
Menikmati sebuah keindahan malam
Dengan melodi sendu para serangga
membuat hati ini terasa nyaman,
Akan tetapi
Hal itu mungkin lebih nyaman
Ketika ada kamu yang menemaniku
Dengan senyum indahmu itu
* * * * *
" Kamu kenapa Nisha?" Ardi yang merasakan tangan Nisha seperti gemetar ikut khawatir, apalagi wajahnya yang sedikit berubah menjadi pucat.
Ardi yang mula duduk berhadapan, segera berpindah disamping Nisha tanpa melepaskan pegangan tangannya.
" Sha, kamu kenapa?" Meraih pundak Nisha dan menariknya kedekapan dadanya. Mencoba menenangkan Nisha yang ketika membuka matanya sedikit, lalu menutupnya lagi dan semakin menutup wajahnya didada bidang Ardi.
" Kak Ar, Aku mau turun hikk!" ucapnya sudah mulai menangis.
" Gak bisa Nisha! Kita sudah didalam dan tak biasa keluar sebelum ini berhenti sendiri" Ucapnya seraya mengusap kepala Nisha.
" Akuu takuutt!" Ucapnya semakin keras saat biang lala atau disebut juga kincir itu berputar perlahan lahan dan semakain kencang naik turun keatas dan kebawah berputar 180°.
Nisha semakin kencang mencengkram baju Ardi menutupi wajahnya saat merasan badannya berputar mengikuti irama kincir. Tangisnya pun pecah bersamaan teriakkannya. Ardi pun dibuat bingung harus bagaimana saat merasakan bajunya semakin kencang ditarik Nisha. Tangannya terus saja mengelus kepala Nisha dan memeluknya.
" Sha, udah dong!" ucapnya mencoba menenangkan dengan keadaan kincir masih berputar dengan kencang. Bisa dibilang percuma.
" Aku mau turun!! Aku mau turun Kak Ardi, hikk hikk hikkk!" Nisha terus saja bertriak dan menangis.
Ardi hanya bisa diam saja. Tak bisa berkata apapun. Dia sama sekali tidak tau akan terjadi seperti ini. Bukannya tadi saat naik perahu dia biasa saja, bahkan dia tersenyum puas. Lalu ini, kenapa naik kincir dia bisa jadi manangis histeris seperti ini. Apa jangan jangan dia takut ketinggian?
Hampir kurang lebih 15 menit kincir itu berputar kencang. Dan selama itu juga Nisha menangis dan berteriak minta turun dan berhenti.
" Sha, udah ya. Udh berhenti ini. Buka mata kamu?" Ucap Ardi saat kincir mulai berhenti perlahan. Tapi saat Nisha membuka matanyal perlahan dari balik dada Ardi, Nisha masih melihat ketinggian dari dalam kincir itu. Lalu menutup wajahnya lagi didada Ardi.
" Gak mau! Aku takut ! Ini masih diatas. Hikk" Ucapnya masih sedikit menangis.
Ardi melepaskan tangannya dari kepala Nisha.
" Kamu takut ketinggian?" Nisha mengangguk kecil didada Ardi.
" Kenapa tadi gak ngomong, kan jadi gak harus naik ini!" Nisha hanya terdiam.
Akhirnya sangkar kincir yang Ardi dan Nisha naiki berhenti ditempatnya, Petugas penjaga membukakan pintu itu. Para petugas terkejut melihat Nisha yang ada dipelukan Ardi.
__ADS_1
" Sha, ayo turun ?" Ucap Ardi mendorong sedikit bahu Nisha agar menjauh dan menyuruhnya membuka mata. Nisha membuka matanya perlahan dan sudah berada diperhentian. Tapi badannya lemas dan kepala pusing. Wajahnya pun masih terlihat sedikit pucat karena ketakutan. Ardi pun menuntun Nisha untuk keluar. Para petugas penjaga kincir hanya senyum dan menggelengkan kepala mereka melihat pasangan didepan mereka ini.
" Makanya kalau pacarnya takut ketinggian jangan diajak naik kincir dek !" Ucap salah satu petugas yang melihat wajah Nisha pucat karena takut dan masih dalam pelukan Ardi yang menuntunya untuk jalan.
" Iya pak." jawab Ardi singkat sambil menundukkan kepalanya sedikit.
" Ahhkk..itu mah modus kali,kesempatan dalam kesempitan. Biar bisa meluk meluk ceweknya Hahaha" Ucap satu lagi petugaz yang sedikit lebih muda dari petugas yang tadi. Berfikiran berbeda.
Ardi merasa canggung atas apa yang didengarnya. Tuduhan itu emang beralasan melihat yang terjadi, tapi dia sama sekali tidak bermaksud atas apa yang dikatakan petugas itu.
Ardi mendudukan tubuh Nisha pada sebuah kursi yang ada tak jauh disamping kincir itu. Badan Nisha sudah mulai membaik tidak gemetar lagi seperti saat turun tadi. Tapi sepertinya kepala masih pusing karena Nisha masih memegangi dahinya dengan satu tangan. Ardi ikut duduk disamping Nisha dan merangkul pundaknya.
" Masih pusing?" Nisha menegangguk pelan. Ardi menyodorkan minuman yang dari tadi dipegangnya sebelum naik kincir. Nisha pun meminumnya perlahan dan sampai habis, lalu memberika botol kosong itu pada Ardi. Ardi bengong saat menerima botok kosong itu.
Kok diabisin sih? Aku kan belum minum. Gumam Ardi dalam hati dan membuang botok itu pada tempat sampah disamping kursi itu.
" dah baikan sekarang?" Nisha mengangguk.
" Hhmm. Mendingan Kak."
" Kamu kalau takut ketinggian, kenapa tadi gak bilang sebelumnya?" Tanya Ardi meraih satu tangan Nisha dan menggenggamnya.
" Aku juga gak tau kak!" Menundukkan kepalanya. " Aku pikir gak akan takut kayak dulu, tapi ternyata aku masih ngalamin ketakutan yang sama."
" Emang dulu kenapa?" tanya Ardi penasaran
" Ketinggian. Dulu juga prnah kereta gantung sama Ibu dan Yuni juga Papa. Itu pun tak terlalu tinggi. Bahkan itu sudah lama sekali saat aku Sekolah dasar. Saat aku memandang kebawah. Tiba tiba aku pusing dan hampir pingsan. Aku pikir hanya pusing biasa karena sesuatu yang lain. Tapi tadi, aku merasakan yang sama, hanya saja untungnya aku tidak pingsan. Hahaha" Memandang sekilas Ardi
" Ya udah. Sekarang kita pergi cari makan yuk!" Nisha yang mendengar kata makan , dengan cepat menganggukkan kepalanya menghadap Ardi.
Mereka pun berjalan keluar arena permainan ini menuju parkiran motor. Mencari makanan yang berjejer dipinggir jalan sisi sungai. Duduk disebuah kerpet plastik yang disediakan para penjual makanan disisi sungai.
Pemandangan malam di langit yang terlihat indah dan cerah sangat terlihat jelas. Udara angin malam berhembus kencang dari sungai menerpa setiap yang ada disisinya. lampu penerangan jalan yang berwarna kuning remang remang menambah suasana yang menenangkan.
Setelah mengalami ketegangan karena naik kincir tadi, kini Nisha sudah merasa baikan kembali. Pusingnya pun telah hilang kini saat duduk bersampingan dengan Ardi menunggu pesanan makanan mereka datang. Mereka memesan makanan seporsi kerang hijau balado dan kepiting balado dan dua gelas es teh manis.
Mereka menikmati makanan itu bersama dibawah sinar terang rembulan dan ribuan bintang yang bertebaran dilangit. Berbincang dan sedikit bercanda serta gombalan yang selalu Ardi lontarkan.
" Sha...Kita foto yuk!" Ajak Ardi menemgeluarkan benda pipihnya dari saku celana.
" Kan, Kita dah pernah foto berdua!" Menjauhkan tubuhnya sedikit kesamping dari Ardi.
" Gak apa pa." Menarik pundak Nisha merapatkan tubuh mereka dan mengarahkan Hp didepan mereka dengan satu tangan Ardi
Ckeekkkk.
Nisha sedikit mengerutkan dahinya. Nih cowok kenapa sih? Tumben mau selfi, biasanya susah banget.
__ADS_1
" Tumben Kak Ar mau foto?"
" Iya...aku mau kirim foto ini ke NASA yang ada diluar angkasa sana!" Nisha semakin bingung akan ucapan Ardi.
" Buat apa?? Emang bisa?"
" Bisa ajaa!! Buat nunjukin ke mereka disana kalau disini ada BINTANG yang lebih indah dari bintang dilangit sana,dan bintang itu sedang duduk disamping aku" Memandang lekat wajah Nisha.
Nisha yang mendengar itu langsung bersemu merah dan melipat bibirnya kedalam.
" Dasar tukang gombal..." Ucapnya sambil memukul bahu Ardi yang tertawa melihat wajah malu Nisha. Menarik bahu Nisha kedalam pelukannya. Memandang kedepan kehamparan sungai yang membentang panjang.
" Makasih dah mau bertahan disamping aku " Ucap Ardi sembari mencium pucuk kepala Nisha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
**Jangan lupa untuk 🖒, vote dan 🌟rate ya
❤ nya juga untuk up selanjutnya
Komen berupa kritik dan saran juga diharapkan jika readers berkenan.
Terima kasih sudah mau membaca🤗😘
__ADS_1
Mohon dukungannya😊😘**