Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 86


__ADS_3

Cinta datang tiba tiba tanpa perduli siapa


Dan dimana asalnya


Cinta tak pernah memilih kepada siapa


Hati itu menginginkannya


* * * * *


Dimulai kembali pada hari senin pagi, yang merupakan hari paling sibuk didunia. Semua orang memulai aktifitasnya dari hari buta dengan penuh semangat, menyambut matahari pagi dengan penuh senyuman yang diukir oleh setiap manusia.


Begitu pula Nisha, yang sudah sejak pagi bangun dan bersiap untuk berangkat sekolah. Yang syukurnya semalam, dia tidak tidur malam. Dan dapat mendengar alarmnya berbunyi tepat waktu.


Tapi walau sudah berangkat cukup pagi, tetap saja dia terjebak macet yang cukup menghabiskan waktunya untuk sampai kesekolah. Hingga saat dia melihat jam dipergelangan tanganya, 30 menit lagi sudah memasuki jam bel sekolah. Sedangkan perjalanannya masih jauh, dan kini dia terjebak didalam angkot dalam kemacetan. Walau bukan hanya dia seorang yang berseragam sekolah dalam angkot itu, tapi dengan dua orang cewek lainnya yang juga berseragam tapi berbeda sekolah, karena Nisha tidak mengenalnya, tapi kedua siswi itu terlihat santai dengan situasi ini, berbeda dengan Nisha yang terlihat gelisah. Nisha terus memutar otaknya, bagaimana dia bisa terlepas dari kemacetan ini.


" Apa gw telpon Kak Ar, ya minta anter?" ucapnya dalam hati. Setelah itu dia mencari benda pipihnya didalam tasnya dan segera menghubungi nomor kesayangannya itu. Tapi sudah beberapa menit benda pipihnya diletakkannnya di salah satu kupingnya, tak ada jawaban atau diangkatnya panggilan itu.


" Apa dia masih tidur ya?" gumamnya dalam hati. " Oohh..iya!"


Akhirnya Nisha memutuskan untuk memesan ojek online agar dia cepat sampai kesekolahnya tanpa telat. Saat dipersimpangan dia pun memutuskan untuk turun dari angkot itu. Dan menunggu ojol yang sudah dia pesan terlebih dahulu saat didalam angkot.


Untunglah ojol yang ditunggunya cepat datang ditengah tengah kemacetan yang ada didepan matanya dan segera membawanya menuju sekolah.


" Nih pak" Nisha menyerahkan uang lima belas ribu kepada ojol tersebut saat sudah sampai depan sekolahnya.


" Kembalinya neng!"


" Gak usah pak. Ambil aja " Ucap Nisha menolak kembalian yang hanya tiga ribu rupiah itu agar diambil kembali oleh bapak ojol tersebut. " Makasih neng "


" Makasih juga pak!" Ucap Nisha sedikit menganggukķan kepalanya. Lalu berjalan memasuki gerbang sekolah. Nisha mengehembuskan napasnya perlahan, untungnya masih tersisa waktu 10 menit sebelum bel sekolah berbunyi.


Saat dia memasuki kelas, dia pun melihat meja Arin dan Iren yang masih kosong. Pasti mereka juga terjebak macet dijalan dan belum sampai saat ini. Nisha mengelus dadanya saat duduk dikursinya dalam kelas.


" Hai Sha " sapa Lia yang ada disampingnya. Nisha hanya membalasnya dengan senyuman kecil.


" Untung belom masuk lo dah sampe " Ucap Dian yang duduk dibelakang Nisha.


" Apa? Gw naik ojol biar cepet sampe! Macet banget tau tadi! " Tutur Nisha kesal yang kini duduk dengan posisi miring menghadap Lia


" Tuh si Arin sama Iren juga pasti lagi kejebak macet. Pada belum sampe mereka!" Tambahnya lagi.


Dian dan Lia hanya manggut mangut, sedangkan Eva asik dengan benda pipihnya. Nisha melirik ke Eva dan mengangkat alisnya pada Lia. Mengisyaratkan matanya melirik Eva, tapi Lia mengangkat kedua bahunya.


" Lo kenapa Va?" Nisha memberanikan diri bertanya pada Eva yang terlihat serius pada benda pipih ditangannya.

__ADS_1


" Gak kenapa napa kok!" Jawabnya singkat tanpa menoleh pada Nisha. Nisha, Lia dan Dian saling melirik. Tiba tiba Rini ikut bergabung duduk disebelah Dian berbagi kursi berdua.


" Ada apan ini? Kok pada diem?" Tanya Rini


" Tuh!" Ucap Lia menunjuk pada Eva dengan gerakan dagunya, yang terlihat sedikit sendu.


" Lo kenapa Va? Murung begitu? Kaya abis diputusin?" Ucap rini gamblang.


" Iya...gw putus sama Abi " Ucapnya singkat dengan tangan masih bermain dilayar datar benda pipihnya.


" Hahhh..." Ucap semua serempak.


" Beneran lo Va?" tanya Dian saat memutar duduknya menghadap Eva. Eva hanya menganggukan kepalanya tanpa suara dan ekpresi wajah biasa saja. Semua menatap Eva serius.


" Kapan?" Ucap Nisha


" Kok bisa?" tanya Lia


" Lo gak sedih Va?" Tambah Rini


" Malam sabtu kemaren. Ya... udah keputusan kita berdua aja. Emang ngerasa udah gak cocok aja. Ya udah...pisah! " Tutur Eva dengan wajah santai. Sedangkan keempat temannya hanya mendengar dengan mulut terbuka dan mata berkedip kedip.


" Dan malah sekarang gw lagi deket sama Mifta, anak daerah swadaya yang sekarang sekolah jurusan grafika. Dia cakep tau! Dari tadi gw balesan pesan wa sama dia " tambah Eva menjelaskan lagi sambil senyum senyum dan membuat Nisha, Lia , Rini dan Dian tak bersuara semankin tak percaya. Seorang Eva, teman yang mereka kenal jago tae kwondo dan terbilang sedikit tomboy, bahkan pacarannya lebih berani dari Nisha, kini bersikap santai setelah putus dari cowok yang sudah 6 bulan menjalin kasih dengannya, dan bahkan sudah dekat lagi dengan cowok lain. Hingga bunyi bell pun membuyarkan lamunan mereka sambik menggelengkan kepala melihat Eva yang masih asik berbalas pesan dengan cowok bernama Mifta itu. Rini pun kembali kekursinya. Selang beberapa menit setelah bell, Arin dan Iren berlari dari luar masuk kedalam kelas dengan tergesa gesa dan ngos ngosan.


" Untung gw tadi naik ojol, kalau gak gw bakal telat pasti!" Ucap Nisha dalam hati melihat Arin dan Iren duduk dikursinya dan tak lama Guru yang mengajar pun masuk kekelas.


* * *


" Ayo. Gw juga pengen ketoilet nih " Jawab Nisha menganggukkan kepala.


" Kemana Sha? " tanya Lia saat sedang menulis materi melihat Nisha beranjak dari kursinya. " Maulu kekamar mandi sama Dian " jawab Nisha singkat sambil menggeser kursinya agar bisa keluar. Nisha dan Dian pun meminta ijin pada Pipit selaku ketua kelas mereka untuk pergi kekamar mandi.


" Sha, ikut sini " ucap Dian menarik tangan Nisha untuk masuk kedalan satu kamar mandi bersama. " Lho!! Mau ngapain Ian? " tanya Nisha heran melihat Dian yang kini mengunci pintu kamar mandi yang ada mereka berdua didalamnya.


" Lo mau liat gak?"


" Liat apaan?" tanya Nisha semakin bingung.


" Tapi lo jangan ngomong ngomong ya sama yang lain!" seru Dian yang semakin membuat Nisha mengerutkan keningnya. Tapi Nisha juga menganggukkan kepalanya tanda setuju tidak akan mengatakannya pada temannya yang lain.


Dian mengangkat kerudungnya yang menutupi sedikit dadanya. Lalu membuka kancing baju seragamnya yang ada diatas sampai dua kancing. Jantung Nisha semakin berdebar melihat apa yang dilakukan Dian.


Apa yang sebenarnya mau Dian tunjukkan?


Tapi saat Dian membuka seragamnya lebih lebar kesamping dan menunjukkan dada bagian atasnya dan melihatkan dalaman yang digunakannya. Mata Nisha membulat saat melihat dua tanda merah kebiruan dikulit putih bagian dada Dian.

__ADS_1


" Ituu..." bibir Nisha disentuh dengan telapak tangan Dian, agar Nisha tak mengeluarkan suara yang keras yang akan terdengar keluar nantinya. Nisha menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan satu tangannya. Tak percaya akan perbuatan satu temannya ini yang sudah jelas memakai kerudung dikepalanya. Berbeda dengan Rini yang tak memakai kerudung yang juga pernah membuat tanda itu dilehernya beberapa waktu lalu dan membuat heboh teman teman lainnya satu kelas. Ini...Dian. Siswi yang memakai kerudung.


" Itu...Lutfi yang lakuin?" Tanya Nisha perlahan dan suara pelan. Dian mengangguk pasti. " Ya siapa lagi kalau bukan Lutfi " jawab Dian tegas.


" Lo yang minta itu Ian?"


" Gak lah " jawab Dian singkat


" Dimana itu bikinnya?" tanya Nisha dengan sedikit tertawa kecil. " Dirumah dia, kemaren. Dikamarnya " ucap Dian sembari mengancingkan kembali seragamnya. Nisha dibuat Dian tak habis pikir akan kelakuan temannya ini sambil menggeleengkan kepalanya.


" Gimana ceritnya?" Dian pun menceritakan apa yang terjadi padanya saat bersama Lutfi, dari yang awalnya hanya berciuman bibir dan tangan Lutfi yang sedikit menjamah tubuh Dian bagian depan sampai akhirnya Lutfi meninggalkan tanda merah itu didada Dian. Nisha hanya menutup mulutnya tak percaya.


" Ya ampun Ian! Lo berani banget sih kayak gitu " ucap Nisha pelan dengan nada terkejut bukan main.


" Ya elah, Sha. Itu mah masih wajar kali dalam pacaran. Mungkin Rini sama Lia mah lebih parah dari gw kali!" Ucap Dian santai. Nisha semakin tak percaya apa yang diucapkan Dian. Rini dan Lia? Memangnya mereka melakukan apa kalau pacaran.


" Emangnya lo kalau sama Ardi gak ngapa ngapai gitu? Kalau lagi dibengkelnya? Kalau lagi dikamar Ardi berdua?" Nisha membulatkan matany akan pertanyaan Dian itu. Dengan cepat Nisha menggelengkan kepalanya.


" Gw sama Ardi gak pernah ngapa ngapain ya!"


" Emang kalau lagi ciuman, Ardi gak iseng tangannya?" Pertanyaan Dian semakin membuat wajah Nisha memanas seketika. Nisha kembali menggelengkan kepalanya. Dian pun tersenyum.


" Lo jangan cerita ke anak yang lain ya? Cuma lo doang yang tau soal ini!"


" Emang kenapa?" Tanya Nisha heran. " Malas gw denger Lia pasti ngoceh yang gak gak nanti buat nyeramahin gw. Padahal dia juga sering kaya gitu! kayak dirinya yang paling bener! " tutur Dian. Nisha mengerutkan keningnya. Apa Lia benar penah kayak gitu juga? Tapi Nisha tak mau banyak tanya pada Dian. Nisha hanya manggut manggut menyetujui permintaan Dian untuk menutup mulutnya soal itu.


Pagi ini benar benar membuat Nisha tak habis pikir tentang teman temannya ini. Eva yang putus dengan Abi tapi langsung dekat dengan cowok lain. Sekarang Dian yang melakukan hal hal yang menurut Nisha sensitif itu. Bahkan mendengar pernyataan Dian tentang Lia yang menurutnya paling tertutup soal pcaran diantar mereka. Kalau Rini, Nisha sudah melihat dan mendengar kalau gaya pacaran Rini yang memang sedikit fulgar dari mereka semua.


.


.


.


.


.


.


TBC


**BANTU VOTE YA READERS


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN JUGA

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA😊


MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**


__ADS_2