
Bryan menggendong Zia masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di ranjang besarnya.Kemudian Bryan menyeret kursi untuk dirinya duduk di tepi ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Dengan rasa bersalah yang teramat sangat, Bryan mengusap pipi Zia yang masih menyisakan air matanya.
"Maafin Om Sayang."
Zia hanya memejamkan mata tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Kemudian Bryan mengusap-usap kepalanya hingga Zia benar-benar tertidur.
Drrrttttttt... Drrrttttttt....
Bryan mengambil ponsel di sakunya namun ternyata bukan ponselnya yang bergetar. Kemudian Bryan membuka tas kecil yang Zia bawa dan mengambil ponselnya.
"Faraz." lirih Bryan yang melihat Nama Faraz tertera di layar ponsel Zia.
Bryan menatap Zia yang sudah tertidur pulas, Sedangkan ponselnya terus saja berdering. Bryan yang merasa bingung, Memutuskan untuk mengetik pesan dengan meniru cara ketikan tangan Zia.
"Semoga Faraz tidak curiga," batin Bryan.
Faraz yang membaca pesan dari nomor Zia yang mengatakan jika Ia akan menginap di rumah temannya dan tidak bisa mengangkat telfon karena teman di sebelahnya sudah tidur mempercayai begitu saja tanpa mencurigai apa yang sedang menimpa Putri remajanya.
🍃 Pagi Hari 🌻
__ADS_1
Zia membuka mata dan melihat Bryan tidur dengan posisi duduk dan menyangga kepala dengan satu tangannya.
Zia terseyum haru karena Om Brya terus menunggunya sepanjang malam, Apa lagi mengingat saat Om Bryan menolongnya dan memanggilnya dengan sebutan sayang. Zia benar-benar merasa cintanya kini memiliki harapan. Namun seketika senyumnya pudar saat mengingat kata-kata Om Bryan yang mengatakan akan menikah dengan wanita lain.
Zia membuka selimut yang menutupi kakinya dan membuat Bryan terusik dan membuka matanya.
"Zia Sayang, Kamu sudah bangun?"
Zia hanya mengangguk kecil dan turun dari ranjangnya.
Kemudian memakai sepatunya dan mengambil tasnya.
"Tadi malam Papa Faraz terus menelfon, Om telah mengirim pesan dan mengatakan Kamu menginap di rumah teman, Om rasa Papamu tidak curiga."
Zia hanya menganggukkan kepalanya.
"Zia tidak mau sarapan dulu? Atau..."
"Tidak Om." Zia langsung melangkah keluar mendahului Bryan.
Bryan merasa sikap Zia tidak seperti Biasanya, Bahkan sepanjang perjalanan Zia hanya diam saja tanpa bicara sepatah katapun.
"Sampai sini saja Om," ucap Zia yang meminta di turunkan sebelum gang perumahan mewahnya.
__ADS_1
Belum sempat Om Bryan bicara, Zia sudah turun dari mobilnya.
"Zia..." Bryan turun dari mobil berharap Zia mengatakan sesuatu sebelum Ia pergi. Zia pun menoleh ke belakang dan mendekati Om Bryan.
"Setelah ini, Zia akan fokus belajar untuk kenaikan kelas, Jadi Zia tidak akan menganggu Om lagi, Jika Om akan menikah dalam waktu dekat, Semoga Om bahagia dengan pilihan Om."
Mendengar ucapan itu Bryan merasa hatinya begitu sakit, Apa lagi melihat bagaimana cara Zia menyampaikan, Tatapan yang dingin tidak seperti biasanya yang terlihat begitu banyak cinta di matanya.
Bryan menatap punggung Zia yang terus melangkah jauh meninggalkannya. Kali ini hatinya terasa begitu berat melepaskan gadis kecil Putri dari sahabatnya tersebut.
"Seharusnya Aku merasa bahagia, Bukankah ini yang Aku harapan saat menyampaikan pada Zia jika Aku akan menikah dengan Anita, Tapi kenapa hatiku begitu sakit mendengar ucapannya, Kenapa Aku merasa tidak rela jika Zia benar-benar tidak menemui ku lagi?" batin Bryan yang merasa bimbang untuk menentukan pilihan hatinya.
•••
Zayd melihat Alea yang membawa semua barang-barangnya menggunakan kotak kardusnya.
Langkahnya semakin dekat melewati Zayd yang masih berdiri di tempatnya.
Alea menundukkan kepalanya ketika sampai di hadapannya, Sedangkan Zayd membuang muka dan tidak mau menatap wajahnya.
Setelah Alea melangkah cukup jauh darinya. Zayd menoleh ke belakang dan melihat punggung Alea yang telah melangkah keluar meninggalkan kantornya.
Sekuat hati Zayd menahan perasaannya karena mengingat permusuhan masa lalu orang tuanya.
__ADS_1
Bersambung...
📌 MAAF HANYA SEDIKIT, AUTHOR LAGI JENGUK MAMA, JADI KALAU BABANG ZAYN BELUM JADI RILIS, MOHON MAAF YA 🙏