Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Always Hottie


__ADS_3

Bryan masuk ke kamar dan duduk di tepi ranjang dengan hati yang gusar. Kedua tangannya menopang kepalanya yang terasa begitu sakit dengan apa yang baru saja terjadi.


Drrrttttttt... Drrrttttttt....


Suara getaran ponsel mengagetkan Bryan.


Ia segera megeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat begitu banyak panggilan dan pesan dari Zia.


"Oh ya ampun, Aku sampai lupa dengan janjiku." batin Bryan yang kemudian menekan tombol hijau untuk mengangkatnya.


"Hallo Om..." suara Zia terdengar begitu cemas begitu Om Bryan mengangkat ponselnya.


"Ya." jawab Bryan singkat.


"Ada apa Om?" tanya Zia yang merasa jawaban Bryan tidak seperti biasanya.


"Tidak papa sayang, Om hanya sedang sedikit kesal."


"Apa putri Om tidak mengizinkan?"


"Tidak, A-e... Bukan itu Sayang, Om hanya..."


"Om bisa membatalkan niat Om."


"Tidak sayang, Om akan datang, Kamu bersiaplah."


"Om yakin?"


"Ya."


Setelah mengakhiri panggilan telepon, Bryan segera mandi dan bersiap menemui calon mertuanya meskipun masih belum mendapat izin dari putri semata wayangnya.

__ADS_1


Bryan meninggalkan kamar dan berpapasan dengan Bella yang juga baru keluar dari kamarnya.


Papah dan anak itu saling memandang dengan kegundahan hati masing-masing.


Kemudian Bella melangkah mendekati Papahnya.


"Jadi hanya gadis kecil itu sumber kebahagiaan Papah? Bukan Bella?" tanya nya sedih.


"Jika Papah tidak bahagia dengan mu, Papah tidak akan menunggu waktu selama 19th untuk menikah kembali, Kamu bukan hanya sumber kebahagiaan Papah tapi Kamu juga sumber kehidupan Papah, Tapi sepertinya itu tidak cukup untuk mu." setelah mengatakan itu Bryan melewati putrinya begitu saja seakan restunya tak lagi penting untuknya.


•••


Zia mondar-mandir di depan pintu menantikan Om Duda pujaan hatinya. Rasa tegang dan bahagia yang Zia rasakan secara bersamaan membuat hatinya begitu resah. Zia terus bercekak pinggang sambil terus menggigiti ujung-ujung kukunya yang sudah menjadi kebiasaannya.


Setelah menunggu waktu yang cukup lama dan membosankan akhirnya penantiannya berakhir dengan kedatangan Om Bryan menggunakan mobil hitam mewahnya.


Zia terseyum lebar dan langsung berlari ke arahnya.


"Om... Zia kangen sekali sama Om." ucap Zia dengan manja sembari bergelayut di lehernya hingga membuat Om Bryan harus sedikit membungkukkan badannya.


Bryan yang masih terganggu dengan pertengkarannya dengan Bella hanya tersenyum tipis dan mengusap punggung kekasih kecilnya.


"Kita temui Papa Faraz dulu," ucap Bryan mengurai pelukan Zia.


Zia yang merasa Om Bryan tak sehangat biasanya kembali menarik tangan Om Bryan untuk menghentikan langkahnya.


"Om, Om terlihat tidak seperti biasanya?"


"Om hanya sedikit tegang karena akan bicara pada Papa mu, Tapi kamu jangan khawatir, Om akan berusaha bersikap tenang di depan Papa Faraz, Sekarang Zia panggil Papa dan Mama, Hem?"


Mendengar itu Zia tak lagi curiga dan masuk kedalam untuk memanggil kedua orang tuanya.

__ADS_1


Bryan menghelai nafas panjang, Karena yang sebenarnya keresahan hatinya bukan karena ingin menghadapi calon mertuanya yang tak lain adalah temannya sendiri, Tapi Bryan lebih merasa resah karena pertengkaran dengan putrinya.


"Akh... Akh... Akh..." desa'han kenikmatan dari Alia saat Faraz terus menghentakkan miliknya, Dengan posisi menu'ngging membuat Alia merasakan milik Faraz begitu dalam menembus rahimnya.


Tak kalah dari Alia, Faraz juga melenguh merasakan miliknya yang begitu hangat di dalam sana, Faraz mejamkan mata dengan menengadahkan kepalanya ke atas menikmati setiap hentakan yang Ia mainkan. "Oughhh... Oughhh... Oughhh..."


"Pa... Tok... Tok... Tok..."


Kenikmatan itu terhenti saat suara Zia memanggilnya dengan diiringi ketukan pintu.


Faraz masih dengan posisinya menatap pintu, Begitu pun dengan Alia yang terdiam menikmati hasratnya yang belum mencapai puncaknya.


"Pa..."


"Ya, Ada apa Zia?" tanya Faraz yang masih tidak melepas senjatanya dengan bertumpu pada dua lututnya.


"Ada Om Bryan."


"Ya, Baiklah, Zia pergilah, Papa akan menyusul."


Tanpa memprotes lagi, Zia meninggalkan kamar Papanya.


Faraz bernafas lega setelah tidak lagi mendengar suara Zia.


Kemudian Faraz kembali memandangi istrinya yang masih menu'ngging begitu indah, Faraz meremad bo'kong Alia dengan gemas hingga membuatnya kembali berga'irah dan tidak ingin menghentikan permainannya di tengah jalan meski Ia tau Bryan tengah menunggu.


Bersambung...



MENGEJAR DUDA TEMAN PAPA, KUMPULAN KISAH CINTA OM BRYAN DAN ZIA, COOMING SOON 🥰♥️🔥

__ADS_1


__ADS_2