
Namun, kepingan kenangan itu
Tak pernah mampu ku sapu
Walau telah kau tumpah air mataku
Saat kau luluh lantahkan hatiku
* * * * *
" hai sayang " sapa Nisha pada Eva yang sedang duduk diteras rumahnya bersama Rizal.
Setelah dari apartemen Ardi, dan makan dahulu dijalan, Ardi dan Nisha menuju rumah Eva dengan menggunakan motor matik biru kesayangan Ardi yang masih selalu menemaninya.
" hai bebs, apa kabar? " saut Eva memeluk erat sahabatnya ini yang mungkin sudah beberapa bulan tak bertatap muka.
" baik kok. Gw kangen tau! " ucapnya saling memegang pundak berhadapan.
" sama. Gw juga kangen! " ujar Eva yang juga merasakan rindu.
Ardi pun menyapa Eva dan Rizal bergantian.
" masih awet aja kak? " tanya Eva pada Ardi. Ardi tau apa maksud ucapan itu.
" cewek langka soalnya Va, susah nyarinya ditempat lain. " jawabnya dengan penuh senyum memeluk pundak Nisha. Nisha sendiri hanya menajamkan matanya dan mengerucutkan bibirnya.
" lo sendiri, liat! " ucap Nisha melihat penampilan Eva yang memakai baju begitu tertutup dengan kerudung dikepalanya. " cewek tomboy, udah insaf sekarang! " ledek Nisha.
" hebat lo Rizal, bisa ngubah nih cewek jadi alim." Tambah Ardi menoleh pada Rizal.
" siapa dulu cowoknya " ucapnya bangga, cowok jangkung manis dengan memegang kerah bajunya itu.
" pede banget kamu yah, aku pake hijab kan tuntutan kerjaan. Bukan karena kamu juga kali! Ge er banget ihk! " cibir Eva pada Rizal yang sudah hampir setahun mereka berpacaran.
" ya kan, sebelum kamu kerja di sana juga, aku udah nyuruh kamu pake hijab. Kebetulan aja pas juga kamu dapat kerjaan yang harus pake hijab. Berarti Tuhan ngabulin permintaan aku dong! " balas Rizal tak mau kalah.
" iya udah terserah kamu lah! " pasrah Eva mengalah dalam dekapan Rizal. Mereka pun tertawa bersama.
Eva saat ini memang bekerja disebuah supermarket yang mengharuskan para pegawai wanita disana memakai hijab. Dan Eva pun harus mengikuti aturan itu. Walau pun dia tetap terlihat dengan wajah tomboynya yang manis dengan hijab dikepalanya.
" Dian mana? Katanya mau datang juga? " tanya Nisha sadar belum ada Dian disana.
" iya belum. Katanya sih tadi udah jalan dia sama Gilang. Bentar lagi kali dia sampai " ujar Eva, " si Lia gak lo hubungin, buat diajak kumpul, sama Rini juga."
" Lia, masih di kota D, dia disana kan kuliah juga sambil kerja dilestoran katanya. Jadwalnya bentrok mulu kalaw gw ajak buat ngumpul lagi." Eva pun hanya mangut mangut dengan penuturan Nisha.
" katanya lo yang mau ngubungin Rini? " tanya Nisha. " eehh...iya. Dia lagi isi katanya? Jadi gak boleh kemana sama Dion. " jelas Eva.
Maksud ' isi ' itu, hamil ya guys.
" hah...udah isi? Cepet banget ya! Eh...tapi udah mau dua bulan sih mereka nikah. Wajar lah kalaw udah isi " ucap Nisha.
Tak lama, mereka asik mengobrol, sebuah motor berhenti didepan rumah Eva. Dian Dan Gilang pun turun dan menghampiri sahabatnya.
" haii " Dian merentangkan tangannya saat Nisha berjalan kearahnya.
Menempelkan pipi mereka masing masing kanan dan kiri bergantian, begitu juga dengan Eva. Mereka berdiri bertiga berhadapan.
" tambah cantik Va " goda Dian melihat penampilan Eva dari bawah keatas.
" lo juga makin cantik aja " puji balik Eva.
" kok gw gak dibilang cantik juga! " seru Nisha yang merasa terabaikan.
Eva dan Dian saling lempar senyuman melihat Nisha yang sudah cemberut itu.
" ahk, Nisha mah dari dulu juga cantik, gak berubah lo mah! Tetep bawel, tetep tulalit, tetep sahabat gw! " ujar Dian merangkuk pundak Nisha.
" iya. Kalau lo gak cantik, mana mungkin Ardi bertahan sama lo sampai sekarang. Ya gak Yan? " ucap Eva yang ikut merangkuk pundak Nisha disisi satunya fan melirik ke Dian yang ada disisi satunya. Dian pun mengangguk.
" makanya, lo jangan berubah. Nanti kalau lo berubah, Ardi kabur lagi! " ledek Dian
" Emangnya gw berubah jadi apaan sih, ampe Ardi bisa kabur! " tanya Nisha heran.
" kan ada paku dikepala lo. Jangan dicabut makanya. Nanti lo bisa berubah yang bikin Ardi jadi kabur dari lo " ucap Eva.
" lo pikir gw kuntil*anak apa? " teriak Nisha menyingkirkan tangan Eva dipundaknya.
" tuh Va, awas! Dia mau berubah tuh! " sambung Ardi yang kini duduk bersama Rizal dan Gilang, ikut meledek Nisha.
__ADS_1
Nisha langsung membuka mulutnya tak percaya kekasihnya ikut menggodannya. Dian dan Eva pun tertawa, begitu juga Ardi, Rizal dan Gilang yang juga melihat wajah Nisha yang menahan marah meliapat kedua tangannya didada.
" puas lo semua pada ketawa! " sentak Nisha.
Dan Ardi pun mendekati Nisha yang masih berdiri disana.
" mau kaya gimana juga, mau berubah jadi seperti hantu, atau apapu itu. Aku tetep sayang kamu kok! " ucap Ardi memeluk Nisha didepannya.
Ciee ciee
" udah jangan ngambek ahk! " mencubit pipi cuby Nisha. " siapa yang ngambek. Aku kenapa kenapa kok! " ucapnya dengan lembut.
" mau kalian ngatain aku kayak gimana juga, dari dulu, kapan sih gw marah " ucapnya lagi dengan penuh senyum dikedua pipinya. Eva dan Dian pun ikut mencubit pipi Nisha berbarengan.
" gw kangen kalian " ucap Nisha yang mendapat pelukan Eva dan Dian.
" gw juga kangen " balas Eva dan Dian bersamaan.
Setelah drama kepompong Nisha, Dian dan Eva. Mereka pun duduk bersama diteras dengan saling merangkul pundak pacar masing masing.
" kita mau jalan apa mau gimana ini? " tanya Rizal.
" jalan aja yuk bareng bareng " pinta Nisha. " mau kemana emangnya? " sambung Ardi.
" ke ancol yuk! " ajak Dian.
" ke monas aja " sela Eva.
" dua duanya aja sekalian! " ujar Nisha
" cape kali Sha! " seru Dian dan Eva.
" ke monas aja, kan ini malam minggu. Biasanya kan ada pertunjukka air mancur menari " ujar Gilang.
Wajah Nisha berbinar saat mendengar air mancur menari. Pasti sangat bangus, apalagi dia belum pernah melihatnya. Begitu pun Eva yang merasa menang akan tujuan mereka.
" ahhkk kamu mah yang, aku maunya ke ancol juga " seru Dian pada Gilang disampingnya.
" nanti keancolnya kita aja berdua " bisik Gilang yang masih cukup terdengar oleh yang lain disana.
Nisha dan Eva pun tersenyum geli melihat Dian dan Gilang.
Mereka pun menuju monas dengan masing masing motor milik mereka.
Sampainya didaerah kawasan monas, mereka pun menuju pintu masuk monas bagian barat, karena disana lah pintu terdekat menuju tempat pertunjukkan air mancur menari, yang berdekatan dengan gedung kementrian komunikasi dan informatika diluar monas.
Mereka pun memarkirkan motor mereka dan berjalan bersama mencari tempat duduk yang nyaman untuk menonton pertunjukkan air mancur menari itu, yang ternyat sudah banyak yang telah masuk kesana untuk ikut menyaksikannya. Karena Nisha dan Ardi beserta sahabat sahabatnya itu sampai disana saat jam pertunjukkan pertama telah usai dan mereka akan menyaksikan pertunjukan air mancir di jam keduanya yaitu pukul 20.30 wib.
Syukurnya mereka mendapat kursi penonton yang kosong yang berada ditengah. Mereka pun duduk menunggu pertunjukan air mancur itu dimulai. Nisha dan Ardi serta Dian dan Gilang duduk sejajar. Sedangkan Eva dan Rizal mendapat kursi didepan mereka.
Ponsel Ardi bergetar saat sedang asik mengobrol dengan Gilang. Ardi mengeluarkan ponselnya dari saku depan celananya. Melihat siapa yang mengiriminya tanda pesan masuk. Ardi mengerutkan keningnya saat dilihat nama siapa yang masuk dikotak pesannya.
π© Aa...lagi ngapin? Lagi sibuk ya?
" kenapa kak? " tany Nisha yang melihat wajah Ardi heran menatap layar ponselnya. " ada masalah? "
" hah. Gak kok! Bukan apa pa? Cuma pesan dari temen aja? " jawab Ardi biasa.
Lalu memainkan jari jemarinya dilayar ponsel itu.
π€ lagi ngumpul sama temen temen. Ada apa, Sil?
Tringgg
π© oohhh gak ada apa apa kok!...temen cewek atau cowok?
Ardi kembali membalas pesan yang diterimanya dari Sesil. Nisha pun tak memghiraukannya, asik mengobrol dengan Eva didepannya dan Dian.
π€ dua duanya
π© besok ketemuan yuk! Sekalian kak Ilham mau ngajak ketemuan juga.
π€ boleh. Atur aja deh. Gw juga udah lama gak ketemu sama Ilham.
π© ok!βΊβΊ besok aku kabarin lagi ya.
π€ ππ
Setelah selesai Ardi kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Ardi pun merangkul pundak Nisha yang masih asik ngobrol dengan Eva. Nisha yang merasakan sentuhan tangan Ardi pun menoleh pada laki laki disampingnya itu.
__ADS_1
" udah urusannya? " Ardi hanya mengangguk lirih.
" tuh dah mau dimulai air mancurnya " ucap Ardi saat disana sudah terdengar suara sambutan dari seorang operator.
Nisha pun tersenyum dan menatap matanya lurus kedepan ketempat pertunjukan air mancur akan dimulai.
" tadi emang pesan dari siapa? " tanya Nisha dengan masih menatap lurus didepannya tanpa menoleh ke Ardi.
" dari temen lama? Temen sekolah dulu diBandung " sautnya seraya mengeratkan pelukan dipundak Nisha yang kini menyautkan alisnya.
" cewek atau cowok? " tanyanya lagi. Dan membuat Ardi tersenyum usil.
" cewek lah! Jarang ada temen sekolah aku yang cowok yang ngubungin aku sampai saat ini. Hampir semuanya cewek! " jawab Ardi santai sedikit tinggi.
Nisha langsung menatap Ardi dengan pandangan mata sipitnya. Dan Ardi pun tersenyum mananggapi tatapan Nisha itu.
" kenapa? Cemburu? " goda Ardi.
Nisha langsung memalingkan wajahnya kembali menatap kedepan.
" nggak tuh! Siapa yang cemburu. Emangnya aku kayak kamu, yang suka marah gak jelas karena kemakan cemburu " jawab Nisha santai
" bagis lah kalau gitu! Jadi kalau aku jalan sama temen cewek aku itu, kamu gak akan marah kan? " tanya Ardi lagi.
Nisha menarik napasnya berat, " gih sana! Aku gak pernah ngelarang kamu kok buat jalan sama siapa pun? "
" bener ya? " tanya Ardi memastikan sambil memiringkan kepalanya untuk melihat expresi wajah Nisha.
" iya kak! Aku gak ngelarang kok! " sautnya seraya menatap wajah Ardi yang ada disamping kepalanya kini. Ardi pun mencubit pipi Nisha karena gemas.
" aaww..sakit " teriaknya kecil mengusal pipi yang terasa perih.
" aku gemes sama kamu tau gak! Pengen aku cium, tapi banyak orang begini. Jadi aku cubit aja! " ucap Ardi gemas. Nisha langsung menutup pipinya dengan telapak tangannya saat Ardi mencoba untuk mencubitnya lagi.
" udah diem ahk! Tuh acaranya mau dimulai! " ucapnya membalikkan wajahnya yang sedikit merona menahan malu, karena banyak penonton yang melihat mereka. Ardi pun ikut memutar matanya mengarah ketempat pertunjukkan air mancur itu yang sudah dimulai.
" kenapa wajah kamu gak pernah ngeliatin rasa cemburu sih sama aku? Apa perasaan kamu sama aku biasa aja? Gak ada rasa sayang? Tapi aku tetap bahagia kamu masih bertahan sama aku sampai saat ini. Aku gak bakal kecewain kamu Sha. Aku janji! " ucap Ardi dalam hatinya saat memandang wajah Nisha yang berbinar melihar air mancur yang menari dihadapan mereka dengan diiringi sebuah lagu daerah.
" iihhh ya ampun, bagus banget kak air mancurnya " ucap Nisha kagum memegang paha Ardi. " cantik ya " lanjutnya lagi saat takjub melihat pertunjukkan air mancur yang berwarna warni menari didepannya.
" iya cantik. Cantik banget kayak kamu " sontak Nisha menolehbpada Ardi yang langsung menatap air mancur disana. Nisha tersenyum kecil, lalu kembali menatap kedepan dan saat itu pula,
Cup
Ardi mencium sekilas pipi Nisha. Nisha yang sedikit kaget, tapi tak ingin menoleh lagi kesampingnya, terdiam menggigit bibir bawahnya menatap kembali air mancur yang begitu indah dan membuatnya kembali merona.
Nisha mencubit pelan paha Ardi disampingnya. Tapi Ardi malah meraih tangan itu dan menggenggamnya erat. Tetap menatap lurus kedepan pada pertunjukkan yang membuat hati mereka terasa indah saat ini.
Adakah yang tau kapan air mancur dimonas itu dibuat?
Dan ditahun itulah kisah Nisha dan Ardi didunia nyata itu berlangsung. Heheheππ
Maksih ya atas segala dukungan dan semangat yang selalu kalian kasih buat authot abal abal ini.π€π€π€ miis u all
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
**DUKUNG TERUS KARYA AUTHOR INI YA.
BANTU VOTE LIKE DAN KOMEN
TERIMA KASIH SUDAH MAU MEMBACA
__ADS_1
MOHON DUKUNGANNYAπ€π**