
Faraz melesapkan pelukannya dan kembali membaringkan Alia.
"Sekarang Kita lupakan semuanya. Kamu harus banyak istirahat biar cepat kembali pulih, Tidurlah."
"Mas mau kemana?" Alia kembali memegang tangan Faraz.
"Mas keluar sebentar,"
"Aku ingin tidur di temani Mas."
Faraz terseyum dan berbaring di sebelah Alia.
"Tidurlah," Faraz pun memeluk Alia dan menempelkan kepalanya di pundaknya.
•••
Sebelum subuh Alia sudah keluar dengan rambut basah.
Alia mengambil handuk kecil untuk mengeringkannya.
Pada saat Alia mengibaskan rambutnya tetesan air dari rambutnya mengenai wajah Faraz hingga Faraz mulai membuka matanya.
Seolah rasa kantuknya langsung hilang hilang, Faraz memandangi tubuh istrinya yang berdiri membelakanginya.
Faraz sedikit menaikan tubuhnya dan bersandar di sandaran ranjangnya.
Dengan memainkan dagunya, Faraz terseyum menatap Alia yang terlihat kembali segar dan bersemangat.
Alia memutar tubuhnya dan terkejut melihat Faraz yang sudah bangun sembari menatap lekat dirinya.
"E-e... M-mas sudah bangun."
Faraz menganggukkan kepalanya dan turun dari ranjangnya.
Ia melangkah mendekati Alia dan memeluk tubuhnya yang masih mengenakan bathrobe.
Kemudian Faraz memutar tubuh Alia dan menyingkirkan rambut yang menutupi lehernya, Kemudian menghirup ceruk leher Alia yang masih segar dengan aroma sabun mandi.
Alia menggeliat geli saat Faraz mulai menaikkan sapuannya ke bawah telinganya.
__ADS_1
sedangkan kedua tangannya mulai merayap ke dada Alia hingga membuatnya memekik lirih.
"Aowwh..."
Faraz langsung melepaskan tangannya dan memutar tubuh Alia menghadapnya.
"Apa Aku menyakitimu?"
Alia mengangguk kecil sembari memegangi dadanya yang terasa mengeras dan begitu sakit.
"Itu keras sekali." ucap Faraz.
"Ya dan ini sakit sekali."
"Mas akan panggil Ibu."
"Tidak, Pergilah sholat dulu, Setelah itu baru Mas panggil Ibu."
"Baiklah."
Setelah melaksanakan sholat subuh, Faraz memanggil Bu Fareeda untuk melihat apa yang Alia keluhkan.
"Kenapa Sayang?" tanya Bu Fareeda.
"Payu*dara ku keras sekali Bu dan ini sakit sekali."
"Hal ini normal terjadi di hari-hari pertama kelahiran bayi, Terutama 3-5 hari setelah melahirkan, Ini merupakan sinyal yang baik bagi Ibu yang ingin segera menyusui bayinya dengan lancar." jelas Bu Fareeda.
"Kamu bisa mencoba menyusuinya." lanjut Bu Zeenat.
"Tapi Asi ku belum keluar,"
"Kamu tidak perlu menunggu ASI keluar untuk mulai menyusui bayi mu, Justru Kamu harus membiarkan bayimu menyusu langsung untuk menstimulasi agar ASI lekas diproduksi oleh payu dara."
Alia pun mengangguk dan mulai mengeluarkan payu dara nya.
Faraz yang sedari tadi mendengarkan apa yang mereka bicarakan membelalakkan matanya sembari menelan salivanya melihat payu dara Alia yang terlihat semakin besar dan penuh.
"Sekarang Kamu pijit memutar sebelum memberikannya pada bayimu,"
__ADS_1
"Biar Aku yang melakukan," ucap Faraz yang begitu bersemangat.
"Faraz." Bu Zeenat langsung menjewer telinga Faraz.
"Aww... Aww..."
"Dasar nakal,"
Alia dan Bu Fareeda menahan tawanya.
"Sekarang cobalah." Bu Fareeda memberikan bayinya pada Alia.
Alia memangku bayinya dan mulai menyu suinya.
Alia mulai merasakan payu daranya seperti di pijat dari dalam dan mengurangi rasa sakitnya.
"Bagiamana Alia?"
"Lebih terasa nyaman Ibu, Tapi kok agak kekuningan keluarnya."
"ASI yang keluar pertama kali memang bukanlah berbentuk seperti su su yang berwarna putih pekat, ASI perdana yang juga disebut sebagai kolostrum, Memiliki konsistensi yang berbeda.
Mayoritas Ibu menghasilkan kolostrum yang berwarna kekuningan dan agak kental, Ini menandakan kolostrum memiliki ciri ASI berkualitas." jelas Bu Zeenat.
"Syukurlah jika ASI mu sudah keluar," ucap Bu Fareeda.
"Setelah ini Kamu juga dapat melakukan cara memerah ASI dengan menggunakan tangan (teknik marmet).
Kamu juga bisa memompa dengan menggunakan pompa ASI yang memiliki daya is'ap baik, Selain itu Kamu juga bisa memompa ASI secara reguler, Yakni setiap 2-3 jam sekali. Di awal masa menyu sui, Kamu mungkin hanya mendapatkan beberapa tetes ASI perah. Namun jumlah itu akan semakin melimpah jika rutin mengosongkan ASI dari payu dara." jelas Bu Zeenat.
"Terimakasih banyak Ibu, Aku tidak tau bagaimana jika tidak ada Ibu mertua dan Ibu juga,"
"Sama-sama Sayang." ucap Bu Zeenat di ikuti oleh senyum Bu Fareeda.
"Tenanglah Sayang, Jika untuk masalah memerah ASI, serahkan kepada ku," ucap Faraz yang langsung kembali mendapat pukulan dari Ibunya.
Bersambung...
BACA JUGA "PESONA MAJIKAN'KU" BAB AKAN MEMASUKI MAJIKAN YANG AKAN SEGERA MENIKAHI PENGASUH PUTRINYA.
__ADS_1