
Tidak perlu balas dendam
Duduk saja dan menunggu
Siapa pun yang menyakiti kamu
Suatu saat akan kacau balau sendirinya
Dan bila kamu beruntung
Tuhan akan membiarkan kamu melihatnya
* * * * *
Setelah Lia membersihkan rambutnya dibantu Nisha dan Tia, adik dari Lia. Mereka kembali berkumpul ditaman samping rumah Lia. Makan makanan yang memang sudah disiapkan oleh Lia ditambah yang telah dibeli teman temannya.
Nisha mengobrol dengan Dian bersama Gilang dan Rizal juga Eva. Sedangkan Ardi sedang asik mengobrol dengan Rini dan Dion.
Tak lama datang beberapa teman yang tinggal disekitar rumah Lia. Siapa lagi kalau bukan Apri dan tetangga nya yang lain sebanyak tiga orang.
" Salammualaikum " Apri memberi salam juga yang lainnya.
" Hai... sini ikutan gabung yuk Pri! " ajak Lia yang menghampiri mereka.
Rini, Dian , Eva dan Nisha pun ikut menyambut kedatangan mereka. Semuanya yang ada disana pun hanya memperhatikan. Nisha tiba tiba merasa canggung saat melihat sosok yang ada dibelakang Apri bersama satu cowok dan satu cewek.
" Gak papa kita ikut gabung? " tanya Apri sungkan karena tidak pernah bergabung bersama mereka.
" Ya gak apa pa Pri. Kita kan temen. Lagian biar tambah rame juga! " ucap Rini yang juga lumayan deket dengan Apri.
Ardi yang tadinya sedang asik ngobrol dengan Dion, yang tadinya tidak terlalu memperhatikan teman Lia yang baru datang itu. Tiba tiba wajahnya berubah masam saat matanya menangkap sosok cowok yang ada dipaling belakang sebelah kanan dan sedikit tertutup tubuh Apri. Dan terlihat terus menatap kearah Nisha, dan Nisha yang terlihat salah tingkah dan terus menundukkan kepalanya. Cowok itu adalah Andri.
Ardi langsung berdiri dari duduknya dan memdekati mereka yang berdiri didepan teras. Saat itu juga, Ardi langsung menyentuh telapak tangan Nisha perlahan dan memggenggamnya erat. Nisha yang mendapat sentuhan itu langsung menoleh kesampingnya.
" Ayo duduk didalem " ajak Ardi sedikit berbisik, lalu menarik tangan Nisha agar mengikutinya.
" Pri, gw duluan kedalem ya! " ucap Nisha seraya meninggalkan mereka semua. Lia, Eva dan Dian hanya terbengong melihat Nisha ditarik oleh Ardi dan dengan expresi wajah yang terlihat penuh emosi. Andri pun yang melihat itu, tersenyum getir. Pasalnya Andri yang masih suka mengirimi Nisha pesan, nyatanya tak pernah mendapat balasan dari gadis itu. Bahkan tiba tiba, nomor Andri diblokir oleh Nishs sudah beberapa hari ini. Entah Nisha atau Ardi yang memblokir nomor telponnya.
Apri yang merasa caanggung, memutuskan untuk tidak ikut bergabung. Andri dan dua orang dibelakang Andri pun mengajak untuk pergi dari sana dan hanya mengucapkan selamat untuk Lia. Setelah itu melangkah perฤi meninggalkan rumah Lia.
" Si Ardi kok kayak marah tadi ya? " tanya Rini. Dan ketiga temannya itu hanya mengangkat kedua bahu mereka. Mereka semua tidak tau akan apa yang terjadi antara Nisha, Ardi dan Andri waktu itu. Karena Nisha tak pernah bercerita masalah itu pada teman temannya.
Ardi yng menarik Nisha tadi, memilih duduk didalam rumah Lia diruang tamu.
" Kamu ngapain tadi ikut berdiri diluar? Mau ketemu cowok itu lagi?" Tanya Ardi dingin.
" Siapa maksud kak Ardi? Aku disana karena ada Apri, temen sekelas aku! " ucap Nisha. " Gak usah pura pura gak tau! Disana tadi ada Andri kan? Cowok yang ngejar ngejar cinta kamu itu! Pasti kesini mau ketemu kamu! " ucap Ardi ketus.
Nisha mngerutkan keningnya. " Kak Ar masih cemburu sama dia? Dia kesini pasti karna diundang Lia. Kan dia kenal Lia juga, dia juga sepupu Apri temen Lia juga temen aku juga. Gimana sih? "
" Kamu seneng bisa liat dia ya? Tadi kamu senyum senyum gitu sama dia! " tuduh Ardi masih dengan suara dinginnya.
Nisha membuang napasnya kasar dan memutar bola matanya. " Ya ampun Kak "
" Eehh... pada didalem toh! Dikirain kemana gak ada diluar " ucap Lia tiba tiba yang masuk kedalam bersama Alan. Duduk disofa seberang Ardi dan Nisha.
" Lo kenapa Ardi? Kok muka lo sewot gitu? " tanya Lia. " Gak kenapa napa kok " ucap Ardi sambil tersenyum paksa dan merangkul pundak Nisha. Nisha pun hanya tersenyum sambil mengulum bibirnya kedalam memandang Ardi.
Tak terasa, acara itu berlangsung sudah cukup lama dan sudah cukup larut malam. Mereka semua pun memilih akan kembali pulang.
__ADS_1
" Kak Ardi, anterin aku pulang dulu ya! " pinta Dian yang merasa tak ada teman untuk pulangnya.
" Sama aku aja pulangnya "
Semua yang ada disana menoleh pada sumber suara yang menawarkan diri mengantar Dian. Dia Gilang.
" Gw kan pulang sendiri pake motor, Eva juga sama Rizal. Lo sama gw aja, gw anterin " tambah Gilang.
Lia, Eva , Rini dan Nisha saling pandang dan tersenyum puas.
" Ya udah Yan, tuh sama Gilang aja. Dafi pada Ardi bulak balik " ucap Alan.
Akhirnya Dian pun menerima tawaran Gilang untuk mengantarnya. Lagi pula malam semakin larut.
Mereka semua pun akhirnya berpisah malam itu. Begitu pula pada Nisha dan Ardi.
" Mau langsung pulang atau mau kemana dulu nih? Mumpung masih dijalan! " tawar Ardi. " terserah kak Ardi! Nisha ikut aja " ujar Nisha yang memeluk erat Ardi dari belakang.
" ke ruko aku mau gak? Kita pacaran dikamar aku aja " ucap Ardi menggoda mengelus paha Nisha yang terbalut celana jeans panjangnya.
" Nggak! " jawab Nisha cepat. " katanya terserah aku. Gimana sih! Diajak keroku tapi gak mau " tutur Ardi.
" Ya udah ahk! Pulang kerumah aku aja. Kita tiduran dirumah " ucap Nisha kesal. " tiduran dikamar kamu ya. " goda Ardi.
" Kalau kamu berani, silahkan! " tantang Nisha santai. " Ok! Siapa takut! " seru Ardi.
Namun sesampainya dirumah Nisha, saat melihat Papa Sakti masih asik diruang depan, Ardi berniat melakukan tawaran Nisha tadi dan berniat meminta izin pada Papanya untuk menginap. Tapi ternyata tak dapat dilaksanakan oleh Ardi karena Nisha menahannya.
" kak Ar apa paan sih! " ucap Nisha menarik Ardi keluar dan duduk diteras rumah. " lah! Tadi kamu kan yang nantang aku berani atau gak. Sekarang saat aku mau maju, kamu malah nahan " tutur Ardi mengerenyit.
" Nyebelin ihhk! " seru Nisha membuang wajahnya. Ardi pun langsung menangkap wajah Nisha dan mencium bibirnya sekilas. Seketika itu pula dada Nisha langsung berdebar hebat, pipinya memarah. Selalu saja Ardi membuatnya sepserti itu, padahal itu bukan ciuman yang pertama, tetapi selalu berhasil membuat Nisha tersipu malu.
" Aku tuh kadang gak tahan liat muka kamu yang gemes itu! " ujar Ardi mencubit hidung Nisha. Nisha mengusap hidung sambil tersipu malu. Tak ada rasa kesal atau marah dihatinya seketika itu.
" Sha "
" Hhmm "
Nisha yang tadinya sedang memainkan benda pipihnya, berhenti seketika saat Ardi tak lagi melanjutkan ucapannya.
" Kenapa Kak? Ada yang mau diomongin? "
Ardi pun membuka matanya menatap lurus kewajah Nisha yang ada diatas wajahnya. Terlihat ada keragu raguan diwajah Ardi saat itu. Seperti ada pergulatan emosi yang sedang dipikirkan oleh Ardi saat ini. Dan Nisha merasakan itu dari sorot mata Ardi.
" kok ngeliatnya begitu? Ada yang aneh ya sama wajah aku? " tanya Nisha membelai lembut kepala Ardi.
" Aku mau tanya sesuatu kekamu." Nisha pun mengangguk pelan.
" Ya udah ngomong aja! " seru Nisha.
" tapi kamu jangan berpikiran yang nggak nggak dulu ya! " pinta Ardi yang membuat Nisha mngerutkan keningnya.
" emang mau tanya apaan sih? Kok sampe bilang kayak giti? Lagian aku mau berpikiran apa? Tau juga belom apa yang mau diomongin " tutur Nisha memiringkan kepalanya menatap Ardi.
" mmm...ini soal Imel " ujar Ardi lirih.
Nisha langsung memperdalam kerutan dikening dan hidungnya. Ardi pun mengangkat tubuhnya dan duduk menghadap Nisha yang masih terlihat bingung.
" Imel? " Ardi pun mengangguk
__ADS_1
" Ada apa emangnya? " tanya Nisha lagi
" Mmmm...gimana ya ngomongnya? " Ardi menggaruk tengkuk lehernya. Membuat Nisha semakin bingung akan apa yang dilihatnya dan jadi memikirkan yang tidak tidak akan hal menyangkut Imel.
" Kak Ar masih sayang sama Imel? Mau balikan lagi gitu sama Imel? " tiba tiba saja Nisha bertanya seperti itu. Ardi pun langsung mendongkakkan kepalanya menatap Nisha dan menggeleng cepat.
" Bukan itu Sha maksud aku " ucapnya dengan gerakan kedua tangan melambai.
" Terus! " sentak Nisha
" Aku cuma mau tanya, kamu ngeliat keadaan Imel tuh akhir akhir ini gimana disekolah? " ucapnya cepat.
" Kok! " Nisha semakin terheran akan pertanyaan Ardi.
" Imel biasa aja kok! Sehat. Kamu kok jadi nanyain keadaan Imel? Kamu masih sempet mikirin Imel, perhatian amat. Kamu masih sayang Imel, Kak? Jujur deh sama aku " seketika dada Nisha terasa sesak, pikirannya mulai tak karuan.
" bukan begitu maksud aku, Sha! Duuhh...salah ngomong dah gw! " keluh Ardi mengacak rambut.
" salah gimana sih kak? Jelasin dong ucapan kak Ar tadi tuh maksudnya apa? Jujur aja sama Nisha, Nisha gak akan marah kok. " tutur Nisha mencoba mengatur emosinya yang terasa akan meluap.
" Begini Sha..."
Ardi menjelaskan semua yang didengar Kendi saat ditoilet kampus. Dan Ardi memberitahu siapa dua orang yang dibacarakan Kendi itu pada Nisha. Ardi pun memberitahu apa yang kini ada dipikirannya tentang hal yang berkaitan dengan percakapan yang Kendi dengar saat ditoilet itu dengan Imel.
" Maksud kak Ar, Imel hamil..." Ardi pun mengangguk pelan. Nisha membungkam mulutnya dengan satu tangan dan mata membulat tak percaya.
" Tapi aku juga masih ragu Sha " ucap Ardi lirih.
" Ya Tuhan... Imel "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maafkan author ya guys. Author cuma bisa nulis segini aja. Ini aja udah 1500 kata lho tiap aku nulis. Kalau aku yang baca juga mungkin rasanya masih kurang. Tapi jika buat author yang nulis, ini dah lumayan๐. Otaknya cuma mentok sampai jumlah kata segitu aja๐๐๐ Doakan saja, author bisa merangkai kata lebih banyak lagi nanti kedepannya. Tapi kalau masih gak bisa nulis panjang juga, mohon dimaklumi ya๐ค๐ค๐๐
author sayang kalian semua yang sudah mau membaca karya yang tak seberapa ini. Karena author tak punya pengalaman apapun dibidang menulis. Karena author buat ini hanya untuk menyalurkan isi hati saja. yang sebenarnya karya author ini masih jauh dari kata pantas. Tapi kalianlah yang membuat auhtor terus bersemangat.๐ค๐ Jadi curhat kan ๐๐๐
TBC
**TOLONG BANTU VOTE YA BAGI YANG PUNYA POINNYA.
LIKE DAN KOMEN JUGA
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA
MOHON DUKUNGANNYA๐ค๐**