Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
PMT2-8 MENJAGA HATI


__ADS_3

Tidak perlu jadi yang paling terang


Cukup selalu ada


Namun tidak pernah padam


* * * * *


Ardi mengantarkan Nisha pulang kerumah. Tapi setelah itu,Mereka kembali keluar bersama menuju apartemen Ardi. Dan cukup memakan waktu.


" Kak, Dian ngajak kumpul dirumah Eva. Kesana yuk! Dah lama gak kumpul sama mereka. " ajak Nisha ditengah perjalanan.


" ya udah! " jawab Ardi singkat, masih fokus pada kemudinya.


Sampainya diapartemen, Ardi langsung membersihkan diri dan mengganti bajunya. Nisha menunggu diruang tamu sambil menonton acara tv dilayar yang terpasang didinding.


Ardi datang dari sudut kamarnya yang sudah memakai kaos dan celana pendeknya. Nisha melirik Ardi yang sedang mengeringkan rambut pendeknya dengan sebuah handuk kecil di kepalanya. Wajah tampan dan manisnya telihat sangat indah dan menyegarkan dimata dan hati Nisha. Pemandangan yang sangat jarang dia dapatkan dari manapun. Dan seketika membuat wajah Nisha merona dan berdebar.


Nisha memalingkan wajahnya kembali menatap lurus ke layar televisi saat Ardi melirik kearahnya, seolah tak menyadari kedatangan Ardi yang kini menghampirinya. Nisha tersenyum menatap Ardi yang sudah mendudukkan diri disampingnya.


" kamu laper? " tanya Ardi


" hmmm..gak juga " saut Nisha agak ragu.


" nanti aja ya, sebelum kerumah Eva kita cari makan sekalian diluar " ucap Ardi menawarkan. Dan Nisha pun mengangguk tanpa suara.


Tiba tiba saja, Nisha merebahkan tubuhnya disofa dan menjatuhkan kepalanya dipaha Ardi. Ardi membelai kepala Nisha yang masih menatap layar datar televisi dihadapan mereka. Menonton salah satu acara lawakan yang membuat mereka tertawa bersama. Lalu memutar kepalanya menatap kearah wajah Ardi.


" kak "


" hhmm "


" wajah kak Ar kaya minuman botol lemi*neral " Ardi menundukkan pandangan kewajah Nisha sambil menyautkan alisnya.


" ada manis manis gitu! " ucapnya melengkungkan senyum tinggi, " apalagi abis mandi tadi " lanjutnya lagi seraya menyembunyikan wajahnya diperut Ardi.


" hhmmmhhh...kamu lagi gombal? " tanya Ardi sedikit manahan tawanya, menarik pundak Nisha agar terlihat wajahnya yang mungkin bersemu malu, tapi Nisha menggelengkan kepalanya.


" aku mau tanya sama kamu, sini bentar! " pintanya masih mencoba menarik pundak Nisha, dan Nisha pun berbalik. Ardi menarik kedua tangan Nisha yang menutupi wajah merahny. Dan saat wajah itu terlihat Nisha menggigit bibir bawahnya dan jari satu tangannya membntuk huruf V.


" peace " ucapanya sambil tersenyum manis.


" anak siapa sih kamu? Udah bisa gombal gitu ! " ujarnya menggenggam kedua tangan Nisha.


" ya anak orang tua aku lah " ucapnya pasti.


" aku ragu kamu anak orang tua kamu? " ucap Ardi membuat Nisha bangkit dari posisinya.


" kok! Aku emang anak ibu sama bapak kok. " ucapnya dengan wajah cemberut dan pipi menggembung. Ardi tertawa kecil melihat wajah Nisha.


" masa? Yakin? " Nisha mengangguk pasti, " iyalah! " jawabnya tegas


" ibu kamu manusia, papa kamu manusia, lah kamu ini apa? "


" ya aku manusia lah! Masa hantu! " seru Nisha lantang.


" tapi aku liat kamu bukan manusia deh! " ujar Ardi yang tak melepas senyumnya.


" terus apa dong? " tanya Nisha mengerutkan kening.


" aku liat kamu tuh kaya bidadari dari langit yang diturunin buat aku seorang "


Saat itu juga Nisha menahan napasnya sesaat, jantungnya kembali berdetak cepat dan wajahnya kembali bersemu semakin merah.


" aahhkkk " memukul dada Ardi didepannya yang tertawa lepas. " kamu tuh emang paling bisa kalaw gombal "


" lah kan kamu yang duluan. Aku cuma bales aja kok! " goda Ardi. Yang membuat Nisha mengerucutkan bibirnya.


" punya apa lagi sekarang gombalannya? " tanya Ardi. Nisha berpikir sejenak.


" aku tuh liat kamu kaya lagi didepan kamera "


" suka senyum senyum gitu " potong Ardi.


" iihhkk Kak Ardi mah! " teriak Nisha memukul pundak Ardi yang langsung diusap oleh Ardi karena cukul berasa sakit.


" hhahhaha " Ardi tertawa melihat wajah Nisha yang sudah marah.

__ADS_1


" maaf sayang "


Cup


Ardi langsung mengecup singkat bibir Nisha yang menggemaskan dimatanya.


" tuh kan, ambil kesempatan lagi kayak tadi! " ucap Nisha kesal walau dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus. Halus dan merah menyala.


" aku bisa bertahan sampai lewat batas waktu kalau suruh ikut uji nyali, tapi aku gak kuat kalau liat wajah cemberut sama bibir kamu yang gemes ini. Aku lebih memilih melambaikan tangan agar bisa cium kamu langsung " tutur Ardi menyentuh pipi Nisha lembut.


" mulai mesum deh! Awas khilaf lagi! " ucap Nisha memperingatkan.


" cuma cium aja mah gak mesum Nisha! Itu masih wajar " ujar Ardi, lalu memanjukan wajahnya mendekati wajah Nisha.


" kamu mau tau mesum itu kayak gimana? " tanya Ardi dengan tatapan mata yang tak dimengerti oleh Nisha.


" Gak mau tau! " ucapnya mengeleng dan menundurkan kepalanya karena Ardi yang semakin mendekati wajahnya.


" hahaha...ngapain sih? " tanya Nisha saat ternyata tangan Ardi menyentuh pinggangnya dan mencoba mengelitik Nisha.


Tapi Ardi terkejut, saat Nisha tak bereaksi apapun. Dan malah tertawa kecil menatapnya.


" kamu mau ngapin? " tanya Nisha lagi dengan posisi badan yang setengah tiduram disofa.


" kok kamu gak geli sih? " tanya Ardi heran.


" kamu mau ngelitikin kau sampai kapan juga, aku gak bakal geli kak! " tutur Nisha.


" kok bisa? " mereka kembali duduk tegak disofa.


" ya mana aku tau! Emang gak gerasain geli " jelasnya lagi.


Mereka saling bertatap lagi dengan Ardi berwajah heran dan Nisha yang menahan senyumnya.


Tapi dengan sekali gerak, Ardi kembali mencium bibir mungil dan manis milik Nisha tanpa aba aba. Tangan satunya meraih tengkuk leher Nisha agar tak bergerak. Nisha sedikit terkejut. Tapi mereka menikmati ciuman yang singkat itu.


" kalau ini geli gak? " tanya Ardi yang tak menunggu jawaban kembali mencium bibir Nisha dan kini melu*matnya lembut. Tapi satu tangannya masuk kedalam baju Nisha dan meraba perut hingga pinggang belakang Nisha.


Nisha memang tak merasa geli, hanya saja tangan kekar Ardi terasa begitu menyengat tubuhnya saat meraba bagian tubuhnya itu. Nisha yang masih sedikit sadar, takut membuat Ardi kembali khilaf dan melebihi batas antara mereka, apalagi kini tak ada yang menyadarkan mereka, saat seperti waktu itu yang ada memencet bel pintu. Siapa yang akan menyadarkan mereka jika mereka terbuai suasana panas ini. Apalagi ciuman Ardi yang semakin dalam itu dirasakan oleh Nisha, bahkan tangan Ardi pun semakin tak bisa diam.


" sakit Sha! " teriak Ardi menyentuh bibir bawahnya yang terasa perih.


" biar kamu gak khilaf. Hehe. Eehh "


Nisha langsung loncat berdiri sata Ardi mencoba meraih tangannya. Menjauh dari jangkauan Ardi saat ini.


" awas kamu ya! " ancam Ardi menatap tajam Nisha.


" weeww..." ledek Nisha menjulurkan lidahnya keluar sedikit.


Ardi pun bangkit mengejar Nisha yang sudah berlari menjauh mengelilingi sofa. Mereka berkejaran diruang yang memang tak terlalu luas itu, tapi memang cukup untuk berlari karena tak banyak barang disana. Nisha berlari dengan terus tertawa dan meledek kearah Ardi.


" ayo tangkep aku! "


" awas kamu kalau ketangkep, bakal aku bikin nangis dan gak berenti ketawa. "


Nisha kembali berlari, tapi ternyata, saat Ardi melompati sofa besar itu dan tangannya menarik tangan Nisha yang mencoba berlari memutar tubuhnya menghindari Ardi.


" ketangkep kan! " ucap Ardi memeluk tubuh Nisha dari belakang.


" lepasin ahk! " pinta Nisha.


Tapi Ardi malah memutar tubuh Nisha menghadapnya, lalu menjatuhkanny dikarpet depan sofa.


" mau ngapain lagi kak? " tanya Nisha sedikit khwatir. Nisha takut Ardi akan semakin menerkamnya seperti tadi, tapi ternyata.


Ardi malah memegangi kedua kaki Nisha yang dia tahan diatas paha Ardi yang kini telah dalam posisi duduk.


" kak Ar, mau apa? " ucapnya membulatkan mata sadar saat itu juga apa yang mau dilakukan Ardi.


" aku mau bikin kamu teriak sekencengnya " saut Ardi sudah menahan kaki Nisha dengan kedua tangannya.


" kak Ar, jangan macem macem deh! " sentak Nisha sudah dengan wajah cemas.


Dan saat itu juga tanpa menjawab Nisha, Ardi sudah melancarkan aksinya, dan


Hahhahahahahahaha

__ADS_1


" kak Ardi, berenti! Stooppp! " teriak Nisha yang lansung duduk dan mencoba mendurung tubuh Ardi yang terus memegangi kaki Nisha dengan pundaknya, menahan agar kaki Nisha tak bergerak walau sudah sedikit memberontak.


Hahahahahaha


" udah kak udah...cukupp! Hahahaa...Nisha gak kuat kak Ar! Udaah! " teriak Nisha sambil terus memukul punggung Ardi didepannya.


Ardi pun menghentikan tangannya. Dan duduk dimenghadap Nisha.


" udah. Capek! " pinta Nisha dengan napas terengah engah dan ada buliran air siujung sudut matanya.


" lagi ya! " goda Ardi


" udah! " teriak Nisha menahan tangan Ardi yang mencoba meraih ujung kaki Nisha yang kini terasa sangat lemas.


" kalau nanti aku gak doyan makan karena dikelitikin terus sama kamu, nanti aku gak doyan makan lho! Nanti jadi kurus gimana? " ucap Nisha dengan napas didadanya yang masih naik turun.


" biarin! Mau kurus atau gemuk, aku juga tetep sayang kamu. Lagian juga kalau kamu gak doyan makan, bagus kan. Gak ngbisin banyak duit buat beli makanan buat kamu " ujar Ardi membuat Nisha kembali mengerucutkan bibirnya.


" jangan kaya gitu lagi mukanya, mau..."


Nisha langsung menutup mulutnya dan menggeleng cepat saat tau lanjutan perkataan Ardi itu. Ardi tersenyum menahan tawanya. Mengelus lembut kepala Nisha yang kini sudah bernapas normal.


Ardi melipat kakinya duduk menghadap Nisha. Tapi kaki Nisha masih memanjang karena masih terasa lemas karena kelitikan tangan Ardi ditelapak kakinya. Nisha memang tidak akan merasakan geli akan kelitikan dipinggang atau bagian tubuh lainnya. Dan hanya akan geli dibagian telapak kakinya saja. Dan ternyaata Ardi tau itu. Padahal Nisha berpikir Ardi tidak tau akan itu, karena sudah berapa kali dia mengelitik tubuh Nisha tapi Nisha tak merasakan geli. Dan hanya satu yang belum dicobanya, yaitu telapak kakinya.


" kamu tau gak? " tanya Ardi menatap Nisha dalam.


" apa lagi! Jangan gombal gombal lagi deh! " ucap Nisha sedikit keras. Kesal Ardi sudah membuatnya lemas tak berkutik.


" kayaknya...kita putus aja Sha! " Ucap Ardi lembut dan membuat Nisha membulatkan matanya.


" kok! Kak Ar bercanda kan? " tanya Nisha penuh kebingungan.


Ardi menggelengkan kepalanya. " aku serius! " ucapnya dengan wajah serius.


" kenapa? Aku ada salah? " tanya Nisha lagi dengan wajah sudah sendu.


" aku ngerasa kita udah gak ada kecocokan buat lanjutin hubungan ini." Ardi menggenggam tangan Nisha. Tapi Nisha sudah merasa tiba tiba dadanya sesak menyerang saat itu. Matanya sudah mulai berkaca kaca. Menatap lekat mata Ardi yang menatapnya penuh cinta.


" kita lebih cocok menjalin hubungan dalam ikatan pernikahan kayaknya. Kamu jadi istri aku dan aku jadi suami kamu " ucap Ardi penuh senyuman.


Nisha membuka mulutnya tak percaya semua kata Ardi itu. Lalu mengembungkan kedua pipinya. Reflek memukul dada Ardi berulang kali dengan keras.


" nyebelin banget ihk! Hiks "


Hahaha. Ardi menarik tubuh Nisha dalam dekapannya dengan tawa lepas. Mengusap kepalanya lembut.


" kak Ar. Laper! "


.


.


.


.


.


.


.


.


.


# kok jadi author yang baper ya hehe😍😍


TBC


**BANTU VOTE YA GUYS YANG BAIK HATI🤗


LIKE DAN KOMEN JUGA


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA


MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**

__ADS_1


__ADS_2