
Setelah membicarakan lebih lanjut, Bertanya pada Satpam dan Bibi, Faraz juga mengajak Alia melihat CCTV untuk lebih meyakinkannya.
Selain itu Faraz juga meminta anak buahnya mengawasi Barry untuk memastikan kebenaran ucapan Nindi.
Setelah lebih dari satu Minggu, Faraz dan Alia belum bisa memutuskan pekerjaan apa yang akan mereka berikan pada Nindi. Di perusahaan Ayahnya maupun perusahaannya tidak sedang membutuhkan karyawan. Sedangkan memperkejakan di rumah Mereka tidak mungkin, Meskipun Nindi tidak keberatan bekerja sebagai Asisten rumah tangga maupun Baby Sitter Namun Faraz tidak bisa melakukannya mengingat Nindi sebelumnya bekerja sebagai sekretaris Tuan Barry.
"Selama ini Saya sebagai tulang punggung keluarga, Ayah telah tiada dan Ibu tidak bekerja, Sedangkan masih ada dua adik yang masih membutuhkan biyaya sekolah, Saya benar-benar sangat membutuhkan pekerjaan ini untuk memenuhi semua kebutuhan kami." ucap Nindi mengiba.
"Mas..."
Faraz dan Nindi menoleh ke arah pintu melihat kedatangan Alia beserta Si Kembar dan Baby Sitter nya.
"Sayang Kamu kesini?" Faraz mengusap Zayd yang ada di gendong Alia, Sedangkan Zayn ada di gendongan Ratna.
"Iya tadi habis imunisasi, Karna lewat, Jadi mampir deh mau ngajak Mas makan siang sekalian."
"Bayinya bikin gemes banget, Sudah berapa minggu ya lupa," ucap Nindi melihat Zayn di gendongan Ratna.
"Satu bulan Bu." saut Ratna.
Alia menoleh ke arah Nindi dan melihat ke Faraz.
Faraz menggelengkan kepalanya pada Alia tidak tau apa yang harus Ia lakukan.
"Nindi..."
"Eh, Ya Nyonya, Bagaimana kabar Anda?"
"Baik, E-e Mas Faraz sudah menceritakan semuanya dan barusan Aku juga sudah mendengar keluhan mu. Tapi maaf Kami tidak bisa memberimu pekerjaan."
Faraz dan Nindi melihat Alia dengan rasa kecewa, Biar bagaimanapun Nindi telah berbuat baik pada Faraz dengan tidak melakukan perintah Bosnya hingga Ia rela kehilangan pekerjaan yang menjadi satu-satunya mata pencahariannya.
"Sayang..." Faraz mencoba memprotes.
"Biarkan Aku selesai bicara Mas."
__ADS_1
Faraz pun mengangguk dan mempersilahkan Alia kembali mengeluarkan pendapatnya.
"Begini saja, Kami akan membantumu untuk membiayai sekolah adikmu, Tapi kalau untuk pekerjaan Kami belum bisa memberikannya."
"Saya tidak bisa menerima uang Anda cuma-cuma Nyonya, Saya lebih senang mengandalkan kemampuan Saya untuk membiayai semua kebutuhan keluarga Saya."
"Kalau begitu anggap ini hutang, Kamu bisa membayar setelah Kamu mendapatkan pekerjaan."
Nindi terdiam dan memikirkan keputusan Alia.
Faraz pun hanya diam mendengar keputusan Nyonya besarnya.
Ia tidak ingin mengeluarkan pendapatnya yang hanya akan menimbulkan salah paham terhadap dirinya dan Nindi.
"Bagaimana Nindi, Bukankah ini mudah?"
"Baiklah." ucap Nindi pasrah.
Alia pun mengeluarkan uang dalam tas kecilnya.
"Tidak. Ini keputusan ku, Jadi Aku akan memberinya dari uang ku."
tegas Alia memberikan tumpukan uang pecahan seratus ribuan.
"Jika membutuhkan sesuatu hubungi Aku, Jangan Suamiku." tegas Alia sembari memberikan uangnya. Kemudian mencatat nomer ponselnya dan memberikannya pada Nindi.
"Baiklah Nyonya, Terimakasih." ucap Nindi yang menundukkan kepalanya kemudian meninggalkan ruangan.
"Apa ini bentuk kewaspadaan mu menjauhkan suami mu dari Wanita lain?" bisik Faraz sembari memeluk Alia hingga membuat Ratna canggung dan menjauh dari Mereka.
"Anggap saja begitu, Aku tidak ingin memberi kesempatan pada Wanita lain dekat-dekat dengan suami tampan ku ini."
"Apa Kamu sedang memuji Mas?" Faraz mendekatkan wajahnya yang langsung di tepis oleh Alia.
"Kita makan sekarang?" ucap Alia.
__ADS_1
"Baiklah."
"Pake mobil Mas aja ya, Nanti kalau pulang baru sama supir lagi."
Alia mengangguk dan berjalan beriringan meninggalkan ruangan.
Kemudian Alia dan Ratna menunggu Faraz di lobby saat Faraz mengambil mobilnya.Mereka pun melanjutkan rencana untuk makan siang bersama di restoran tak jauh dari kantornya.
setelah kurang dari dua puluh menit perjalanan Mereka sampai di restoran. Faraz pun membuka sabuk pengamannya kemudian melihat ke kursi belakang.
"Hati-hati Ratna," ucap Faraz yang melihat Ratna bersiap untuk turun.
Kemudian Faraz membantu Alia membuka sabuk pengamannya.
Baru saja Ratna turun, Faraz dan Alia di kejutkan oleh jeritan Ratna.
"Aaaaaaaaa.... Tuaaaannmm.... Nyonyaaaaaaa....." Ratna mencoba mempertahankan Zayn yang akan di rebut oleh Pria dengan penutup kepala yang hanya menyisakan kedua matanya.
"Zayn!" Faraz bergegas turun melihat kejadian dari celah jendela. Namun melihat Alia akan ikut turun Faraz kembali melihat ke dalam mobilnya.
"Sayang kamu tunggu di sini, Jangan kemanapun!"
Alia menganggukkan kepalanya dan mengurungkan niatnya.
Pria penutup kepala itu menghantam wajah Ratna hingga tangan ratna melepaskan Zayn yang langsung di ambil alih oleh Pria penutup kepala itu dan langsung membawanya lari.
"Hey! Bayiku..." Faraz yang baru turun langsung mengejar Pria itu tanpa memperdulikan Ratna yang hampir terjatuh di sisi kiri mobilnya.
"Ratna Masuklah, Aku akan menelfon polisi." ucap Alia membuka kaca mobilnya.
Ratna mengangguk dan masuk ke mobil dengan darah yang terus mengalir dari hidungnya.
Meskipun Alia sangat menghawatirkan Zayn namun Ia juga masih mempedulikan Ratna dengan memberi kotak tisu untuk menghentikan darahnya. Kemudian dengan tangan gemetar Alia menekan nomor polisi untuk melaporkan kejadian penculikan Bayinya.
Bersambung...
__ADS_1
BACA JUGA PESONA MAJIKAN'KU YANG CERITANYA SEMAKIN MES'UM, EHH BUCIN MAKSUDNYA 🤣