Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 55


__ADS_3

*Jarak ini meremas rasa


Menguji cinta yang tak kubiarkan binasa


Aku punya setia...


Aku punya rindu yang membara


Ku tumbuhkan cinta diatas suka cita


Yang indahnya...


Yang menjadi sejarah paling indah


untuk kita...


#Romanpicisan*


* * * * *


" Kenapa lo gak jadi pacar gw aja sekarang. Dan tinggalin Ardi aja!"


Nisha membulatkan matanya mendengar perkataan Eric yang diucapkan dengan santai itu.


" Kok ngomong gitu! Maksudnya apaan ya?" Tanya Nisha tak mengerti.


" Gw suka sama lo Nisha. Sejak gw ketemu lo saat di cafe Widji sama Imel. Sejak itu gw tertarik sama lo " Berusaha meraih tangan Nisha. Tapi Nisha segera menarik tangannya dari jangkauan tangan Eric.


" Kak Eric kan tau, Aku pacar Kak Ardi "


" Aku tau. Makanya aku ngomong jujur sekarang. Apa aku salah kalau aku bilang suka dan sayang kamu " Wajah Nisha sedikit merona saat mendengar kata suka dan sayang, dia menundukkan wajahnya. Memang sudah sejak lama, tak ada cowok yang mendekatinya dan bilang suka padanya, apalagi sejak masuk sekolah kejuruan yang semua siswanya perempuan. Interaksi dengan cowok pun tak pernah, Sampai dia mengenal dan dekat dengan Ardi. Dan kini ada lagi cowok yang mendekatinya, Eric.


" Kamu mau kan jadi pacar aku Nisha?" Tanya Eric lagi


" Kak Eric jangan asal ngomong deh! Aku gak bisa. Bagaimana nanti aku sama Kak Ardi? " Tolak Nisha halus.


" Kalau gak, kita diem diem aja jalan dibelakang Ardi." Eric yerus berusaha membujuk Nisha agar mau menjalin hubungan dengannya.


" Aku gak bisa Kak!" Menggelengkan kepalanya


" Pulang yuk Kak! Takut kemalaman. " Ucap Nisha berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia sudah berdiri dari kursinya dan berjalan keluar tak menghiraukan Eric yang masih duduk disana.


Ternyata lo gak segampang yang gw pikir ya...


Eric pun beranjak dari kursinya menyusul Nisha yang sudah berdiri disamping motornya. Eric pun mengantar Nisha pulang kerumahnya. Saat sampai didepan rumah Nisha segera turun dari motor sport itu dan menyuruh Eric untuk segera pulang tanpa harus turun dari motornya. Nisha langsung berjalan masuk kedalam rumahnya meninggalkan Eric disana tanpa menoleh lagi.


Liat aja nanti Nisha!


Eric pun pergi meninggalkan rumah Nisha dengan senyuman Smirk.


Nisha menjatuhkan tubuhnya diatas kasur dikamar. Memandang langit langit kamarnya yang telah ditempeli oleh stiker bintang bintang warna warni yang menyala jika dalam gelap.

__ADS_1


" Kenapa bisa ketemu sama cowok kaya gitu sih? " Pikirannya masih tak habis pikir jika cowok itu datang bertemu dengannya dan mengungkapkan isi hatinya, apalagi Eric yang sering jalan sama Imel.


" Kenapa harus cowok yang kenal Imel juga sih! Aarrrrggghhhhh " Mengacak rambutnya yang masih diikat itu.


Drrrtttt Drrrrtttt Drrrtttt


Benda pipih milik Nisha yang ada disaku celananya bergetar. Nisha pun memandang layat benda itu. Dan ternyata Kak Ardi yang menghubunginya. Seketika senyum kembali merekah dikedua pipinya dan melupakan msalah pertemuannya dengan Eric.


Nisha pun menghabiskan malam dengan berbincang dengan Ardi lewat panggilan telpon dan vidiocall. Menghilangkan rasa rindu yang sudah terasa walah belum penuh satu hari berpisah. Nisha pun tak menceritakan apa pun tentang Eric yang datang bertemu dengannya. Ardi tak boleh tau. Dan semoga dia tak bertemu lagi dengan Eric.


Disekolah pun Nisha merahasiakan perkenalannya dengan Eric dari Lia, Eva dan Dian. Saat bértemu Imel pun Nisha biasa saja, Tapi berbeda dengan Imel. Dia sebenarnya tau semua yang terjadi antara Nisha dan Eric.


Dua hari Eric selalu menghubungi Nisha, lewat pesan online atau telpon, Tapi tidak pernah Nisha tanggapi atau balas. Nisha tak mau berurusan dengan Eric yang mungkin menurut pemikirannya, jika Imel tau pasti akan timbul masalah lagi dengannya. Lagi pula Nisha sama sekali tidak tertarik dengan Eric. Dan dia tidak mau jika Ardi juga tau soal ini.


Setiap malam pun, Ardi selalu menelpon Nisha untuk memberi kabar keadaan disana serta Ibunya yang sudah selesai operasi dan masih dalam masa penyembuhan dirumah sakit.


* * *


Disebuah rumah sakit swasta yang berlantai 5 dengan gedung megah. Didalam kamar VIP dengan vasilitas lengkap, Ada sebuah kulkas dengan sofa bed besar yang bisa berubah sebagai kasur dan dua sofa tunggal. Sebuah tv flat besar yang terpasang didinding tepat didepan bangkar. Ada balkon yang mengarahkan pemandangan parkiran dan taman rumah sakit yang juga cukup luas.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Seorang wanita paruh baya berusia sekitar 48 tahun terbaring dikasur memakai pakaian pasien rumah sakit. Tak jauh dari situ, disebuah sofa bed, Ardi dengan posisi tiduran nya dengan memegang benda pipihnya dan memainkan jari jemarinya dilayar datar benda itu sambil tersenyum manis. Membaca pesan online dan membalasnya dengan gadis yang sangat dia rindukan saat ini. Ini adalah malam minggu pertamanya tanpa bertemu Nisha. Tapi mereka masih dapat bekomunikasi dengan baik saat ini. Nena , Ibu Ardi yang sedang terbaring dibankar sedikit melirik anak bungsu laki lakinya itu yang asik senyum sendiri. Dengan siapa dia berhubungan sampai senyum merekah diwajahnya itu? Itu yang dipikiran Ibu Nena.


Tak selang lama, pintu kamar terbuka. Ibu pun memutar matanya kearah pintu, Adesty dan Mulia, Istri Aa Malik, yang datang membawa tentengan ditangan masing masing setelah mengucapakan salam dan hanya Ibu yang menjawab. Adesty meletakkan tentengannya yang berisi baju ganti Ibu Nena di lemari yang ada dipojok samping bankar. Dan Mulia meletakkan tentengan yang berisi makanan di atas meja depan bangkar. Ibu Nena, Adesty dan Mulia melirik Ardi bersamaan yang dari tadi sama sekali tak menhiraukan adanya mereka disana dan masih asik dengan benda pipihnya itu. Mereka bertiga saling melirik satu sama lain, mengisyaratkan sesuatu agar bertindak atas kelakuan aneh adiknya itu. Mulia mulai berjalan perlahan ke arah Ardi yang masih tak sadar karena posisi tidurnya yang miring mengarah ketembok.


Mulia mulai membungkukkan sedikit badannya melihat layar Hp yang dipegang Ardi itu. Mulia mengerutkan dahinya saat melihat sekilas pesan yang tertulis disana tapi tak terlihat jelas olehnya. Dengan perlahan, Mulia merampas Hp dari tangan Ardi dan memutar badannya sedikit menjauh dan mulai membaca isi pesan tersebut.


Ardi terlonjak kaget saat Hpnya dirampas Mulia.


" Uuhhhggg...romantisnya pesan adik ipar Teteh ini!" Ucap mulia meledek Ardi yang masih mencoba mengambil Hpnya dari Mulia.


" Teteh mah ahkkkk..Gak baik tau baca baca isi pesan pribadi orang!" masih terus berputar meraih Hpnya. Adesty dan ibu Nena hanya tersenyum melihat adik dan kaka ipar itu yang terus berputar putar didepan mereka.


" Ibu... Coba ibu baca pesan Ardi sama ceweknya ini." Berjalan kesamping Ibu Nena dan Adesty yang juga duduk disisi bangkar Ibu menunjukkan layar Hp milik Ardi.


Ardi hanya mengacak acak rambutnya saat melihat Hpnya sudah ditangan Ibunya itu. Ibunya tersenyum sumrigah.


" Tukang gombal juga kamu ya!" ucap Ibu Nena setelah melihat pesan itu. Ardi hanya menggusap tengkuk lehernya merunduk malu menatap Ibunya.


" Siapa namanya?" Matanya mengarah pada Adesty yang ada disampingnya


" Nisha Bu. Khanisha " Ucap Adesty. Mulia pun duduk disisi ujung bangkar. Ikut mendengar setelah menyerahkan kembali Hp itu kepemiliknya yang langsung memasang wajah cemberutnya.


" Kamu sudah liat dia Des?" Adesty mengangguk.


" Dia gadis manis dan baik bu, Tapi..." Adesty menggantung perkataannya.


Ardi mengerutkan dahinya. Tapi kenapa? Apa kami tidak berjodoh seperti cewek yang selalu dekat dengannya.


" Tapi apa Des?" Tanya Mulia yang juga penasaran.


Adesty tersenyum dan merangkul pundak Ibunya.

__ADS_1


" Udah malam. Ibu tidur ya. Kan harus banyak istirahat, apalagi baru sehari operasi." Ucapnya mengalihkan percakapan.


" Ya sudah...Mungkin belum waktunya Ardi menemukan yang pas untuknya ." Ucap Ibu Nena yang mencoba menebak maksud Adesty dan menatap Ardi. Tapi Ardi langsung berwajah muram setelah mendengar itu. Mulia Melihat itu mendekati Ardi dan merangkul pundaknya. Sabar.


" Bukan gak pas Bu, Tapi mereka masih terlalu muda. Perjalanan mereka masih panjang." Tersenyum pada Ibu, Mulia dan Ardi yang menatap Adesty bersamaan.


" Terus...gimana Teh?" Tanya Ardi sedikit penasaran juga.


" Gimana apanya ?" Adesty mengerutkan dahinya yang sudah menyelimuti tubuh Ibunya yang berbaring tapi masih membuka matanya.


" Bukan Nisha ya Teh?" Tanya nya lagi. Mengharap jawaban Adesty. Adesty hanya tersenyum pada adiknya itu yang sudah berwajah muram. Berjalan mendekati Ardi dan ikut merangkul pundaknya setelah Mulia berpindah sebelah Ardi disisi lainnya.


" Tergantung usaha kamu untuk ngambil hatinya. Nisha itu hatinya rapuh. Kalau kamu genggam terlalu kencang Bisa hancur, tapi jika kamu genggam pelan juga bakal bisa lepas."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


**Jangan lupa untuk 🖒, VOTE dan 🌟 rate


❤nya juga untuk up selanjutnya


Komen berupa kritik dan saran juga sangat diharapkan jika readers berkenan.


Terima kasih sudah mau membaca🤗😘

__ADS_1


Mohon dukungannya😊**


__ADS_2