Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Usaha Terakhir Zia


__ADS_3

Zayd mengusap wajahnya dengan kasar.


kemudian menjambak rambutnya memikirkan apa yang baru saja terjadi.


Bayangan saat menc'umbu Alea dan kenyataan jika Alea putri dari musuh Papa nya.


"Kenapa, Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Arrrgghhhh!!!"


Zayd menghempaskan barang-barang yang ada di atas mejanya.


Malam Hari 🌙


Zayd sampai di rumah. Melihat Papanya yang sedang duduk santai di ruang tamu, Zayd mendekati dan duduk di sebelahnya.


Melihat gelagat Putranya, Faraz mencoba mengulik apa yang terjadi dengannya.


"Ada masalah di kantor?"


"sedikit." ucap Zayd ragu.


"Kamu bisa menceritakannya pada Papa."


Zayd menarik nafas dalam-dalam dan menanyakan apa yang sedang mengganjal hatinya.


"Papa masih ingat Barry Hawley Harjanto?"


"Tentu, Papa tidak akan pernah melupakannya, Karena Dia Mama mu salah faham pada Papa dan karena salah faham itu juga Mama mu sampai hampir tertabrak hingga harus melahirkan kalian sambil marah-marah pada Papa, Dia juga yang membuat Zayn di culik, Belum lagi kejahatan lainnya."


Zayd terdiam mengingat rasa cintanya pada Alea.

__ADS_1


"Ada apa Zayd, Kenapa Kamu menanyakannya, Apa Dia menganggu perusahaan?"


"Tidak Pa, Aku hanya deangar kabarnya jika sekarang Dia berada di Surabaya."


"Ya, Kabarnya setelah keluar dari penjara, Dia pindah ke Surabaya, Tapi itu bagus, Berarti Dia tidak akan lagi mengganggu keluarga Kita."


Zayd menganggukkan kepalanya dengan sangat pelan.


Ia tidak bisa membayangkan apa reaksi Papanya jika tau dirinya jatuh cinta pada Putri musuhnya.


•••


Zia yang masih belum bisa menerima keputusan Om Bryan keesokan harinya kembali pergi ke kantor Om Bryan untuk mencoba usaha terakhirnya.


Dengan menggunakan dress kemben pendek sebatas lutut dan di padukan dengan blazer putih lengan panjang, Zia melangkah anggun memasuki kantor Om Bryan.


Tidak seperti biasanya yang hanya mengenakan seragam sekolah, atau pakaian seadanya, Kini Zia berpenampilan layaknya wanita dewasa hingga menarik perhatian semua mata yang memandangnya.


Ia mencoba membuka pintu yang sedikit terbuka itu. Namun seketika langkahnya terhenti saat melihat Om Bryan tengah berdiri berhadapan dengan seorang wanita dewasa.



Zia memperhatikan wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Meskipun Zia hanya bisa melihat wanita itu dari samping, Tapi Zia bisa melihat bentuk dada yang cukup besar perut rata serta bo'kong yang sintal dengan bentuk sempurna. Jauh dari dirinya yang memang masih dalam masa pertumbuhan.


Hatinya semakin terasa nyeri saat Zia melihat wanita itu mencium pipi kanan dan kiri Om Bryan yang terlihat diam saja saat wanita itu mendaratkan bibirnya.


Zia bergegas menjauh dari pintu saat wanita itu memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Zia bersembunyi di balik dinding ketika wanita itu mulai mendekati pintu keluar. Dengan di antar Om Bryan, Wanita itu meninggalkan ruangannya.


Om Bryan mengantar Wanita itu sampai di lobby, Setelah wanita itu pergi Om Bryan kembali dan begitu terkejut melihat Zia yang sudah berdiri di depan ruangannya.


"Zia, Sejak kapan Kamu di sini?"


Zia hanya diam menahan kesedihannya.


Om Bryan yang melihat kesedihan di wajahnya mengajak Zia masuk ke ruangannya.


"Masuklah." titah Bryan dengan lembut.


Zia yang sudah tidak tahan lagi dengan perasaannya langsung menangis dan menumpahkan kegundahan hatinya.


"Kurangnya Zia apa sih Om, Apa Zia kurang cantik, Kurang mont'ok, Payu'dara Zia kurang besar atau bo'kong Zia yang tidak seindah bo'kong wanita itu?" tanya Zia dengan tangis emosionalnya.


"Apa yang Zia katakan, Dalam hubungan pria dan wanita dewasa apa lagi untuk pernikahan, Kesempurnaan fisik bukanlah hal yang utama, Banyak hal yang harus di pertimbangkan Zia, Apa lagi Om punya anak remaja, Yang pastinya segala sesuatunya Om harus meminta persetujuan dan pendapatnya, Om tidak bisa lagi asal memilih wanita yang Om cinta dan mengabaikan pendapatnya."


"Jadi keputusan Om mau menikahi wanita itu sudah bulat?" tangis Zia.


"Zia please jangan menangis, Zia masih sangat muda dan Papa Zia adalah sahabat Om, Banyak sekali perbedaan di antara Kita, Akan sulit jika Kita menjalin hubungan."


Dengan berderai air mata Zia berlari meninggalkan ruangan.


"Zia... Dengerin Om." pekik Bryan yang terus berlari menuju lift mengikuti Zia.


Melihat lift yang tidak juga terbuka dan melihat Om Bryan semakin dekat, Zia berlari ke tangga darurat.


"Zia Sayang, Jangan seperti ini, Kamu bisa celaka." bujuk Bryan yang ikut menuruni tangga darurat. Namun Zia tidak peduli dan terus berlari menuruni tangga dari satu lantai ke lantai lainnya.

__ADS_1


Bersambung...


YANG BILANG ANAK-ANAK FARAZ TERLALU DI BEBASIN DAN NGGAK PAKE BODYGUARD, MOHON MAAF YA, JIKA AUTHOR LAKUKAN ITU LALU AUTHOR HARUS MENCERITAKAN APA KALAU SEMUA ADEM AYEM DAN LURUS-LURUS SAJA 🤣


__ADS_2