Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 49


__ADS_3

Bukan karena siapa dirimu,


Aku menyayangimu


Tapi karena apa yang terjadi padaku


saat bersamamu...


* * * * *


Disebuah jalanan pinggir sungai besar buatan pemerintah daerah. Berjejer para pedagang kaki lima disisi kanan maupun kiri jalan sepanjang kira kira 3Km. Dari penjual baju, celana, sandal, mainan anak, aksesoris, apapun kebutuhan ada disini semua. Segala penjual jenis makanan pun ada disini semua. Dari bakso, mie ayam, soto, sate, makanan seafood, jajanan gerobak seperti somay, cilok, sate kikil, tahu gejrot, rujak kangkung, seblak, segala jenis penjual makanan ada disana . Tempat yang sempurna bagi kalangan menegah kebawah untuk menghabiskan waktu minggu sore sampai tengah malam. Dari yang berpacaran, berkeluarga atau hanya nongkrong bersama kawan kawan dipinggir sungai sambil menikmati makanan dan pemandangan langit yang sangat terpampang oleh mata dan panjangnya sungai yang indah.


Nisha dan Ardi masih menyusuri jalan yang tak begitu lebar ini dan sangat padat oleh para pengendara motor yang berlawanan arah pula.


Nisha begitu takjub akan tempat ini. Belum pernah tau ada tempat seperti ini. Seperti bazar pasar malam tapi lebih kearah pasar dadakan.


" Kak Ar, Tau aja tempat kaya begini?" Ucap Nisha dengan mata yang selalu berputar kekanan dan kekiri jalan yang begitu ramai akan penjual dan pengendara motor.


" Ini sudah ada disini lama Nisha. Apa kamu gak pernah tau?" Ya...tempat ini memang cukup jauh dari tempat Ardi. Apalagi dari rumah Nisha tinggal.


" Aku gak pernah main keluar rumah Kak Ar. Hanya main kesekolah atau kerumah teman teman yang lain atau paling tidak ke mall. Tidak pernah main ketempat seperti ini, Apalagi diwaktu malam seperti ini!" Ucap nya takjub akan yang baru saja dilihat matanya.


" Sungguh menyenagkan !"


Astaga!! Ternyata kau benar benar polos Nisha. Lama dijakarta tapi tidak pernah ketempat seperti ini! Gumam Ardi dalam hati yang melihat Nisha tak berhenti memandang pedagang sepanjang jalan itu.


" Memangnya gak pernah kepasar malam?" Nisha menggeleng di balik punggung Ardi


" Gak. Gak pernah. Ibu dan papa biasanya ngajak main itu ke mall atau pasar tradisoinal. Tidak pernah ketempat seperti ini. Ya pernah sekali, itu pun dulu sekali. Mungkin saat aku masih sekolah dasar. Itu pun sudah lupa. Lagi pula berbeda. Tidak seperti tempat ini. Hahaha"


" Jadi ini pertama kalinya kau ketempat seperti ini?"


" Yaa. Dan itupun karena Kak Ardi " Nisha memeluk erat badan Ardi dari belakang. Ardi pun membalas dengan meletakkan satu tangannya diatas lipatan tangan Nisha diperutnya.


Tak jauh kemudian, ada sebuah lapangan disisi jalan arah masuk sebuah perkampungan. Lapangan yang cukup luas, yang terdapat berbagai jenis wahana permainan dan arena bermain anak.


" Kau masuk kedalam sana?" Tanya Ardi saat berhenti didepan jalan masuk area permainan yang mirip dufan mini.


" Apa gak apa apa? Gak malu gitu kak Ar?" Tanya Nisha ragu untuk masuk kearena permainan yang cukup menarik mata Nisha.


" Malu kenapa emangnya?" ucap Ardi diselingi tawa.


" Itu lebih banyak anak kecil yang ikut permaianan itu. seperti nya jarang orang dewasa ?" Ucap Nisha yang melihat banyak anak kecil bersama orang tua mereka dri pada anak remaja.


" Siapa bilang? Ayo kita masuk. biar kamu bisa lihat sendiri didalam seperti apa." Ucap Ardi saat melajukan motornya masuk kearea parkir arena permainan itu.

__ADS_1



Ardi pun menggandeng tangan Nisha menariknya memasuki arena permainan itu. Dilihatnya satu persatu permainan yang ada disana. Dari komedi putar, Kora kora, Ombak, Ayunan dan biang lala, yang ternyata banyak anak remaja dan dewasa disana yang menaiki permainan itu.


Mata Nisha berbinar dan kedua ujung bibirnya terangkat memperlihatkan satu lesung pipinya yang manis. Ardi yang berjalan sejajar dengannya merasa bahagia melihat senyum manis milik Nisha itu saat melihat permainan yang sepertinya menarik hatinya.


" Apa mau naik itu?" Tanya Ardi menunjuk pada komedi putar yang memiliki banyak bentuk hewan sebagai tempat duduknya.


Tapi Nisha mengelengkan kepalanya pelan. Aku malu jika harus menaiki wahana itu. Seperti bocah saja. Pikir Nisha mungkin seperti itu, yang padahal banyak anak remaja seumurannya yang menaiki itu.


" Lalu kau maik wahana yang mana?" Tanya Ardi berhenti berjalan membalik badanya kehadapan Nisha. Nisha memutar matanya melihat sekeliling.


" Kita coba yang itu bagaimana?" Menunjuk pada sebuah perahu besar yang bergoyang kekanan dan kekiri sampai tinggi, berada di belakang wahana keretaan anak anak balita.


Ardi pun mengantri tiket perahu ombak untuknya berdua dengan Nisha yang masih dengan harga yang sangat terjangkau itu. Lalu naik keatas perahu, Nisha memilih posisi duduk yang paling ujung diatas. Yang menaiki perahu tersebut juga lumayan banyak, terutama para gadis remaja. Nisha dan Ardi duduk berseblahan, berpegangan pada sebuah gagang yang ada didepan tempat duduk mereka. Disaat perahu sudah cukup terisi penumpang, seorang penjaga mulai mendorong perahu yang terbuat dari kayu ini dari atas ke bawah. Perahu pun mulai bergoyang yang tadi perlahan, perlahan lalu makin kencang dan semakin kencang.


Aaaaaahhhhkkkkkkk...


Suara teriakan para gadis semakin membesar saat perahu semakin kencang bergoyang keatas kebawah semakin tinggi. Begitu juga Nisha, dia berteriak keras diatas sana. Jantungnya serasa ikut naik turun seperti laju perahu itu. Dia bahkan berpegangan satu tangan pada lengan Ardi. Sedangkan Ardi yang berada disamping Nisha hanya biasa saja seolah tak merasakan apa apa. Hanya mengerenyitkan dahinya saat mendengar teriakan Nisha dan para gadis yang duduk didepannya itu. Tapi dia melihat wajah yang menyenang kan di sampingnya itu. Walau Nisha berterik kencang, tapi senyum itu selalu terukir disana.


" Puass?" Tanya Ardi saat turun dari perahu dan berjalan disamping Nisha yang menggandeng lengan Ardi dengan kuat, menahan tubuhnya yang agak sedikit sempoyongan tapi penuh senyum sambil mengangguk. Mereka pu menuju stand kecil membeli dua buah minuman perasa jeruk dan teh. Lalu duduk sejenak disebuah kursi samping stand itu.


" Mau naik apa lagi?"


" Entahlah. Terserah Kak Ardi saja kali ini?"


" Sangkar monyet?"


" Iya. Yang itu" Menunjuk pada wahana yang berupa sebuah sarang yang banyak membentuk lingkaran " Biang la la " Jelas Ardi.


" Oohh..." Nisha memeperhatikan wahana itu lama. Cukup ragu untuk bilang iya pada Ardi.


" Ayo..." Ardi mengulurkan tangannya didepan Nisha saat berdiri. Tapi Nisha tidak juga meraih tangannya.


" Kenapa? Tidak mau? " Ardi menurunkan tangannya.


" Bukan tidak mau. Hanya Sedikit takut!" Ucap Nisha ragu penuh kekawatiran.


" Takut kenapa? Sama saja kayak tadi kamu naik kora kora itu?"


" Benarkah?" ucapnya mengerutkan dahi. Masih merasa ragu.


" Tidak pernah naik biang lala?" Nisha menggeleng dengan maksud tidak pernah.


"Ya sudah. Ayo kita coba!" Ajak Ardi membujuk Nisha sambil mengulurkan tangannya lagi. Dan kali ini Nisha meraihnya dan sedikit tersenyum.

__ADS_1


Akhirnya Nisha dan Ardi mengantri untuk mendapat giliran masuk kedalan sebuah sangkar biang lala itu. Dengan ragu Nisha melangkahkan kakinya saat sangkar bagiannya berhenti tepat didepannya. Ardi masuk terlebih dahulu lalu mengulurkan tangannya agar Nisha ikut masuk kedalam. Nisha pun masuk perlahan kedalam sangkar itu. Sebenarnya dia ragu. keberaniannya berbeda saat menaiki perahu tadi dengan ini. Ardi duduk dikursi depan Nisha. Saling berhadapan. Ardi meriah kedua tangan Nisha dihadapannya saat biang lala itu naik sedikit demi sedikit keatas.


" Baguskan pemandangannya ?" Ucap Ardi saat hampir ada diujung puncak biang lala. Memandangi sekeliling dari dalam sangkar yang lumayan tinggi itu.


" Astaga Kak Ar!" Saat Nisha melihat sekeliling yang terlihat tinggi dari atas kebawah. Tiba tiba Jantung Nisha berdegup kencang, kepala sedikit pusing saat melihat kebawah sana. Nisha langsung memejamkan matanya dan merunduk. Tangannya masih menggenggam erat tangan Ardi. Tapi dengan sedikit gemetar.


" Kamu kenapa Nisha?" Ardi yang merasakan tangan Nisha gemetar sedikit khawatir, apalagi Wajah Nisha yang sudah sedikit berubah jadi agak pucat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


**Jangan lupa untuk 🖒, Vote dan 🌟rate ya


❤ nya juga untuk up selanjutnya


Komen berupa kritik dan saran juga boleh jika readers berkenan.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca🤗😘


Mohon dukungannya😊🤗**


__ADS_2