Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 64


__ADS_3

Jangan jadikan aku alasan kesedihanmu,


Jadikan aku alasan bahagiamu.


Jangan datang karena aku melihatmu terluka,


Tapi datanglah selalu agar luka tak


Pernah mengambil kesempatan untuk


Menghampiriku.


* * * * *


Bruummm bruuummm


Ardi memarkirkan motornya dihalaman rumah Nisha.


" Mana coklat buat aku? " ucapnya menadahkan telapak tangannya saat berdiri disamping Ardi yang masih duduk dimotor. Ardi hanya tersenyum manis melihat wajah Nisha yang tak sabar itu. Lalu turun dari motor dan membuka bagasi motornya. Mengambil sebuah kantong kresek dari sana dan memberikannya ditelapak tangan Nisha.


" Nih!! Bagi buat Yuni juga ya. " Nisha menajamkan pandangannya


" perasaan bukan Valentine deh! Kenapa ngasihnya coklat. Banyak lagi! Sampai Yuni juga kebagian "


" Emangnya harus nunggu valentine dulu baru bisa ngasih coklat?"


" Ya gak sih! tapi kenapa milih coklat wat temen temen aku?"


" Abisnya aku bingung mau ngasih apaan? Cuma kepikiran coklat aja, kan semua cewek suka coklat. Apa kamu gak suka coklat. Atau maunya hanya coklat yang dikasih Eric aja?" Nisha membulatkan matanya mendengar pertanyaan Ardi.


kenapa dia masih inget soal coklat dari eric sih! Apa dia mau gantiin kenangan Eric juga soal coklat. hahaha. Batin Nisha sambil tersenyum.


" Aku suka coklat kok! Apapun yang Kak Ardi kasih buat aku, aku pasti suka kok!" ucapnya pasti.


" Ya udah. Aku langsung balik ya!"


" Kok gak duduk dulu ?" Ucapnya sedikit kecewa karena langsung berpisah.


" Aku harus bantuin Dono dibengkel. Dah seminggu dia buka bengkel sendirian!" Ucap Ardi


" Kalau sibuk, kenapa harus jemput sih? Mending aku pulang sendiri aja." Ucapnya merunduk memendam kecewanya. Padahal dia masih ingin bersama meluapkan rasa rindunya.


" Dengerin aku dulu " Menyentuh satu pipi Nisha dan mengangkat wajahnya agar dapat menatapnya. " Mulai sekarang, aku bakal jemput kamu pulang sekolah tiap hari kalau aku masih sempet ninggalin pekerjaan aku."


" Jemput tiap hari " Ucapnya memiringkan kepalanya. Dan Ardi pun mengangguk. Nisha akhirnya tersenyum pula.


" Kalau nanti aku gak bisa jemput pasti aku kabarin. Tapi selagi aku mampu, aku bakal jemput kamu tiap hari. Tapi aku gak bisa lama abis jemput, Kaya sekarang. Dan harus langsung balik lagi. Gak papa kan?" Nisha pun mengangguk setuju dan tak masalah. Setidaknya dia masih bisa bertemu setiap hari walau sebentar saja.


" Ya udah. Aku pulang dulu " Ardi pun mencium kening Nisha. Dan berlalu pergi dengan motornya. Nisha pun berjalan kedepab pintu rumahnya, mengambil kunci rumahnya disimpan dipot tanaman disamping sofa teras. Lalu masuk kedalam dengan wajah senangnya karena coklat yang dia dapat dan karena akan mendapat jemputan tiap hari oleh Pacarnya. Wajahnya sampai bersemu merah saat akan menantikan saat saat nanti esok akan dijemput lagi.


Heeii...kenapa dia jadi mau jemput gw tiap hari ya? Aauu ahhkk!!!


* * *


Setelah menelpon Eric, dan mendapat penjelasan yang sebenarnya terjadi bahwa semua rencananya berantakan karena teman Ardi yang menolong, si Hedi dan Nana. Imel akhirnya sekarang tau. Tapi kenapa bisa barengan dengan Ardi yang balik dari Bandung juga. Apa hanya kebetulan saja? Atau memang mereka sudah punya feel bersamaan?


" Udah Kak Imel. Gak usah mikirin Ardi lagi. Dia kan udah sama temen kakak itu. Siapa namanya ya! Ehhhmmm..." Ucap Dewi sambil mengigat nama Nisha, pada Imel yang sedang melamun duduk bersandar dipunggung kasur setelah menelpon Eric tadi.


" Tau lah namanya mah! Emang udah bukan jodoh kak Imel. Lagian juga Papa gak bakal dukung kalau emang kakak masih sama Kak Ardi" Imel menatap Dewi yang duduk diujung pinggir kasur,


" Salah Kak Imel juga dulu gak nganggap Kak Ardi. Sekarang udah kejadian kaya gini baru nyesel ninggalin dia "


" Gw bukannya nyesel ninggalin dia. Gw cuma gak rela dia sama temen sekelas gw!" Ucapnya dengan penuh penekanan.

__ADS_1


" Sa ma a jah..." Dewi bangun dari duduknya. " udahlah, kan sekarang kan ada Kak Eric yang emang udah bener bener dpilih papa. Kayak gak ada cowok lain aja wat dipikirin!" Dewi keluar dari kamar kakaknya itu.


" Dasar adik nyebelin!!" umpatnya lirih. Tapi memang benar yang diucapkan Dewi. Sekarang kan sudah ada Eric yang dengan jelas orang tuanya yang pilih. Walau hubungannya belum serius. Setidaknya dia tetap bisa berteman baik dengan Nisha walau ada sedikit rasa tidak terima akan hubungannya dengan Ardi. Tapi Nisha teman sekelasnya selama disekolah 3 tahun ini.


Huuuhhhhffff....Imel menghembuskan napasnya dengan kasar. " Semoga kalian langgeng deh! Gw gak ikut campur lagi sekarang !" Ucapnya dalam hati saat melihat photonya bersama teman sekelas lainnya dan menatap Nisha disana.


* * *


Setelah selesai menyiapkan makan malam dan sholat magrib, Nisha keluar kamarnya dan menuju kamar Yuni yang tepat didepan kamarnya.


Ckleekkk


Yuni yang sedang membuka mukenanya terkejut saat melihat Nisha masuk tiba tiba.


" Kakak...kalau masuk ketok dulu napa! Bikin kaget aja!" Ucapnya yang mendekap dadanya dengan satu tangan


" Eehh..iya lupa! Maaf!" sambil nyengir kuda.


" Nih! " Ucapnya sambil duduk ditepi kasur dan meletakkan dua buah coklat disampingnya.


" Apa tuh! " Langsung meraihnya " Waahh... Tobl***nt sama C***ury. Dari siapa kak! " ucapnya dengan penuh senyum bahagia diwajahnya saat kedua coklat itu ada ditangannya.


" Dari Ardi " Jawabnya singkat " Bilangin, makasih banyak! Sering sering ya ngasih kaya beginian!" duduk disamping Nisha


" Maunya lo! " mendorong tubuh Yuni


" Kan biar gw doain langgeng dan jadi kakak ipar gw nanti. Tapi harus sering sering jajanin gw!" Mengangkat kedua alisnya turun naik.


" Apaan sih lo! Udah mikirin jadi kakak ipar aja. Pacaran aja baru seumur jagung!" ucap Nisha yang langsung berdiri dan beranjak keluar kamar. " Semoga jodoh dah!" Ucapnya sedikit teriak.


" Aauuu aahhkk!" Jawab Nisha mengabaikan ucapan Yuni menutup pintu kamar, tapi tetep saja membuat pipinya sedikit merah. Mungkin kah dia dan Ardi akan berjodoh nanti?


* * *


" Oh iya...Teh Adesty kan udah balik lagi keJakarta." Ucap Ardi saat dijalan setelah menjemput Nisha.


" Terus..." Ucapnya singkat sambil memeluk erat Ardi dari jok belakang motor.


" Teteh nyuruh kamu main besok malam minggu "


" Ya udah. Terus!" Ardi mengerutkan dahinya mendengar Nisha mengucap kata térus terus!


" Yaaa...udah!" Ucap Ardi singkat


" Yaa udah! Terus" ucapnya lagi


" Kok terus lagi sih! " ucap Ardi kesal


" Ya emang terus mau apa lagi? " ucapnya lembut


" Ya ngomongnya tuh seharusnya ' Oohh...ya udah'. Gitu kek!!" Jelas Ardi


" Oohhh.. yaa udah! " ucap Nisha " Githu "


Ardi hanya menggelengkan kepalanya terdiam, tak mau lagi berbicara dan semakin akan berdebat dengan Nisha yang kini senyum senyum dibelakang menatap jalanan disamping.


" Oohh...iya kak!" Lanjut Nisha mengajak bicara lagi " Apaa?"


" Kak Ar udah kuliah lagi kan? izinnya dah abis kan?"


" Iyaa...emang kenapa?" Nisha terdiam sejenak. Seperti ragu untuk bertanya. Ardi mengerutkan dahinya tak mendengar suara Nisha lagi. " Sha ?" Panggil Ardi


" Hhmmm...Kak Ardi...udah ketemu Kak Eric?" ucap Nisha perlahan takut salah bicara.

__ADS_1


" Kenapa emangnya kamu nanyain dia?" Ucapnya sedikit kesal mendengar nama Eric.


" Kangen kamu sama dia? makanya nanya ke aku?" Ucapnya penuh amarah seperti cemburu.


" Gak kok!" Jawab Nisha tegas " Gak Sudi! cuma nanya aja!" Ucapnya lirih


" Kirain! Udah...aku udah ketemu dia kemarin." Jawab Ardi ketus


Apa kak Ardi berkelahi dengan dia atau gak ya?


" Aku gak apa pain dia kok!"


" Eehh... kenapa dia tau pikiran aku sih!" Ucap Nisha dihatinya.


" Kamu mau apa pain juga aku gak peduli" Ucap Nisha lembut


" oohh baguslah kalau gitu! Kalau aku bikin masuk rumah sakit juga gak papa kan?" Tanya Ardi


" Ya jangan juga kak!"


" Kenapa?"


" Nanti kalau kamu dilaporin polisi karna kekerasan gimana? nanti masuk kantor polisi lagi !" Ardi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya


" Ya laporin balik, Kalau dia udah ngelecehin kamu! Atau kita kekantor polisi sekarang biar dia sekalian dipenjara. Dihajar kayaknya kurang deh buat pelajaran dia!" Ucap Ardi semangat


" Gak! gak mau!" Tolak Nisha. " Cukup kamu hajar dia aja, gak usah bawa bawa polisi. Serem juga ahhk! Nanti Ibu sama papa jadi tau!" Ucapnya lemah merunduk.


" Tenang aja Sha! Dia gak bakal berani deketin kamu atau berhubungan dengan kita lagi!"


Nisha pun mengangguk percaya akan ucapan Ardi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


**JANGAN LUPA VOTE ya, Like dan komennya ❤nya juga untuk up selanjutnya


Terima kasih sudah membaca🤗

__ADS_1


Mohon dukungannya🤗😘**


__ADS_2