
Yang terbaik bukanlah yang datang
Dengan segala kelebihannya
Namun yang tidak pergi
Karena segala kekurangan kita
* * * * *
Matahari pagi sudah menyingsing diufuk timur. Nisha melangkahkan kakinya dianak tangga terakhir, berjalan menuju keruang makan yang menyatu dengan dapur. Dilihatnya sudah ada segelas susu hangat dan sebungkus nasi uduk untuk sarapan yang telah disediakan oleh Ibu Uni.
Nisha menarik kursi makan dan duduk disana, meraih gelas yang berisi susu dan meneguknya beberapa tegukan.
" Sha, kemaren sore cowok yang ada dirumah siapa?" Tanya Ibu Uni yang melangkah keluar dari kamarnya. Berjalan mendekati Nisha yang sedang membuka sebungkus nasi uduk beralaskan piring.
" Sepupu temen Nisha, Bu. Kemaren kan Nisha belajar bareng lagi. Terus sepupunya nganterin Nisha pulang karena kesorean " tutur Nisha sambil menyuap sesendok nasi kedalam mulutnya.
" Terus, Ardi tau kamu dianterin?" tanya Ibu yang kini sudah ikut duduk dikursi makan seberang Nisha. Nisha menggelengkan kepalanya.
" Ya nggak lah Bu. Ntar takut Kak Ardi gak suka Nisha jalan sama cowok lain." Tutur Nisha dengan mulut masih mengunyah nasi. Ibu hanya menganggukkan kepalanya.
" Emangnya kemaren saat, siapa nama sepupu temen kamu itu?" Tanya Ibu melipat tangannya diatas meja makan.
" Andri "
" Emang Andri gak ketemu Ardi saat dia pulang semalam? Ibu liat tau taunya Ardi udah ada didepan rumah kan?" Tanya Ibu yang sedikit penasaran, karena semalam saat mendapati Nisha lama tak masuk kedalam rumah setelah mengantar Andri pulang didepan rumah, Ibu melihat keluar rumah sudah ada Ardi diteras bersama Nisha.
" Nggak " jawab Nisha santai. " Setelah Andri pulang, emang gak lama Kak Ardi dateng, untungnya gak ketemu Bu. Gak enak hati Nisha sama Kak Ar, kalau sampai ketauan Bu" tambahnya menjelaskan sembari menyelesaikan sarapannya. Ibu Uni hanya menggelengkan kepalanya mendengar itu. Tadinya Ibu ingin melanjutkan obrolan pagi dengan anak gadisnya itu, Papa Sakti keluar kamar dan meminta Ibu untuk membuatkan kopi. Terpaksa menyudahi obrolan yang biasa dilakukan Ibu dan Nisha ditiap pagi. Setelah menyelesaikan sarapannya, Nisha pun berpamitan pada Ibu dan Papanya untuk berangkat sekolah.
Flasback
Saat dimalam itu, setelah Ardi mendapatkan ayam bakar pesanan Nisha, dia melajukan motornya menuju rumah Nisha yang memang tidak terlalu jauh lagi dari jalan raya.
Ardi membelokkan motornya memasuki kawasan rumah Nisha. Karena memang kawasan ini sepi jika menjelang malam, dari jarak yang tak begitu jauh, Ardi melihat seorang pengendara motor melaju dari depan rumah Nisha. Saat berpapasan pun Ardi melirik sekilas pengendara itu yang memakai helm kaca menutupi wajahnya sehingga tak jelas terlihat.
Nisha yang mengantar Andri sampai depan rumahnya, berniat melangkahkan kakinya untuk masuk kembali kedalam rumah. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara motor yang cukup dia kenal memasuki garasi rumahnya yang tak berpagar itu.
Jantung Nisha serasa berlari kencang didalam dadanya. Memutar tubuhnya memastikan siapa yang datang. Dan benar saja. Matanya membulat terkejut saat didapati siapa yang memberhentikan motor digarasinya.
Ya Tuhan...Apa Kak Ardi melihat Andri dari sini tadi? gumam Nisha dalam hati saat melihat Ardi yang membuka helmnya dan menatapnya.
Kenapa Nisha ada diluar? Apa cowok pengendara tadi benar dari sini? Siapa ya?
Ucap Ardi dalam hatinya sambil melangkah mendekati Nisha yang berdiri mematung didepan teras rumah.
" Kok kamu diluar? Lagi ngapain?" Tanya Ardi sambil membawa bungkusan pesanan Nisha.
" Ooh..itu. Tadi ada tamu nanyain alamat. Ternyata salah masuk komplek!" tutur Nisha berbohong. Ardi hanya membulatkan bibirnya tanpa suara mendekati Nisha.
" Cowok yang tadi bawa motor itu?" tanya Ardi yang kini sudah berdiri didepan Nisha. Nisha hanya menganggukkan kepalanya tanpa suara sambil tersenyum.
Ternyata Kak Ar ngeliat Andri dari sini! Untung Andri segera pulang tadi. Tapi aku jadi harus berbohong sama Kak Ardi. Haduuuhhh!!! Bikin jantung gw mau copot aja sih!
__ADS_1
" Kirain kamu diluar nungguin aku!" ucap Ardi dengan nada sedikit manja. Mengulurkan bungkusan yang dibawanya, dan diraih oleh Nisha.
" Dari tadi juga aku nungguin kamu. Lama banget datengnya!" ucapnya sedikit ketus, sembari harus menetralkan detak jantungnya yang masih berlari karena harus berbohong.
" Lama nungguin pesanan kamu itu tuh!" menunjuk pada bungkusan yang kini ada ditangan Nisha.
" Aku kangen tau sama kamu!" ucap Ardi lagi sambil mencubit pipi cuby Nisha. Nisha hanya meringiskan hidungnya melihat perlakuan Ardi.
Mereka pun berjalan bersama menuju sofa teras depan rumahnya.
* * *
Disekolah.
Nisha menceritakan apa yang terjadi padanya saat Andri mengantarnya pulang pada Eva, Lia dan Dian. Eva pun bercerita tentang Mifta yang kini sudah resmi menjadi pacar barunya.
Saat jam pelajaran kosong, Nisha melirik Imel yang berjalan sendiri keluar kelas setelah meminta izin pada ketua kelas untuk kekamar mandi. Terlihat wajah Imel yang sedikit pucat dan terlihat lemas. Bahkan jika Nisha perhatikan Imel sering terlihat pucat seperti sekarang. Apakah Imel sedang sakit? kenapa dia tidak istirahat saja dirumah.
Nisha pun memutuskan untuk menyusul Imel kekamar mandi.
" Mau kemana Sha?" tanya Lia yang melihat Nisha berdiri dari kursinya.
" Mau kekamar mandi Li " ucapnya singkat, lalu berjalan keluar kelas setelah meminta izin pula pada Pipit siketua kelas.
Saat berada didepan kamar mandi. Nisha mendengar suara dari dalam yang sedang muntah.
" Siapa yang muntah? Imel gitu?" gumam Nisha lirih masuk kedalam kamar mandi. Nisha membuka keran yang ada diwastafel, mencuci tangannya dan membasuh wajahnya yang memang sedikit merasa kantuk.
Tiba tiba, Imel keluar dari dalam salah satu pintu kamar mandi. Nisha dan Imel saling terkejut dan saling berpandangan dalam diam sejenak.
" Gw nggak kenapa napa kok! Cuma kurang tidur aja. Mungkin masuk angin!" tuturnya sambil mencuci tangan dan mulutnya diwastafel samping Nisha.
" Kurang tidur?" tanya Nisha heran sambil mengerutkan keningnya. " Emang lo ngapain aja kalau malam? Begadang?" tambahnya lagi. Imel langsung memasang wajah sedikit terkejut dan canggung sambil memutar bola matanya kekanan dan kekiri.
" I itu...gw ikut Eric jalan jalan aja sama nongkrong bareng temennya!" ucapnya sedikit ragu.
" Oohh "
" Kenapa gak ke uks aja biar istirahat disana. Tadi juga lo muntah kan gw denger!"
" Nggak usah lah Sha. Cuma masuk angin biasa kok. Ntar minun obat juga gw segeran." tutur Imel menolak usulan Nisha.
" Tapi muka lo pucet tau Mel!" ujar Nisha melihat wajah Imel yanv memang pucat. " mau gw kerikan aja disini. Biar masuk anginnya hilang. Abis itu lo beli obat di uks."
Imel berpikir sejanak.
" Nggak ngerepotin lo emangnya?" Tanyanya ragu. Nisha pun menggelengkan kepalanya.
" Mumpung lagi gak ada guru. Ayo!"
Imel pun akhirnya mengikuti anjuran Nisha untuk dikerik punggungnya didalam kamar mandi. Untungnya Imel membawa minyak kay* putih untuk mengatasi mualnya. Dan untungnya saja tidak ada siswi lain yanv datang ketoilet saat itu.
Imel mulai membuka kancing seragamnya. Dan mengagkat baju belakangnya. Nisha pun mulai mengerik punggung Imel sampai pinggangnya. Bahkan itu sampai terlihat merah dikulit Imel akibat kerikan itu. Badan imel pun memang sedikit hangat saat Nisha menyentuhnya.
__ADS_1
" Masih suka jalan sama Kak Eric?" tanya Nisha disela kegiatan dipunggung Imel. Imel mengangguk pelan. " Jarang juga sih?"
" Lo itu pacaran ya sama Kak Eric?"
" Dibilang pacaran sih nggak Sha. Cuma dia sering ngajak gw jalan aja. Nih gara gara ikut dia jalan mulu naik motor, gw jadi masuk angin begini. Sha, pelan pelan. Sakit tau!" seru Imel yang merasakan sedikit sakit dipunggungnya karena kerikan Nisha.
" Oohh..maaf. Kekencengan ya?"
" Dah " Ucap Nisha saat dirasa sudah selesai mengerik punggung Imel.
" Abis ini minum obat ya! Biar badan lo enakan."
" Makasih ya Sha!" ucapnya saat kembali mengancingkan baju seragamnya. Dan merapikannya. Nisha hanya tersenyum sambil mengangguk.
" Lo masih sama Ardi kan?" tanya Imel tiba tiba.
" Masih kok!" jawabnya singkat. " Awet juga lo sama dia!" Nisha hanya tersenyum mendengar ucapan Imel yang terlihat sedikit sendu diwajahnya.
Nisha pun kembali kekelas bersama Imel. Kelas yang memang sedikit ramai karena tak ada guru yang mengajar, semua yang ada dikelas memandang Nisha dan Imel yang masuk membuka pintu kelas bersamaan. Karena tadi saat ketoilet mereka berjalan masing masing, kini mereka kembali bersamaan, bahkan menghabiskan waktu ditoilet bersama cukup lama. Tapi semuanya bersikap biasa, walau tau diantara kedua cewek itu pernah bersitegang karena satu cowok yang kini bersama Nisha.
" Lo lama amat Sha, dikamar mandi?" tanya Dian saat Nisha menarik kursinya dan duduk didepan Dian.
" Ngerikin Imel dulu dikamar mandi " ucapnya santai.
" Sakit dia ya? Keliatan agak pucat?" tanya Lia. Nisha hanya mengangguk tanpa berkata lagi.
Semoga Imel sehat lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
BANTU VOTE NYA YA READERS JIKA BERKENAN.
**JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA
MOHON DUKUNGANNYA🤗😘**