
Terkadang kita harus mengikhlaskan,
Bukan karena tidak sayang,
Tapi karena ada sesuatu
Yang tidak dapat dipaksakan
* * * * *
" maksud kak Ar, Imel hamil? " Ardi pun mengangguk pelan. Nisha langsìung membungkan mulutnya dengan satu tangan. Matanya membulat penuh tak percaya akan itu.
" tapi aku juga masih ragu Sha, " ucap Ardi lirik dengan tatapan kosong entah kemana. Hatinya memang sedikit resah memikirkan gadis yang pernah dia sayang dengan tulus, tapi juga telah menggoreskan luka yang masih membekas dihati. " apa itu menyangkut Imel atau cewek lainnya? "
Ardi menegakkan badannya menatap Nisha. " apa kamu liat Imel bener bener terlihat baik baik aja selama ini? " tanya Ardi dengan tatapan mata yang penuh mengharapkan.
Nisha memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan napasnya perlahan.
" Ya Tuhan...Imel "
Ardi mengerutkan kening saat melihat ekpresi Nisha yang dapat ditebaknya.
* * *
Nisha terus saja memperhatikan gerak gerik Imel dikelas sejak pertaman masuk kedalam kelas pagi ini. Wajahnya terlihat sehat seperti biasa, berbinar dan penuh tawa bersama Arin, Iren, Isti dan Yani dikursinya. Tak terlihat tanda tanda seperti wanita hamil yang dibacanya diinternet. Tapi memang tidak semua wanita mengalami tanda tanda hamil ynag dibacanya. Tapi mengingat keadaan Imel minggu lalu yang selalu terlihat pucat, juga seringnya Nisha memergoki Imel muntah dikamar mandi waktu itu. Apakah benar Imel hamil? Kalau benar, apakah itu karena perbuatan Eric? Ya Tuhan...padahal sebentar lagi mereka akan Ujian sekolah dan ujian nasional. Apa yang Imel rasakan saat ini kalau benar dia hamil. Tapi tak terlihat ekpresi Imel yang sedih atau tertekan, malah terlihat senang dan bahagia seperti tak menangung beban apa pun. Apa mungkin bukan Imel yang dihamili Eric? Semoga saja.
" Hei...ngelamun aja lo! Mikirin apaan sih? " sentak Lia memukul pundak Nisha yang sedang melamun.
" Bikin kaget aja lo! " bentak Nisha memutar bola matanya. " lah lo ngapain ngelamun? Ngeliatin apa sih? " tanya Lia sembari mengikuti arah mata Nisha, tapi tak tau kemana arahnya.
" Nggak kenapa napa kok " ucapnya tersenyum paksa didepan wajah Lia. Lia pun hanya mengangkat bahunya acuh, mereka kembali belajar membahas pelajaran untuk ujian sekolah yang akan dilaksanakan minggu
" Lo kenapa Mel? " tanya Isti yang melihat Imel menahan sakit diperutnya dan mengeluarkan keringat dingin dipelipisnya.
" perut gw sakit, Is. Gw lagi datang bulan " ujar Imel yang memegangi perutnya.
" ijin yuk ke uks " Imel pun menggangguk lirih pada Isti.
Isti pun meju kedepen meja guru yang kini sedang menerangkan pelajaran didepan kelas. Semua siswi melirik ke Isti yang meminta ijin pada Pak Wahyu yang mengajar. Setelah Pak Wahyu mengangukkan kepalanya, Isti kembali kekursinya, dan memapah Imel keluar kelas. Semua siswi mulai sedikit riuh melihat Imel yang seperti kesakitan.
" hey...jangan berisik! Lanjutkan tulisan kalian " sentak Pak Wahyu saat mendengar bisik bisik para siswi.
" Si Imel kenapa itu ya? " ucap Lia lirih meletakkan sikut lengannya kemeja belakang milik Eva.
" palingan sakit datang bulan " ucap Dian santai sambil menulis tugas pak Wahyu.
" Tapi perasaan Imel kalau datang bulan gak kayak gitu! Yang biasanya kayak gitu bahkan sampai pingsan kan Lo Yan! " tutur Eva menyindir.
" Ya kan gak nentu juga sakitnya Va. Mungkin Imel emang baru ngerasain sakit datang bulan kayak gitu sekarang. Lo belom ngerasain aja " ujar Dian menyanggah ucapan Eva. Eva dan Lia hanya mengangkat kedua bahu mereka bersamaa. Sedangkan Nisha malah terdiam termenung dikursinya menatap buku dimejanya tapi pikirannya menerawang jauh entah kemana.
Sakit datang bulan? Tapi benar kata Eva, dia gak pernah kaya gitu kalau datang bulan. Kemaren kata Kak Ardi juga, kalau bener itu Imel, kemungkinan obat itu sekarang udah dia minum? Dan mungkin obat itu udah... kenapa jadi jantung gw yang berdebar gini sih? Jadi gw yang takut!
__ADS_1
Nisha terus saja bergulat dengan pikirannya yang tak karuan. Dia ingin bercerita pada teman teman dekatnya, tapi dia tidak mau karena akan menyudutka bahkan menfitnah Imel jika itu tak terbukti benar. Dia tidak akan gegabah dahulu. Dia harus menunggu waktu dan bukti yang tepat jika benar Imel hamil. Oh Tuhan...Nisha membayang kan bagaimana jika dia yang mengalami akan hal seperti itu. Dia akan membuat malu orang tuanya, dan menghancurkan masa depannya, apalagi jika harus menggugurkan kandungannya, membunuh janinnya sendiri, itu akan menambah dosa besar yang dia lakukan selain berhubungan dengan laki laki yang bukan berstatus suaminya dan membuatnya hamil diluar nikah.
Nisha menggeleng cepet kepalanya, memhilangkan pikiran buruk itu dari otaknya yang mulai membuatnya pusing. Lalu bagaimana dengan Imel?
Sampai saat istirahat makan siang, Imel belum kembali dari uks dan masih beristirahat disana ditemani oleh teman teman dekatnya.
Dan saat itu pula Nisha mendapat pesan singkat dari Ardi. Betapa terkejutnya Nisha membaca pesan Ardi itu sampai dia menutup mulutnya dengan satu tangannya agar tak mengeluarkan suara.
* * *
Dikampus, pagi ini setelah selesai dengan kelasnya yang berlangsung satu setegah jam itu. Ardi berjalan kekantin dimana teman temannya biasa berada.
Karena mungkin kepintarannya yang mulai terlihat, tahun ini Ardi lebih cepat menyelesaikan mata kuliahnya dari temn temannya yang lain, sehingga Ardi lebih maju satu semester dari dasarnya dari mahasiswa biasa lainnya. Sehingga saat ini dia tidak sekelas lagi dengan teman lainnya.
" Hai..." sapa Hedi dan Kendi pada Ardi yang kini duduk disamping Zaki. Juga ada Widia disamping Hedi. Dua sejoli itu, Hedi dan Widia, tidak pernah tak terlihat bersama dimana pun, selalu bersama bagaikan perangko dan amplopnya.
Mereka pun berbincang soal kuliah mereka sejenak, sampai Hedi penasaran akan masalah kemaren.
" Ar, lo dah cari tau soal masalah kemren itu, beneran itu Eric ngehamilin Imel atau cewek lainnya? " ucapnha lirih sedikit berbisik. Ardi hanya mengangkat bahunya.
" Gw juga gak tau, Nisha bilang Imel biasa aja disekolahnya. Gw juga ragu itu buat Imel. Kita harus tanya Ericnya langsung " ujar Ardi meminum es kopi capucinonya.
" Tapi kita gak punya kunci wat bikin Eric mau bicara soal itu! " ucap Zaki.
" kalian ngapain sih repot repot ngurusin hidup orang. Itu urusan Eric sama ceweknya ini. Mau itu Imel atau pun cewek lain. Apa urusannya sama kalian? " ucap Widia menyela obrolan para lelaki itu.
" Ya jelas lah urusan gw Wid, apalagi jika ini menyangkut Imel! Gw gak bakal tinggal diam. Dia harus tanggung jawab perbuatannya. Bukan malah ngegugurin kandungan hasil perbuatannya! " bentak Ardi. Semuanya terdiam melihat Ardi yang seperti penuh amarah dimatanya.
" Gw gak pungkiri itu kok! dia cewek yang pernah gw sayang juga, walau sekarang gw mungkin sedikit benci sama dia yang udah nyakitin gw dulu. Tapi gw gak mau juga sampai dia dimainin sama cowok kayak Eric."
" Tapi Ar, orang tua Eric dan Imel kan deket dan partnet kerja. Biarlah mereka yang urus jika bener cewek itu Imel. Lo gak usah ikut campur " Ujar Widia tak mau kalah debat. Hedi pun merangkul pundak Widia.
" Biarin aja sayang! Itu maunya Ardi. Dulu Eric kan pernah mainin Nisha, jika sekarang dia juga mainin Imel. Emang harus dikasih pelajaran yang pantes buat dia. Udah kamu gak usah ikut campur lagi. Diem aja! " pinta Hedi membujuk Widia. Dan mendapat tatapan dari tiga cowok didepannya itu. Widia menghembuskan napasnya dan menagngguk pelan. Keadaan pun hening seketika, bergulat dengan pikiran mereka masing masing.
Tiba tiba mata Kendi menangkap sosok cowok yang tak asing dia lihat.
" Heee..itu. " meneput meja ditengah tengah mereka dan menunjuk dua cowok yang berjalan dri parkiran masuk kedalam gedung kampung dari pintu belakang.
" Siapa? " tanya Zaki mengikuti arah ujung telunjuk Kendi. Semua pun tertuju pada arah Kendi menunjuk.
" itu cowok yang nawarin obat sama Eric ditoilet! " ucapan Kendi membuat semua orang yang duduk bersamanya membulatkan matanya melihat cowok yang dimaksud sudah masuk kedalam gedung.
Dengan cepat keempat cowok itu berdiri dari duduknya keluar kantin dan berlari mengejar cowok yang dimaksud Kendi itu. Bahkan Hedi yang ikut antusias dan penasaran pun bergegas mengikuti ketiga temannya itu, tak memperdulikan Widia yang terbengong membuka mulutnya tak percaya bahwa dia ditinggalkan sendiri dan melihat mereka semua pergi.
Ardi, Kendi, Zaki dan Hedi bergegas mengejar dua cowok yang dimaksud Kendi tadi. Mereka masuk kedalam lorong kampus dilantai dasar itu. Tapi sepertinya mereka kehilangan jejak cowok itu, karena kendi juga tak melihatnya. Merekapun memutuskan untuk berpencar mencari cowok yang memakai kaos berwarna hijau tosca itu dan teman satunya memakai kaos hitam. Ardi mencari dilorong sebelah mencari mengintip swtia ruangan. Hedi kearea kamar mandi yang ada dilantai dasar, Kendi kearea halaman luar pintu utama, dan Zaki ke lantai dua dengan tangga.
Dering ponsel Hedi berbunyi saat itu, Hedi langsung menerima sambungan telpon itu. Tak lama langsung mematikannya. Dia berlari mencari Ardi.
" Woy..." panggil Hedi dan saat itu juga Kendi masuk lagi kedalam koridor saat tak memdapati diluar gedung. Ardi pun menoleh pada panggilan Hedi.
" kelantai dua " ucap Hedi singkat. Bergegas mereka berlari kelantai dua menaiki tangga. Para mahasiswa yang ada disana pun melihat mereka berlari mengerutkan kening heran. Apa yang terjadi?
__ADS_1
Sampai dilantai dua mereka melihat Zaki telah berdiri didepan sebuah kelas bersama doa cowok yang memang dimaksud Kendi tadi sedang berbincang serius dengan Zaki. Zaki pun menoleh saat mendengar panggilan ketiga temannya itu mendekat.
" bener dia Kendi? " tanya Zaki. Dan Kendi pun mengangguk pasti. Mereka pun mengajak cowok itu untuk mengobrol sebentar. Beruntungnya cowok itu dengan mudah diajak berbicara tanpa perlawanan. Ardi dan ketiga temannya pun langsung menjelaskan tujunnya. Cowok itu pun mengerti maksud Ardi.
" iya...Eric emang mesen obat sama gw. Itu obat buat gugurin kandungan ceweknya dia bilang. " tutur cowok itu. Membuat Ardi memgepalkan tangannya.
" dia gak bilang nama ceweknya? " Tanya Hedi. Si cowok menggelengkan kepalanya.
" Kapan dia dapat obat itu? " tanya Ardi dengan wajah dinginnya. " Kemaren " jawab si cowok singkat.
" obatnya cuma satu kali minum aja? Kalau abis minum obat itu apa reaksinya? "
" iya, cuma satu. Sebenarnya sih gak ada reaksi apa pa. Cuma kalau kandungan tuh cewek udah agak gede, sekitar 3bulan lebih atau empat lebih, mungkin ada reaksi diperutnya kayak orang mau mules mau ngelahirin atau saat cewek cewek datang bulan. Itu yang gw tau. "
" Selain itu apa lagi? " tanya lagi Ardi yang penasaran. " Abis minum obat itu, cewek lo kayak orang abis lahiran, keluar darah kayak datang bulan bahkan mungki lebih akibat ngancurin janin itu itu didalam, dan bisa sampai sebulan lebih mungkin darah itu keluar sampai bener bener bersih didalam. " tutur si cowok heran, kenapa keempat cowok yang tak dikenalnya ini bertanya sperti ini.
" apa kalian mau mesen obat itu juga? " semua memandang cowok itu tajam dan si cowok pun mundur merasa salah berbicara.
" amit amit gw mesen obat kaya gituan. Jangan sampe deh! " ucap Hedi menguncang bahunya.
Mereka pun menyudahi obrolan itu dan berlalu meninggalkan si cowok yang bernama Bimo itu.
Mereka pun berniat mencari Eric setelah ini.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
TBC
**JANGAN LUPA VOTE YA
LIKE JUGA KOMEN
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA
__ADS_1
MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**