
Kadang cinta bukan
untuk kau tunjukan,
Tapi untuk kau buat
Dia merasakannya.
* * * * *
Didalam kamarnya, Ardi sedang berkutat diatas mejanya menyelesaikan tugas kuliahnya yang memang tertunda selama dua minggu ini yang tertinggal karena urusannya yang harus menemani Ibunya ditambah lagi masalah yang menimpa Nisha dan harus berurusan dengan Eric pula minggu kemarin.
Yaa...setelah habis dibuat babak belur oleh Hedi, beberapa hari Eric memang tidak masuk kuliah karena harus menjalani pengobatan atas luka lukanya. Tapi saat setelah beberapa hari itu, dia kembali kekampus. Berkumpul bersama teman temannya di halaman samping kampung, tiba tiba Ardi dan kawanannya menghampiri Eric disana. Dengan santai Ardi berjalan ke arah Eric yang memunggunginya itu, teman temannya pun yang melihat Ardi berjalan biasa tak berpikiran apapun sampai saat Ardi sampai ditengah tengah mereka dan menepuk pundak Eric dari belakang. Eric pun dengan santai berbalik melihat kebalakangnya dan...
Buuuggghhh
Kepalan tangan Ardi mendarat mulus dipipi kiri Eric yang baru saja sembuh itu. Sontak semua mata teman temannya yang sedang duduk terkejut langsung berdiri saat melihat Eric tersungkur dibawah mereka. Sedangkan Hedi, Kendi dan Zaki yang berada dibelakang Ardi yang juga ikut geram terhadap Eric hanya terlihat biasa saja.
" Heeeii...apa apaan sih lo huh?" Ucap salah seorang teman Eric yang mencoba menahan Ardi agar tidak memukul Eric kembali. Kedua temannya yang lain membantu Eric untuk berdiri dan mengusap darah dari sudut bibir Eric karena pukulan Ardi yang cukup keras itu.
" Gw gak da urusan sama lo ya! Lebih baik lo minggir sekarang, atau lo juga mau gw pukul kaya baj*ngan itu! " ucap Ardi penuh emosi menunjuk kearah Eric. Eric yang merasa memang punya salah pun maju berjalan dan menepuk pundak temannya itu agar berhenti dan mundur.
" Urusan lo sama gw Ardi. Kalau lo mau marah sama gw, gw terima!" Ucap Eric berdiri didepan Ardi
" Bagus kalau lo sadar akan kesalahan lo!" Memegang kerah baju leher Eric dengan kencang dan
Buuggghhhh
Lagi lagi, Ardi memukul rahang pipi Eric dan darah kembali mengucur dibibir Eric. Teman temannya pun tak berhak menahan Ardi yang meluapkan emosinya itu, Teman Eric pun tak bisa berbuat apa pa karena lambaian tangan Eric yang menahannya.
Ardi pun menyudahi pukulannya itu. Hanya dua kali pukulan, Ardi merasa cukup karena melihat Eric yang tak menolak pukulan itu dan melihatnya menghentikan temannya untuk membantu. Apakah Eric benar benar sadar akan kesalahannya?
" Gw harap lo jangan berani lagi deketin Nisha! Kalau gak...Gw bisa buat lo lebih dari ini dan yang Hedi lakukan kemaren !" ucapnya tegas pada Eric. " Atau gw bisa laporin lo kepolisi atas tindakan pelecahan " Ucapnya berbisik memegang kerah baju Eric. lalu dihempaskannya. Tapi Eric hanya bisa menerima semua perlakuan Ardi tanpa melawan dan berkata apapun. Teman temannya yang lain terdiam tak banyak bertanya. Entah apa yang terjadi sebenarnya? mungkin begitu pikiran mereka.
Apakah Eric sudah sadar akan kesalahannya dan jadi insaf ya? Entah juga.
Ardi pun meninggalkan Eric disana yang sedang dipegangi teman temannya. Hedi, kendi dan Zaki Mengintimidasi Eric lewat tatapan mata mereka saat melewatinya.
* * *
Ardi kembali melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya. Lihatnya foto yang terpajang didepannya. Fotonya saat bersama Nisha dipasar malam, Lalu matanya mengarah pada kalender meja. Dilihatnya sebuah tanggal yang sudah dilingkari warna merah disana dan seminggu lagi menuju tanggal tersebut.
Ardi lalu meraih benda pipih perseginya yang sedari tadi tergelatak disamping buku buku kuliahnya. Dia langsung menghubungi seseorang.
Tuuuttt Tuuutttt Tuutttt
" Hallo. Assalamualaikum " Sapa Ardi
" Walaikumsalam..." Jawab Nisha diujung panggilan tersebut dengan suara serak.
" Lagi pain?" Tanya Ardi langsung " Lagi mimpiin kamu! Ehh kamunya langsung telpon " Ucap Nisha memberi gombalan dengan mata yang terpejam. Ya karena memang waktu sudah menunjukkan 10 malam. Dan nisha sudah tidur sejak tadi. Ardi pun tertawa kecil mendengar gombalan Nisha itu.
__ADS_1
" Udah tidur ya? Aku ganggu dong?" Tanya Ardi. " Gak pa pa kok! Emang Kak Ar belom tidur?"
" Belum. Masih ngerjain tugas kuliah ini."
" Masih ngerjain tugas kok malah telpon aku? Ntar gak selesai selesai lho tugasnya!"
" Ya abisnya, tiba tiba kangen sama kamu !"
Dasarr....Nisha tersenyum malu mendengar itu. Untungnya tak ada yang melihat.
" kan tadi sore udah ketemu pas jemput!" Ucap Nisha
" Ya emngnya gak boleh tiba tiba tengah malam kangen sama kamu?" tanya Ardi
" Ya gak apa pa sih!" Ucap Nisha lirih.
" Emang kamu gak kangen sama aku?" Tanyanya. " Enggak tuh!" Jawab Nisha tanpa banyak pikir. Ardi langsung terdiam sejenak diujung panggilan.
Nisha memutar bola matanya karena tak ada suara yang terdengar dari sana. Apa dia marah? Padahal Nisha hanya bercanda saja, Yang sebenarnya dia sangat senang saat ini.
" Kamu gak sayang sama aku juga?" Ardi pun bersuara kembali tapi membuat Nisha tersenyum sedikit diujung bibirnya.
" Enggak!" Jawab singkat Nisha " Gimana aku mau sayang, sedang kan cowok itu masih ada rasa sayang sama mantannya !" Ucapan Nisha berhasil menusuk dada Ardi.
" Kok ngomongnya gitu sih!" Ucap Ardi lirih " Kamu masih gak percaya sama aku, Kalau aku sayang sama kamu?"
" Aku percaya sama Kak Ardi. Tapi kalau isi hati Kak Ardi, aku gak tau? Karena Nisha tau, gak akan mudah ngelupain orang yang pernah kita sayang!. Jadi jangan tanya Nisha sayang Kak Ardi atau gak sampai Kak Ardi tau sendiri, Dimana Nisha berada dihati Kak Ardi." Ujar Nisha yang membuat Ardi terdiam kembali.
Astaga nih cewek! " Emang mungkin masih ada nama Imel dihati aku tapi cuma namanya bukan rasa sayang aku, Karena aku pastiin, sayang aku cuma Khanisha seorang. Dan nanti bakal aku buktiin ke kamu! Sampai gak ada satu nama pun dihati aku kecuali Khanisha. " ucap Ardi pasti dan Nisha pun tersenyum merona disana dibawah selimut yanv menutupi kepalanya.
Aku bakal tunggu saat itu Kak, Ucap Nisha dalam hati.
Disela sela obrolan, Ardi menyalakan musik boknya yang ada disamping mejanya. Ardi juga melanjutkan tugas kuliahnya tanpa memutuskan sambungan telponnya dengan Nisha yang disertai alunan musik. Sedangkan Nisha seperti biasa, meletakkan benda pipihnya disatu telinganya dengan mata yang terpejam walau setengah sadar dialam tidurnya.
* * *
Disekolah, saat jam istirahat makan siang. Nisha lebih memilih sholat didalam kelas, sedangkan Lia, eva dan Dian pergi kemesjid yang ada didepan sekolah bersama teman yang lain yang sholat dimesjid juga. didalam perjalanan mereka berbincang.
" Eehh...semalem si Ardi telpon gw,mau minta bantuan. Ktanya suruh ngajak lo lo pada juga?" Ucap Dian setelah selesai sholat didepan mesjid. Lia dan Eva terlihat binggung akan ucapan Dian.
" Maksud lo, bantuan apaan?" Tanya Lia
" Sini " Dian melambaikan tangannya agar Eva dan Lia lebih mendekatkan wajah mereka pada Dian. Lalu Dian berbisik pada mereka dengan seriius. Lia dan Eva pun mendengarkan dengan seksama dan dengan mulut mengucap oh tanpa suara sambil mangut mangut.
" Waahhh...boleh itu! Gw pasti ikut lah." ucap Eva semangat
" Gw sih ayo ayo aja. Ntar sekalian gw ajak Alan juga " ujar Lia
" Ya udah. Tapi diem diem ya!"
" okee " ucap Lia dan Eva bersamaan.
__ADS_1
" Serius juga ternyata dia ya?" Ucap Lia
" Baru pacaran kali, kalau udah ngajak nikah tuh baru serius " Ucap Dian " Maksud gw yang serius itu sayangnya" Jawab Lia
" Ya kali Ian, kita masih sekolah gitu! belum lulus juga dah mau diajak nikah! " Tambah Eva
" Ahhkk gw mah gak pa pa kalau emang udah ada yang ngajak gw nikah abis lulus mah! Gak nolak! " Ucap Dian dan Lia pun mengangguk.
" Gw mah gak dulu dah!" Ucap Eva menggelengkan kepalanya tak percaya akan ucapan Dian dan Lia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
**JANGAN LUPA UNTUK VOTE YAA
Tingggalkan like dan komennya juga,
Terima kasih sudah membaca🤗
Mohon dukungannya🤗😘**
__ADS_1