Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Mendampingi Mantan Melahirkan


__ADS_3

Malam harinya Faraz yang tidak mendapati Alia belum pulang merasa cemas, Padahal di telfon Alia hanya meminta izin untuk ke mini market terdekat tapi sampai Ia tiba di rumah, Alia belum juga pulang.


Faraz bergegas keluar dan melihat Supir yang di khususkan untuk Alia berbincang santai dengan Satpam dan Mang Dayat.


"Kenapa Anda disini? Dimana istriku?"


"Maaf Tuan, Nyonya Alia tidak mau di antar, Nyonya bilang ingin pergi sendiri."


"Kenapa Anda menurutinya? Bagaimana jika terjadi sesuatu, Ini sudah malam."


Belum sempat Supir menjawab, Faraz di kagetkan oleh dering ponselnya.


"Sayang jangan marahin pak supir," terdengar suara Alia dari ujung telepon.


"Alia, Bagaimana Kau tau?"


"Itu sudah jadi kebiasaan mu kan," ucap Alia tertawa.


"Bagaimana Aku tidak memarahinya, Kau pergi sendiri Bagaimana jika..." Faraz menggantung ucapannya.


"Sekarang katakan Kamu dimana, Aku akan menjemputmu."


"Aku sudah jalan pulang, Ni mau nyebrang."


"Aku jemput ya."


"Ya baiklah."


Faraz Segera menutup ponselnya dan mengeluarkan mobil dari garasi.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa...." jeritan yang begitu kuat dari rumah Kavita menghentikan Faraz, Hati nuraninya tersentuh mendengar jeritan yang terdengar sangat memilukan itu.


Faraz segera turun dari mobilnya dan berlari ke rumah Kavita.


"Kavita..." Faraz mencoba melihat dari celah jendela dan terus menggedor-gedor pintunya.


"Kavita apa yang terjadi?" triak Faraz yang tidak melihat Kavita.


Kavita yang mendengar suara Faraz turun dari ranjangnya, Ia melangkah keluar dan terus memegangi perutnya yang terasa begitu sakit tak tertahankan.


Dengan susah payah akhirnya Kavita berhasil mencapai pintu.


"Kavita!" Faraz terkejut melihat air bening bercampur darah mengalir di kaki Kavita.


"Kavita!" Faraz menopang tubuh Kavita yang hampir terjatuh karena lemah.


"Dimana Ibu mu?"

__ADS_1


"Sedang pengajian, Aawwhhh sakit Faraz." Kavita mencengkeram lengan Faraz karena menahan sakit yang luar biasa.


"Apa yang harus ku lakukan, Aku juga harus menjemput Alia," batin Faraz.


"Faraz tolong antar Aku ke rumah sakit, Aku tidak kuat lagi." ucap Kavita yang terasa begitu tersiksa.


Faraz yang tidak tega melihat keadaan Kavita memutuskan untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Faraz yang melihat Kavita sudah sulit berjalan, Segera menggendongnya dan membawanya ke mobil,


Faraz membaringkan tubuhnya di kursi belakang kemudi.


"Kau bisa memegang sabuk pengaman ini agar Kau tidak terjatuh." ucap Faraz mengulurkan sabuk pengaman tersebut.


Faraz mengambil ponsel dari saku celananya berniat ingin menghubungi Alia, Namun jeritan Kavita membuat Ia mengurungkan niatnya dan segera memacu mobilnya dengan cepat.


~~


Sesampainya di rumah sakit Faraz bergegas memanggil perawat.


Perawat dengan sigap mendorong brankar mendekati mobil Faraz dan membopong tubuh Kavita.


Faraz kembali ingin menghubungi Alia namun Perawat menghentikannya karena Faraz harus mengisi administrasinya.


Faraz kembali memasukan ponselnya ke saku celananya dan menuju ruang administrasi.


"Maaf apa Anda suaminya?"


"Apakah tidak ada anggota keluarga? Kami harus segera menanganinya."


"Maka tunggu apa lagi! Segera tangani Dia!" hardik Faraz.


"Tapi Kami membutuhkan tanda tangan keluarganya."


"Aku yang akan bertanggung-jawab," Faraz segera merebut formulir itu dan menandatanganinya.


"Sekarang cepat tangani Dia!" perawat mengangguk dan pergi.


Faraz memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


"Hhhhhuuff." Ia menghelai nafas kasar untuk mengurangi rasa tegang di hatinya. Kemudian Ia teringat kembali jika Ia harus menjemput Alia.


"Alia.." Faraz mengambil ponselnya dan mencoba menghubunginya.


"Tuuutttt... Tuuuuuttt... Tuuutttt..."


"Dia tidak mengangkatnya, Apa Dia marah padaku?" Faraz terus berusaha menghubungi, Namun Alia tak juga mengangkatnya.

__ADS_1


"Sayang... Jangan membuat ku khawatir." Faraz terus berusaha menghubunginya hingga Ia berhenti saat mendengar tangisan bayi dari ruang operasi.


Ada perasaan yang tidak biasa saat mendengar tangisnya.


Karena Ini pertama kalinya Faraz mendengar tangis bayi secara langsung, Hingga tanpa di sadari, Faraz melangkahkan kakinya mendekati pintu tersebut.


Faraz terkejut saat dokter membuka pintunya.


"Selamat, Bayi Anda telah lahir dengan selamat melalui operasi Caesar" ucap Dokter yang mengira Faraz adalah Ayahnya.


"Hagh!" Faraz tercengang mendengar ucapan Dokter.


"Sekarang Anda bisa melihatnya."


Dengan menganggukkan kepalanya, Dengan sangat pelan Faraz melangkah masuk melihat Kavita dan bayinya.


Kavita melempar senyum saat Faraz berjalan semakin mendekat ke ranjangnya.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Faraz.


"Aku tidak tau apa yang akan terjadi kepadaku jika tidak ada dirimu Faraz." ucap Kavita sedih.


Faraz terseyum tipis menundukkan kepalanya.


"Silahkan Tuan, Bayinya di Adzanin dulu," ucap Perawat memberikan bayi yang sudah di bersihkan.


Dengan tangan gemetar Faraz menggendong bayi itu.


Ini perasaan yang sangat menakjubkan, Perasaan yang aneh yang belum pernah Faraz rasakan.


"Seperti inikah memiliki seorang bayi," batinnya.


Dengan penuh kekhususan Faraz mengumandangkan adzan di telinga kanan sang bayi dan di akhiri dengan iqomah di telinga kirinya.


Kavita menangis haru melihat Faraz yang telah Ia sakiti, Menjadi penolongnya saat Ia bertaruh nyawa.


"Apa jenis kelaminnya?" tanya Faraz membuyarkan lamunan Kavita.


"Baby girl," ucap Kavita.


"She is so cute" Faraz mencium gemas bayi itu yang terlihat begitu nyaman dalam gendongan Faraz.


"Seandainya saja Faraz Ayah dari Putri ku, Tentu Aku akan sangat merasa bahagia," batin Kavita yang melihat Faraz begitu antusias kepada bayinya tanpa mempermasalahkan bayi itu Putri dari mantan istri dan selingkuhannya.


Bersambung...


AKAN MENDAPAT PROTES APA LAGI NIH AUTHOR 🤪

__ADS_1


_____________________________________________________


BUAT YANG BELUM BACA BAB PAGI INI, BACA DI BAB 115 YA, KARENA BAB SEMALEM DI HAPUS 🙏🤗


__ADS_2