
Tuhan...
Jaga dia saat ku jauh
Jangan biarkan ia sampai terjatuh
Peluk dia dimalam dingin
Karena ku tak bisa walau ingin
Ijinkan aku meski sekejap
Hadir dimimpinya untuk mendekap
Memberi sedikit kekuatan
Agar kami sanggup bertahan
* * * * *
Pagi ini Nisha bersiap siap berangkat kesekolah, tak lupa pula memasukkan jeket Eric yang kemarin sore tertinggal dirumah. Saat malam hari kemarin, Nisha menchat Eric terlebih dahulu memberitahukan jaketnya yang tertinggal.
Nisha π€ Kak Eric, Jaketnya tadi ketinggalan dikamar mandi? Gimana ini? Mau diambil lagi gak?
Begitu lah isi pesan yang ketik Nisha. Menunggu cukup lama balasan dari Eric.
Eric π© Oohh...iya. Gw lupa! Pas dikamar mandi gw buka jaket gw. Gw gak bisa balik lagi sekarang! Gw lagi dirumah temen ngebahas buat kuliah besok.
Eric mengirim pesan yang berbohong.
Nisha π€ Terus gimana jaketnya? Terserah Kak Eric deh mau diambil kapan. Aku cuma ngasih tau aja.
Nisha pun mengirim pesan tersebut dengan wajah masamnya. Huhhff...bakalan ketemu cowok itu lagi deh! Padahal udah males banget ketemu dia lagi, batin Nisha.
Eric π© Bisa minta tolong gak?
Nisha mengerutkan dahinya membaca pesan singkat itu. Awas kalau minta macam macam lagi.
Nisha π€ Apa??
Eric π© Besok kamu sekolah kan?
Nisha π€ Ya iyalah
Eric π© Besok pulang sekolah bawain jaket aku bisa kan. Ntar kita janjian ketemuan. Besok aku chat lagi tempatnya. Maukan?
Eric π© Maaf ya jadi nyusahin lo!π€
Nisha π€ Iyaa
Jawabku singkat mengakhiri chat itu. Akhirnya harus ketemu cowok itu lagi! Semoga besok yang terakhir ketemu dia dan gak bakal berurusan dengan cowok itu lagi.
Disekolah Nisha melakukan aktifitasnya seperti biasa dengan teman dan sahabatnya. menunggu sampai waktu sekolah berakhir, dan bertemu Eric untuk mengembalikan jaketnya itu. Dasar jaket pembawa sial! Ucap Nisha dalam hati saat mendapat chat Eric yang memberi tahukan tempat pertemuan mereka.
Eric π© Nanti tunggu aku didepan Supermarket GT daerah RD yaπ
Begitulah isi pesannya. Sebuah supermarket yang tak jauh dari kampus Eric dan tak jauh juga dari sekolah Nisha.
Tak jauh dari meja Nisha didepan kelas, Imel memang memperhatikan Nisha yang memainkan benda pipihnya dengan wajah masam. Imel sudah pasti tau apa yang terjadi, karena memang ini termasuk rencananya juga, agar Nisha dapat berpisah dengan Ardi. Ditambah lagi Ardi yang memang tak ada diJakarta, itu akan menambah kesempatan ini berhasil mutlak.
Semalam saat Nisha chat dengan Eric, ternyata saat itu pula Imel ada disamping Eric. Mereka sedang ada didalan klub yang biasa didatangi Eric bersama teman temannya. Eric pun tersenyum saat Nisha mengiriminya chat pesan online itu. Eric pun menunjukkannya pada Imel ya sedang meminum minuman sodanya. Imel pun tersenyum puas melihat akhir pesan tersebut.
" Kamu emang pintar bikin cewek selalu nurutin mau kamu, walau itu terpaksa." Ucap Imel yang meletakkan ujung sikut tangannya dipundak Eric dan duduk menghadapnya.
__ADS_1
" Lo aja bisa gw taklukin." mencolet dagu Imel
" Tapi emang gw akui. Dia agak sedikit susah, harus butuh waktu lama untuk ngebujuk dia. Walau ujungnya dia tetap mau ikutin mau gw " Meraih gelas kecil didepannya dan meminumnya sekali teguk.
" Tapi gw pastiin, setelah hari esok dia gak bakal mau ketemu Ardi lagi. Atau pun sebaliknya " Eric tersenyum smirk. Merangkul pinggang Imel menariknya lebih dekat dan menyautkan bibirnya pada bibir Imel. Imel pun yang mendapat serangan Eric itu, ikut menikmatinya dan membalas ciuman itu. Serasa sudah menjadi kebiasaan baru saat didekat Eric.
Memang sejak Imel dikenalkan pada Eric oleh Papanya, Imel sangat dengan mudah bisa keluar rumah. Bahkan sejak ikut dengan pergaulan Eric, Imel menjadi cewek yang sedikit liar, apalagi dimata lelaki yang ada diklub itu. Imel sangat mudah didekati lelaki disana selain Eric. Merasa dirinya lebih mempesona. Dan sangat menikmati pergaulan barunya ini. Tapi akan berubah beda saat berada dengan teman sekolahnya.
* * *
Siang ini dihari yang sama, Ardi yang sedang menyiapkan bajunya yang akan dia bawa kembali ke Jakarta. Walau memang tak banyak. Tapi dia memang sangat ingin kembali keJakarta. Sangat merindukan gadis yanv selalu ada dibayangan matanya saat terpejam. Walau hampir tiap malam masih bisa memandangnya walau hanya lewat layar benda pipih perseginya. Tapi tetap tidak bisa memuaskan rasa rindunya untuk bertemu.
Tapi Ardi merasakan sesuatu yang tidak baik pula, apalagi saat Teh Adesty berbicara padanya pagi ini.
" Ardi, Nanti abis zuhur kamu pulang ya keJakarta?" Ucap Adesty yang duduk ditepi kasur kamar Ardi. Setelah pulang lari pagi, Ardi langsung kekamarnya dan membersihkan diri. Saat Adesty melihat Ardi kembali, Adesty memang lebih memilih berbicara berdua sebelum dengan anggota rumah lainnya. Walau Mulia sudah tau lebih awal.
" Memangnya kenapa Teh? Kok tiba tiba?" Ucapnya membersihkan rambutnya yang masih basah dengan handuk lalu duduk pula disamping Adesty.
" Gak ada apa apa." Mencoba menutupi " Bukannya kamu udah kangen sama Nisha?" Ucap Adesty mencari alasan.
" Nanti Teteh pulang diantar sama supir Aa Malik aja."
" Teteh gak balik bareng Ardi gitu? Ardi pulang sendiri?" Ardi menyautkan alisnya
" I...Iyaa. Kamu pulang sendiri aja. Dan langsung temui Nisha ya saat sampai disana?" Ardi semakin terheran akan Tetehnya ini. Apa sebenrnya yang Tetehnya ini tau?
" Ada apa sih teh sebenarnya? Jujur deh sama Ardi? Teteh gak biasanya kayak gini, Apalagi soal cewek Ardi, Nisha?" Adesty terlihat memutar bola matanya kesembarang arah. Bingung menjawab pertanyaan Adiknya ini. Tapi memang seharusnya Ardi tau hal itu.
" Dulu saat Teteh ngeliat Bang Malik dalam sebuah kecelakaan juga, Teteh kayak sekarang, gelisah. Dan nyuruh Teh Mulia untuk ngelarang Bang Malik ngebatalin pergi ke pabrik. Dan ternyata benar, kecelakaan beruntun dijalan yang seharusnya dilewati Bang Malik saat itu juga."
" Apa ini juga sama. Apa Nisha bakal..." Ardi berhenti berucap, Berfikir apa yang akan terjadi pada Nisha yang dimaksud Adesty. Adesty pun tak bisa mengelak lagi. Adesty memang bisa melihat hal hal yang akan terjadi pada orang orang disekitarnya melalui mimpi saat tertidur. Seperti malam tadi, kenapa tiba tiba dia bisa bermimpi mengenai Nisha yang tidak begitu dekat dengannya, hanya statusnya pada Ardi yang memang belum tentu berjodoh nantinya. Tapi Adesty memang menyukai Nisha saat pertama bertemu diruko saat kejadian pagi dulu. Dia melihat Nisha dan Ardi dirumahny bersama. Karena itulah dia mengajak nya untuk makan bersama saat itu. Dan kini, Adesty melihat bayangan noda merah darah didekat Nisha.
" Gak...gak bakal terjadi apa apa sama Nisha, Ar!" Ucap Adesty memegang kedua tangan Ardi dipangkuannya. " Teteh gak ngeliat kecelekaan. Cuma teteh gak yakin itu apa? Sebuah noda merah seperti darah dibadan Nisha. Teteh cuma mau kamu pulang dan langsung temui Nisha. Pastiin dia baik baik aja sampe sore ini" Menatap lekat mata adiknya itu. Ardi pun mengangguk pasti.
* * *
Disekolah, Saat istirahat kedua, Nisha sudah menerima pesan Ardi itu. Nisha pun tersenyum bahagia saat membacanya, Ingin segera menyelesaikan sekolahnya dan pulang kerumah menunggu cowok yang sudah ia rindukan itu. Tapi senyumnya hilang saat melihat jaket hitam yang terselip dalam tasnya.
Huhhff...harus balikin jaket ini dulu sebelum pulang kerumah nanti bis dari sekolah. Menyebalkan! Harus bertemu cowok tinggi hati itu lagi.
Nisha menaiki angkot yang menuju tempat yang dijanjikan setelah pelajara sekolah usai dan siswi berhamburan pulang keluar sekolah. Dia sudah mengirim pesan pada Eric bahwa dia dalam perjalanan kesana.
Tak lama menaiki angkot, Nisha pun sampai di depan sebuah supermarket yang dijanjikan. Dia berdiri disana memunggu Eric datang dengan masih menggunakan seragan putih abu abunya dengan dipadukan jaket sweter biru laut.
Tak menunggu lama, Sebuah mobik sedan hitam metalik yang cukup Nisha kenal berhenti didepannya. Siapa lagi kalau bukan Eric. Eric keluar dari pintu kemudinya, berjalan kearah Nisha yang berdiri disamping mobilnya dengan penuh senyuman.
" Hai...maaf ya. Udah nunggu lama?" Sapa Eric berbasa basi.
" Belum lama kok " Ucap Nisha sambil melepaskan satu tali tas ransel dan membukanya. Mengeluarkan jaket milik Eric dari dalam ttasnya dan langsung memberikannya pada Eric.
" Nih jaketnya Kak " Menyodorkan jaket itu dan diterima oleh Eric.
" Maksih ya. Maaf udah ngerepotin lo " Nisha tersenyum mengangguk.
" Ya udah aku pulang dulu ya Kak " Ucap Nisha ingin berjalan menjauh dari Eric
" Eehh...tunggu." Menarik satu tangan Nisha untuk menahannya " Aku anyer pulang aja, Ayo! Dari pada naik angkot lama. Sekalian ucapan terima kasih gw sama lo udah balikin jaket gw. Gimana?" Nisha terdiam
Boleh juga sih. Kalau naik angkot pasti lama, nanti Kak Ardi keburu sampe duluan. Kalau di anter kan bisa lebih cepet.
Akhirnya Nisha pun mengangguk menerima tawaran Eric. Dengan segera Eric membuka kan pintu mobilnya untuk Nisha agar dapat masuk. Eric tersenyum puas meliahat Nisha duduk manis didalam dan Matanya melihat sekeliling memastikan tak ada yang mengenalinya saat itu sambil berjalan kearah pintu kemudi mobilnya.
Tanpa Eric sadar, ada seorang cewek yang baru keluar dari supermarket yang mengenali Eric dan Nisha melihat mereka bersama masuk kedalam mobil.
__ADS_1
" Itu bukannya ceweknya Ardi? Kenapa bisa sama Eric?" Guman cewek itu melihat Nisha masuk kedalam mobil dan tiba tiba melihat senyum Eric yang sangat dia kenal yang penuh nafsu itu yang membuat matanya membulat.
" Jangan jangan....Gak bener ini! " Ucap si cewek yang melihat sekeliling mencari sesuatu.
Didalam mobil, Nisha duduk santai memandangi jalan didepannya. Eric masih fokus pada kemudinya.
" Astaga...Gw lupa?" Ucap Eric tiba tiba menepuk jidatnya.
" Kenapa Kak?" Tanya Nisha sedikit terkejut.
" Besin mobil abis. Gw lupa bawa dompet lagi! Tadi buru buru jemput lo soalnya. "
" Terus gimana? Hhmmm...aku turun didepan aja deh. Nanti biar naik angkot. "
" Jangan lah." Mencoba menahan " Sebentar aja ya mampir dulu kerumah gw. Biar ambil dompet dulu. Terus anter lo pulang lagi. Bentaran aja. Rumah gw gak jauh kok! Tuh dikomplek jalan XM. Kan searah juga. Ya?"
Nisha berfikir sejenak.
" Ya Udah. Gak lama kan? Cuma Ambil dompet aja?"
" Iyaa..cuma ambil dompet. Terus langsung anter lo pulang. Kan gak enak gw sama lo. Masa gw biarin pulang sendiri ?"
" Ya udah " Nisha pun terpaksa mengiyakan mau Eric. Eric sangat senang mendengar ucapan Nisha.
Gw gak bakal lepasin lo begitu aja Sha.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
**jangan lupa untuk π, VOTE dan πrate
β€ nya juga untuk up selanjutnya
Komen berupa kritik dan saran juga diharapkan jika readers berkenan.
Terima kasih sudah membaca
Mohon dukungannyaπ€π**
__ADS_1