
Kau selalu menerimaku, namun
Hanya untuk membukakan pintu.
Kau tidak pernah menunjukkan
Dimana seharusnya aku berada
Didalam ruang hatimu
* * * * *
" Liaa...." Panggila Nisha sambil berlari saat memasuki gerbang sekolahnya dan melihat Lia yang sedang berjalan sendiri.
Mereka berdua pun jalan bersama menuju kelas di lantai 3.
" Salammualaikum " Sapa Nisha dan Lia saat memasuki kelas yang baru dihadiri separuh jumlah murid dikelas itu.
" Walaikumslam..." jawab teman yang ada, termasuk Dian yang duduk dikursinya.
" Dian...Mauuu! gw lom sarapan " Ucapnya saat melihat Dian sarapan sebungkus nasi uduk.
" Makanya beli apa! "
" Yaa lo kan gak bilang bakal bawa nasi uduk ?" Duduk dikursinya menghadap belakang kursinya dimana Dian duduk.
" Ya udah sini,nitip besok gw bawain " menjulurkan telapak tangannya didepan Nisha. Dan di tepis olehnya.
" Jangan minta mulu lo?"
" Ia besok gw nitip, tapi duitnya besok juga " tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih
" Nih gw juga bawa nasi...Mau makan berdua nih sama gw?" Ucap Lia yang juga mengeluarkan sebungkus nasi.
Nisha pun ikut makan dengan Lia, dan tak lama Eva datang lalu ikut pula nimbrung makan nasi milik Lia. Sedangkan nasi Dian sudah habis sejak tadi ya.
" Eehhh ... lo pada ngerasa gak? kalau anak yang lain kayaknya ngeliatin kita pada sinis gitu ?" Ucap Dian
" Iya emang gw juga ngerasa gitu!" Lanjut Nisha
" Pada sirik itu tau, karena dsini cuma kita kita doang yang kelompoknya punya cowok semua " ujar Lia
" Masssaaa..." ucap Nisha
" Iya sih Emang, cuma kita doang yang ngomongin cowok mulu kalau kumpul begini " ucap Eva.
Hahahahahah
Mereka tertawa sesaat setelah saling berpandangaan satu sama lain, Lalu membungkan mulut meŕeka sendiri saat merasa yang lain memperhatikan mereka.
" Iya juga sih! Apalagi pas dia udah tau gw jalan sama kak Ardi. " melirik kearah dimana imel dan kawan kawannya.
" Dia udah tau, Sha ?" Tanya Lia
" Iya... dan kayaknya dia gak suka dah gw deket sama kak Ardi. Tatapan mata beda, kayak gw mau dibunuh sama dia !" Nisha berucap sambil mengangkat bahunya begidik.
" Massa sih, dia begitu?" Tanya Dian
" Disekolah mah biasa Ian, tapi kalau diluar gw ketemu dia, beda banget !"
" Ya udah sih. Biarin aja dia begitu. Salah dia sendiri kan dulu ninggalin si Ardi. Sekarang saat Ardi sama lo malah gak terima. " ucap Lai
" Ia tuh. Entar kalau Ardi macam macam sama lo, ada kita kok! Ya gak !" Ucap Eva mengangkat alisnya.
" Makasih yaa..." saling tersenyum dan berpelukan.
__ADS_1
" Malam minggu main kerumah gw lagi yaa ?" ucap Eva
" Sììip..." ucap bertiga bersamaan mengangkat satu jempol.
* * * *
" Ardi..." panggil Nana berlari kecil mengejar Ardi yang berjalan bersama tiga temannya dikoridor kampus setelah selesai jam kuliah.
" Kenapa ?" ucapnya saat menoleh kebelakang begitu juga yang lainnya.
" Hhmmm..." melirik kearah ketiga teman samping Ardi.
" kita duluan ya, Ar." ucap zaki menepuk pundak Ardi dan memiringkan kepala pada Hedi dan Kendi memberi isyarat untuk meninggalkan mereka berdua.
" Gw tunggu lo dibengkel ya !" ucap kendi sambil berjalan pergi. Ardi memandang temannya yang berlalu.
" Ada apaan emangnya, Na?" kembali melihat Nana.
" Gak ada apa apa sih. Cuma pengen ngobrol aja sama kamu. Kan udah lama kita pernah ngobrol santai " ucapnya sambil berjalan beriringan keluar kampus.
" Kirain ada yang penting "
" Eehh...lagian kenapa lo gak sama eric? Dan sekarang gw gak pernah liat lo bareng dia lagi?"
" Gw kan udah gak sama dia,"
pantes...gw dah curiga saat pesta widji lo gak sama dia.
" Sejak kapan ?" tanya nya santai
" Lo gak kaget ? ataw emang udah tau." berhenti menghadap Ardi
" Emang gw belom tau. Tapi gw gak kaget juga. Pas pesta widji juga lo gak bareng dia kayak biasanya. Malah dia bawa cewek lain kan?" berjalan kembali
Iaaa...gw pikir lo gak merhatiin gw karena ada cewek baru lo itu. Batin Nana.
" Emang kenapa ?"
" karena...kita gak sependapat. Gw sama dia berantem mulu. ya udah..." mengangkat kedua bahunya
" terus lo tau cewek yang kemaren bareng Eric dipesta?"
" Gw sih gak tau dia siapa. Cuma Eric pernah ngomong, bokapnya ngedektin dia sama anak temennya. Mungkin itu cewek yang dimaksudnya. "
" Yang sama Eric itu Imel, Na. Mantan gw. Temen cewek gw yang sekarang. "
" Maksud lo ?" Nana berhenti mengerutkan dahinya.
" Ya gitu !" melanjutkan jalannya
Jadi cewek itu, Imel. Cewek yang selalu lo ceritain itu.
" Kenapa jakarta jadi sempit amat ya ?" ucapnya yang sudah mensejajarkan langkahnya. Ardi memgangkat bahunya
" Makan dulu yok! Gw yang bayarin " ajak Ardi.
" Ayo...dah lama juga gak ditraktir sama lo." menggandeng tangan Ardi
" Kita makan bakso aja yuk, Ar?"
Ardi pun memgangguk.
Mereka menuju keparkiran motor Ardi. Pergi kewarung bakso, tempat langganan mereka dulu yang tak jauh dari kampus.
Setelah sampai, mereka memesan dua bakso jumbo dan es teh manis.
__ADS_1
" Gw kangen kayak kita dulu, Ar !" ucap Nana sambil memasukkan potongan bakso kemulutnya.
" Yaa...andai waktu itu gw duluan yang nembak lo. Mungkin status kita sekarang bukan temen dan gw gak sempet sama Imel " ucapnya santai memakan baksonya.
Nana hanya terdiam menunduk.
" Gw juga nyesel...kenapa gw harus nerima Eric! Yaa...walau sebenernya, siapa sih yang gak mau sama Eric! cowok ganteng yang paling banyak disenengin cewek di kampus kita. Termasuk gw hahaha "
" Cowok ganteng tapi playboy yaa " Nana mengangguk iya
" kalau sekarang...gw masih bisa gak ngubah hubungan kita ?" Ardi menghentikan tangannya
" Maksudnya ?"
" Yaa...dulu kan lo pernah ngajak gw pacaran, Apa itu masih bisa terjadi sekarang ?" ucap Nana yang ragu
" Hahaha...kalau gw sekarang ngakak lo lagi, terus Nisha gimana ?" melipat tangannya diatas meja. Nana melipat mulutnya terkejut.
Iyaa...Nisha cewek lo sekarang.
" iyaa....gw lupa kalau sekarang lo udah ada Nisha. " Ucapnya lemas memgelus kepala sendiri. Ardi hanya tersenyum
" Maaf ya, Na. "
" Kita kan masih bisa jadi temen baik " meraih satu tangan Nana yang ada dimeja dan menggenggamnya. Lalu saling tersenyum.
" Atau lo mau jadi selingkuhan gw aja ?" ucap Ardi tersenyum. Dan Nana menepis tangan Ardi.
" Ogah. Gak mau gw. Gw aja gak mau diselingkuhin, apa lagi jadi selingkuhan !" ucapnya tegas.
" Yaa kali aja hahaha " Nana memandang sinis pada Ardi.
Lo gak tau Ardi, sesakit apa diselingkuhin itu.
Saat liat orang yang lo sayang bermesraan sama orang lain.
Batin Nana merasaka sakit didadanya bagai ditusuk ratusan pisau tajam, saat mengigat kembali peristiwa dimana dia melihat Eric bercumbu mesra dengan seorang cewek dirumah Eric. Setelah itu lah Nana dan Eric serinh berdebat dan akhirnya memilih pisah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Jangan lupa ya untuk 👍, vote dan rate 🌟 nya
❤ nya juga boleh untuk up selanjutnya
Komen berupa kritik dan saran juga diharapkan jika readers berkenan
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca