
Setelah mendapat perawatan pasca melahirkan, Kini Alia tidur dengan pulas, Jampir 24jam Alia tidak bisa tidur karena peristiwa yang sangat mengguncang hati dan fikirannya, Belum lagi tenaga yang harus Ia keluarkan untuk melahirkan kedua putranya benar-benar membuat dirinya lemah sehingga hanya sedikit tenaga yang tersisa.
Sedangkan di luar, Faraz baru saja menghubungi Mertua dan kedua orang tuanya.
Ia menghelai nafas lega akhirnya peristiwa buruk telah berlalu dari hidupnya.
"Tuan Faraz,"
Faraz menoleh ke belakang.
"Saya pamit pulang, Sekali lagi selamat untuk kelahiran Putra Anda."
"Ya, Terimakasih karena telah meyakinkan istri ku,"
"Tidak masalah."
Faraz menoleh ke belakang melihat kepergian wanita itu.
"Bahkan Aku tidak bertanya siapa namanya." Faraz menggelengkan kepalanya.
•••
Tidak lama kemudian Shehzad dan Zeenat datang.
Faraz yang sudah menunggunya langsung berlari memeluk Ibunya.
"Ibu.."
"Sayang, Selamat untuk mu ya, Ibu bahagia sekali."
"Selamat untuk mu Faraz, Ayah seperti tak percaya, Kamu yang dulu begitu kecil dalam gendongan Ayah, Kini telah menjadi seorang Ayah."
Faraz terseyum dan memeluk ayahnya dengan haru.
"Kita masuk Ayah, Ibu."
Faraz pun membawa orang tuanya masuk ke ruang dimana Alia dirawat.
Mereka melihat Alia yang masih tertidur pulas di posisinya.
Zeenat mendekati menantunya dan mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Ibu tunggulah di sini, Aku akan menemui Dokter untuk membawa bayiku kemari."
"Baiklah."
Faraz pun keluar untuk menemui Dokter.
"Hai Dina," Faraz menghentikan Dina yang tengah berjalan menuju ruang bersalin.
"Ada apa Faraz?"
"Apa bayiku bisa di pindahkan ke kamar Istriku?"
"Ini sudah malam Faraz, Bukan saatnya jam besuk, Besok siang baru Kita lihat lagi kondisinya, Jika tidak ada masalah apapun dalam kesehatannya Mereka sudah bisa di bawa pulang."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Ya, Lebih dari 24jam jika Ibu dan bayinya sehat, Kamu bisa membawa Mereka pulang."
"Baiklah, Terimakasih banyak Din."
Faraz kembali ke kamar dan memberitahu kedua orang tuanya seperti yang Dokter katakan.
"Baiklah Faraz tidak masalah, Yang penting Alia dan kedua bayimu sehat, Besok jika Kami belum sempat kesini tapi Kalian sudah pulang, Kami akan langsung ke rumah." ucap Zeenat.
"Baiklah."
"Kalau begitu Kami pulang dulu." ucap Ayah menepuk punggung Faraz.
Faraz mengangguk dan mengantarkan kedua orang tuanya sampai pintu.
Faraz kembali duduk di samping Alia.
Ia menggenggam tangan Alia dan mengecupnya.
Ia tidak pernah membayangkan Alia akan melahirkan dengan begitu banyak drama dan ketegangan yang terjadi di antara Mereka.
"Oh andai saja Aku tidak menuruti desakan teman-teman ku." sesal Faraz.
Menjelang pagi Alia mulai merasa gelisah dan tidak bisa diam.
Ia terus menggerakkan kepalanya kesana-kemari dan mulai meracau.
Faraz yang tidur membenamkan wajahnya di tepi ranjang terbangun dan mengangkat kepala.
"Sayang..." Faraz mengusap kepala Alia untuk membangunkannya.
"Hah!" Alia membelalakkan matanya melihat langit-langit ruangan.
Alia menatap Faraz dengan bingung.
"Sayang Kamu baik-baik saja?"
"Sejak kapan Aku tidur?"
"Kamu tidur habis magrib dan sekarang sudah hampir subuh."
"Lama sekali Aku tidur, Bagaimana dengan bayi Kita?"
"Mereka baik-baik saja, Sebentar lagi Kita bisa melihatnya."
•••
Siang Harinya Dokter mengizinkan Alia beserta bayinya pulang.
Bu Fareeda yang datang menjemput menggendong satu bayi, sementara Bayi lainnya di genong oleh Alia.
"Kamu yakin tidak papa?" tanya Faraz khawatir.
"Tidak Mas, Kan cuma gendong keluar rumah sakit doang, Ntar di mobil juga di pangku."
"Baiklah, Hati-hati." ucap Faraz mendampini Alia keluar dari rumah sakit dan membukakan pintu mobil untuknya.
Setelah Perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Mereka sampai di rumah.
__ADS_1
Terlihat Ibu Zeenat sudah berada di rumah Mereka.
Bu Zeenat langsung berlari ke arah mobil dan mengambil Alih bayinya dari tangan Alia.
"Biar Ibu saja." ucap Zeenat bersemangat.
Alia yang masih merasa sedikit lemah membiarkan Ibu mertuanya menggendong bayinya.
"Faraz, Ajak Alia istirahat biarkan Ibu dan Bu Fareeda yang merawat bayi kalian."
"Tapi Bu..."
"Tidak apa-apa Alia, Ibu mertuamu benar, Biarkan kami yang merawat kedua bayi Kalian, Kalian beristirahatlah." saut Bu Fareeda.
"Baiklah Ibu-Ibu, Kalau begitu biarkan Aku membawa Istriku ke kamar." ucap Faraz yang langsung membopong tubuh Alia ke dalam.
Bu Zeenat dan Bu Fareeda terseyum melihat kepergian Mereka.
"Mas main gendong-gendong aja sih di depan Ibu, Malu tau."
"Kenapa malu kan gendong istri sendiri, Habis melahirkan lagi."
Faraz membuka pintu kamar menggunakan kakinya.
Kemudian membaringkan tubuh Alia ke ranjang empuknya.
"Beristirahatlah," ucap Faraz menyelimuti Alia kemudian beranjak turun.
"Mas..."
"Aowwh..."
Alia terkejut melihat Faraz meringis kesakitan karena tarikan tangannya.
Ia pun meneliti tangan Faraz dan melihat bekas gigitannya.
"Mas ini..?" Alia menatap Faraz dengan sedih.
"Tidak papa."
Alia beranjak duduk dan mulai membuka kancing kemeja Faraz.
"Apa yang kamu lakukan Sayang?" tanya Faraz bingung.
Alia tidak memperdulikan pertanyaan Faraz dan terus membuka seluruh kancing kemejanya, Di lihatlah tubuh Faraz yang penuh dengan luka lecet dan garis merah akibat kemarahan Alia.
"Sayang," Faraz mencoba kembali menutup tubuhnya. Namun Alia menghentikannya dan kembali menelisik ke tengkuk leher Faraz yang Ia Ingat dirinya telah mencekiknya.
Alia mulai menangis melihat bekas jari-jarinya membekas di lehernya yang putih mulus, hingga luka-luka di tubuhnya semakin jelas terlihat.
"Sayang kenapa menangis? Aku tidak papa."
"Maafkan Aku Mas, Aku tidak tau kenapa Aku seperti hilang akal saat melihat mu bersama wanita lain hiks hiks hiks."
"Tidak masalah Sayang, Ini tidak sebanding dengan apa yang Kamu rasakan saat melahirkan kedua bayi Kita," dengan lembut Faraz mengusap air mata yang menetes di pipi Alia.
Alia menjatuhkan tubuhnya ke pelukan Faraz.
__ADS_1
Bersambung...
KEMAREN ADA YANG KOMEN, CUMA DI NOVEL LAHIRAN SAMBIL BERANTEM, ASAL KALIAN TAU, SAAT AUTHOR MAU MELAHIRKAN, SAAT MENGEJAN AUTHOR SAMBIL MARAH-MARAH SAMA SUAMI DAN USIR SUAMI DARI RUANG BERSALIN 🤣🤣🤣