
Beruntung hari ini pekerjaan Nisha di tata usaha kampus tidak begitu banyak seperti kemarin kemarin. Pagi sampai siang sabtu ini, Nisha agak bersantai.
Tangan lentik Nisha masih bermain dituts keyboard komputer dihadapannya. Bukan sedang bekerja, melainkan bermain game untuk mengisi waktu luangnya yang hanya 30 menit lagi menuju jam 12 siang. Menunggu waktu untuk menyudahi waktu kerjanya, karena waktu kerja hanya setengah hari.
Nisha pun mengakhiri permainannya. Sejenak berpikir, hari ini terlalu membosankan. Apalagi otaknya yang selalu tertuju pada apa yang nanti malam akan dia lewati. Otaknya seperti butuh hiburan hari ini sebelum bertemu malam hari.
Nisha segera meraih ponselnya yang tak jauh dari komputer. Membuka kontak nomor teman temannya di aplikasi chat. Jari jari kecilnya lincah mengirim pesan kesalah satu teman kampusnya.
π€ Bar, gi pain? Sibuk gak?
Pesan pun dikirim ke Ambar sebagai pilihan orang yang diajak untuk refresing otaknya. Tak lama bunyi balas pesanpun terdengar.
π₯ lagi tiduran dikamar. Gak kok. Kenapa emangnya?
π€ jalan yuk. Ke mall. Gw bete nih butuh hiburan. Kkita nonton kek!!
π₯ waahhh! Boleh tuh. Gw juga bete nih gak ngapa ngapain. Arya baru ngajak jalan ntar malam. Lo dikampus atau dirumah?
π€ gw masih dikampus. Tapi kerjaannya sedikit. Jadi santai. Bentar lagi gw pulang. Lo kekampus ya sekarang. Gw tunggu dikampus biar jalan bereng kita ke mallnya. Sekalian lo ketemu Arya juga π
π₯ ya udahππ. Gw siap siap dulu trus langsung cus kesanaπ€π€ eehhh...gw ajak Ningrum juga ya?
π€ boleh . ok gw tungguπ
Nish tersenyum senang atas rencananya berhasil. Nisha masih duduk didepan meja kerjanya sambil memainkan ponselnya membuka berbagai media sosial yang dia ikuti sambil menunggu jam pulangnya.
Para staf lainnya yang ada diruangan, berbicara pada Nisha dan menyuruhnya untuk segera pulang. Karena memang sudah tidak ada pekerjaan lagi. Nisha pun segera memberaskan meja kerjanya dan beberapa catatan yang dimasukkan kedalan tasnya. Setelah selesai, Nisha berpamitan pada staf lainnya lalu berjalan keluar.
Nisha berjalan menuju kantin untuk menunggu Ambar disana sampai datang. Setelah membeli minuman, Nisha duduk disalah satu kursi. Masih ada sedikit aktifitas beberapa mahasiswa dikantin yang melakukan kuliah jam karyawan akhir minggu.
Beberapa menit berlalu Nisha duduk sambil memainkan ponselnya sambil berbalas chat dengan Ambar yang sedang dalam perjalanan. Juga berbalas chat dengan Septian, yang beberapa saat lalu mengirim pesan basa basi pada Nisha.
" hei. Gw cariin juga lo! Tau taunya disini " Nisha terlonjak kaget saat tepukan keras dan suara bas Arya menggema, sampai Nisha melepas ponselnya jatuh, beruntungnya diatas meja.
" kebiasaan banget lo mah, Ya!!! " teriak Nisha sambil meletakkan satu telapak tangan pada dadanya yang berdegup kencang karena kaget.
" hahahaha... gw paling seneng kalau liat muka kaget lo itu tau " seru Arya sambil mencubit dua pipi berisi Nisha.
__ADS_1
Nisha menepis kedua tangan Arya itu " sakit tau!! Kalau Ambar liat ntar dia cemburu lagi sama gw ", Nisha mengusap pelan kedua pipinya dengan raut wajah cemberut.
" Ambarnya gak ada disini juga " Nisha memicingkan matanya pada Arya.
Arya tidak tau bahwa Ambar mungkin kini sudah ada didepan gerbang kampus bersama Ningrum.
Nisha pun mengangkat bahunya acuh atas ucapan Arya itu, mengambil ponselnya kembali.
Arya pun bertanya soal pekerjaan Nisha di Tata usaha. Saat Nisha menjelaskannya Arya hanya ber oh ria saja. Berbeda dengan pekerjaan Arya yang mungkin masih belum selesai sampai nanti menjelang sore.
" Nisha "
Suara panggilan Ambar bergema ditelinga semua orang dikantin. Nisha tersenyum melihat dua gadis yang dia tunggu tiba, sedangkan Arya menyautkn alisnya melihat pacarnya itu datang kekampus saat ini.
Oh...apa dia janjian dengan Nisha? Begitu pikir Arya.
Ambar dan Ningrum menyapa Arya pula yang duduk disamping Nisha. Arya bergeser posisi duduknya agar ambar duduk disampingnya juga samping Nisha. Mereka pun menjelaskan niat mereka janjian untuk pergi jalan kepada Arya. Arya terlihat begitu perhatin pada Ambar. Memang perlakuan Arya berbeda antara Nisha yang kini dianggap sahabat dan adik kecilnya, dengan Ambar yang berstatus pacarnya.
Setelah berpamitan pada Arya, mereka bertiga pun pergi dari kampus menuju mall yang agak jauh jaraknya.
Saat sampai di mall tujuan mereka setelah 30 menit diperjalanan. Mereka berencana untuk makan siang terlebih dahulu, karena mereka memang belum makan saat menuju kesini.
" lo mah pada enak udah punya pacar. Gw jomblo ini. Irikan jadinya! Kapan ada cowo yang nembak gw ya? " keluh Ningrum menopang wajahnya dengan kedua tangannya.
" Mbar, kalau Arya tiba tiba ngajak lo nikah, lo terima gak? "
Ambar membeku mendengar pertanyaan konyol Nisha. Begitu juga Ningrum.
" hehehe...gak mungkin lah Arya ngajak gw nikah tiba tiba. Dia sama gw aja baru beberapa bulan jadian. Lagian kita masih kuliah kali " jawab Ambar lugas.
" ehh...tunggu! "
" kenapa? " tanya Ningrum pada Ambar yang tiba tiba terheran.
" jangan bilang lo dilamar sama cowok lo, Ardi? " tanya Ambar antusias. Nisha membulatkan matanya dan langsung mengembungkan kedua pipinya sembri cemberut.
Kenapa semua bisa cepat menebak arah pembicaraan yang dimaksudnya. Tadi pagi Bapak, lalu para sahabatnya Lia dan Dian yang tadi siang sempat dia hubungi dichat saat kerja, bahkan mereka mendukung Ardi sepenuhnya. Sekarang Ambar.
__ADS_1
" iya. Dia ngelamar gw. Tapi gw gak mau nikah secepet ini. Jadi dia ngajak tunangan dulu. Menurut kalian gimana? " tanya Nisha.
" aahhkkk...gw juga mau ada yang ngajak nikah muda!! " seru Ningrum dengan wajah berbinar.
" kenapa? " tanya Ningrum saat melihat wajah dua temannya yang heran.
" eehhh... ya. Kalau udah ada yang ngajak kita nikah, apalagi tuh cowok mapan dan dah cukup umur. Buat apa ditolak. Alasan kuliah kita? Kuliah kan buat nambah ilmu kita, bukan untuk menghalangi jalan untuk menikah, apalagi nikah muda. Gw kalau ada yang cowok yang kayak gitu trus ngajk gw nikah. Ayo ayo aja dah! Dari pada pacaran lama gak jelas, makin banyak bikin dosa kayak anak muda jamab sekarang. Mending nikah buat ngindarin dosa. Malah jadi pahala kita kan kalau udah nikah. Takut hamil abis nikah trus ngehambat kuliah dan masa depan kita yang masih muda. Alat kontrasepsi banyak kali..."
" Ningrum, ngomong lo pelanin napa! " seru Ambar mendengar kata kata terakhir Ningrum yang cukup ambigu baginya dan Nisha yang sedikit terkeujut juga.
" ya lagian. Apa yang mesti ditakutin untuk nikah muda. Bisa berjuang sama sama buat hidup lebih baik kedepannya sama pasangan kita. Sweet banget!! "
Betapa antusiasnya Ningrum dalam ucapannya. Karena dia memang sangat ingin nikah muda. Walau kenyataannya belum ada jodoh yng mendekat padanya.πππ
Semua perkataan Ningrum benar benar mengejutkan Nisha dan Ambar. Walau itu semua benar adanya. Rini teman Nisha pun kini malah sudah punya anak yang baru berusia bebrapa bulan.
Dan kini semakin tercerahkanlah hati Nisha. Bahkan perkataan Lia dan Dian pun tak jauh beda dari Ningrum.
Nisha pun tersenyum setelah mendengar pendapat Ningrum, yang kini malah berdebat dengan Ambar soal nikah muda.
Mungkin ini sudah jalan takdirnya. Semoga ini yang terbaik.
Setelah selesai berbincang dan makan. Mereka pun berkeliling mall, melihat baju baju wanita dan bebagai aksesoris lainnya sekalian menunggu jam tayang film bioskop yang akan mereka tonton nanti bersama.
Ponsel Nisha yang ada didalam tasnya berdering. Saat Nisha melihat nama yang terpampang dilayar ponselnya, senyum memgembang diwajah manisnya.
" siapa Sha? " tanya Ambar
" siapa lagi kalau bukan calon suaminya Bar! " seru Ningrum yang memakan cemilan ditangannya saat melihat senyum manis temannya itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC