
Bertemu denganmu adalah takdir,
Menjadi temanmu adalah pilihanku,
Tapi jatuh cinta denganmu
Itu diluar kemampuanku...
* * * * *
Nisha berjalan disebuah mall yang cukup besar di daerah JT. Dengan memakai dress warna dusty selutut yang berbentuk rampel dibagian bawah dipadukan dengan jaket semi jeans berwarna biru laut dan bando kecil dikepala serta tas kecil yang diselempang disalah satu bahunya, Nisha semakin terlihat manis dan imuet. Berjalan sejajar dengan seorang cowok yang setengah jam lalu memaksanya untuk pergi ketempat ini. Ya... dia Eric.
Minggu siang ini, Eric datang kembali berkunjung kerumah Nisha. Dan mengajak Nisha untuk pergi jalan jalan. Awalnya Nisha menolak karena memang ingin menghindari cowok satu ini. Tapi sepertinya sia sia, Eric selalu saja dapat membujuk Nisha untuk mengikuti kehendaknya. Entahlah!
" Ayolah Nisha, hari ini aku sedang be te. Temani aku jalan ya?" Ucap Eric saat duduk disamping Nisha dan mencoba untuk memegang kedua tangan Nisha, tapi ditepisnya.
" Aku gak mau Kak! aku malas untuk keluar rumah." Nisha berusaha menolak.
" Ayoalah..." bujuk Eric
" Lagi pula Ardi kan sedang tidak ada di Jakarta. Apa kau akan diam saja dirumah seharian dihari libur ini."
Benar juga!! Biasanya kalau ada Kak Ardi, sekarang pasti aku sedang main dibengkelnya dan memandanginya yang sedang mengotak atik motor dengan tangan yang sudah hitam karena oli. Tapi sekarang dia kan sedang tidak ada disini! Apa aku ikut Kak Eric saja untuk jalan jalan dengannya? Tapi bagaimana jika Kak Ardi tau?
Nisha terlihat berpikir keras dengan otaknya dan termenung disofa disamping Eric yang memperhatikannya sejak tadi.
" Apa yang lo pikirin sih?" Tanya Eric membuyarkan lamunan Nisha
" Tidak..." Eric tersenyum sungging
" Ardi gak bakal tau kalau kita jalan berdua?"
ucapnya menebak pikiran Nisha
Kok dia tau aku mikirin Ardi?
Matanya memperhatikan Eric dalam. Bagaimana ini, apakah dia harus setuju akan ajakan Eric ini. Yang sebenarnya dia juga sangat ingin berjalan jalan keluar. Tapi mengapa harus Eric yang mengajaknya?
" Udah gak usah banyak mikir. Sana buruan ganti baju lo, gw tunggu sini "
Nisha pun beranjak dari duduknya dan masuk kedalam rumah tanpa bicara, tanpa menjawab iya atau tidak pada ajakan Eric.
Kenapa aku jadi mau ya sama ajakan Kak Eric? Tapi... ya sudahlah. Nikmati saja. Gratis ini. Kak Ardi, Maaf ya🙏 aku jalan sama cowok lain. Bukan maksud selingkuh ya Kak! Semoga kak Ardi gak marah!
Nisha bergumam dalam hatinya saat bercermin dikaca lemarinya, melihat penampilannya sudah siap dan rapi. Dan menghembuskan napasnya perlahan saat keluar kamar.
Eric pu tersenyum puas saat melihat Nisha datang kembali dengan penampilannya yang terlihat cuet itu.
Ternyata dia bener bener menarik hati. Kenapa gw jadi deg degan gini ya lait dia!
" Kak Eric " Panggil Nisha melambaikan tangan di depan wajah Eric yang melamun.
" Eehhh...Iya. Udah siap? Ayoo !" Eric pun tersadar dan langsung mengajak Nisha menuju kendaraan yang dia bawa.
Nisha terkejut, ternyata Eric tidak menggunakan motor sportnya untuk kesini, Dia membawa mobil hitam metalik miliknya yang dulu dia lihat saat bersama Imel. Eric pun membukakan pintu depan samping kemudi untuk Nisha. Nisha sedikit tersentuh, memang selama bersama Eric, dia selalu diperlakukan dengan baik. Eric sangat tau cara memperlakukan cewek. Atau hanya untuk memgambil hati cewek. Nisha pun masuk kedalam mobil dengan tersipu malu. Eric pun berputar masuk kedalam mobil duduk depan kemudi.
Dan kini mereka berjalan sejajar didalam sebuah mall. Eric sempat meraih tangan Nisha agar dapat menggandengnya, tapi Nisha selalu menepisnya. Nisha merasa risih jika harus berjalan bergandengan dengan Eric. Apalagi mereka tak ada hubungan apapun, Walau Eric sudah menggungkapkan hatinya padanya Nisha, dan mendapat penolakan dari Nisha.
" Lo mau nonton apaan? " Tanya Eric saat mereka sudah didalam kawasan sebuah bioskop didalam mall tersebut. Saat diperjalanan didalam mobil tadi, Eric menawarkan Nisha untuk pergi nonton bioskop dan Nisha mengiyakannya.
" Apa ajalah Kak? " Ucap Nisha saat melihat deretan foto film yang diputar dibioskop itu. Yang sebenarnya Kurang menarik dihatinya. Eric pun berjalan meninggalkan Nisha yang duduk dikursi tunggu menuju loket pembelian tiket. Tak lama Eric pun datang membawa dua tiket film drama indonesia yang berjudul
__ADS_1
" Dignitate " . Film yang dibintangi Al Ghazali dan Caitline Halderman. Eric pun membawa dua buah minuman kola dan sebuah popkorn ukuran sedang. Nisha sedikit terkejut sebenarnya. Padahal dia tidak menginginkan makanan dan minuman itu, tapi apa boleh buat. Sudah terlanjur dibelikan. Sangat mubajir jika dibuang. Nisha pun menerimanya dengan senyuman terpaksa.
Setelah selesai menonton dan keluar dari bioskop, Eric dan Nisha berjalan jalan sebentar keliling maĺl sembari mencari tempat makan yang mereka inginkan. Dan saat mereka memutuskan untuk makan disebuah foodcourt yang cukup terkenal.
Saat mereka sedang menunggu makanan, Eric izin ketoilet yang cukup jauh dari foodcourt tersebut.
" Oohh...makanan sudah siap?" ucap Eric saat kembali dari toilet dan mendapati makanan mereka yang sudah ada diatas meja.
" Hhmmm" jawab Nisha singkat sambil mengangguk.
" Maaf ya lama." Duduk dikursi depan Nisha
" Ayo. Dimakan. Kok didiemin!"
" Iya..." Nisha pun memakan makanannya. Yang sebenarnya ingin dimakan sejak tadi, tapi Nisha berniat untuk menunggu Eric dahulu kembali dari toilet. Dan memakannya bersamaan.
" Makasih ya, Kak Eric. Udah ngajak jalan aku hari ini. " Ucap Nisha yang kini sudah berdiri didepan teras rumahnya bersama Eric.
" Iya. Gw juga mkasih lo udah mau nemenin gw jalan hari ini." Timpal Eric.
" Oohh..iya. Aku boleh pinjam kamar mandi bentar?"
" Huhh.." Nisha terkejut, Eric kenapa jadi sering kekamar mandi sejak tadi.
" Tentu boleh " Nisha pun mengajak Eric kedalam rumah dan menunjukkan posisi kamar mandi.
Setelah selesai dari kamar mandi, Nisha dan Eric pun berjalan keluar. Eric menuju mobilnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
" Ini untuk lo" Eric menyodorkan sebuah boneka beruang sebesar bayi berwarna pink dan sekotak coklat yang dibalut pita merah.
" Untuk apa?" Tanya Nisha yang heran tiba tiba Eřic memberikannya itu semua.
Eric mengulurkan tangan didepan Nisha. Sebelumnya Nisha mengerutkan dahi melihatnya, Tak lama membalas dengan uluran tangannya. Saat berjabat tangan, tiba tiba Eric membungkuk dan mencium punggung tangan Nisha. Nisha membulatkan matanya dan tiba tiba jantungnya berdegup kencang saat punggung tangannya menyentuh bibir Eric lembut dan lama.
Eric pun melepaskan cuiman itu dan tangan Nisha perlahan. Lalu berjalan meninggalkan Nisha yang masih mematung melihatnya pergi menjauh. Nisha pun kembali masuk kedalam rumah dengan membawa boneka dan coklat pemberian Eric. Saat menaiki tangga, Ibu berteriak memanggilnya.
" Sha, Ini jaket temen kamu tadi?" tanya Ibu Uni memegang sebuah jaket semi levis warna hitam.
" oohh...iya bu. Itu punya Kak Eric. Mungkin tadi dilepas saat dikamar mandi!" ucap Nisha yang kini memegang jaket tersebut.
" Emang dianya udah pulang?" Nisha pun mengangguk dan kembali berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Nisha pun membagi srbagian coklat itu dengan adiknya Yuni yang sedang ada dikamarnya.
* * *
Setelah dinyatakan baik oleh dokter, Ibu Nena akhirnya bisa kembali pulang kerumah minggu sore ditemani ketiga anaknya, Malik, Adest dan Ardi serta menantunya Mulia.
" Kuliah kamu gimana Ar, disana?" Tanya Ibu saat didalam mobil menuju perjalanan pulang.
" Ardi izin seminggu Bu? Masih ada waktu dua hari lagi untuk nemenin Ibu sebelum balik kejakarta. " Ucap Ardi yang melingkarkan tangannya ketangan Ibunya dan menyenderkan kepalanya dipundak Ibunya.
" Gak ganggu kuliah kamu emangnya?" Tanya Ibu sedikit khawatir dengan kuliah anak bungsunya itu sambik mengelus kepala Ardi.
" Gak kok bu! Tenang aja. " Ucapnya masih asik bermain benda pipih ditangannya.
Ketiga kakaknya hanya memandang penuh senyum pada Ibu dan anak manja itu. Ardi memang sedikit manja jika dekat Ibunya.
" Tenang aja Bu, Anakmu itu kan pinter. Gak usah khawatir soal kuliahnya. Sekarang aja, udah bisa ngelola bengkel dia sendiri, nilai kuliahnya juga masih yang terbaik dikampus " ucap Adesty menjelaskan kondisi Ardi.
" Baguslah " mengusap kepala Ardi perlahan.
__ADS_1
* * *
Masih dikediaman keluarga Malik Bramantio. Pagi ini Mulia sibuk menyiapkan sarapan pagi didapur dibantu seorang asisten rumah tangga. Tiba tiba Adesty muncul dengan wajah sedikit muram sambil menuang air kedalam gelas dan langsung meminumnya.
Mulia mengerutkan dahi melihatnya.
" kamu kenapa Ďes? Kok kayak tegang begitu? "
" Aku punya firasat gak enak Teh?" ucap Adesty yang kini duduk di kursi meja dapur.
" Tolong lanjutin ini Bi " Ucap Mulia pada asisten RT nya dan mencuci tangannya. Lalu berjalan mendekati Adesty.
" Firasat apaan?" Duduk menghadap Adesty disampingnya
" Ardi mana Teh? Apa masih tidur?"
" Dia udah bangun dari subuh tadi terus katanya janjian lari pagi sama temen temennya yang lama gak ketemu. " Adesty masih terdiam dalam lamunannya
" Apa itu ada hubungannya dengan Ardi?" Tanya Mulia penasaran
" Bukan Ardi, Tapi Ceweknya. Nisha!" Ucapnya ragu. Mulia semakin heran atas ucapan Adesty. Kenapa Adesty jadi tertuju pada cewek yang berstatus pacar Ardi itu.
" Ardi harus kembali ke Jakarta hari ini Teh!" Ucapnya menatap Mulia.
Sebenarnya apa yang membuat Adesty jadi menyuruh Ardi untuk kembali ke Jakarta?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
**Jangan lupa untuk 🖒, VOTE dan 🌟rate
❤nya juga boleh untuk up selanjutnya
Komen berupa Kritik dan saran juga diharapkan jika readers berkenan.
Terima kasih sudah membaca🤗😘
Mohon dukungannya😊**
__ADS_1