Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
PMT2-17 MENJAGA HATI


__ADS_3

Perempuan...


kau pasti tau sakitnya cinta tak terkatakan.


Cinta yang hanya mampu


Didekap dalam bungkam. Kata orang


Bahkan diam itu berbicara.


* * * * *


Nisha memberekan meja kerja sesaat setelah melihat jam didinding ruangan yang sudah menunjukkan pukul 5 sore. Setelah berpamitan dengan staf lainnya yang masih ada didalam ruangan tata usaha, Nisha berjalan keluar.


Song Anji_ menunggumu


Nisha membuka tasnya dan mencari benda pipih persegi miliknya. Wajahnya tersenyum saat melihat nama panggilan dilayar benda pipihnya.


" Assalamualaikum "


" walaikumsalam, udah pulang? "


" udah. Ini baru keluar dari ruangan " jawab Nisha yang berjalan santai dilorong kampusnya yang kini sudah terlihat agak sepi oleh penghuni.


" maaf ya, gak jemput kamu lagi " ucap Ardi


" iyaaa. Kak Ardi masih dikantor? " tanya Nisha


" iya, masih. Ya udah. Hati hati dijalannya ya. Nanti malam aku telpon lagi "


" iya. Aku tunggu "


Nisha memandangi layar ponsel setelah sambungan telpon dengan Ardi terputus. Senyumnya mengembang saat melihat yang terpampang dilayar ponselnya berupa fotonya dengan Ardi berdua saat di Bandung.


" hai "


Nisha terperanjat akan suara dibelakangnya dengan berbarengan tepukan pelan dipundaknya. Langkah kakinya berpindah mundur kesamping badannya dan tersandung sesuatu membuat badannya terhuyung tak seimbang.


Happ


Bukannya jatuh kelantai berubin marmer putih, sebuah tangan telah menangkap pinggang Nisha dan satu lagi menggenggam erat pergelangan satu tangan Nisha. Mata Nisha yang tadinya terpejam, merasakan ada yang menyentuhnya, dia membuka matanya perlahan. Dan matanya tertuju pada wajah yang selama ini selalu hadir dalam mimpinya. Untuk beberapa lama mereka saling bertatapan dalam posisi yang sudah berdiri berdekatan, apalagi tangan itu masih melingkar dipinggang Nisha.


" Iyan "


" lo gak kenap napa Sha? "


Nisha pun tersadar akan lamunannya setelah mendengar suara itu. Reflek Nisha memukul dada cowok itu keras dengan wajah sedikit kesal.


" aaawww....lo kok mukul gw sih! " ucap Septian sambil mengelus dadanya yang tadi mendapatkan pukulan tangan Nisha. Dan itu lmayan sakit!


" lo ngagetin gw! Rese banget. Ketauan gw itu kagetan. " jelas Nisha dengan suara agak keras.


" hehe...maaf. gw gak tau lo kagetan kayak tadi. " ucap Iyan menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan senyuman malu. Tangannya pun sudah membebaskan tubuh Nisha yang kini berdiri didepannya.

__ADS_1


" lain kali tuh panggil dulu! Jangan langsung main kagetin kayak gitu. Lo tuh sama aja kayak Arya. Seneng banget bikin gw kanget! " tutur Nisha sambil melanjutkan langkahnya keluar dari gedung kampus. Iyan hanya menundukkan sambil tersenyum masam menanggapi ucapan Nisha itu. Dia benar benar tak tau jika Nisha akan bereaksi terkejut seperti itu. Iyan sedikit merasa tak enak dihatinya. Padahal dia hanya ingin memberi kejutan saat ini dengan kehadirannya. Tapi malah seperti ini, apakah Nisha marah padanya.


" maaf ya. Lain kali gak gw ulangin lagi dah " ucap Iyan penuh keseriusan.


Nisha berhenti melangkah dan menoleh kebelakang melihat Iyan yang masih berdiri ditempat semula. Tapi tiba tiba Nisha mengerutkan keningnya, sadar akan keberadaan Iyan yang kini berjalan kembali kearahnya.


" eehh...kok lo ada disini? Mau ngapain lagi dikampus? Kan jam kuliah lo dah selesai dari siang? " tanya Nisha heran memiringkan kepalanya.


" oohh... itu " Iyan sedikit gelapan atas semua pertanyaan Nisha itu. Alasan apa yang akan dia berikan. Tidak mungkin dia berkata jujur jika sengaja datang kesini menjemputnya dan melakukan pendekatan.


" tadi gw janjian didepan kampus sama temen gw. Ehh gak tau kenapa dia batalin. Gw inget lo belum balik pulang. Jadi gw nyari lo, syukurnya gw liat lo pas keluar ruangan tata usaha. Jadi gw kejar lo "


" dan dengan cara lo ngagetin gw " sambung Nisha memotong ucapan Iyan yang belum selesai dengan cepat. Nisha memang agak kesal jika ada yang mengagetkan dia secara tiba tiba. Walau kesalnya hanya sesat saja.


Iyan hanya tersenyum merasa bersalah.


" lo mau pulang? " Nisha hanya mengangguk atas pertanyaan Iyan itu. " kemana? "


" ke ya kerumah lah iyan " jawab Nisha.


" ya gw juga tau kerumah. Maksud gw dimana daerah rumah lo? " sambung Iyan.


" di daerah PG " jawab Nisha singkat.


" sebagai ucapan maaf karena udh bikin lo kaget. Gw anterin lo pulang ya? " ujar Iyan.


Nisha menghentikan langkahnya yang kini mereka sudah didepan pintu kampus. Menoleh kearah Iyan disampingnya. Sedikit menggigit bibir bawahnya. Nisha merasa sedikit gugup saat ini. Sejak tadi jantungnya terus saja berdegup kencang berdekat dengan Iyan. Dan sejak tadi juga Nisha berusaha mengontrolnya pula. Tak menyangka bisa dekat lagi dengan cinta pertamannya.


" gak ngerepotin emangnya? Kalau lo masih ada urusan lain, mending gak usah. Gw masih bisa pulang sendiri kok! " ucap Nisha berusaha menolak. Walau sebenarnya jika dia sangat ingin itu.


Nisha menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan. Lalu mengangguk kepala dan memberi senyuman kecil.


Setelah itu pun, Iyan segera mengajak Nisha keparkiran motor dikampus untuk mengambik motornya disana.


Sebelum mengantar Nisha pulang, Iyan pun mengajak Nisha untuk makan dahulu. Beruntungnya Nisha menerima ajakkannya. Sambil makan dengan ditemani obrolan kisah hidup masing masing selama 4 tahun ini. Dan dari sinilah Nisha tau semuanya.


Saat sampai didepan rumhnya, Iyan langsung kembali beranjak pulang. Iyan bersyukur kini telh mengetahui tempat tinggal Nisha.


Nisha membanting tubuhnya diatas kasur kebesarannya setelah membersihkan diri. Matanya memandang langit langit kamarnya.


" pantas saja, setelah lulus SMP dulu, tidak ada yang tau dia. Sampe gw tanya temen yang tinggal deket rumahnya aja dia gak tau. Ternyata dia tinggal diJogja toh!! " Nisha menghembusnya napanya kasar. " dan baru datang ke Jakarta lagi sekarang "


Nisha tersenyum kembali saat banyangan Iyan mampir kembali di benaknya. Bayangan masa masa sekolah dulu, dan saat tadi makan bersama. Tapi lamunan itu buyar saat ponselnya yang ada diatas nakas berbunyi keras. Nisha sudah tau siapa yang saat itu menelponnya. Dan membuat senyumnya semakin tinggi dan merekah.


Ardi sayang 😍😍


* * *


Disebuah rumah megah dengan desain baguann klasik. Rumah yang juga dikelilingi jejeran sawah dibelakang dan salah satu sisi kiri bagunan. Rumah yang sungguh asri dengan berbagai pohon dihalaman yang luas dan ditengah tengah kampung.


Diruang makan yang cukup luas dengan meja panjang dan jumlah kursi yang menampung 10 orang.


Makan malam kali ini, sungguh sangat hangat dengan keluarga yang begitu harmonis antara orang tua satu satunya, menantu, anak dan juga beberapa cucu. Hanya satu anak yang tidak hadir saat itu. Anak bungsu laki laki keluarga Bramantio.

__ADS_1


" ibu mau makan apa? " tanya Adesty pada Ibu yang duduk disampingnya. Ibu pun menunjuk makanan apa saja yang diinginkannya. Setelah itu, mereka pun makan dengan penuh kehangatan.


" Bu, ada yang kita mau bicarakan. Ini soal Ardi. " Malik mulai angkat bicara saat semua telah menyelasikan makannya.


Masih dimeja makan yang ada Ibu Nena, Malik si anak sulung dengan istrinya, Mulia dan Adesty serta suaminya Martin.


" soal Ardi? Ada apa memangnya? Apa ada masalah sama kerjaannya dengan Kurniawan? " ucap Nena dengan sedikit kecemasan dan giratan kecil didahinya.


" bukan Bu. " ucap Adesty dengan menyentuh punggung tangan ibunya.


" kerjaa Ardi dan paman semua berjalan sangat lancar, bahkan Ardi semakin memajukan perusahan diJakarta." Sambung Martin.


" lalu? " tanya Nena.


" Ibu, kita akan ke Jakarta nanti " jelas Malik,


" Ibu bakal punya menantu lagi " sambung Mulia dengan penuh senyuman.


" maksud kalian? Ardi mau menikah, begitu? " tanya Nena sedikit terhentak.


" Iyaa " jawab Malik dengan anggukan yang lainnya. Nena menoleh pada Adesty yang ada disampingnya dengan penuh selidik.


" iyaa Bu. Ardi sudah berbicara dengan Adesty dan A Malik, dia mau ngelamar Nisha, cewek yang jadi pacarnya selama ini. Dia sih mintanya tunangan dulu." Jelas Adesty.


" pacarnya masih yang dulu Des? " tanya Nena memastikan


" iya Bu. Masih sama kayak yang dulu " jawab Adesty singkat.


" kamu liat gak ada masalah? "


" Adesty liat sih gak ada masalah serius selama ini. Lagi pula mereka sudah cukup lama berhubungan. Tak ada salahnya jika mereka bertunangan dulu. Dan pula Nishanya masih harus kuliah juga. " tutur Adesty.


" yaa, soal pernikahan mereka nanti kita bicarakan lagi sesuai keinginan mereka kapan maunya. Ardi hanya ingin mengikat Nisha dulu saja. " sambung Martin. Malik dan Mulia hanya mengangguk saja atas penuturan merke.


" ya sudah kalau begitu " ucap Nena penuh senyum.


" kapan kita keJakarta? "


.


.


.


.


.


.


waaahhh....dah mau nikah nih???


beluummm....cuma mau tunangan.🤗🤗😘😘

__ADS_1


**JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN KOMEN YAA


🤗🤗😘😘😘**


__ADS_2