
"Tuan Malvin, Anda tidak makan?" tanya Alia yang membuat Malvin tersentak dari pandangannya.
"E-e Sebenarnya Aku belum begitu lapar." ucap Malvin beralasan.
"Apa selera makan Anda hilang setelah melihat gadis itu?" tanya Faraz tertawa.
"He-he... Anda benar, Kecantikannya membuat selera makan ku hilang." ucap Malvin yang terus menatap Alia dengan lekat.
"Pergilah dan berkenalan dengan nya." ucap Faraz lagi.
"Aku akan melakukannya tapi tidak sekarang."
"Oke baiklah, Kami sudah selesai, Kalau begitu Kami duluan."
Malvin mengangguk dan menjabat tangan Faraz yang sudah beranjak dari duduknya.
Faraz meraih tangan Alia dan menggandengnya keluar.
Malvin terus melihat Alia dari tempat duduknya, Gerakan pinggulnya seiring langkah kaki mulusnya, Membuat yang di bawah sana begitu sesak Ia rasakan.
"Ssshhh Hoghhh!" Malvin mengusap kasar mulut kebawah dagunya menahan nafsu bi'rahinya.
"Tuan."
"Hagh!" imajinasinya buyar ketika sekertarisnya mengagetkannya.
"Bisa Kita pergi sekarang?"
"Ya, Tapi ke hotel" dengan perasaan yang sangat bergejolak, Malvin menarik tangan Silvi keluar dari resto.
•••
Menjelang Malam, Faraz mengajak Alia mengunjungi jembatan Kahayan. Berbagai keindahan di Sore hari menjelang malam membuat jembatan ini selalu ramai di kunjungi oleh penduduk setempat hingga wisatawan yang datang sekedar hanya untuk berfoto.
Berdiri di atas sungai terbesar Palangka Raya, Sungai Kahayan, Jembatan yang satu ini memang tidak sebesar Jembatan Ampera di Palembang. Namun jembatan Kahayan adalah atraksi yang asyik buat di kunjungi karena keindahannya.
__ADS_1
Sambil menikmati sunset di sore hari. Pesona senja di balik Jembatan Kahayan menjadi salah satu yang terbaik di Pulau Kalimantan.
Di atas keindahan jembatan, Faraz melakukan panggilan video pada Ibunya.
"Haiii..." sapa Faraz begitu melihat jagoannya.
"Hai Papa." saut Zeenat menggerakkan tangan Zayn ke arah kamera.
"Emesh nya papa eumuacchh."
"Sayang.." sambung Alia memberikan kecukupan jarak jauhnya.
"Ini Zayd sudah tidur." ucap Zenaat mengarahkan kamera ke wajah Zayd.
"Selalu deh Zayd yang tidur duluan." ucap Alia.
"Iya nih, Biasanya Zayn nanti jam 21.00 kadang lebih, Pokoknya kalau belum habis lima botol susu Zayn gak bakal bisa tidur." ucap Zeenat tertawa.
"Zayn jangan jadi seperti Papamu." ucap Alia.
"Lah kok Mas sih, E-e.. Baiklah Ibu, Aku tutup dulu." Faraz langsung menutup ponselnya dan langsung mempertanyakan maksud ucapan Alia.
"Katakan apanya yang tidak boleh seperti Mas?" tanya Faraz dengan tatapan serius.
"Gragasnya." ucap Alia tertawa.
"Ough begitu, Kenapa tidak? Bukankah Kamu juga menyukainya?"
Faraz meraih pinggang Alia lebih rapat lagi sembari memonyongkan bibirnya. Namun belum sempat Faraz menciumnya, Dengan cepat Alia menepis wajah Faraz dan melarikan diri darinya.
"Hey!" Faraz berlari mengejar Alia yang terus berlari dengan tawa cerianya.
"Kejarlah kalau Mas bisa." Alia terus berlari sambil menoleh ke arah Faraz hingga tanpa sengaja Alia menabrak seseorang di depannya.
"Hey!"
"M-m-maaf." Alia mengangkat anak kecil yang terjatuh karena dirinya.
__ADS_1
"Apa Kau tidak punya mata?!" tanya sang Ibu yang turut membangunkan putri kecilnya.
"Sayang Kamu tidak papa?" tanya Faraz yang sampai di sana.
Seketika ketiganya terdiam saling menatap satu sama lain.
Mereka tidak pernah menyangka setelah cukup lama menjalani kehidupan masing-masing, Mereka kembali bertemu di pulau yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa tersebut.
"Faraz..."
"Kavita..."
"Mbak Kavita..."
"Mama.. Mama..."
Alia menatap gadis kecil yang baru saja Ia tabrak. Kemudian berjongkok mendekatinya.
"Apa Kamu baik-baik saja?" gadis kecil itu beringsut mundur bersembunyi di kaki Kavita.
Suasana menjadi canggung.
Ketiganya terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Beberapa saat kemudian, Ketiganya tersentak oleh suara Pria yang memanggil nama Devita.
"Devitaaa.."
"Papaaaa..." gadis kecil yang bersembunyi di kaki Kavita berlari ke arah Pria yang memanggilnya.
Alia dan Faraz menoleh ke belakang dan melihat Dev dengan langkah timpang berjalan mendekati gadis kecil yang bernama Devita tersebut.
Dev dengan susah payah berjongkok memeluk Putri kecilnya.
Kemudian memberikan mainan tongkat ajaib menyala berbentuk bulan bintang. Devita langsung mengambilnya dan menari bahagia seiring musik yang terputar dari tongkat tersebut.
"Kavita, Susah payah Aku mengejar penjual ini hingga Aku..." Dev menghentikan ucapannya melihat Faraz dan Alia berdiri tak jauh dari Kavita.
__ADS_1
Bersambung...
ADA YANG KANGEN SAMA KAVITA NGGAK? 🤣