU VOTE YA READERS.


JANGAN PELIT SAMA POINNYA WALAU CUMA 10 AJA🤗


LIKE DAN KOMENNYA JUGA LHO!


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA

__ADS_1


MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**


__ADS_2