
Aku ingin mencintaimu dengan caraku
Dengan senyum kecil setiap mengingatmu
Dengan dingin sedingin salju
Yang membuatmu membeku
Dengan permainan ingatan tentang
lagu lagumu.
* * * * *
Saat menjelang sore, setelah menyelesaikan motor Kendi dan zaki, dan semua temannya telah pergi dari bengkel dan memilih menghabiskan hari minggu sore meraka masing masing. Hanya tersisa Dono yang membereskan bengkel. Ardi Pun memilih membersihkan diri dikamar mandi lantai 2 dikamarnya. Ardi tersenyum saat melihat gadis yang ada diatas kasurnya. Membiarkan sejenak Nisha yang masih pulas tertidur disana. Kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Tak lama, Nisha membuka matanya perlahan. Merentangkan kedua tangannya, dan mengeliat. Mata mengerjap melihat sekeliling kamar itu.
oohh iyaa. Ini dikamar Kak Ardi. Jam berapa Ini? Gumam Nisha meraih benda pipih persegi miliknya yang tergeletak disamping bantal. Menekan tombol On menyalakan Hp itu. Matanya membulat, dia langsung bangun terduduk saat sadar melihat jam menunjukkan pukul 16.30 sore.
Ya ampun...lama juga gw tidur.
Nisha mengusap wajahnya kasar dan merapikan rambutnya. Turun dari kasur itu dan berdiri.
" Aaaawww..." Nisha berteriak saat melihat Ardi yang keluar dari kamar mandi diujung ruangan itu dengan bertelanjang dada dan rambut yang masih basah dengan handuk. Nisha langsung membalik badannya dan menutup wajahnya.
" Ada apa Sha?" Ardi terkejut saat Nisha berteriak dan langsung berlari mendekatinya. Meraih kedua pundak Nisha dan memutarnya agar berhadapan.
" Kamu kenapa?" ucap Ardi bertanya kembali. Memegang kedua tangan Nisha mencoba melepaskan dekapan tangan itu pada wajah Nisha. Nisha membuka tangannya perlahan dan mengintip sedikit dari celah jarinya.
Tapi Saat dia melihat, Nisha langsung memalingkan tubuhnya kembali.
" Kak Ar, kenapa gak pake baju sih? Malu iihhkk!" Ucap Nisha dengan masih menutup wajahnya dan membelakangi Ardi.
Ardi pun tersadar akan ucapan Nisha tersebut.
" Astaga! Maaf lupa, ternyata belum pakai baju aku!" Ucap Ardi langsung berjalan kearah lemari yang ada tak jauh dibelakangnya dan mengambil sebuah kaos putih didalamnya.
" Udah Sha. Kamu bisa buka muka kamu lagi " Ucap Ardi berjala perlahan kearah Nisha.
" Beneran, Udah?"
" Iya..." Jawab Ardi langsung berdiri dibelakang Nisha.
Nisha membuka dekapan tangannya perlaha dan melirik kesamping. Tiba tiba saat tangan Nisha mulai turun dari wajahnya.
" Bbaaaa..."
" Hahhhh..."
Nisha langsung terperanjat kaget saat Ardi yang tiba tiba muncul dari belakangnya dengan loncat dan mengejutkan tepat didepan wajah Nisha. Bahkan sampai Nisha hampir jatuh jika tidak ditahan oleh tangan Ardi yang merangkul pinggang Nisha. Nisha membulatkan matanya sambil memegangi dadanya yang masih berdebar karena keterkejutannya ditambah lagi posisinya sekarang yang ada didekapan Ardi.
__ADS_1
" Hahahahaha..." Seketika tawa Ardi pecah saat melihat wajah Nisha yang terkejut itu dan terlihat lucu oleh Ardi. Ardi pun melepeskan dekappan tangannya dipinggang Nisha. Melihat Ardi yang tertawa puas, Wajahnya kini malah cemberut tak karuan dan menjadi kesal akan ulah cowoknya itu.
" Kak Ardi jahat banget sih!" Memukul dada Ardi yang masih dengan tawanya itu dengan keras.
" Wajah kamu itu lucu tau pas tadi kaget ! Hahaha.." Ucap Ardi sambik memegangi dada yang tadi dipukul Nisha dan perutnya karena menahan geli tertawanya.
" Kalau aku mati karena kaget gimana?" masih memegangi dadanya yang berdebar.
" Gak ada cewek mati karena kaget! Kalau jantungan mungkin iya!" Ucap Ardi yang masih diselingi tawanya.
" Iya...kalau aku jantungan gimana? Mau tanggung jawab kamu!" Ucap Nisha dengan nada masih marah.
Ardi menghentikan tawanya perlahan.
" Jantung dan hati kamu tuh milik aku. Begitu juga jantung dan hati aku milik kamu. kalau jantung kamu berhenti, aku bakal kasih jantung aku buat kamu. " Ucapan Ardi semakin membuat jantung Nisha berdegup tak karuan dan semakin cepat dari yang tadi.
" Udah sana, kekamar mandi. cuci muka kamu. Tambah jelek itu, apalagi abis marah! "
" Muka jelek juga kamu sayang!" berjalan menjauhi Ardi kearah kamar mandi.
" Iya Emang aku sayang banget sama kamu!" Ucapnya sedikit teriak. Membuat Nisha yang berada didepan pintu kamar mandi memajukan kedua bibirnya kearah Ardi.
" Nyebelin!" Ucapnya lirih saat berada didalam kamar mandi bersender dipintu. Meraba kedua pipinya yang Merasakan panas dan bersemu merah karena ucapan Ardi itu.
Setelah selesai mencuci muka dan memakai pelembab untuk wajahnya. Dia turun kebawah karena Ardi yang sudah tidak ada dikamar. Setelah Ardi menutup bengkel dan Dono pun telah pulang, Ardi membawa Nisha jalan jalan berkeliling daerah sungai pengairan yang biasa mereka datangi untuk sekedar bersantai dan menghabiskan waktu berdua. Mencari makanan dan menikmati langit senja disore ini dengan duduk ditepi sungai yang dipenuhi rumput hijau. Sampai waktu melewati magrib dan setelah selesai makan malam berdua disebuah tenda tempat makan kaki lima. Ardi pun mengantar Nisha pulang kerumah.
Yang biasanya Ardi memilih lewat jalanan perkampungan, saat itu Ardi lebih memilih melewati jalan raya dan sebuah lampu merah kota yang cukup ramai.
" Gak apa pa. Hari minggu ini. Lagian biar cepet aja sampai rumahnya. " Ucap Ardi santai.
Saat mendekati lampu merah, Ardi memilih jalur kiri yang ternyata ada sebuah bis besar didepannya. Ardi tak bisa berbelok nyalip kesebelah kanan karena mobil yang tak memberi celah. Akhirnya terpaksa menunggu lampu lalu lintas berubah hijau agar dapat maju kedepan. Saat tiang lampu berubah hijau, Bis mulai melaju pelan tapi Ardi tidak berbelok kekanan, malah kesamping bis besar itu. Dan tepat saat itu pula seorang polisi lalu lintas berdiri tak jauh diarah belokan kelajur kiri. Ardi panik seketika. Tapi tak dapat berkutik karena bis itu dan pagar pembatas jalan. Pak polisi itu pun maju mendekati motor Ardi dan menyuruhnya untuk menepikan motornya. Dengan terpaksa Ardi pun menurut dan menepikan disisi jalan lampu merah tersebut.
" Permisi dek, bisa tunjukkan surat suratnya kendaraannya?" Ucap pak polisi tersebut. Ardi langsung mengeluarkan surat surat yang dipinta oleh Pak Polisi tersebut. KTP, Sim dan Stnk motor. Polisi pun mengembalikannya setelah selesai dicek.
" Kenapa Adeknya berdua tidak pakai helm?" Tanya Polisi itu lagi.
" Maaf pak, lupa. Tadi buru buru soalnya." Jawab Ardi berbohong.
" Saya kasih surat tilang ya!"
" Yah pak jangan dong!" Ucap Ardi memelas dan turun dari motor. " Damai aja dah Pak " Tambahnya lagi mencoba merayu. Pak Polisi tersebut terlihat memutar bola matanya memperhatikan sekitar.
" Ya sudah. Ayo ikut saya!" Ucap Polisi tersebut berjalan masuk kedalam sebuah warung makan.
" Kamu tunggu sini bentar yaa." Ucap Ardi pada Nisha yang berdiri disamping motor. Nisha pun mengangguk.
Ardi pun ikut masuk menyusul Pak polisi itu kedalam warung. Entah apa yang mereka diskusikan didalam sana. Cukup lama.
Ardi pun keluar dari warung tersebut sambil memasukkan dompetnya kesaku belakang celana jeansnya. Berjalan kearah Nisha dan motornya.
" Udah?? " Tanya Nisha dan Ardi pun mengangguk. " Ayoo " Ucap Ardi singkat menaiki motornya. Nisha hanya menuruti ucapan Ardi itu tanpa bertanya lagi walau dia sangat penasaran apa yang telah terjadi antara Ardi dan Polisi itu. Apakah ditilang atau bagaimana?
__ADS_1
Saat sudah agak jauh melewati lampu merah kota, Nisha pun mulai bertanya.
" Gimana tadi?" Ucapnya menyandarkan kepalanya sipundak Ardi.
" Emang sial tuh Polisi! Duit aku diambil juga 50 ribu " Ucap Ardi dengan kesal. Nisha yang mendengarnya pun jadi tertawa.
" Ya syukur gak kena surat tilang. Kamu mah!" Ucap sambil tertawa kecil.
" Iya sih. Tapi jadi ngerasa apes aja nih malam"
" Hahahaha...Kamu! Gak biasanya gak bawa helm pake lewat jalan raya segala. Ya udah terima aja kesalahan kamu juga! Hahaha.."
" Yaa biasanya juga paling 30 atau 20. Ini...malah minta 50 ribu. Niat banget tuh polisi nyari diut buat makan. aku yang kena!"
" Padahal tadi mau ngasih 30. Tapi tuh polisi gak mau. Malah bilang kasih surat tilang aja ya? Ya aku mana mau. Terpaksa deh ngasih 50. Baru dia mau. Malah didompet cuma ada duit 80 ribu doang. Abis udah! "
" Ya udah. Aahhkk!! Jangan marah marah. Ntar gantengnya ilang lho!" Ucapnya sambil mengelus dada Ardi dari belakang mencoba menenangkan. Ardi pun tersenyum dan meraih tangan Nisha yang ada didadanya dan menggenggamnya erat dengan satu tangannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
**JANGAN LUPA UNTUK VOTE YA🤗
Like dan komen nya juga lho!
Terima kasih sudah membaca
Mohon dukungannya🤗😘**
__ADS_1