
Setelah cukup lama menatap, Alia mengalihkan pandangannya,
Kemudian Alia membuka mulut Faraz.
"Eeeummmm...." Alia menutup hidungnya.
"Ternyata benar, Dia memang habis minum, pantas saja bicararanya ngelantur, Dia kecewa Dengan orang lain, tapi meluapkannya pada ku,
Daaan... Sebenarnya apa enaknya minuman itu, kenapa Dia terus saja minum? Apa Dia fikir setelah minum masalah nya akan selesai?" ucap Alia ngomel sendiri.
Alia kembali terdiam menatap Faraz.
"Saat Ia tertidur wajahnya begitu polos, tapi... Jika sudah bangun Dia berubah menjadi monster yang menyeramkan," umpat Alia.
Alia menarik nafas panjang dan membuka sepatu Faraz.
Kemudian membenarkan posisi kaki Faraz yang masih menggantung di lantai, Mengangkat kepalanya dan membenarkan bantalnya,
Faraz yang merasa terusik merubah posisinya hingga merangkul pundak Alia.
"Auuhhh... Berat sekali tangannya, kebanyakan dosa ini mah," ucap Alia sambil berusaha menurunkan tangan Faraz namun Faraz malah menariknya hingga Alia terjatuh di dadanya.
Alia terdiam dan merasa jantungnya berdebar dengan kencang.
Setelah menunggu cukup lama, Alia pun berhasil menurunkan tangan Faraz dari bahunya.
°°°
Pagi Hari.
Perlahan Faraz membuka matanya.
Samar-samar Faraz melihat Alia yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Faraz membuka mata sepenuhnya dan menatap Alia yang tengah membelakanginya.
Alia mengibaskan rambut panjangnya hingga tubuhnya memutar menghadap Faraz.
Alia menjadi gugup melihat Faraz yang menatapnya dengan lekat.
Alia mengalihkan pandangannya kesana kemari untuk mengalihkan kegugupannya, namun Faraz tidak juga melepaskan pandangannya.
Alia yang menyadari Faraz seperti orang yang belum sadar sepenuhnya melambaikan tangannya ke wajahnya.
"Bucin..." ucap Alia.
Faraz masih tak merespon.
"Buccccinnn!!! Apa yang kamu lihat?" triak Alia mengagetkan Faraz.
Faraz pun tersadar dan menurunkan pandangannya.
"Apa Kau masih mabuk?" tanya Alia.
__ADS_1
"Kapan Aku mabuk?" ucap Faraz mengalihkan pandangannya.
"Masih tidak mengaku," ucap Alia.
Faraz menoleh kesamping dan melihat bantal di sebelahnya.
"Apa semalam kita tidur bersama?" tanya Faraz terkejut.
Alia terdiam mendengar perkataan Faraz.
"Cupu... Kenapa diam, Aku sedang bertanya, apa semalam kita tidur bersama?" ucap Faraz kesal.
"Kalau iya memangnya kenapa, bukankah kita suami istri?" goda Alia.
"Tidak... Itu tidak mungkin!"
"Apa yang tidak mungkin, saat laki-laki dan perempuan dalam satu kamar, apa lagi kamu mabuk, semua bisa terjadi," ucap Alia.
"Tidak, Aku tidak mungkin melakukan itu pada gadis cupu seperti mu,"
"Ckckck... Tapi sayangnya kamu sudah melakukan pada gadis cupu ini, masa kamu tidak ingat sama sekali, padahal kamu begitu luar biasa," ucap Alia menahan tawa.
"Itu tidak mungkin terjadi, Aku tidak mengingatnya sama sekali," Faraz memegang kepalanya mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
"Kamu sungguh keterlaluan, masa Kamu melupakan malam pertama kita," ucap Alia memasang wajah sedihnya.
Faraz langsung menarik lengan Alia dan mencengkram nya dengan sangat kencang.
"Lepaaasssss!" Alia menahan sakit.
"Kamu jangan main-main dengan ku, sekarang katakan apa yang sudah terjadi semalam?" Faraz semakin mengkraman lengan Alia.
"Awwhhh sakit!" Alia menginjak kaki Faraz.
Sontak Faraz melepaskan cengkeramannya.
"Kau...!" Faraz menunjuk wajah Alia.
"Dengar! Meskipun Aku gadis cupu tapi harga diriku lebih berharga dari diriku sendiri, satu lagi... Aku tidak tertarik untuk menyentuh mu," ucap Alia melangkah meninggalkan Faraz.
Faraz langsung menarik tangan Alia ke sisinya.
"Apa tadi kamu bilang? Kamu tidak tertarik menyentuh ku?" Faraz merapatkan tubuhnya pada Alia.
Alia berusaha melepaskan tangan Faraz dengan kesal.
"Bagaimana jika aku yg menyentuh mu? Apa Kau tertarik?" Faraz membelai wajah Alia.
Alia memalingkan wajahnya dengan kesal.
Faraz mendekatkan wajah mereka.
Alia menundukkan pandangan ke samping.
__ADS_1
"Kenapa? Apa kamu takut tertarik padaku? Lihat wajah ku jika Kau memang tidak tertarik padaku," kali ini Faraz membelai belakang telinga Alia.
Alia menggeliat geli dan langsung mendorong Faraz.
"Apa kamu masih mabuk!" ucap Alia kesal.
Faraz semakin kesal dan langsung menjatuhkan Alia ke atas tempat tidur.
Belum sempat Alia bangun Faraz langsung menindihnya dan menekan kedua tangan Alia.
"Kenapa? sebelumnya kamu bilang kita telah melakukan malam pertama kita, lalu kamu bilang jika kamu tidak tertarik menyentuh ku, Jadi mana yang benar? Hem!!! katakan? Apa perlu Aku membuktikan keduanya sendiri?" Faraz mencoba mencium Alia.
Alia memejamkan matanya dan mengalihkan wajahnya kesana kemari menahan kegilaan Faraz.
Faraz terdiam sesaat menatap wajah Alia dari jarak yang sangat dekat.
Alia yang merasa Faraz tidak melakukan apapun membuka sedikit mata sebelahnya untuk melihat apa yang sedang Faraz lakukan.
"Faraaaaz.... Aliaaaa....." terdengar suara ibu mengetuk pintu kamar mereka.
Alia membuka mata sepenuhnya dan menatap pintu
"Faraz... Alia... Apa kalian belum bangun?" tanya Ibu lagi.
"Bucin, Ibu memanggil kita," ucap Alia yang melihat Faraz masih terdiam.
"Bucin...!!!" Alia meninggikan suaranya.
Faraz pun tersadar dan bangun dari atas tubuh Alia.
Alia berdiri merapikan diri dan bergegas membuka pintu.
"Iya Ibu," ucap Alia.
Ibu melihat kedalam dan melihat Faraz duduk di tepi ranjangnya.
tanpa sengaja Netra ibu tertuju pada lengan Alia yang terlihat merah karena cengkraman Faraz.
"Alia tanganmu?"
"Ee.... Iniii..." Alia segera menutupi dengan tangan sebelahnya.
Ibu tersenyum penuh arti.
"Kenapa Ibu tersenyum?" Alia merasa bingung.
"Faraaaaz..." Ibu tersenyum kearah Faraz sembari menggoyangkan jari telunjuknya.
Faraz merasa bingung kenapa Ibu tersenyum padanya.
Alia pun semakin bingung dengan apa yang Ibu fikirkan.
Bersambung...
__ADS_1