
Karena orang yang setia
Tidak akan pergi dengan orang ketiga.
* * * * *
Seperti biasanya, rutinitas setiap hari minggu yang dilakukan Nisha, Yuni bersama kedua orang tuanya.
Pagi pagi jam enam, mereka berempat sudah pergi bersama menggunakan motor menuju taman monuman pancasila untuk mengikuti kegiatan senam pagi disana, juga berburu kuliner sarapan pagi. Papa dan Ibu satu motor serta Nisha yang kini telah bisa mengendarai motor matik berboncengan dengan Yuni.
Papa Sakti dan Yuni lebih memilih bersepedah bersama mengelilingi taman monuman pancasila yang telah disewannya. Sedangkan Nisha dan Ibu mengikuti senam pagi bersama ibu ibu yang ada disana.
Walau pun Nisha yang baru tidur beberapa jam saja karena menghabiskan malam minggunya dimonas bersama Ardi dan dua sahabatnya, ditambah lagi kejadian tak terduga karena motor Gilang dan Dian kendarai mengalami mogok ditengah perjalanan pulang mereka. Apalagi Ardi yang tidak membawa peralatan mekaniknya dibagasi motor, mengharuskan mereka harus mendorong motor Gilang yang memang sudah berumur itu. Tidak mungkin bukan Nisha dan Eva meninggalkan Dian bersama Gilang dengan keadaan motor mereka yang mogok. Akhirnga Ardi harus menggunakan metode stut untuk mendorong motor Gilang agar mereka lebih cepat sampai rumah.
Stut itu metode mendorong motor mogok dengan kaki. Ardi yang mengendarai motornya dengan posisi kakinya yang mendorong bagian belakang motor Gilang. Dan itu pun bergantian dengan Rizal yang juga ikut mendorong.
Apalagi setelah sampai rumah Gilang, Ardi dan Rizal membantu untuk membetulkan motor Gilang terlebih dahulu. Sehingga Ardi harus mengantar Nisha pulang sudah lewat tengah malam.
Tapi Nisha harus terpaksa bangun pagi pagi untuk tetap ikut keluarganya senam pagi ini. Walau sedikit ngantuk, Nisha tetap semangat dalam mengikuti gerakan senam yang dilakukan instruktur senam diatas sebuah panggung kecil dengab diiringi musik dangdut modern. Satu setengah jam Nisha senam, akhirnya selwsai juga.
Nisha dan Ibu Uni segera Menyusul papa Sakti dan Yuni yang sedang makan bubur tak jauh dari tempat senam.
Setelah sarapan mereka kembali kerumah dan melanjutkan kegiatan beres beres rumah. Dan membagi tugas masing. Ibu Uni kebagian tugas untuk masak dan menyapu. Yuni kebagian tugas untuk menggosok pakaian yang ada, Nisha kegaian tugas untuk mencuci pakaian dan mengepel. Sedangkan papa bertugas untuk mencuci kedua motor.
Sampai akhirnya Nisha pun tumbang saat menyelesaikan tugasnya diatas kasur. Dia sudah kuat menahan matanya yang terasa sangat berat untuk terbuka.
" kakak mu mana Yun? " tanya Ibu pada Yuni yang masih melakukan tugasnya yang belum selesai diruang santai lantai dua.
" kayaknya dikamar Bu " jawab Yuni.
Ibu Uni pun membuka pintu kamar Nisha, dan dilihatnya Nisha sudah tertidur tengkurap diatas kasurnya. Lalu Ibu pun menutup kembali pintu kamar Nisha.
" emang Kak Nisha semalem pulang jam berapa bu? " tanya Yuni, yang kini membereskan perlatan gosoknya.
" kalau gak salah sih hampir jam satuan. Pasti tu anak masih ngantuk berat. Malah belom mandi lagi udah tidur aja dia! " ujar Ibu seraya menuruni anak tangga.
Drrrrtttttt Drrrttttttt
Acara tidur Nisha yang awalnya berjalan tenang, harus terganggu oleh getaran serta bunyi ponsel yang ada tak jauh dari kepalanya yang bersandar disebuah bantal. Badannya mengeliat perlahan dan memutar posisi kepalanya berkali kali. Mencari sumber suara yang menganggunya walau matanya masih tertutup rapat. Sedikit sedikit matanya dipaksa untuk terbuka, melirik mencari dimana letak ponselnya, saat samar samar dia mendapat wujud ponselnya, Nisha meraih benda pipih persegi itu lalu memutar posisi badannya menjadi miring. Dia tak dapat melihat jelas nama yang terpampang dilayar ponselnya itu dengan mata yang hanya sedikit terbukanya, tapi langsung saja dia menggeser tombol hijau dilayar ponselnya. Lalu mengapit ponsel itu ditelinganya yang diatas bantal.
" hallo " ucap Nisha dengan suara serak tidurnya.
__ADS_1
" sayang...kamu masih tidur? "
" kak Ardi ya? Iyaa baru banget tidur ini kak " ujarnya masih dengan mata terpejam dan posisi memeluk gulingnya.
" emang bangun jam berapa? Kok jam segini tidur lagi? " tanya Ardi yang menelpon diujung sana.
" hhmmm...jam lima. Pas subuh. Terus ikut papa sama Ibu dan Yuni senam di taman Monumen pancasila. Balik dari sana nyuci banyak banget, ini baru lanjut tidur. Masih ngantuk banget! " tutur Nisha lirih masih dengan suara khas dari tidurnya.
" terus kamu gak jadi ikut aku ini? " tanya Ardi. " kemana? " tanya balik Nisha.
Ardi menghela napas perlahan, ternyata dia lupa akan ajakan Ardi semalam saat mengantarnya pulang.
" aku mau ajak kamu, ketemu sama temen lama aku waktu diBandung. Kan semalam udah aku kasih tau kamu. Kata kamu, kamu mau ikut! " ujar Ardi menjelaskan.
" oohh...iya ya. Aku lupa kak! Ini jam berapa ya? "
" jam sebelas "
Belum sempat membuka matanya untuk melihat jam, Ardi sudah memberitahukan jam berap saat itu.
" kalau kamu mau ikut, setegah jam lagi aku jemput. Tapi kalau masih mau tidur, aku berangkat sendiri aja. " ucap Ardi
" ikuut! Aku ikut. Ya udah, aku mandi dulu. Aku tunggu dirumah. " Ucapnya seraya bangkit dari tidurnya dan terduduk diatas kasur.
" bye "
Nisha pun bergegas kekamar mandi membersihkan dirinya dan memilih baju yang akan dipakainya saat ini. Padahal baru saja dia memejamkan matanya dan terbawa alam bawah sadarnya, satu jam yang lalu. Kini harus membuka matanya lagi dan bersiap pergi.
Nisha baru ingat bahwa semalam Ardi mengajaknya untuk bertemu teman masa SMA nya di Bandung siang ini, dan yang jelas temannya itu ada yang cewek.
Nisha pun sempat bertanya, apakah temannya itu salah satu mantan Ardi dulu seperti Maya, dan Arfi memjawabnya,
" hampir pacaran, tapi gak jadi, aku lebih milih Maya saat itu."
Begitulah jawabnya.
Nisha memang selalu saja mempunyai rasa tak percaya diri jika harus berhadapan dengan cewek cewek yang pernah dekat dengan Ardi. Dia merasa banyak kekurangan dalam dirinya untuk mendapatkan hati Ardi dan bersaing dengan mereka yang mungkin ada sebagian dari mereka masih ingin mendapat Ardi. Seperti saat dia dulu bersama dengan Imel yang secara tak langsung juga menginginkan Ardi.
Kali ini pun, Nisha ingin melihat cewek yang sekarang ingin bertemu Ardi itu seperti apa? Apa sama seperti Maya, dan Nana yang dia tahu juga menaruh hati pada Ardi dulu.
Nisha memeilih dress sedikit diatas lutut berwarna putih dengan lengan diatas sikut dan kerah menutupi leher dengan aksen tali hitam. Dengan rambut tergerai jatuh diatas bahu dan satu sisinya memakai beberapa jepit rambut dibelakang kuping. Sedikit polesan pelembab serta eyeliner dan lipstik warna pink tipis dibibir mungilnya.
__ADS_1
" kamu mau kemana Sha? Kok udah rapi begitu? " tanya Ibu yang tadinya berniat membangunkan Nisha. Tapi ternyata anak gadisnya itu telah bangun bahkan sudah terlihat cantik.
" mau keluar sama kak Ardi, Bu " jawabnya menampakan senyum melebarnya.
" oohh...tuh mungkin dia udah sampai kayaknya " ucap Ibu Uni saat terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah. Nisha pun mengangguk pelan.
" ya udah Ibu turun dulu " meningglkan Nisha yng masih didepan cermin. Entah apa yang masih kurng dalam penampilannya itu.
" ehh...kamu gak makan siang dirumah jadinya? " tanya Ibu yang tiba tiba masuk lagi kekamar Nisha.
" gak Bu. Nisha makan diluar sama Kak Ardi dan temen temennya nanti. " saut Nisha sambil mengerjapkan matanya berkali kali. Ibu hanya manggut manggut berlalu keluar dan turun tangga.
Nisha pun turun setelah dirasa sudah merapikan penampilannya. Menemui Ardi yang kini sudah duduk disofa teras depan rumah.
" hai " ucap Nisha singkat menyapa Ardi.
Ardi yang sedang memainkan ponselnya pun menerjap saat Nisha datang tiba tiba, atau memang dia sedang melamun ya? Entahlah. Matanya menatap Nisha yang berdiri didepannya dari bawah sampai atas. Cantik. Satu kata yang terucap dalan hatinya saat tersikap penampilan Nisha itu.
" kok kamu cantik banget sih! " Nisha malah menyautkan alisnya melihat wajah Ardi yang kini berdiri berhadapan dengannya.
" bilang cantik kok, wajah kamu gitu! Kayak gak suka? "
Karena wajah Ardi yang terlihat seperti ditekut dan mengkerut semua.
" ya kamu dandan cantik begini, biar banyak yang ngelirik kamu gitu? "
Nisha menaikan kedua alisnya bingung akan ucapan Ardi, memiringkan kepalanya.
" kok! Terus aku harus dandan gimana? Pake celana jeans aja gitu! Aku ganti deh? " mulai membalikkan badannya tapi ditahan oleh tangan Ardi yang lebih cepat meraih kedua pundak Nisha.
" gak usah! Kelamaan nunggu kamu ganti baju lagi " ujar Ardi
" ya tadi kamu bilang begitu apa coba maksudnya? Aku gak ada niat biar dilirik cowok lain kok! Aku cuma mau diliat cntik depan kamu doang! Lagian kan jarang jug aku dandan kayak gini "
" maaf sayang! Aku seneng kamu cantik kyak gini. Aku cuma gak suka aja nanti ada cowok yang liat kamu lagi cntik gini. Lagi biasa aja ada yang suka, apalagi cantik begini! " ucapnya dengan nada lirih.
Nisha mengehembuskan napasnya perlahan. Cemburuan lagi! Serba salah deh!
" ya udah. Ayo kita jalan. Janjian tempatnya sama temen aku lumayan jauh dari sini. " ajak Ardi. Nisha pun mengangguk. Lalu mereka pun berpamitan pada papa dan ibu yang ada didalam rumah.
" kakak pake mobil? "
__ADS_1
" ya iyalah. Kamu udah cantik begini, masa pake motor. Ntar yang ada sampai sana, dandanan kamu udah acak kadul lagi! " ucapnya sambil tersenyum berjalan menuju mobil yang terparkir didepan rumah Nisha.