Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Tiba Di Jogja


__ADS_3

Alia menemukan tempat duduknya dan memilih duduk di dekat jendela.


Tempat duduk yang di khususkan untuk tiga orang itu membuat Faraz merasa tidak nyaman, apa lagi jika Ia harus duduk di tengah antara Istri dan Mertuanya.


Bu Fareeda yang sudah duduk terlebih dahulu menatap sinis Faraz,


begitulah pun dengan Alia yang sudah nyaman duduk di dekat jendela.


Dengan terpaksa Faraz pun duduk di tengah-tengah Mereka.


"Alia bisakah Kita bertukar tempat duduk?" bisik Faraz.


"Kenapa?"


"Alia, Aku merasa tidak nyaman jika duduk di antara kalian, Mengertilah."


Alia menghelai nafas dabangun dari duduknya.


Faraz terseyum lebar dan berpindah ke dekat jendela.


"Aku tau Kau tidak akan nyaman berada di kereta bisnis seperti ini, tapi Aku ingin mengajarimu bagaimana cara menghargai orang menengah seperti kami," batin Alia.


Kereta terus melaju dengan kencang, orang-orang mulai terlelap, begitu pun dengan Bu Fareeda yang terlihat sudah tidur.


Faraz yang melihat sekelilingnya sepi mengambil kesempatan untuk memegang tangan Alia,


Alia yang tengah fokus membaca novel terkejut dan menurunkan novelnya.


Faraz mengisi jari jemari Alia dengan jarinya.


Alia yang merasa gugup mencoba melepaskannya. Namun Faraz semakin mempererat genggaman tangannya.


"Ada baiknya juga Kita naik kereta," ucap Faraz terseyum.


"Tidurlah, perjalanan kita masih lama," ucap Alia mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana Aku bisa tidur jika Kau begitu dekat denganku," ucap Faraz menatap lekat Alia.


Alia memalingkan wajahnya mendengar ucapan Faraz.

__ADS_1


"Sebenarnya Aku tidak bisa tidur, kereta ini berisik sekali," ucap Faraz yang melihat Alia menjadi canggung.


"Ya, Begini lah transportasi buat orang menengah seperti kami, jadi Kau harus banyak bersyukur karena memiliki fasilitas terbaik, jangan lagi merendahkan orang lain Dan mulailah belajar menghargai mereka, karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan hidup dalam kekurangan,"


Faraz terseyum mendengarnya.


Karena sebenarnya Faraz hanya ingin Alia terus bicara padanya.


Sekitar pukul 03.20 dini hari Kereta tiba di Yogyakarta.


Faraz yang memang tidak tidur sama sekali menoleh ke arah Alia yang sejak beberapa jam lalu tidur di bahunya.


Faraz terseyum dan merangkul bahu Alia, Meskipun gerbong kereta membuat dirinya kepanasan dan tidak bisa tidur, namun Ia merasa bahagia menikmati kebersamaannya dengan Alia.


orang-orang mulai membuka matanya dan bersiap untuk turun, Alia yang mendengar keriuhan penumpang lain mulai membuka matanya.


Alia membuka mata sepenuhnya dan menyadari jika Ia tidur di bahu Faraz, Alia pun segera menarik diri dan menyembunyikan kecanggungannya dengan menoleh ke arah Ibu.


"Ibu, Kita sudah sampai." ucap Alia membangunkan Ibunya.


Ibu pun bangun dan bersiap untuk turun.


Terlihat Sahid sudah menunggu mereka di pintu keluar.


"Hey Alu!" pekik Sahid yang melihat Alia terlebih dahulu.


"Sahid," ucap Alia menghampirinya.


"Eeh Anak sultan mau naik kereta juga?" ejek Sahid.


"Terkadang Anak sultan juga harus mengetahui bagaimana kehidupan rakyat jelata seperti kalian," saut Faraz dengan nada sombongnya.


"Alu lihatlah betapa sombongnya suami mu," keluh Sahid.


"Kau yang memancingnya," ucap Alia tertawa.


"Jadi sekarang Kau di pihaknya?" tanya Sahid.


"Tentu Dia di pihak ku, Dia kan istri ku," ucap Faraz merangkul pundak Alia.

__ADS_1


"Bisakah kita pergi sekarang?" tanya Bu Fareeda dengan jutek.


"Ee ya, Berikan tas nya," ucap Sahid memasukan barang bawaan mereka ke bagasi.


Mereka pun meninggalkan stasiun dan menuju rumah Sahid.


Sekitar dua puluh lima menit perjalanan, Mereka pun sampai di rumah Sahid.


Rumah yang berbentuk joglo itu memiliki halaman yang luas dengan di hiasi lampu-lampu antik jaman dulu.


Faraz melangkah ke dalam dan terlihat antusias melihat rumah adat tersebut.


"Kalian sudah datang," ucap Bibi yang keluar menyambut mereka.


Alia dan Bu Fareeda terseyum dan berpelukan sesaat.


"Hay handsome bagaimana perjalananmu?" tanya Bibi.


"Menyenangkan Bibi, ini pengalaman pertama ku," ucap Faraz.


"Baiklah sekarang kalian istirahat, Sahid antarkan Alia dan Faraz ke kamarnya, dan Mbak Fareeda, ikutlah denganku," ucap Bibi.


Sahid menganggukan kepalanya dan mengantar mereka ke kamarnya.


"Jangan mengatakan kamar pembantu mu lebih besar dari kamar ini, Tapi Kau harus berterimakasih pada ku karena Aku memberimu kamar yang kecil, Karena dengan ini Kau akan semakin lebih dekat dengan istrimu," ucap Sahid pada Faraz.


"Sahiiiddd..." ucap Alia kesal.


"Hehehe... Aku hanya bercanda, kalain beristirahatlah," ucap Sahid lalu meninggalkan mereka.


Faraz dan Alia saling menatap.


perlahan Faraz mendekatinya. Namun Alia segera menoleh ke arah lain.


"Sepertinya yang di katakan Sahid boleh juga," bisik Faraz.


Alia berjalan dua langkah menjauhi Faraz.


"Ingat! Aku belum memaafkan mu," ucap Alia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2