
Faraz kembali melihat foto Kavita.
Kemudian Ia menengadahkan kepala ke atas sembari memejamkan mata.
Faraz kembali membuka mata dan menggengkan kepalanya.
"Tidak! Aku tidak boleh mengingatnya lagi, Dia tidak boleh memasuki hati maupun pikiran ku lagi." Faraz langsung mensobek-sobek foto Kavita dengan sangat kecil dan melemparkannya ke udara.
Alia kembali masuk ke kamar.
Faraz menoleh ke arah Alia sekejap kemudian kembali mengalihkan pandangannya.
Netra Alia tertuju ke bawah kaki Faraz dan melihat foto yang telah di sobek-sobek.
Alia yang melihat wajah Faraz kesal tidak mau lagi membahas foto itu.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Faraz.
"Barusan Ibu Zeenat telfon katanya Kita tidak bisa pulang hari ini,"
"Apa! Bagaimana bisa, saat kita berangkat Ibu bilang kita hanya sehari di rumah mu, kenapa sekarang Kita tidak bisa pulang, Apa Kau yang meminta Ibu ku agar Aku tetap disini supaya Kau bisa terus dekat dengan ku?"
"Kenapa Aku harus melakukan itu? Kamu fikir Aku sangat bahagia jika ada di dekat mu?
Yang ada Kamu selalu membuatku kesal."
"Aku tidak percaya ini." Faraz langsung mengambil ponselnya.
Tuuuuuuuuuuttttttt..... Tuuuuuuuuuuttttttt......
"Halo Ibu... Benarkah Aku tidak bisa pulang sekarang?"
"Ya itu benar,"
"Tapi kenapa Ibu, Kemarin Ibu bilang hanya sehari?"
"Ya awalnya memang sehari, tapi setelah Ibu fikir lebih baik kamu disitu dulu karena kamu tidak ingin kan menghadapi banyak media?"
"Media? Untuk apa mereka mencariku?"
"Untuk apa lagi, mereka ingin mewancarai seputar pernikahan mu dan Alia, tentu kamu tidak ingin membicarakan hal ini kan?"
"Ibu benar juga, males banget Aku ngomongin gadis Cupu ini pada media." batin Faraz sambil menatap Alia.
"Sekarang kamu tinggal pilih, Kamu mau tinggal di rumah Alia untuk beberapa hari lagi atau pulang ke rumah menemui media?"
Faraz menghelai nafas panjang.
"Kedua pilihan tidak ada yg menyenangkan, sebenarnya Aku sudah tidak tahan berada di kamar yang panas dan sempit ini, tapi membicarakan gadis Cupu ini di depan media itu jauh lebih membuatku kesal," ucap Faraz dalam hati.
"Faraz... Kenapa kamu diam? Apa kamu memilih pulang sekarang?"
"Ee... Aku... Aku akan tinggal disini untuk beberapa hari lagi." ucap Faraz pasrah.
Ibu yang mendengarnya merasa sangat bahagia.
"Baiklah kalau begitu, Salam untuk Alia... Istri mu," ucap Ibu mengakhiri telfonnya.
Faraz pun melihat Alia tanpa mengatakan apapun.
"Yeeesss....!" Zeenat bersorak bahagia.
__ADS_1
"Apa yang membuat mu begitu bahagia Zeenat?" tanya Shehzad yang melihat Zeenat begitu bahagia.
"Rencana untuk membuat Faraz tinggal lebih lama di rumah Alia berhasil." ucap Zeenat tertawa.
"Benarkah? Apa yang membuatnya setuju?"
"Aku bilang jika Dia kembali hari ini atau beberapa hari kedepan Dia akan menghadapi banyak media, jadi Dia lebih memilih tinggal di rumah Alia." jelas Zeenat.
"Ya semoga Faraz tidak menyadari jika ini hanya siasat mu," ucap Shehzad tersenyum.
°°°
"Apa kamu sekarang percaya padaku?" tanya Alia.
Faraz hanya cemberut menatap Alia.
Karena merasa bosan Faraz meninggalkan Kamar dan berniat keluar rumah. Namun Ia kembali setelah melihat banyak orang di luar.
Faraz pun kembali ke kamar dengan kesal.
"Ada apa? Kenapa terus saja terlihat kesal?"
"Aku bosan terus-terusan di kamar, tapi jika Aku keluar orang-orang itu akan kembali mengerumuni ku,"
"Pake ini," Alia memasangkan masker pada Faraz.
"Apa ini?"
"Masker,"
"Iya tau, tapi untuk apa?"
"Diamlah, Kamu pakai ini dan pake kacamata mu,"
"Jangan banyak tanya, cepat pakai dan ikut denganku." Alia langsung menarik tangan Faraz begitu Faraz memakai kacamata hitam dan maskernya.
Alia membuka pintu sedikit dan melihat sekeliling rumahnya.
Terlihat hanya beberapa ibu-ibu yang sedang mengobrol di jalan depan rumahnya.
"Sepertinya mereka tidak akan menyadari jika kita pergi, Ayo..." Alia menggandeng tangan Faraz keluar.
"Sekarang pakai helm ini,"
"Apa! Kita naik motor ini?" tanya Faraz kaget.
"Ssstttt diamlah atau semua orang akan melihatmu,"
"Tapi kenapa Kita harus naik motor Cupu...?" lirih Faraz.
"Kenapa tidak, ini akan lebih menyenangkan dari pada menaiki mobil,"
"Tapi Aku tidak bisa, Aku tidak pernah naik motor seperti ini,"
"Kalau begitu duduklah di belakang ku."
"Apa! Di belakangmu?"
"Kenapa Kau terus-menerus tercengang, Kamu bilang tidak bisa naik motor, jadi duduklah di belakang."
"Tapi kenapa tidak pakai mobilku saja, kan lebih nyaman dan gak akan ada orang tau,"
__ADS_1
"Karena Aku ingin pakai motorku, sekarang mau naik atau tidak?"
Dengan berat hati akhirnya Faraz naik di belakang Alia.
Alia tersenyum dan menjalankan motor nya.
Alia berjalan-jalan menyusuri kota, ketika melewati pasar malam, Alia menghentikan motornya dan mengajak Faraz melihat-lihat berbagai macam kemeriahan di pasar malam itu.
"Pasti Kamu tidak pernah ke pasar malam kan?"
Faraz hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu Kita nikmati wahana permainan yang ada di pasar malam ini,"
"Nggak mau, kamu saja," ucap Faraz menyingkirkan tangan Alia.
"Bucin kamu akan menyukainya, kamu sedang merasa tertekan kan? Jika Kau bertriak sekuat tenaga maka kamu akan merasa lega,"
Faraz terdiam dan berfikir.
"Ayolah Bucin," Alia menarik tangan Faraz dan mengajaknya bermain wahana ombak banyu.
"Bagaimana cara naiknya?" tanya Faraz bingung.
"Lihat Aku,"
Faraz melihat Alia dan mengikutinya.
Setelah penumpang penuh, permainan ombak banyu di mulai.
Faraz mulai merasa tegang karena ini pertama kalinya bermain seperti ini.
Jeritan demi jeritan bersautan dari para penumpang, begitu pun dengan Alia.
Faraz pun mulai memejamkan matanya dan bertriak sekuat tenaga, seolah meluapkan tekanan batinnya selama ini.
Sekitar 15 menit permainan pun berakhir.
Faraz melompat turun di ikuti oleh Alia.
"Kau merasa lebih baik?" tanya Alia terseyum.
"Ya, sedikit merasa lega," ucap Faraz sembari memakai kembali maskernya.
"Kau ingin naik yang lain?"
Belum sempat Faraz menjawab, Alia menariknya menaiki bianglala
"Ini permainan untuk anak kecil," ucap Faraz.
"Ini bukan untuk anak kecil saja, lihatlah banyak orang dewasa menaikinya."
Faraz melihat beberapa pasangan menaiki wahana tersebut.
Ia pun menghelai nafas panjang dan membungkuk untuk dapat masuk ke wahana yang terlihat seperti sangkar burung itu.
Alia duduk tersenyum menatap Faraz yang kembali membuka Maskernya.
Wajah tampan nya membuat Alia terpaku menatapnya. Namun tatapan Alia terhenti saat Bianglala mulai berputar.
Semakin lama semakin cepat hingga membuat Faraz merasa tegang dan menggenggam tangan Alia.
__ADS_1
Alia terkejut dan menatap tangannya, kemudian menatap Faraz yang terlihat menatap ke arah lain dengan tegang.
Bersambung...