Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Menjanda


__ADS_3

Hingga dini hari, Dengan menahan rasa kantuknya, Zahia masih duduk menantikan suaminya sadar dari koma.


Zayd yang duduk di sofa berusaha mendekati Zahia untuk memintanya beristirahat. Namun belum sempat Ia memegang pundaknya. Zahia yang tidak bisa lagi menahan kantuknya hampir saja terjatuh hingga kepalanya membentur perut Zayd yang berdiri tepat di sampingnya.


Deg!


Seketika Zayd merasa ada perasaan yang tak biasa, Ia mencoba menatap wajah Zahia yang masih diam tak bergerak di perutnya, Dengan sedikit gemetar, Zayd menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya.


Zayd terdiam menatap wajah cantiknya yang terlihat begitu lelah setelah seharian menawarkan ginjalnya kesana kemari dan terus menunggu suaminya tanpa beristirahat. Dengan memberanikan diri Zayd membopong tubuh Zahia.


Zayd kembali bergetar saat kepala Zahia terjuntai hingga membuat leher jenjangnya menggantung dengan indah.


"Ck! Apa yang ku pikirkan." Zayd memejamkan mata sambil menggelengkan kepalanya kemudian membaringkannya di sofa.


Seakan tak pernah bosan memandang wajahnya, Zayd kembali terdiam menatap Zahia. Namun pandangannya di hentikan oleh suara


Bedside Monitor. Alat memonitor vital sign itu terus berbunyi menandakan jantungnya yang semakin melemah.


Zayd segera beranjak melihatnya sejenak dan berlari keluar memanggil Dokter.


"Dokter... Dokter..."


Teriakan itu mengagetkan Zahia.


Zahia melihat Zayd keluar ruangan dan langsung berlari melihat suaminya dengan cemas.


"Mas Attar..." tangis Zahia yang melihat nyawa suaminya yang terlihat akan segera meninggalkan jasadnya.

__ADS_1


Dengan tangannya yang lemahnya Attar mengangkat tangannya mencoba meraih wajah Zahia.


Zahia memegang tangan suaminya dan mengarahkan ke pipinya.


"M-m.. Maaafin Mas," ucapnya terbata.


Zahia terus menangis sejadi-jadinya.


"Lan-jut-kan hidup-mu dan kem-ba-li-lah pa-da ke-luar-ga.. M-m-mu." ucapan itu semakin sulit terucap seakan nyawanya sudah sampai di tenggorokan.


Zahia terus menggelengkan kepalanya dan menciumi tangan suaminya.


"Cepat Dokter," ucap Zayd yang kembali bersama Dokter dan beberapa perawat.


"Permisi Nona," ucap Dokter yang akan memeriksa detak jantung Attar.


Zahia terus menggelengkan kepalanya. Namun Zayd memapahnya untuk bangun dari duduknya.


Dokter menggelengkan kepalanya tanda menyerah berbarengan dengan alat monitor yang hanya menunjukan satu garis di layarnya.


"Mas Attttaaaaaaaarrrrrrrrr!" tangis histeris Zahia pecah menenuhi ruangan. Ia langsung berlari memeluk tubuh suaminya yang sudah tak bernyawa. Kemudian Zahia menarik kerah baju suaminya dan terus berteriak memarahinya.


"Berrraninya kau pergi meninggalkan ku setelah apa yang sudah ku lakukan untuk mu!"


Kemarahan bercampur tangis kesedihan karena di tinggalkan oleh orang yang begitu ia cintai membuat Zahia mengatakan apa saja untuk meluapkan kesedihannya.


"Ini tidak lucu Mas, Jangan menakuti ku seperti ini, Hiks hiks hiks."

__ADS_1


"Zahia..." lirih Zayd mencoba menenangkannya.


Zahia mengangkat wajahnya dari dada suaminya, Kemudian berdiri menatap Zayd.


"Anda masih punya uang kan? Tolong pinjamkan uang mu dan suruh Dokter menyelamatkan suami ku, Aku mohon..." Zahia melipat kedua tangannya tanda permohonannya pada Zayd, Bahkan Zahia sampai bersimpuh memegang kaki Zayd.


"Zahia jangan lakukan ini." Zayd begitu merasa pilu melihat kesedihan Zahia yang dirasanya tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya atas penghianatan Alea.


"Nona, Berapapun Uang yang akan Anda berikan tidak akan mampu membuat kami mengembalikan nyawa suami mu," saut Dokter.


Mendengar kata itu membuat Zahia naik pitam dan berdiri menarik kerah jas yang Dokter kenakan.


"Ini karena kesalahan Anda, Anda terus menolak mengoperasi suami ku! Jika saja Anda bau menolongnya terlebih dahulu sebelum Aku mendapatkan uang, Tentu suamiku bisa di selamatkan!"


"Zahia tenanglah." Zayd mencoba menarik mundur pundak Zahia. Namun Zahia terus memberontak hingga Zahia merasa lemah dan jatuh pingsan.


"Zahia." Zayd menangkap tubuh Zahia yang sudah tak sadarkan diri.


"Tangani Dia Dok," ucap Zayd.


"Baiklah, baringkan di sofa."


Zayd menurut dan membaringkannya di sofa.


Sementara sambil memeriksa keadaan Zahia, Dokter menyuruh perawat untuk mengurus jenazah Attar sebelum Zahia tersadar dan kembali histeris.


Bersambung...

__ADS_1



Jandanya Seperti ini, Siapa yang gak jatuh hati ☺️


__ADS_2