
Belajarlah menyayangi seseorang
Yang sudah pasti menyayangi kita
Dari pada mengejar seseorang
Yang kita suka tetapi Dia
Tidak pernah peduli pada kita
* * * * *
Malam minggu ini Nisha dan Ardi berkumpul lagi dirumah Eva seperti biasa, ada Lia dan Dian juga dengan pasangannya masing masing. Kami hanya duduk duduk diteras rumah Eva beralas karpet membentuk lingkaran dengan ditengah tengah berbagai makanan kecil dan minuman.
Kami berbagi cerita dan tertawa. Abi yang membawa gitar pun bernyayi kecil dengan merdu. Lia tiduran dipangkuan Alan pacarnya, sebelahnya Dian dan Lutfi yang duduk berdekatan. Lalu Nisha yang duduk bersender pundak Ardi disisi tembok teras.
" Ayoo...ada yang nyanyi gak nih ?" Ucap Abi sambil memandang yang lain satu satu..
Dan mereka saling melempar suruhan satu sama lain.
" Lo aja tuh "
" Gak ..lo aja"
" Ya udah lo Aja.."
" Nisha tuh Nisha..."
" Kok gw..!!"
" Suara lo kan bagus Sha "
" Iya...bagus.Ntar yang ada nih rumah rubuh kalau gw nyanyi. Mau lo?"
" Hahaha..." mereka pun tertawa dan membuat Nisha cemberut.
Ardi pun yang ikut tertawa meminta gitar yang ada ditangan Abi.
" Kak Ar, Bisa main gitar?" Tanya Eva
" Bisa dong !" Ucapnya bangga dengan posisi memegang gitar dan memainkan jarinya.
Jreengggg....
" Ayo Sha, nyanyi "
" Kok aku sih Kak?"
" Cihhh...udah buruan! Mau lagu apa ini?" Ardi melirik ke yang lain.
" Terserah dah...." seru yang lain bersamaan, dan terus membujuk Nisha untuk menyanyi.
" Kamu mau nyanyi apa?" Melirik ke Nisha yang masih cemberut.
" Ya udah !" Nisha pasrah mengikuti permintaan teman temannya.
" Jangan salahin gw yaa, kalau nih rumah ntar rubuh. " Ancam nya.
Yang lain hanya senyum senyum sambil mengangkat alis saling memandang. Mereka puas bisa membuat Nisha untuk nyanyi. Mereka tau bahwa Nisha punya suara yang lembut dan merdu jika bernyanyi walau tetkadang suaranya cempreng jika bicara.
" Mau lagu apa?" Tanya Ardi lagi lembut memandang Nisha disebelahnya, meletakkan kedua tangannya diatas gitar yang dipangkunya.
Nisha yang dipandang seperti itu, berpura pura berfikir lagu apa yang akan dinyanyikan. Padahal dia dia sedikit malu menundukkan kepalanya. Nisha pun berbisik pada Ardi. Yang lain hanya memandang tak sabar.
" Lama banget lo mau nyanyi aja !" Ucap Lia yang bermain Hpnya.
" Sabar napa "
Nisha memandang Ardi yang mengangguk akan memulai.
Ardi sudah memulai memetik senar gitar dengan jari lentiknya. Temannya yang lain seksama mendengarkan permainan gitar Ardi diawal. Dian menyanggah dagunya dengan kedua tangan dipaha Lutfi, dan Lia sudah siap dengan Hpnya ditangan untuk merekam. Nisha menarik napas panjang saat akan mulai bersuara.
*Akuuu...tak kan pernah berhenti
Akan terus memahami
masih terus berfikir
bila harus memaksa
__ADS_1
atau berdarah untukmuu
Apapun itu asalkan mencoba menerimaku
Dan kamu hanya perlu terima
Dan tak harus memahami
Dan tak harus berfikir
Hanya perlu mengerti
Aku bernafas untukmuuu
Jadi tetaplah disini
Dan mulai menerimaku*
Nisha bernyanyi dengan sangat lembut dan benar benar dari hatinya. Alunan gitar dan suaranya sangat menyatu membuat teman teman yang lain terpaku dan menikmati lagu Peter Pan tersebut.
Sesekali dia memandang Ardi saat ditengah tengah lagu. Matanya saling memandang tanpa berhenti bernyanyi. Mengisyaratkan isi hatinya itu.
Cobalaaahh mengerti
Semua ini mencari arti
Selamanya tak kan berhenti
Inginkan Rasakan
Rinduu ini menjadi satu
Biar waktu yang memisahkan
Lalu Nisha kembali lagi mengulang syair itu sampai selesai.
Prokkkk prookkk prookk
Saat lagu telah selesai, tanpa tersadar sudah ada beberapa orang anak kecil dan remaja berdiri didepan teras ikut mendengar nyanyian merdu Nisha. Eva dan yang lain pun tak tau akan itu, karena mereka juga asik mendngarkan.
Nisha tersenyum manis saat banyak yang memberi tepukan tangan padanya.
Awww....Nisha mengelus pipinya yang sedikit sakit lalu merunduk malu.
" Siapa yang bilang suara kamu jelek? Suara bangus begitu juga " Ucap Ardi memuji
Ciiieeee.... Temannya yang melihat hanya bisa menggodanya. Dan yang digoda hanya tersenyum malu.
Setelah itu, Ardi memberikan gitar itu ke pada Abi lagi. Lalu berdiri dari duduknya. Mereka yang ada disana melihat bersaman ke arah Ardi.
" Va, numpang kekamar mandi dong " Ucapnya
Ooohhhh....kirain mau ngapain. Hampir semuanya berfikiran sama.
" Eehh...masuk aja. Lurus ke dapur sebelah kanan " menunjukkan arahnya
Ardi pun berjalan masuk kedalam rumah Eva. Yang lain pun sibuk berbincang lagi.Lia dan Dian melihat hasil rekaman yang tadi. Eva masih ngobrol dengan Abi.
Nisha melihat Hp Ardi tergeletak dikarpet sampingnya. Lalu melirik kearah dalam rumah. Dirasa aman, Dia meraih Handphone tersebut.
Saat dinyalakan, Baguuss gak dikonci !
Nisha tersenyum puas. Dimainkannya jarinya di layar datar benda tersebut. Mengotak atik semua isi data Hp tersebut dengan serius. Tetkadang melirik kearah pintu, takut tiba tiba yang punya Hp iti datang.
" Sha...Ngapain ?" Tanya Eva yang melihat ekpresi Nisha seperti khawatir.
" Gak ngapa ngapain kok !" Ucapnya tanpa menoleh Eva dan masih sibuk dengan Hp milik Ardi.
Inniiii....
Yang dia pikirkan selama ini ternyata benar. Yang dia cari dia temukan di Hp Ardi. Tangannya tiba tiba saja gemetar melihat yang tertulis di layar hp itu. Jantung berdebar hebat. Diraih Hp miliknya. Lalu menekan sebuah nomor yang masih dia ingat, lalu menhubungjnya. Seketika, Hp Ardi yang berada di satu tangan Nisha bergetar. Dengan segera Nisha mematikan telpon tersbut dan mengahapus riwayat panggilan di hp Ardi. Lalu meletakkannya kembali keposisi semula.
Eva menyenggol Dian yang ada tak jauh disebelahnya. Menunjuk kearah Nisha dengan gerakan kepala maju kedepan. Dilihatnya Wajah Nisha yang tiba tiba murung sambil bermain Hp miliknya.
" Lo kenapa Sha?" Tanya Dian.
" Ahh..Gak pa pa kok!" tersenyum paksa
" Yakinn.." Tanya Eva dan Nisha mengangguk.
__ADS_1
Tak selang lama Ardi keluar dari dalam rumah. Lalu duduk lagi samping Nisha. Dilihatnya wajah Nisha yang sedikit berubah,
" Kamu kenapa Sha?" Nisha menggeleng dan tersenyum.
Ardi meraih satu tangan Nisha dan menggenggamnya.
Ketiga temannya memandang Nisha dengan heran. Lalu saling bertatap. Ada apa sih sebenarnya sama Nisha. Tadi baik baik aja, kenapa pas abis megang hp Kak Ardi dia langsung murung yaa?? Apa jangan jangan si Nisha liat bukti Ardi selingkuh lagi? Gak mungkin ahhkkk!! Tapi kan bisa jadi !!
Lia Eva dan Dian saling balas ucapan tanpa mengeluarkan suara, hanya gerakan bibir dan mata mereka saja.
Saat waktu menunjukkan semakin malam. Mereka pulang meninggalkan rumah Eva bersamaan.
Dijalan Nisha melingkarkan kedua tangannya diperut Ardi dari belakang jok motor. Menyenderkan kepalanya dibahu belakang Ardi. Matanya terpejam, otaknya tidak dapat berpikir jernih saat ini. Hatinya tertusuk lagi oleh satu kenyataan yang tidak bisa dibuang jauh.
Ardi pun meletakkan satu tangannya diatas lipatan tangan Nisha dan mengelusnya. Tapi Membuat Nisha semakin mengeratkan pelukannya. Ardi mengerutkan dahi.
" Kamu kedinginan Sha?" Nisha mengangguk dibahu Ardi tanpa suara.
" Keruko dulu ya, ambil jaket ?" Nisha hanya mengangguk lagi.
Sampai lah diruko. Ardi mengajak Nisha untuk masuk kedalam bengkel. Tapi Nisha malah mau ikut masuk ke kamar Ardi dilantai atas. Ardi pun menunjukkan kamarnya.
Nisha takjub melihat kamar cowok ini. Dominan biru dan cream. Sangat rapi dan bersih, juga sangat harum. Buku yang terssusun rapi dilemari samping meja belajar model lesehan. Kasurnya pun tanpa dipan tempat tidur berlesehan pula.
Ardi berjalan menuju lemari bajunya dan mengambil satu jaket sweternya.
" Apa Imel pernah masuk kesini Kak Ar?"
Ardi mengerutka dahinya atas pertanyaan itu.
" Gak " Menggelengkan kepalanya
" Gak pernah ada cewek yang masuk ke kamar aku disini." sambil berjalan kearah Nisha, memasangkan jaket yang sudah dibuka sletingnya dibahu Nisha. Mereka saling bertatapan sejenak, membuat jantung Nisha kembali berdegup kencang saat wajah Ardi semakin mendekati wajahnya.
" Cuma kamu cewek yang berani masuk ke kamar aku." Nisha tersenyum kecil.
" Tapi...Kenapa kak Ar, bohongin Nisha ?"
Ardi mengerutkan dahi lagi. Menegakkan posisi berdirinya.
" Maksudnya? Aku bohong paan ?"
" Kak Ar kan yang selama ini hubungin Imel pake nomor baru? Nomor yang waktu itu aku ceritain ?" Ucapnya mencoba setenang mungkin dengan jantung yang terus berdebar, takut mendengar kebeneran yang akan...
Atau...yang sudah membuat hatinya teriris kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Jangan lupa ya untuk π, vote dan rate π 5 nya
β€ nya juga boleh untuk up selanjutnya
Komen berupa kritik dan saran juga saya butuhkan jika readers berkenan
Terima kasih sudah mau membacaππ
mohon dukungannya yaπ€π€
__ADS_1