Pacarku Mantannya Temanku

Pacarku Mantannya Temanku
BAB 43


__ADS_3

CINTA...


Datang pada dia yang masih punya harapan


Walau telah dikecewakan


Datang pada dia yang masih percaya


Walau telah dikhianati


Datang pada dia yang masih ingin dicintai


Walau telah disakiti


Dan pada dia yang masih memiliki keberanian dan keyakinan untuk membangun lagi


Kepercayaan itu sendiri


* * * * *


Malam minggu ini setelah sholat magrib, Ardi bersiap siap untuk datang kerumah Nisha lebih cepat. Malam ini dia harus meneyelesaikan masalah kesalah pahaman ini pada Nisha. Dia tidak mau Nisha menghindar lagi malam ini dengan masih berpura pura tidur dikamarnya. Dia sudah berpakaian rapih dan menggunakan jaket jeansnya.


Tok tok tok


Ardi mengetuk pintu rumah Nisha. Tak lama Papa Sakti yang membuka pintu.


" Permisi pak.." sapa Ardi yang melihat Papa Sakti yang berdiri didepannya dan masih memegang daun pintu setengah terbuka itu.


" Oohh Ardi " ucap Papa Sakti.


" Siapa Pa ?" tanya Ibu Uni yang ada didalam duduk disofa.


" Ardi Bu " Ibu Uni yang mendengar langsung berdiri menghampiri Papa yang masih berdiri lalu membuka pintu melebar. Ardi membungkukkan badannya seraya memberi hormat.


" Ada Nisha Pa, Bu?"


Papa sakti dan Ibu Uni saling memandang


" Nisha gak ada dirumah " ucap Papa Sakti


Degg


Nisha gak ada!! Batin Ardi terkejut.


Ibu Uni menyenggol Papa Sakti memberi isyarat untuk menyuruh masuk. Biar Ibu yang bicara pada Ardi, itu maksudnya. Pa Sakti pun masuk kedalam. Lalu Ibu menarik pintu sehingga terbuka hanya sebagian.


" Gini Ar. Tadi siang Nisha minta izin untuk pergi menginap katanya. Kerumah Umi, Tantenya Nisha."


Dia bener ngehindar dari gw. Ucap batin Ardi


" Oohh gitu ya Bu " Ardi mencoba untuk tersenyum. Ibu Uni pun tersenyum.


" Tapi Ibu rasa dia gak kesana." Ardi sedikit terkejut atas ucapan Ibu Uni


" Kayaknya dia nginep dirumah Eva. Kamu bisa nyusul dia kesana. " Menepuk pelan pundak Ardi.


Terlihat wajah penuh ketenangan di wajah Ardi kini setelah ucapan Ibu Uni.


" Terima kasih Bu. Saya janji gak bakal nyakitin Nisha dan bikin Ibu kecewa "


" Ibu percaya sama kamu. Sudah sana. Besok anter pulangnya jangan sore sore ya." Ardi tersenyum senang melihat Ibu Uni sangat percaya padanya. Ardi pun mengangguk lalu berpamitan menciun punggung tangan Ibu Uni. Lalu pergi kerumah Eva.


* * *


Kini Nisha berdiri di depan pintu rumah Eva, menatap Ardi yang juga menatapnya berdiri tak jauh darinya. Jantung Nisha kembali berdegup kencang, menundukkan wajahnya tak berani memandang terlalu lama cowok itu. Dia takut jantungnya akan pergi dari dadanya. Tangannya sedikit gemetar mencengkram ujung bajunya.


" Mau sampe kapan kamu berdiri disitu ?" Ucap Ardi membuat Nisha mengangkat kepalanya.


Nisha memutar bola matanya kesegala arah, dia memjadi salah tingkah dan maju mendekat perlahan kearah kursi yang ada disisi jendela.

__ADS_1


" Ada...A...aapaa?" Ucap Nisha sesikit gugup setelah menduduki kursi


" Kita harus bicara Nisha !" Ucapan Ardi membuat jantung Nisha semakin kencang berdegup. Sampai Nisha sendiri dapat mendengar detak jantungnya.


" Yaa..udah. Ngo..mong aja" Ucap Nisha tanpa melihat kearah Ardi dan tangan masih mengepal ujung bajunya dipaha.


" Kita gak bisa ngomong disini Sha? Ayo ikut aku dulu. Kita cari tempat biar kita bisa bicara bebas "


" Emang kenapa disini. Sama aja kok! Kamu bebas bicara !"


" Sha...Ini bukan rumah kamu. Ini rumah Eva.Rumah orang lain. Gak pantas kita bicara soal pribadi dirumah orang lain." Nisha terdiam masih menunduk.


" Sebentar aja kita bicara diluar. Mau kan? " Nisha pun akhirnya mengangguk iya. Ardi pun tersenyum walau Nisha masih tak.memandamgnya.


" Aku ganti baju dulu bentar " Ucap Nisha berdiri dari duduknya berlalu masuk kedalam. Karena saat iti Nisha hanya mengenakan celana tidur yang dia bawa dan kaos oblong.


Tak lama Nisha sudah mengganti celananya menjadi jeans dan tetap memakai kaos oblongnya hanya dengan tambahan jaket sweater. Ardi yang melihatnya tersenyum manis. Ini lah penampilan yang disukai Ardi dari Nisha, simple dan casual. Terlihat sangat manis. Mereka pun pergi setelah berpamitan pada Ibu Eva.


Nisha hanya memegang pinggir baju dipinggang Ardi saat dijalan dengan motor. Dia tidak menempelkan Badan nya dipunggung Ardi seperti biasa.Nisha menjaga jarak duduknya. Hanya menundukkan wajahnya tanpa melihat jalana yang dilaluinya. Entah mau dibawa kemana oleh Ardi, Nisha tidak sempat memikirkan itu. Dia terlalu gugup menghadapi apa yang akan didegarnya nanti. Menyiapkan hatinya agar tidak terlalu terbawa emosi nanti. Tetap tenang.


Saat dia melirik kesisi jalan, dia menyadari kemana arah jalanan yang sedang dia lewati bersama Ardi. Ini kan jalanan ke...


" Kita mau kemana Kak Ar?" Ucapnya memandang jalan didepannya. Tapi Ardi tidak menjawab dan terus saja fokus pada motornya. Nisha semakin geram saat dia tau tujuan kemana mereka pergi dan hampir sampai.


" Kenapa kita kesini kak ?" Ardi tetap diam tak menghiraukan


" KAK ARDI ?" Ucapnya berteriak tepat dibelakang telinga Ardi.


" Sha, aku gak budek! Gak usah teriak napa!" ucap Ardi dengan tegas dan menutup kupingnya yang tadi diteriaki dengan satu tangannya.


" Ya kenapa kak Ar, gak jawab?" Teriaknya lagi dengan kesal


" Kamu kan udah tau ini jalanan mengarah kemana! Kenapa harus tanya lagi." Ardi berucap keras sambil tersenyum melihat Nisha dari kaca spion yang terlihat kesal.


peryengkaran mereka dimotor sedikit menjadi perhatian pengendara lain yang lewat karena teriaka suara Nisha. Ardi barua kali ini melihat Nisha bisa teriak seperti itu, Biasanya dia lembut dan tenang, tapi ini. Hahaha...Ardi tertawa dalam hatinya.


Kenapa harus kesini sih? Gak ada tempat lain apa, cuma mau ngomong soal Iya gw udah balikan sama Imel. Huuhhffg....Apa harus ada Imel juga buat ngomong itu jadinya harus kesini. Keruko bengkel lo!! Kenapa hati gw makin sakit sih! Dada gw jadi nyesek gini sih!! Gumam Nisha dalam hati sambil memukul mukul dadanya saat dia sudah berdiri diteras bengkel samping motor Ardi. Dan Ardi sedang membuka pintu rukonya.


Ardi berjalan mendekati Nisha dan menarik tangannya. Tapi Nisha menepisnya. Ardi menatap mata Nisha.


" Kenapa harus kesini? Gak bisa kita nyari tempat lain cuma buat ngomong hal sepele aja!"


" Kamu bilang sepele??" Ardi akhirnya menarik paksa tangan Nisha mengajaknya masuk kedalam bengkel.


" Sepele tapi sampe kamu bersikap cuek sama aku dan gak peduli lagi sama aku!" Ucap Ardi saat didalam melepaskan tarikan tangannya.


" Kamu juga kan gak peduli sama aku duluan !" balas Nisha yang sudah merasa semakin sesak didadanya.


Ardi memijit pelipis dahinya. Lalu berjalan keluar, memasukkan motornya dan menutup pintu ruko. Nisha membulatkan matanya saat melihat itu.


" Kenapa ditutup ?" ucap nya was was.


" Kenapa? kamu takut sama aku?" ucapnya berjalan mendekati Nisha. Nisha pun memggeleng


" Biar gak ada yang ganggu kita!" Nisha menundukkan kepalanya.


Ardi memdorog Nisha agar duduk disofa yang ada disisi dinding. Nisha tersentak kaget saat itu dan memdapat Ardi berjongkok didepannya saat dia terduduk. Dan kedua tangan Ardi memengang kedua bahu Nisha.


Mata mereka saling bertatapan. Mata hitam Nisha sudah terlihat sendu.


" Kalau Kak Ar masih sayang sama dia. Aku iklas kok ngelapasin Kakak buat dia!" Akhirnya kata kata itu keluar juga dari bibir kecil Nisha. Ardi hanya tersenyum memalingkan wajahnya. Nisha mengerutkan dahi.


" Lebih baik Kak Ar ninggali aku. dan hubungan ini kita selesai baik baik." ucap Nisha lirih dengan jantung yang masih bedebar kencang.


" Kalau aku gak mau? Aku gak mau ninggalin kamu!" Ucap Ardi dengan serius menatap mata Nisha.


" Kak Ar. Aku gak mau ada ditengah tengah Kak Ardi sama Imel yang masih saling sayang" " Labih baik kak Ar ninggalin aku, dan sama imel aja !"


" Kenapa kamu ngomong kaya gitu? Apa kamu udah gak sayang sama aku lagi?" Nisha menggelengkan kepala

__ADS_1


" Aku sayang. Tapi sayang kak Ardi lebih besar ke Imel kan? Aku cuma buat pelarian Kamu aja kan selama ini. Jadi sayang aku gak penting saat ini. Yang terpenting sekarang kamu dan Imel udah saling sayang kan? Dan kalian udah balikan kan?" Ucapnya yang sudah tak biza lagi menahan cairan bening yang jatuh dipipinya. Ardi menatap lekat mata Nisha.


Ya Tuhan. Nisha!!


Ardi menggelengkan kepalanya. Meraih kedua tangan Nisha dipaha dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya.


" Aku akui. Aku memang masih sayang Imel." Air mata Nisha semakin mengalir begitu saja membasahi pipinya dan menahan sesak didadanya.


" Tapi saat setelah kamu ada disamping àku, Semakin hari rasa sayang itu udah pindah. Pindah ke kamu Nisha. " Ucapnya sambil mengusap air mata dipipi Nisha. Nisha yang merasakan sentuhan tangan Ardi di pipinya dan mendengar kata Ardi semakin membuat dadanya tak bisa bernapas.


" Denger baik baik." Mengangkat dagu Nisha yang tertunduk dan menatapnya penuh cinta.


" Aku gak balikan sama Imel "


" Aku tetap milih kamu "


" Dan aku sayang banget sama kamu, Khanisha !"


" Kamu mau kan jadi pacar aku. Selamanya!!"


Ucapan Ardi menggema terus ditelinga Nisha. Apa itu nyata. Ucapannya bukan candaan kan?


Ardi berdiri dari posisi jongkoknya didepan Nisha yang masih duduk disofa. Tangannya berpindah, memegang kedua pipi Nisha dan mengarahkan menatapnya.


" Udah aku bilangkan dulu kan! Aku pastiin, jalan kita akan selalu sama."


Mata Nisha kembali berkaca kaca, tak percaya apa yang didengarmya dari mulut Ardi. Tapi dia merasa sangat senang mendengar itu semua. Hatinya terasa lega.


Jantungnya kembali berdegup kencang saat Ardi semakin merunduk mendekati wajahnya.


Disaat semakin dekat, Nisha hanya bisa memejamkan matanya dan menarik napas panjang. Merasakan bibirnya bersentuhan dengan bibir Ardi. Dan Ardi mulai ******* bibir kecil Nisha. Nisha yang tak pernah berciuman hanya bisa terdiam. Tangannya meremas ujung bajunya. Merasakan lembut dan manisnya sebuah ciuman pertamanya dengan seorang cowok. Cowok yang memenuhi isi hatinya. Yang membuatnya sedih dan bahagia bersamaan.


Ardi melepaskan ciumannya, Lalu duduk disamping Nisha tanpa melepas tangannya yang masih memegang wajah Nisha.


" Sekarang jangan mikir apapun tentang aku dan Imel. Aku gak ada hubungan apapa sama dia. Cuma kamu yang ada disini sama aku. Kamu mau kan jadi pacar aku? menjadi oksigen untuk aku terus bernafas? menjadi cahaya yang terus bersinar cuma buat aku? dan terus melangkah kedepan bersama disamping aku?" Nisha menggigit bibirnya. Hati berdebar debar tak menyangka memdemgarkan kata itu dari Ardi. Nisha pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Ardi kembali mencium bibir Nisha. Bibir yang memang dirasakan sangat manis oleh Ardi. Bibir Nisha yang memberikan sensasi dan getaran berbeda pada dirinya. Nisha pun ikut menikmati ciuman Ardi. Tangannya meraih baju dipinggang Ardi. Nisha mulai membuka mulutnya dan membiarkan lidah Ardi menjamah seluruh bibir dan rongga mulutnya.


Rasa yang dari dulu paling dia takuti kini benar benar dia rasakan. Dan memang membuat Nisha ketagihan merasakannya. Karena itu lah dari dulu dia tidak mau bercium bibir dengan lawan jenis. Dan kini Ardi yang mendapatkannya.


Menghabiskan malam yang paling indah berdua, melepaskan rasa rindu dan beban hati yang selama ini menguras jiwa mereka berdua.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


**Jangan lupa untuk 🖒, vote dan 🌟 rate ya


❤ nya untuk up selanjutnya.


Komen berupa kritik dan saran juga diharapkan jika readers berkenan

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca🤗😘


Mohon dukungannya😊😊**


__ADS_2